Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
Picture of Indra Tanaya
UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Indra Tanaya - Saturday, 3 March 2012, 06:38 PM
 
DMRS
Picture of Totok Sundoro
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Totok Sundoro - Sunday, 4 March 2012, 04:35 PM
 

1a. Program RS dalam MDGs

Sasaran I  : Penurunan Angka Kematian Bayi dan Peningkatan Kesehatan Ibu

Keterangan:

Rumah Sakit harus bisa menuju rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Koprehenshif ) dengan mempersiapkan sumber daya yang memadai baik sumber daya manusia ataupu sumber daya fisik (sarana prasarana).

Sasaran II  : Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS

Sasaran III  : Penurunan Angka Kesakitan TB

1b. Jampersal

a. Pengertian

Merupakan bentuk jaminan persalinan yang berfungsi mengurangi/menghapus kendala penting dalam mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir dengan harapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5.

b. Tujuan

1. Tujuan Umum

Meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB melalui jaminan pembiayaan untuk pelayanan persalinan.

2. Tujuan Khusus

§ Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan pelayanan KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.

§ Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

c. Sasaran

Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:

1. Ibu hamil

2. Ibu bersalin

3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)

4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)

d. Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi:

1. Pemeriksaan kehamilan

2. Pertolongan persalinan normal

3. Pelayanan nifas, termasuk KB pasca persalinan

4. Pelayanan bayi baru lahir

5. Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi

baru lahir

Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi:

1. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (RISTI) dan penyulit

2. Pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.

3. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang setara.

2. Persiapan Medical emergency dalam penanggulangan bencana gunung merapi:

a) Response : Ambulance, telepon darurat, dokter dan perawat IGD

b) Clinical response: Obat medis utk emergency, oksigen, dll

3. Sasaran Keselamatan Pasien

Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien

Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif

Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

Sasaran lV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi

Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh

Penjelasan:

Sasaran I

“RS mengembangkan suatu pendekatan utk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien” melalui kebijan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dengan memperhatikan elemen penilaian, yaitu:

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah

3. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan specimen lain utk pemeriksaan klinis

4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur

5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yg konsisten pada semua situasi dan lokasi.

Sasaran II

“Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pembeli layanan”.

Elemen penilaian:

1. Perintah lengkap secara lisan dan yg mll telp atau hsl pemeriksaan ditulis secara lengkap oleh penerima perintah.

2. Perintah lengkap lisan dan telepon atau hsl pemeriksaan dibacakan kembali scr lengkap oleh penerima perintah

3. Pemerintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan

4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau mll telepon secara konsisten

Sasaran III

“RS mengembangkan suatu pendekatan utk memperbaiki keamanan obat2 yg perlu diwaspadai”

Elemen penilaian:

1. Kebijakan dan atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label dan penyimpanan elektrolit konsentrat.

2. Implementasi kebijakan dan prosedur

3. Elektrolit konsentrat tdk boleh disimpan dlm unit pelayanan pasien kecuali dibutuhkan secara klinis

4. Elektrolit konsentrat yg disimpan hrs diberi label yg jelas dan disimpan pd area yg dibatasi ketat

Sasaran IV

“Rumah Sakit mengembangkan suatu pendekatan utk memastikan tepat lokasi, tempat prosedur dan tepat pasien”

Elemen penilaian:

1. Tanda yg jelas dan dapat dimengerti utk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dlm proses penandaan

2. Adanya checklist atau proses lain dalam meverifikasi

3. Tim operasi yg lengkap menerapkan & mencatat prosedur sebelum dimulai

4. Adanya kebijakan dan prosedut

Sasaran V

“RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pada pelayanan kesehatan”.

Elemen penilaian:

1. RS mengdaptasi pedoman patient Safety

2. RS menerapkan program hand hygiene yang efektif

3. Kebijakan dan prosedur utk mengurangi INOS

Sasaran VI

“RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi resiko pasien dari cidera karena jatuh.

Elemen penilaian:

1. RS melakukan assesmen sebeum dan sesudah pasien jatuh

2. Langkah2 mengurangi resiko jatuh

3. Memonitor keberhasilan pengurangan cidera akibat jatuh dan dampak yg tdk diharapkan

4. Kebijakan dan prosedur tentang tersebut

4.a.  - Untuk mengetahui ada tidaknya dampak rumah sakit yang ditimbulkan terhadap lingkungan/masyarakat.

 - Dokumen ANDAL:

a. KA-ANDAL (Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan)

b. ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan)

c. RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup)

d. RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup)

4b. Paradigma Kesehatan Lingkungan

a) Tidak MCK (Mandi,Cuci, Kakus) di sungai

b) Tidak BAB (buang air besar) di lingkungan alam/sembarangan tempat

c) Tidak membuang limbah dilingkungan alam

d) Kesadaran PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat)

e) Kegiatan 3M

5. a. Perlu, sebagai bahan promosi untuk mendapatkan pangsa pasar

 b.


Picture of Totok Sundoro
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Totok Sundoro - Monday, 5 March 2012, 12:41 PM
 
Jawaban 5b
Perusahaan perlu BSR Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).
Picture of Marini Tarida
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Marini Tarida - Sunday, 4 March 2012, 09:17 PM
 
UJIAN DMRS
Picture of hayati ahmalliah
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by hayati ahmalliah - Sunday, 4 March 2012, 10:22 PM
 
ujian hayati ahmalliah
Juli Santoso
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Juli Santoso - Monday, 5 March 2012, 01:14 AM
 
JAWABAN UJIAN DMRS ANGKATAN 7 EKSEKUTIF
NAMA : JULI SANTOSO
NO. MHS : -
Soal 1. a. Pencapaian target MDGS bidang kesehatan, program apa saja yang bisa dilaksanakan dirumah sakit, terangkan dengan singkat?
b. Apa yang diketahui tentang Jampersal?
Jawaban :
1. a. Program-program yang dilaksanakan Rumah Sakit (RS) dalam pencapaian target MGDS antara lain : mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit lainnya. Oleh sebab itu, upaya aksi Rumah Sakit dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak (PONEK = Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Koprehenshif ), Penambahan kapasitas NICU/PICU, Pemantauan bayi risiko tinggi (PERISTI), Pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal (In House Trainning), Program sayang bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
b. Jampersal (Jaminan Persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Jampersal dapat mendorong akselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5.
Jampersal bertujuan :
1). Tujuan Umum
Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.
2). Tujuan Khusus
a). Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
b). Meningkatnya cakupan pelayanan:
(1) bayi baru lahir.
(2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
(3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi
baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten.
c). Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.
Sasaran Jampersal :
Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
Soal no. 2
Persiapan medical emergency apa saja yang harus dilakukuan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi?
Jawaban no.2
Persiapan Medical Emergency upaya penanggulangan bencana gunung merapi:
1. Pengenalan mengenai manajemen bencana
2. Memahami peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana
3. Mampu melakukan preparedness dengan
a. Membuat analisa situasi,
b. Menyiapkan organisasi, dan
c. Membuat plan of action.
4. Mampu menyiapkan respon dan recovery

Soal no. 3 Uraikan secara singkat tetapi jelas tentang masing-masing sasaran keselamatan pasien (6 sasaran) yang harus diterapkan di setiap RS!
Jawaban soal no. 3
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:
a. Ketepatan identifikasi pasien;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.
Maksud dan Tujuan
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas.
b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pemberi layanan.
Maksud dan Tujuan
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak memu ngkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD
atau ICU.
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert).
Maksud dan Tujuan
Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedurjuga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati.
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat-prosedur, dan tepat- pasien.
Maksud dan Tujuan
Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah sesuatu yang mengkawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator/orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi) atau multipel level (tulang belakang).

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Maksud dan Tujuan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan internasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

f. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
pasien dari cedera karena jatuh.
Maksud dan Tujuan
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

Soal no. 4 Suatu daerah merencanakan mendirikan RSUD guna meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan masayarakat. Sebelum RSUD dibangun maka harus dibuat AMDAL
a. Mengapa AMDAL dibuat, sebut dan jelaskan dokumen AMDAL?
b. Paradigma kesehatan lingkungan mencakup apa saja jelaskan!
Jawaban no.5
a. AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradigma Kesehatan Lingkungan
a. Simpul 1 (sumbernya)
• Jenis dan volume kegiatan yang di lakukan di lokasi
• Lamanya kegiatan di lokasi
• Bahaya fisik yang ada di lokasi
• Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk
• Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan
• Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

b. Simpul 2 (media lingkungan)
• Riwayat latar belakang
• Kepedulian kesehatan masyarakat
• Penduduk
• Penggunaan lahan dan sumber daya alam
• Pencemaran lingkungan
• Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

c. Simpul 3 (tubuh manusia)
• Fitrah pemajanan
• Dosis
• Waktu
• Dosis representative dan waktu pemajanan

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)
• Bidang kesehatan
• Bidang perindustrian
• Bidang prasarana wilayah
• Bidang energy dan sumberdaya mineral
• Bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

Soal no 5
. a. Perlukah Rumah sakit mengalokasikan CSR?
b. Mengapa perusahaan perlu BSR?

Jawaban no.5

a. Perlu, karena untuk mengendalikan rumahsakit yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga sasaran yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar (dari SDM maupun SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

b. Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).
Picture of Triana Uminingsih
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Triana Uminingsih - Monday, 5 March 2012, 10:09 AM
 
Nama : TRIANA UMININGSIH
No.MHS : 25
JAWABAN NO.1
1. a. Program-program yang dilaksanakan Rumah Sakit (RS) dalam pencapaian target MGDS antara lain : mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, dan Penyakit lainnya seperti TB dan malaria
Upaya aksi Rumah Sakit dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak (PONEK = Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Koprehenshif ), Penambahan kapasitas NICU/PICU, Pemantauan bayi risiko tinggi (PERISTI), Pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal (misalnya resusitasi neonatus), Program sayang ibu bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
1b.JAMPERSAL (Jaminan Persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Jampersal dapat mendorong akselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5.
Jampersal bertujuan :
1). Tujuan Umum
Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.
2). Tujuan Khusus
a). Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
b). Meningkatnya cakupan pelayanan:
(1) bayi baru lahir.
(2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
(3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi
baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten.
c). Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.
Sasaran Jampersal :
Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
4. Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi

JAWABAN NO 2
Persiapan Medical Emergency upaya penanggulangan bencana gunung merapi:
a. Ada sarana ambulance, telepon darurat, dokter dan perawat gawat darurat
b. obat-obatan medis untuk memergency
c. Pengenalan mengenai manajemen bencana
d. Memahami peran sektor kesehatan dalam penanggulangan bencana
e. Mampu menganalisa situasi
f. Membuat plain of action
g. Mampu melakukan respon dan recovery

JAWABAN NO.3
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:
a. Ketepatan identifikasi pasien;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu:
untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas.
b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak memu ngkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD
atau ICU.
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert).
MaksudNYA :Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedurjuga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati.
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
MaksudNYA : Pengembangan kepetapatan dalam pemberian obat ( 7T) . Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah sesuatu yang mengkawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator/orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi) atau multipel level (tulang belakang).

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan;
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Maksud dan Tujuan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan internasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

f. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Maksud dan Tujuan
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

JAWABAN NO.4
a. AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradigma Kesehatan Lingkungan
a. Simpul 1 (sumbernya)
• Jenis dan volume kegiatan yang di lakukan di lokasi
• Lamanya kegiatan di lokasi
• Bahaya fisik yang ada di lokasi
• Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk
• Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan
• Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

b. Simpul 2 (media lingkungan)
• Riwayat latar belakang
• Kepedulian kesehatan masyarakat
• Penduduk
• Penggunaan lahan dan sumber daya alam
• Pencemaran lingkungan
• Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

c. Simpul 3 (tubuh manusia)
• Fitrah pemajanan
• Dosis
• Waktu
• Dosis representative dan waktu pemajanan

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)
• Bidang kesehatan
• Bidang perindustrian
• Bidang prasarana wilayah
• Bidang energy dan sumberdaya mineral
• Bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

JAWABAN NO 5

a. RS Perlu CSR, karena untuk mengendalikan rumahsakit yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga sasaran yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar (dari SDM maupun SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

b. Perusahaan perlu BSR Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).
Picture of yuliani yuliani
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by yuliani yuliani - Monday, 5 March 2012, 12:43 PM
 
1. Program MDGS di RS yaitu :
a. Penurunan angka kematian ibu dan bayi
dengan meningkatnya kesehatan ibu dan bayi dengan cara pemeriksaan
mulai dari kehamilan sampai melahirkan
b. 1.Jampersal adalah jaminan persalinan yang ditujukan bagi ibu-ibu yang
hamil dari keluarga tidak mampu agar dapat melaksanakan persalinan di
petugas pelayanan kesehatan baik bidan atau dokter. Dimulai dari
pemeriksaan selama kehamilan, melahirkan, Pelayanan KB setelah
melahirkan, dan bayi yang baru dilahirkan. Sasarannya : Bumil, Bufa dan
bayi baru lahir.
2. Tujuannya : Untuk meningkatkan jumlah pelayanan kesehatan yang
dilakukan oleh petugas kesehatan pada ibu hamil, bersalin , bayi baru
lahir dan pelayanan KB setalah melahirkan, serta mengurangi resiko
komplikasi sekecil mungkin dan mengatasi kesulitan keuangan pada
keluarga bumil yang tidak mampu.
3.Pemeriksaan Kehamilan Risti dengan penyulit
4. Pertolongan persalinan dengan risti dan penyulit yang tidak bisa
ditangani oleh pelayanan tingkat pertama
5. Penanganan Komplikasi
2. Persiapan Medical Emergency pada bencana gunung merapai :
a. Petugas yang siap dan cekatan ,
b. Sarana dan prasarana lainnya : ambulance, Obat-obatan, denah Lokasi kejadian, serta sasaran yang akan dilayani
3. 1.



Picture of yuliani yuliani
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by yuliani yuliani - Monday, 5 March 2012, 05:11 PM
 
soal3.
Sasaran keselamatan pasien :
Sasaran I : Ketepatan dalamidentifikasi pasien
Tujuan :1. untuk melakukan pengecekan yaitu identifikasi pasien sebgai indivdu yang akan menerima pelayanan dan pengobatan .
2. Kesesuaianpelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. Misalnya nama, tanggal ahir,nomor kamar, dn identitas lainnya
Sasaran II. Peningkatan komunikasi yang efektif RS mengembangkan komunkasi antar para pembeli layanan. Komuikasi yang efektif, tepat waktu,akurat,lengkap dan jelas serta mudah dipaakai psien akan mengurangi kesalahan dalam pengobatan baik itu lisan atau tulisan
Sasaran III. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai RS perlu mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat yang perlu diwaspadai
Komponen penilaian
a.Kebijakan/ prosedur tentang proses identifikasi misal:Lokasi,label dan elektrolit konsentrat
b.implementasi kebijakan dan prosedur
c.elektrolit konsentrat harus diberi label yang jelas dan diletakkan atau disimpa pada tempatnya dan bukan dalam unit pelayanan pasien.
Sasaran IV.RS mengembngkan suatu pendekatan untuk menentukan tempat lokasi,prosedur dan tepat sasaran/pasien
Komponen penilaian :
1. Tanda yang jelas dan mudah di mengerti untuk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dalam proses penundan
2.adanya ceklis/kegiatan lainnya
3.Tim Operasi yang lengkap dan menerapkan sertamencatat prosedur sebelum mulai
4. Adanya kebijakan dan prosedur
Sasaran V RS mengembangkan pendekatan untuk mengurangi resiko infeksi yang terkait pada pelayanan kesehatan.
Komponen penilaian :
1. RS mengaaptasi pedoman patient safety
2. RS menerapkan program hand hygiene/efektif
3. Kebijakan dan prosedur yang mengurangi INOS
Sasaran VI RS menerapkanpendekatan untuk mengurangi pasien dan cedera karena jatuh
Komponen penilaian :
1. RS melakukan assesmen pada pasien sebelum dan sesudah jatuh
2. memonitor keberhasilan pengurangan cedera jatuh

4.AMDAL dibuat untuk mengetahui ada tidaknya dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan/masyarakat sekitar
Dokumen :
1. KA-ANDAL merupakan ruang lingkup dan kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilakukan sesuai hasil proses pelingkupan
2.ANDAL yaitu tentang telaah secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha/kegiatan berdsarkan arahan yang telah disepakti dan dok-ANDAL
3.Dok Rencana Pengelolaan LH (RKL) memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkn akibat rencana usaha/kegiatan
4. Dok Rencana Pemantauan LH (RPL) Tentang berbagai rencana rencana pemanatauan terhadap berbagai komponen LH yang telaah di kelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/kegiatan b.Paradigma
a. Simpul 1 ( sumbernya )
* jenis dan volume kegiatan yang dilakukan di lokasi
* Lamanya kegiatan
* Bahaya fisik yang ada dilokasi
* Perubahan -perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran/bentuk
*Kegiatan penanggulangan yang direncanakan yang telah dikerjakan
* Laporan pelaksanaan pengendalian mutu
b.Simpul 2 (media lingkngan )
*Riwayat latar belakang
*Kepedulian kesehatan masyarakat
*Penduduk
*Penggunaan lahan dan sumber daya alam
*Pencemaran Lingk
*JAlur penyebaran pencemaran dilingkungan
c.Simpul 3( Tubuh Manusia)
* Fitrah pemajanan\
* Dosis
* Waktu
* Dosis representatif dan wktu pemajanan
d. Simpul 4( dampak kesehatan )
* Bid kesehatan, Perindustrian,prasarana wilayah,bid energ idan sumber daya mineral, pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun
5.a. Perlu, karena untuk mengendalikan RS yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik ligkungan sekitar (SDM/SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat baik bagi perseorngan sendiri, komunitas setempat/masyarakat pada umumnya
b.dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktifitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat.Oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR harus mempunyai tujuan /sasaran baik tujuan jangka pendek/panjang.sasaran bermisi sosial atau menjadi objek pemasaran
Picture of Parjiyana Parjiyana
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Parjiyana Parjiyana - Monday, 5 March 2012, 12:41 PM
 

Soal 1

Soal 1 a. Program yang dilaksanakan di Rumah Sakit yang berkaitan dengan target

 MDGS, antara lain untuk :

1. Penurunan Angka Kematian Bayi dan Peningkatan Kesehatan Ibu

2. Penurunan angka kesakitan HIV / AID

3. Penurunan angka kesakitan TB

Soal 1 b. Yang dimaksud Jampersal yaitu :

Suatu bentuk jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Jampersal dapat mendorong akselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5

Jampersal Mempunyai Tujuan :

  1. Tujuan Umum

Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.

  1. Tujuan Khusus

Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten untuk menangani
(1) bayi baru lahir.
(2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
(3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi
 baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

(4) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan dan 

  dapat dipercaya.

Soal 2

Persiapan Medical Emergency yang dilakukan dalam upaya penanggulangan Bencana Gunung Merapi yaitu :

1. Pengenalan mengenai manajemen bencana

2. Memahami peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana
3. Mampu melakukan preparedness dengan membuat :

analisa situasi,
Menyiapkan organisasi, dan
Membuat plan of action.

  1. Mampu menyiapkan respon dan recovery

Soal 3

Sasaran Keselamatan Pasien yang diterapkan disetiap Rumah Sakit harus mengacu pada : beberapa hal penting yang harus terpenuhi yaitu :

  1. Ketepatan identifikasi pasien
  2. Peningkatan komunikasi yang efektif
  3. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)
  4. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi
  5. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan
  6. Pengurangan risiko pasien jatuh

Uraian singkat masing-masing Sasaran yang harus diterapkan di setiap RS :

  1. Ketepatan identifikasi pasien

Rumah Sakit mengembangkan suatu pendekatan utk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien melalui kebijan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dengan memperhatikan elemen penilaian, yaitu:

a.  Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

b. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah

c. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan specimen lain utk pemeriksaan klinis

e. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur

f. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yg konsisten pada semua situasi dan lokasi.

  1. Peningkatan komonikasi yang Efektif

  Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas

 komunikasi antar para pembeli layanan, Elemen penilaian:

 a. Perintah lengkap secara lisan dan yg melalui telepon atau hasil pemeriksaan

  ditulis secara lengkap oleh penerima perintah.

 b. Perintah lengkap lisan dan telepon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali

 secara lengkap oleh penerima perintah

 c. Pemerintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau

 yang hasil pemeriksaan

 d. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan  

 komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten

  1. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

 RS mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat2 yg

 perlu diwaspadai Elemen penilaian:

 a. Kebijakan dan atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi,

 menetapkan lokasi, pemberian label dan penyimpanan elektrolit konsentrat.

 b. Implementasi kebijakan dan prosedur

 c. Elektrolit konsentrat tidak boleh disimpan dlm unit pelayanan pasien kecuali

  di butuhkan secara klinis

 d. Elektrolit konsentrat yg disimpan hrs diberi label yg jelas dan disimpan pd area

 yang dibatasi ketat

  1. Kepastian tepat lokasi-lokasi, tepat prosedur, tepat-pasien operasi

   Rumah Sakit mengembangkan suatu pendekatan utk memastikan tepat lokasi,

 tempat prosedur dan tepat pasien, Elemen penilaian:

 a. Tanda yg jelas dan dapat dimengerti utk identifikasi lokasi operasi dan

 melibatkan pasien dlm proses penandaan

 b. Adanya checklist atau proses lain dalam meverifikasi

 c. Tim operasi yg lengkap menerapkan & mencatat prosedur sebelum dimulai

 d. Adanya kebijakan dan prosedur

  1. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

 RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang

 terkait pada pelayanan kesehatan, Elemen penilaian:

 a. Rumah Sakit mengdaptasi pedoman patient Safety

 b. Rumah Sakit menerapkan program hand hygiene yang efektif

 c. Kebijakan dan prosedur utk mengurangi INOS

  1. Pengurangan pasien jatuh

 RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi resiko pasien dari

 cidera karena jatuh. Elemen penilaian:

 a. RS melakukan assesmen sebeum dan sesudah pasien jatuh

 b. Langkah2 mengurangi resiko jatuh

 c. Memonitor keberhasilan pengurangan cidera akibat jatuh dan dampak yg tdk

 diharapkan

 

 e. Kebijakan dan prosedur tentang tersebut

Soal 4

a. Mengapa Amdal dibuat, sebut dan jelaskan dokukumen AMDAL

Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha Rumah Sakit diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL :

1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.`
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradikma kesehatan lingkungan mencakup apa saja

Soal 5

  1. Perlukah Rumah Sakit mengalokasikan CSR

Perlu, karena untuk mengendalikan Rumah Sakit yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga sasaran yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar (dari SDM maupun SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perserorangan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

  1. Mengapa Perusahaan perlu BSR

Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi obyek pemasaran.

Picture of Noor Sa'adah
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Noor Sa'adah - Monday, 5 March 2012, 04:05 PM
 

UJIAN AKHIR MATRIKULASI PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT

PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

MATA UJIAN: DMRS

NAMA: NOOR SA’ADAH; 7 EKSEKUTIF

1. a. program-program yang dilaksanakan RS dalam pencapaian target MDGS antara lain: mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya.

Oleh sebab itu, upaya aksi RS dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu dan Anak (PONEK: Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif), penambahan kapasitas NICU/PICU, pemantauan bayi resiko tinggi (PERISTI), pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan neonatal (In House Trainning), program sayang bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak, dan penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).

b. jampersal (jaminan persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi; pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.

Jampersal bertujuan meningkatkan akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.

Sasaran yang dijamin oleh jampersal adalah: ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas (sampai 42 hari setelah melahirkan), dan bayi baru lahir (sampai dengan 28 hari).

2. persiapan medical emergency yang harus dilakukan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi:

a. pengenalan mengenai manajemen bencana

b. memahami peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana

c. mampu melakukan persiapan dengan; membuat analisa situasi, menyiapkan organisasi, dan membuat plain of action

d. mampu menyiapkan respon dan recovery

3. uraian singkat tentang masing-masing sasaran keselamatan pasien (6 sasaran) yang harus diterapkan di setiap RS, yang terdapat di dalam Permenkes RI no 1691/Menkes/Per/VIII/2011 tentang keselamatan pasien RS dan Standar Akreditasi RS Nasional Baru versi 2012.


Sasaran keselamatan pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:

a.  Ketepatan identifikasi pasien; RS mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki dan meningkatkan ketelitian identifikasi pasien. Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan; pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan. Dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
b. Peningkatan komunikasi yang efektif; RS mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektifitas komunikasi antar para pemberi pelayanan. Komunikasi yang efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis.
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai; RS mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert). Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan sering terjadi kesalahan-kesalahan serius (sentinel event), obat yang beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (nama obat rupa dan ucapan mirip/NORUM, atau look alike soun alike/LASA).
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi; RS mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat-lokasi, tepat-prosedur, dan tepat-pasien. Salah-lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak jarang terjadi di RS. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tin bedah, kurang atau tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Disamping itu asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi.
e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait dengan pelayanan kesehatan. Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para professional pelayanan kesehatan. Pusat dari eliminasi infeksi adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. RS mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum.
f. Pengurangan risiko pasien jatuh; RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh. Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, RS perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat yang telah digunakan dan efeknya terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

4.a. AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di indonesia. Lingkungan hidup merupakan aspek fisik, kimia, ekologi, sosial ekonomi, sosial budaya, dan kesehatan masyarakat. AMDAL dibuat karena diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak atau mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efisien. Dokumen AMDAL:

(1) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)

 Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang akan dilaksakan sesuai hasil proses pelingkupan.

(2) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)

 Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL

(3) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)

 Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.

(4) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)

 Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup yang dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. paradigma kesehatan lingkungan, mencakup:

(1) simpul 1 (sumbernya): jenis dan volume kegiatan yang dilakukan, lamanya kegiatan, bahaya fisik yang ada, perubahan-peruabahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk, kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan, dan laporan pelaksanaan pengendalian mutu.

(2) simpul 2 (media lingkungan): riwayat latar belakang, kepedulian kesehatan masyarakat, penduduk, penggunaan lahan dan SDA, pencemaran lingkungan, dan jalur penyebaran pencemar di lingkungan.

(3) simpul 3 (tubuh manusia): fitrah pemajanan, dosis, waktu, dan dosis representative serta waktu pemajanan.

(4) simpul 4 (dampak kesehatan): bidang kesehatan, perindustrian, prasarana wilayah, energi dan sumber daya mineral, dan pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

5. a. RS perlu mengalokasikan CSR karena untuk mengendalikan RS yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga sasaran yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar dari sumber daya manusia maupun sumber daya alam guna meningkatkan kualitas kehidupan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat, maupun masyarakat pada umumnya.

b. perusahaan perlu menjalankan BSR, karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan mempunyai nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, maka strategi yang dijalankan harus sesuai dengan strategi merk. BSR harus mempunyai tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi obyek keuntungan. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi harus diorganisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).

Picture of Djoko Windoyo
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Djoko Windoyo - Monday, 5 March 2012, 04:30 PM
 
Ujian DMRS Djoko Windoyo
Picture of Putu Crisnayanti
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Putu Crisnayanti - Monday, 5 March 2012, 04:51 PM
 
Jawaban Ujian DMRS Matrikulasi
Picture of Sri Catur Murniningsih
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Sri Catur Murniningsih - Monday, 5 March 2012, 05:15 PM
 

Nama : Sri Catur Murniningsih

Kelas : 7 B

Ujian : DMRS

1. a. Pencapaian target MDGS bidang kesehatan, program yang bisa dilaksanakan di Rumah Sakit adalah :

· Mengurangi Tingkat Kematian Anak

· Meningkatkan Kesehatan Ibu

· Perlawanan terhadap HIV/AIDS, Malaria dan Penyakit lainnya

Target pencapaian MDG’s di Rumah Sakit dengan mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit lainnya. Oleh sebab itu, upaya aksi Rumah Sakit dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak (PONEK), Penambahan kapasitas NICU-PICU, Pemantauan bayi risiko tinggi (PERISTI), Pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal (In House Trainning), Program sayang bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Sedangkan upaya diluar Rumah Sakit dilakukan bentuk kerjasama dengan Puskesmas dalam tata cara sistem rujukan kasus kegawat daruratan anak, dan Pelatihan tenaga kesehatan (dokter umum, bidan, perawat) mengenai penyakit - penyakit anak yang banyak dijumpai di masyarakat, menyediakan akses kesehatan reproduksi secara merata. RS melakukan bentuk perlawanan terhadap HIV/ AIDS, Malaria dan penyakit lainnya, dengan menurunkanpengguna napza suntik untuk mengurangi transmisi HIV. Program DOT’s bekerjasama dengan LSM terkait, Peningkatan tenaga kesehatan terampil, Menjamin tersedianya obat-obat standar untuk penanganan kasus malaria, Membangun jejaring bekerjasama dengan Dinkes dalam menurunkan angka kematian akibat Malaria.

b.Jaminan Persalinan (Jampersal) adalah Jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:

a.  Ibu Hamil

b.  Ibu Bersalin

c.   Ibu Nifas (sampai dengan 42 hari pasca melahirkan)

d.  Bayi Baru Lahir (sampai dengan usia 28 hari)

Pelayanan Persalinan Tingkat Pertama

Adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dan berwenang memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, pelayanan bayi baru lahir, termasuk pelayanan persiapan rujukan pada saat terjadinya komplikasi (kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir) tingkat pertama.

Pelayanan tingkat pertama dapat diberikan di :

1.  Puskesmas

2.  Puskesmas PONED serta jaringannya

3.  Polindes

4.  Poskesdes

5.  Fasilitas kesehatan swasta yang memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Tim Pengelola Kabupaten/Kota

Jenis pelayanan Jaminan Persalinan di tingkat pertama meliputi :

1.  Pemeriksaan Kehamilan

2.  Pertolongan Persalinan Normal

3.  Pelayanan Nifas, termasuk KB pasca persalinan

4.  Pelayanan Bayi Baru Lahir

5.  Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir.

Pelayanan Persalinan Tingkat Lanjutan

Adalah pelayanan yang diberikan oleh tenaga kesehatan spesialistik, terdiri dari pelayanan kebidanan dan neonatus kepada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi dengan resiko tinggi dan komplikasi, dirumah sakit pemerintah dan swasta yang tidak dapat ditangani pada fasilitas kesehatan tingkat pertama dan dilaksanakan berdasarkan rujukan, kecuali pada kondisi kedaruratan.

Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi :

1.  Pemeriksaan kehamilan dengan resiko tinggi (RISTI) dan penyulit

2. Pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama

3.  Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang setara

2. Persiapan medical emergency yang harus dilakukuan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi yaitu :

Ø Anggaran à kita perlu menganggarkan uang untuk keperluan yang bisa digunakan untuk membantu korban – korban selama bencana.

Ø SDM à kita harus menyiapkan siapakah saja orang – orang yang dipersiapkan untuk membantu, saat terjadinya bencana

Ø Sarana & Prasarana à persediaan yang disiapkan antara lain, peralatan emergency seperti IGD, obat – obatan, tandu, oksigen, minorset, ambulane, Burn Unit, dll

Ø System à adanya sistem koordinasi (internal maupun eksternal) yang baik dalam menangani korban sehingga seluruh korban bencana dapat ditangani dengan baik.

3. 6 Sasaran Keselamatan Pasien RS yang harus diterapkan di semua RS yaitu:

· Ketepatan Identifikasi Pasien

· Pedningkatan komunikasi yang efektif

· Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

· Kapasitas tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi

· Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

· Pengurangan resiko pasien jatuh

Adapun untuk mewujudkannya diperlukan setidaknya 7 langkah menuju keselamatan Pasien tersebut yakni :

·  Bangun kesadaran akan nilai keselamatan Pasien

· Pimpin dan dukung Staf anda

· Integrasikan aktivitas resiko

· Kembangkan sistem pelaporan

· Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien

· Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan Pasien

· Cegah cedera melalui implementasi sisitem Keselamatan Pasien

4. Suatu daerah merencanakan mendirikan RSUD guna meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan masayarakat. Sebelum RSUD dibangun maka harus dibuat AMDAL
a. Mengapa AMDAL dibuat, sebut dan jelaskan dokumen AMDAL?
b. Paradigma kesehatan lingkungan mencakup apa saja jelaskan!
a. AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradigma Kesehatan Lingkungan
a. Simpul 1 (sumbernya)
• Jenis dan volume kegiatan yang di lakukan di lokasi
• Lamanya kegiatan di lokasi
• Bahaya fisik yang ada di lokasi
• Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk
• Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan
• Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

b. Simpul 2 (media lingkungan)
• Riwayat latar belakang
• Kepedulian kesehatan masyarakat
• Penduduk
• Penggunaan lahan dan sumber daya alam
• Pencemaran lingkungan
• Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

c. Simpul 3 (tubuh manusia)
• Fitrah pemajanan
• Dosis
• Waktu
• Dosis representative dan waktu pemajanan

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)
• Bidang kesehatan
• Bidang perindustrian
• Bidang prasarana wilayah
• Bidang energy dan sumberdaya mineral
• Bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

5. a. Rumah Sakit dalam mengalokasikan CSR

Alokasi CSR untuk RS sesuai UU No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas, bahwa PT harus mengalokasikan CSR sebesar 2% dari keuntungannya. Oleh karena itu RS yang berbentuk PT harus mengalokasikan CSR, walaupun dana CSR ini bisa untuk membantu pasien RS tersebut yang tidak mampu. Sedangkan RS yang bukan berbentuk PT, tidak wajib mengalokasikan CSR, tetapi sebaiknnya Rumah Sakit mendirikan HSR (Hospital Social Responsibility) yang SDM nya di luar kepengurusan Rumah Sakit, misalnya dari Dharma Wanita, Pensiunan. Dana berasal dari Donatur, Rumah Sakit ataupun di luar Rumah Sakit untuk membantu pasien-pasien yang tidak mampu membayar yang sedang menjalani Rawat Inap di RS yang bersangkutan.

b. BSR

Perusahaan perlu mengalokasikan anggaran untuk BSR karena

1. perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial ini akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk, bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat.

2. Disamping berlomba dalam kepedulian sosial yang lebih kreatif, BSR merupakan strategi dalam penjualan merk suatu perusahaan.

Picture of Siti Apriani Kurnianingsih
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Siti Apriani Kurnianingsih - Monday, 5 March 2012, 06:33 PM
 
soal 1
1a. mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, dan Penyakit lainnya seperti TB dan malaria
Upaya aksi Rumah Sakit dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak Pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal , Program sayang ibu bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
1b.JAMPERSAL (Jaminan Persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
tujuan ja,persal :
1). Tujuan Umum
Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.
2). Tujuan Khusus
a). Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
b). Meningkatnya cakupan pelayanan:
(1) bayi baru lahir.
(2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
(3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi
baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten.
c). Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.
Sasaran Jampersal :
Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
4. Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi

soal NO 2
Persiapan Medical Emergency upaya penanggulangan bencana gunung merapi:
  1. Pengenalan mengenai manajemen bencana
  2. Memahami peran sektor kesehatan dalam penanggulangan bencana
  3. Mampu menganalisa situasi
  4. Membuat plain of action
  5. Mampu melakukan respon dan recovery

soal NO.3
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:
a. Ketepatan identifikasi pasien;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu:
untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan.

c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert).
MaksudNYA :Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedurjuga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati.
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
MaksudNYA : Pengembangan kepetapatan dalam pemberian obat ( 7T) . Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah sesuatu yang mengkawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali.
e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan;
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Maksud dan Tujuan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan internasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

f. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Maksud dan Tujuan
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

JAWABAN NO.4
a. AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradigma Kesehatan Lingkungan
a. Simpul 1 (sumbernya)
• Jenis dan volume kegiatan yang di lakukan di lokasi
• Lamanya kegiatan di lokasi
• Bahaya fisik yang ada di lokasi
• Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk
• Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan
• Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

b. Simpul 2 (media lingkungan)
• Riwayat latar belakang
• Kepedulian kesehatan masyarakat
• Penduduk
• Penggunaan lahan dan sumber daya alam
• Pencemaran lingkungan
• Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

c. Simpul 3 (tubuh manusia)
• Fitrah pemajanan
• Dosis
• Waktu
• Dosis representative dan waktu pemajanan

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)
• Bidang kesehatan
• Bidang perindustrian
• Bidang prasarana wilayah
• Bidang energy dan sumberdaya mineral
• Bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

soal NO 5

a. RS Perlu CSR, karena untuk mengendalikan rumahsakit yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar (dari SDM maupun SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

b. Perusahaan perlu BSR Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).

Nama : siti apriyani
Picture of Yuni Istanti
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Yuni Istanti - Monday, 5 March 2012, 06:51 PM
 
JAWABAN UJIAN DMRS ANGKATAN 7 EKSEKUTIF
NAMA : YUNI ISTANTI
NO. MHS : -
Soal 1. a. Pencapaian target MDGS bidang kesehatan, program apa saja yang bisa dilaksanakan dirumah sakit, terangkan dengan singkat?
b. Apa yang diketahui tentang Jampersal?
Jawaban :
1. a. Program-program yang dilaksanakan Rumah Sakit (RS) dalam pencapaian target MGDS antara lain : mengurangi tingkat kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu dan perlawanan terhadap HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit lainnya. Oleh sebab itu, upaya aksi Rumah Sakit dilakukan melalui Pelayanan Emergency Ibu & Anak (PONEK = Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Koprehenshif ), Penambahan kapasitas NICU/PICU, Pemantauan bayi risiko tinggi (PERISTI), Pelatihan tenaga kesehatan yang berhubungan dengan kegawatan Neonatal (In House Trainning), Program sayang bayi, memberikan penyuluhan dan pelayanan mengenai imunisasi pada bayi dan anak (Mis : campak pada pasien gizi kurang), penyuluhan tentang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI).
b. Jampersal (Jaminan Persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan.
Jampersal dapat mendorong akselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5.
Jampersal bertujuan :
1). Tujuan Umum
Meningkatnya akses terhadap pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB.
2). Tujuan Khusus
a). Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
b). Meningkatnya cakupan pelayanan:
(1) bayi baru lahir.
(2) Keluarga Berencana pasca persalinan.
(3) Penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi
baru lahir, KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang
kompeten.
c). Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif,
transparan, dan akuntabel.
Sasaran Jampersal :
Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:
1. Ibu hamil
2. Ibu bersalin
3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
Soal no. 2
Persiapan medical emergency apa saja yang harus dilakukuan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi?
Jawaban no.2
Persiapan Medical Emergency upaya penanggulangan bencana gunung merapi:
1. Pengenalan mengenai manajemen bencana
2. Memahami peran sektor kesehatan pada penanggulangan bencana
3. Mampu melakukan preparedness dengan
a. Membuat analisa situasi,
b. Menyiapkan organisasi, dan
c. Membuat plan of action.
4. Mampu menyiapkan respon dan recovery

Soal no. 3 Uraikan secara singkat tetapi jelas tentang masing-masing sasaran keselamatan pasien (6 sasaran) yang harus diterapkan di setiap RS!
Jawaban soal no. 3
Sasaran Keselamatan Pasien meliputi tercapainya hal-hal sebagai berikut:
a. Ketepatan identifikasi pasien;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.
Maksud dan Tujuan
Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.
Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code, dan lain-lain. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, atau ruang operasi termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas.
b. Peningkatan komunikasi yang efektif;
Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pemberi layanan.
Maksud dan Tujuan
Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan.
Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah; kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan; dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak memu ngkinkan seperti di kamar operasi dan situasi gawat darurat di IGD
atau ICU.
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert).
Maksud dan Tujuan
Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien, manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Soun Alike/LASA). Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya, kalium klorida 2meq/ml atau yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari 0.9%, dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien, atau bila perawat kontrak tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan, atau pada keadaan gawat darurat. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. Rumah sakit secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di rumah sakit. Kebijakan dan/atau prosedurjuga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat, seperti di IGD atau kamar operasi, serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut, sehingga membatasi akses, untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati.
d. Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat-prosedur, dan tepat- pasien.
Maksud dan Tujuan
Salah lokasi, salah-prosedur, pasien-salah pada operasi, adalah sesuatu yang mengkawatirkan dan tidak jarang terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegible handwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Digunakan juga praktek berbasis bukti, seperti yang digambarkan di Surgical Safety Checklist dari WHO Patient Safety (2009), juga di The Joint Commission’s Universal Protocol for Preventing Wrong Site, Wrong Procedure, Wrong Person Surgery. Penandaan lokasi operasi perlu melibatkan pasien dan dilakukan atas satu pada tanda yang dapat dikenali. Tanda itu harus digunakan secara konsisten di rumah sakit dan harus dibuat oleh operator/orang yang akan melakukan tindakan, dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan disayat. Penandaan lokasi operasi dilakukan pada semua kasus termasuk sisi (laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi) atau multipel level (tulang belakang).

e. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan; dan
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
Maksud dan Tujuan
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis).
Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene bisa dibaca kepustakaan WHO, dan berbagai organisasi nasional dan internasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk hand hygiene yang diterima secara umum dan untuk implementasi petunjuk itu di rumah sakit.

f. Pengurangan risiko pasien jatuh.
Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko
pasien dari cedera karena jatuh.
Maksud dan Tujuan
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang disediakan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh, obat dan telah terhadap konsumsi alkohol, gaya jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

Soal no. 4 Suatu daerah merencanakan mendirikan RSUD guna meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan masayarakat. Sebelum RSUD dibangun maka harus dibuat AMDAL
a. Mengapa AMDAL dibuat, sebut dan jelaskan dokumen AMDAL?
b. Paradigma kesehatan lingkungan mencakup apa saja jelaskan!
Jawaban no.5
a. AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
Mengapa AMDAL dibuat adalah diharapkan dengan melalui kajian AMDAL, kelayakan lingkungan sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan diharapkan mampu secara optimal (dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa merusak dan mengorbankan lingkungan) meminimalkan kemungkinan dampak lingkungan hidup yang negatif, serta dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam secara efesien.

Dokumen AMDAL:
1. Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL).
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai dampak LH yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses pelingkupan.
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL).
Dokumen ini memuat telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan LH (RKL).
Dokumen ini memuat berbagai upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap LH yang ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan.
4. Dokumen Rencana Pemantauan LH (RPL).
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen LH yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

b. Paradigma Kesehatan Lingkungan
a. Simpul 1 (sumbernya)
• Jenis dan volume kegiatan yang di lakukan di lokasi
• Lamanya kegiatan di lokasi
• Bahaya fisik yang ada di lokasi
• Perubahan-perubahan yang dilakukan baik dalam ukuran maupun bentuk
• Kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan
• Laporan pelaksanaan pengendalian mutu

b. Simpul 2 (media lingkungan)
• Riwayat latar belakang
• Kepedulian kesehatan masyarakat
• Penduduk
• Penggunaan lahan dan sumber daya alam
• Pencemaran lingkungan
• Jalur penyebaran pencemar di lingkungan

c. Simpul 3 (tubuh manusia)
• Fitrah pemajanan
• Dosis
• Waktu
• Dosis representative dan waktu pemajanan

d. Simpul 4 (dampak kesehatan)
• Bidang kesehatan
• Bidang perindustrian
• Bidang prasarana wilayah
• Bidang energy dan sumberdaya mineral
• Bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3)

Soal no 5
. a. Perlukah Rumah sakit mengalokasikan CSR?
b. Mengapa perusahaan perlu BSR?

Jawaban no.5

a. Perlu, karena untuk mengendalikan rumahsakit yang tidak hanya sebagai sasaran untuk mencari keuntungan tetapi juga sasaran yang bermisi sosial yang membutuhkan dukungan baik lingkungan sekitar (dari SDM maupun SDA) guna meningkatkan kualitas kehidupan dan lingkungan yang bermanfaat, baik bagi perseroan sendiri, komunitas setempat maupun masyarakat pada umumnya.

b. Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).
Picture of  I Made Santana
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by I Made Santana - Monday, 5 March 2012, 06:51 PM
 
nama : I MADE SANTANA
UJIAN AKHIR MATRIKULASI
TA. 2011/2012
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN RUMAH SAKIT
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


jawaban 1
a. Program-program yang harus dilaksanakan rumah sakit dalam pencapaian target MGDS yaitu:
• mengurangi tingkat kematian anak
• meningkkatkan kesehatan ibu
• perlawanan terhadap HIV/AIDS
• penurunan angka penyakit TB dan malaria
b. Jampersal adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan oleh pemerintah yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Sasaran jampersal adalah ibu hamil , bersalin, nifas, dan bayi baru lahir agar dapat ditolong oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB untuk mendorong percepatan pencapaian MDGs. Jampersal untuk membantu masyarakat yang tidak memiliki asuransi/jaminan kesehatan sehingga tidak ada alasan untuk tidak mampu melahirkan di tempat yang baik.

jawaban 2
Persiapan medical emergency yang harus dilakukuan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi antara lain :
1. Melakukan kegiatan pra bencana (mitigasi) dengan cara penilaian bahaya (hazard assessment); mengidentifikasi populasi dan aset yang terancam, serta tingkat ancaman dengan pengetahuan tentang karakteristik sumber bencana, kemungkinan kejadian bencana, serta data kejadian bencana di masa lalu. Tahapan ini dapat menghasilkan peta potensi bencana yang sangat penting untuk merancang kedua unsur mitigasi lainnya.
2. Peringatan (warning); diperlukan untuk memberi peringatan kepada masyarakat tentang bencana gunung merapi yang akan mengancam. Sistem peringatan didasarkan pada data bencana yang terjadi sebagai peringatan dini serta menggunakan berbagai saluran komunikasi untuk memberikan pesan kepada pihak yang berwenang maupun masyarakat. Peringatan terhadap bencana yang akan mengancam harus dapat dilakukan secara cepat, tepat dan dipercaya.
3. Persiapan (prepraredness). Kegiatan kategori ini tergantung kepada unsur mitigasi sebelumnya (penilaian bahaya dan peringatan), yang membutuhkan pengetahuan tentang daerah yang kemungkinan terkena bencana dan pengetahuan tentang sistem peringatan untuk mengetahui kapan harus melakukan evakuasi dan kapan saatnya kembali ketika situasi telah aman.
Pada tahapan ini harus disiapkan:
a. Dana (anggaran uang) untuk membantu proses penyiapan bahan baku maupun alat-alat bantu saat terjadinya bencana.
b. Orang-orang yang siap dan bisa membantu jika terjadinya bencana baik dari bidang kesehatan, keamanan, sampai masyarakat sekitar yang sudah mendapat pengetahuan dan pelatihan mengenai bencana alam.
c. Sarana dan prasarana dengan menyiapkan peralatan emergency seperti tempat kegawatdaruratan, obat – obatan, tandu, oksigen, alat-alat bedah minor, tempat pengungsian yang aman, dan masih banyak lagi.
d. Yang terpenting adalah early warning system baik dari sistem komando, search and rescue dapat berada pada komando, pelayanan gawat darurat medis, atau polisi atau suatu unit tersendiri yang sudah terlatih, saluran komunikasi atau alat tanda bahaya (sirine) sehingga dapat meminimalisir terjadinya korban. Tetapi semua system harus terintegrasi dengan baik dan terkoordinasi.

jawaban 3
Sasaran keselamatan pasien (6 sasaran) yang harus diterapkan di setiap RS adalah:
1) Ketepatan identifikasi pasien;
Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien sering terjadi, terutama
aspek/tahapan diagnosis dan pengobatan.Pada pasien yang tidak sadar, mengalami disorientasi, bertukar tempat tidur/kamar/lokasi di rumah sakit, ada kelainan sensori, atau tidak ada orang/keluarga yang mengantar. Sangat diperlukan untuk dua kali pengecekan yaitu: pertama, untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. sehingga tidak terjadi kesalahan saat pengenalan pasien, pemberian obat, darah(atau produk darah), mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis.
2) Peningkatan komunikasi yang efektif;
Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon, pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito melalui telepon ke unit pelayanan. Sehingga harus tercapai komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh pasien, akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik, lisan, atau tertulis.
3) Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai;
Obat-obatan yang perlu diwaspadai adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius, obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (nama obat, bentuk, dan ucapan). Sehingga perlunya identifikasi jenis obat, lokasi penyimpanan, dan pemberian label yang jelas.
4) Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi;
Kesalahan ini sering terjadi akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang
tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi, dan tidak ada prosedur untuk verifikasi lokasi operasi. Di samping itu, asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca dan pemakaian singkatan adalah faktor-fakto kontribusi yang sering terjadi. Sehingga harus selalu dikoreksi mengenai masalah ini.
5) Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan;
Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih, infeksi pada aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Sehingga rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (dari WHO Patient Safety) dan menerapkan program hand hygiene yang efektif untuk pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.
6) Pengurangan risiko pasien jatuh.
Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. Rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh.

jawaban 4
a. mengapa AMDAL dibuat
karena sebelum mengambil keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan kita harus mengetahui dampak apa yang dapat merusak lingungan, maka kita di harapkan membangun perusahaan secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan disekitar dan mampu memanfaatkan sumber daya manusia yang ada dimasyarakat tempat dibangunnya perusahaan agar mencegah kejadian-kejadian yang tidak diharapkan.
pengertian AMDAL
AMDAL merupakan kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha/kegiatan di Indonesia. Lingkungan hidup meliputi aspek fisik, kimia, ekologi, sosek, sosbud, dan kesmas.
dokumen AMDAL
1. Dokumen Kerangka Acuan-Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL)
Dokumen ini merupakan ruang lingkup dan kedalaman kajian analisis mengenai
dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan sesuai hasil proses screening wajib AMDAL. KA-ANDAL harus disetujui dahulu baru dokumen yang lain bisa dibuat (dokumen berikutnya).
2. Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL)
Dokumen ini memuat telaah yang cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana pembanguan RSUD berdasarkan arahan yang telah disepakati dalam dokumen KA-ANDAL yang sudah disepakati.
3. Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
Dokumen ini memuat berbagai upaya kelola terhadap dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh pembangunan RSUD tersebut terhadap lingkungan hidup.
4. Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
Dokumen ini memuat berbagai rencana pemantauan terhadap berbagai komponen lingkungan hidup yang telah dikelola akibat terkena dampak besar dan penting dari rencana pembangunan RSUD.
b. Paradigma kesehatan lingkungan
Simpul 1 (sumbernya)
Jenis dan volume kegiatan yang dilakukan di lokasi, lamanya kegiatan, bahaya fisik yang ada di lokasi, perubahan-perubahan yang dilakukan (baik dalam ukuran maupun bentuk), kegiatan penanggulangan yang direncanakan dan yang telah dikerjakan, serta laporan pelaksanaan pengendalian mutu.
2. Simpul 2 (media lingkungan)
Riwayat latar belakang, kepedulian kesehatan masyarakat, penduduk, penggunaan lahan dan sumber daya alam, pencemaran lingkungan, dan jalur penyebaran pencemar di lingkungan.
3. Simpul 3 (tubuh manusia)
Terdiri dari fitrah pemajanan, dosis, waktu, dosis representatif dan waktu pemajanan.
4. Simpul 4 (dampak kesehatan)
Dari bidang kesehatan, bidang perindustrian, bidang prasarana wilayah, bidang energi dan sumber daya mineral, sampai bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).
Sehingga dari simpul-simpul diatas untuk mencapai kesehatan lingkungan dapat dicapai dengan pengendalian agen-agen penyebab dan menjaga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat baik yang berada dilingkungan RSUD tersebut maupun masyarakat luas.

jawaban 5
a. Perlukah rumah sakit mengalokasikan CSR? Perlu, karena sesuai aturan AMDAL yang telah disepakati, juga dapat menjaga aspek lingkungan yang baik, membantu kesejahteraan masyarakat sekitar, sehingga menjadikan rumah sakit tersebut dapat diterima masyarakat dengan baik.
b. Mengapa perusahaan perlu BSR?
Konsep BSR menekankan pada kepedulian merek kepada masalah sosial masyarakat dan bagaimana mengelola merek melalui kegiatan kepedulian sosial tersebut. Tentu saja, bicara soal strategi, kita berbicara tentang perencanaan. Rencana-rencana tersebut adalah:
1. Kepedulian sosial seharusnya bukan hanya tanggung jawab korporat tetapi juga berbagai merek yang dikelola yang dikelola perusahaan tersebut.
2. Aktivitas sosial yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk, bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. Banyak aktivitas kepedulian sosial hanya menjadi bagian dari aktivitas public relations (PR). Padahal pada saat memiliki sasaran, BSR haruslah diorganisasikan dengan baik.
3. Menjalankan program BSR lebih menarik karena bisa dikaitkan dengan program marketing yang kreatif dan kompetitif sehingga mereka bisa menjalankan kepedulian sosial yang lebih kreatif. Sasaran yang bermisi sosial bisa menjadi marketing objective.
Picture of Muhammad Firdaus
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Muhammad Firdaus - Monday, 5 March 2012, 06:55 PM
 
Tugas DMRS M.Firdaus
Picture of Indriastuti Indriastuti
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Indriastuti Indriastuti - Monday, 5 March 2012, 07:32 PM
 
jawaban soal dalam bentuk document.
Picture of Robert Timbul Sitorus
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Robert Timbul Sitorus - Monday, 5 March 2012, 07:45 PM
 
UJIAN DMRS
Picture of Herianto Sosilo
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Herianto Sosilo - Monday, 5 March 2012, 07:51 PM
 
TUGAS DMRS MMR HERIANTO SOSILO EKSEKUTIF 7B
Picture of Corrie Henryani
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Corrie Henryani - Monday, 5 March 2012, 08:28 PM
 
DMRS corrie
Tri Kuncoro - MMR- angkatan 7B
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Tri Kuncoro - Monday, 5 March 2012, 10:16 PM
 
 

1.a. Pencapaian target MDGS bidang kesehatan, program apa saja yang bisa dilaksanakan di rumah sakit, terangkan dengan singkat?

 

Jawab :

 

Sasaran I : Penurunan angka kematian bayi dan Peningkatan kesehatan ibu

Proses persalinan dan perawatan bayi harus dilakukan dalam sistem terpadudalam bentuk pelayanan obstetrik &neonatus komprehensif (PONEK)di rumah sakit dan pelayanan obstetrik dan neonatus dasar (PONED)di Puskesmas 

Sasaran II : Penurunan angka kesakitan HIV/AIDS

 

Kemudahan akses bagi ODHA untuk mendapatkan layanan pencegahan, pengobatan, dukungan & perawatan, shg diharapkan lebih banyak ODHA yang memperoleh pelayanan yang berkualitas di RS yang ditetapkan sbg RS rujukan ODHA.

 

Sasaran III : Penurunan angka kesakitan TB

Rumahsakit melaksanakan Penanggulangan TB sesuai pedoman strategi DOTS Penerapan strategi DOTS TB di RS dalam meningkatan angka:

  • penemuan kasus(caredetectionrate,CDR),
  • keberhasilan pengobatan(curerate),dan
  • keberhasilan rujukan(successreferalrate).

 

 

1.b. Apa yang diketahui tentang Jampersal?

Jawab :

 

Jampersal (Jaminan Persalinan) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, pelayanan nifas termasuk pelayanan KB paska persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. Ini merupakan kebijakan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang diberikan kepada semua ibu hamil agar dapat mengakses pemeriksaan persalinan, pertolongan persalinan, pemeriksaan nifas dan pelayanan KB oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan secara GRATIS (ditanggung pemerintah) sehingga pada gilirannya dapat menekan angka kematian ibu dan bayi.

 

Kebijakan Jampersal ini yang diluncurkan sejak tahun 2011 juga dalam rangka mempercepat pencapaian tujuan pembangunan kesehatan nasional serta Millennium Development Goals (MDGs) merupakan upaya terobosan serta peningkatan kerjasama lintas sektor untuk mengejar ketertinggalan penurunan AKI (Angka Kematian Ibu)

  

Tujuan Kebijakan Jampersal

 

a. Tujuan Umum

 

Meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB melalui jaminan pembiayaan untuk pelayanan persalinan.

 

b. Tujuan Khusus

 
  1. Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan.
  2. Meningkatnya cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenagakesehatan.
  3. Meningkatnya cakupan pelayanan KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.
  4. Meningkatnya cakupan penanganan komplikasi ibu hamil,bersalin, nifas, dan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.
  5. Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

C. Sasaran

 

Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:

 
  • a. Ibu hamil
  • b. Ibu bersalin
  • c. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)
  • d. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)
 

2. Persiapan medical emergency apa saja yang harus dilakukuan dalam upaya penanggulangan bencana gunung merapi?

  

Jawab :

a. Tenaga dokter dan perawat yang terlatih kegawat daruratan dan pertolongan terhadap korban bencana alam

 

b. Peralatan yang steril dan siap pakai : peralatan kegawat daruratan (ambo bag, disposable spuit, abbocath, infuse set, cairan infuse, elastic bandage, masker, bidai, dll), minor surgery set, dll

 

c. Alat untuk transportasi tenaga kesehatan dan pasien : Ambulance beserta isi peralatan penanganan kegawat daruratan.

 

3.  Sasaran keselamatan pasien merupakan syarat untuk diterapkannya di semua Rumah Sakit di Indonesia. Penyusunan sasaran ini mengacu pada : Nine Life-Saving Patient Safety Solutions dari WHO Patient Safety (2007) yang kemudian digunakan oleh Komite Keselamatan Pasien RS (KKPRS Perhimpunan RS Seluruh Indonesi/PERSI) dan terdapat di didalam :

 

1).  PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1691/MENKES/PER/VIII/2011 TENTANG KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT (link : elearning.mmr.umy.ac.id bagian DMRS file elearning : PMK 1691).

 

2).  Standar Akreditasi RS Nasional Baru versi 2012.

 

Uraikan secara singkat tetapi jelas tentang masing-masing sasaran keselamatan pasien (6 sasaran) yang harus diterapkan di setiap RS!

  

Jawab :

 

Enam sasaran keselamatan pasien adalah sebagai berikut :

 

Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien

Standar : Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki /meningkatkan ketelitian identifikasi pasien.

 

Maksud ganda dari sasaran ini adalah : pertama, untuk dengan cara yangdapat dipercaya/reliable mengidentifikasi pasien sebagai individu yang dimaksudkan untuk mendapatkan pelayanan atau pengobatan; dan kedua, untuk mencocokkan pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. Kebijakan dan/atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untukmengidentifikasi seorang pasien, seperti nama pasien, nomor identifikasi umumnya digunakan nomor rekam medis, tanggal lahir, gelang (-identitas pasien) dengan bar-code, atau cara lain. Nomor kamar atau lokasi pasien tidak bisa digunakan untuk identifikasi. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua pengidentifikasi/penanda yang berbeda pada lokasi yang berbeda di rumah sakit, seperti di pelayanan ambulatori atau pelayanan rawat jalan yang lain, unit gawat darurat, atau kamar operasi. Identifikasi terhadap pasien koma yang tanpa identitas, juga termasuk 

 

Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif

 

Standar : Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pemberi layanan.

Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh resipien/penerima,akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telpon, bila diperbolehkan peraturan perundangan. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti laboratorium klinis menelpon unit pelayanan pasien untuk melaporkan hasil pemeriksaan STAT/segera /cito.

 

Sasaran III  : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

 

Standar : Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki / meningkatkan keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

 

Bila obat-obatan adalah bagian dari rencana pengobatan pasien, maka penerapan manajemen yang benar penting/krusial untuk memastikan keselamatan pasien. Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert

 

medications) adalah obat yang persentasinya tinggi dalam menyebabkan terjadi kesalahan/error dan/atau kejadian sentinel (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan

 

(adverse outcome) demikian pula obat-obat yang tampak mirip/ucapan mirip (Nama Obat, Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look-Alike Sound-Alike / LASA).

  

Sasaran lV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi

 

Standar : Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi, tepat prosedur, dan tepat pasien operasi.

 

Salah-lokasi, salah-prosedur, salah-pasien operasi, adalah kejadian yang mengkhawatirkan dan biasa terjadi di rumah sakit. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau tidak adekuat antara anggota tim bedah, kurang/ tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking), dan tidak ada prosedur untuk memverifikasi lokasi operasi. Di samping itu juga asesmen pasien yang tidak adekuat, penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat, budaya yang tidak mendukung komunikasi

 

terbuka antar anggota tim bedah, permasalahan yang berhubungan dengan resep yang tidak terbaca (illegible handwriting) dan pemakaian singkatan adalah merupakan faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi.

 

Rumah sakit perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Kebijakan termasuk definisi dari operasi yang memasukkan sekurang-kurangnya prosedur yang menginvestigasi dan/atau mengobati penyakit dan kelainan/disorder pada tubuh manusia dengan cara menyayat, membuang, mengubah, atau menyisipkan kesempatan diagnostik/terapeutik. Kebijakan berlaku atas setiap lokasi di rumah sakit dimana prosedur ini dijalankan.

 

 

Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

 

Standar : Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan.

 

Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan praktisi dalam kebanyakan tatanan pelayanan kesehatan, dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan pelayanan kesehata merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. Infeksi umumnya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih-terkait kateter, infeksi aliran darah (blood stream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Pokok dari eliminasi infeksi ini maupun infeks lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Pedoman hand hygiene yang berlaku secara internasional bisa diperoleh dari WHO, Pusat Pengendalidan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (US CDC) berbagai organisasi nasional dan intemasional. Rumah sakit mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang

 

menyesuaikan atau mengadopsi pedoman hand hygiene yang diterima secara umum untuk implementasi pedoman itu di rumah sakit.

 

 

Sasaran VI  : Pengurangan risiko pasien jatuh

 

Standar : Rumah sakit mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh.

 

Jumlah kasus jatuh menjadi bagian yang bermakna penyebab cedera pasien rawat inap. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani, pelayanan yang diberikan, dan fasilitasnya, rumah sakit perlu mengevaluasi risiko pasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bila sampai jatuh. Evaluasi bisa meliputi riwayat jatuh, obat dan telaah terhadap obat dan konsumsi alkohol, penelitian terhadap gaya/cara jalan dan keseimbangan, serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien.

 

Program ini memonitor baik konsekuensi yang dimaksudkan atau yang tidak sengaja terhadap langkahlangkah yang dilakukan untuk mengurangi jatuh. Misalnya penggunaan yang tidak benar dari alat penghalang aau pembatasan asupan cairan bisa menyebabkan cedera, sirkulasi yang terganggu, atau integrasi kulit yang menurun. Program tersebut harus diterapkan di rumah sakit.

 

 

4.  Suatu daerah merencanakan mendirikan RSUD guna meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan masayarakat. Sebelum RSUD dibangun maka harus dibuat AMDAL

 

Mengapa AMDAL dibuat, sebut dan jelaskan dokumen AMDAL?

 

Paradigma kesehatan lingkungan mencakup apa saja jelaskan!

  

Jawab :

  

AMDAL adalah salah satu studi yang mengidentifikasi, memprediksi, menginterpretasi dan mengkomunikasikan pengaruh dari suatu kegiatan manusia terhadap lingkungan.

 

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dikenal istilah Analisis mengenai Dampak Lingkungan yang disingkat dengan AMDAL yang berarti hasil studi mengenai dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Di samping pengertian tersebut, dewasa ini dikenal pengertian :

 

a) AMDAL Kegiatan Terpadu/Multi Sektor yaitu hasil studi mengenai dampak penting kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan melibatkan kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab.

 

b) AMDAL Kawasan yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem dan menyangkut kewenangan satu instansi yang bertanggung jawab.

 

c) AMDAL Regional yaitu hasil studi dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona rencana pengembangan wilayah sesuai rencana umum tata ruang daerah dan melibatkan

 

kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Bagi kegiatan yang diragukan dampak pentingnya, dilakukan proses penapisan untuk memastikan apakah kegiatan tersebut

 

berdampak penting atau tidak. Bagi rencana kegiatan yang tidak ada dampak pentingnya, dalam rangka menunjang pembangunan yang berwawasan lingkungan diharuskan melakukan upaya

 

pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL).

  

Dokumen ANDAL:

 

a. KA-ANDAL (Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan)

 

b. ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan)

 

c. RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup)

 

d. RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup)

  

4b. Paradigma Kesehatan Lingkungan

 

a) Tidak MCK (Mandi,Cuci, Kakus) di sungai

 

b) Tidak BAB (buang air besar) di lingkungan alam/sembarangan tempat

 

c) Tidak membuang limbah dilingkungan alam

 

d) Kesadaran PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat)

 

e) Kegiatan 3M

 


5.  a. Perlukah Rumah sakit mengalokasikan CSR? Mengapa perusahaan perlu BSR?

  

Jawab :

 

Pendirian rumah sakit bertujuan untuk menyehatkan masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan kebutuhan pengelolaan rumah sakit dan kebutuhan pasien, tidak sedikit rumah sakit yang menyimpang dari tujuan sosial tersebut. Lihatlah, rumah sakit mulai mengarah pada usaha komersialisasi. Dari segi fungsinya, rumah sakit memiliki suatu kewajiban untuk menyehatkan masyarakat. Jadi bukan semata-mata diibaratkan Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah perusahaan. Dari tujuan utamanya saja pendirian rumah sakit sudah memiliki tujuan sosial untuk menyehatkan masyarakat, bukan untuk mencari profit.

 

Sehingga rumah sakit tidak perlu mengalokasikan CSR.

  

Perusahaan perlu BSR (Brand Social Responsibility), karena :

 

Isu kepeduluan sosial seharusnya bukan hanya tanggung jawab korporat tetapi juga berbagai merek yang dikelola yang dikelola perusahaan tersebut. Padahal merek di perusahaan besar dikelola oleh perusahaan sendiri yang merupakan anak perusahaan dari holding company, ini berarti semakin banyak kepedulian sosial yang dijalankan.

 

Dengan menjalankan BSR, perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial ini akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nialai strategis terhadap pengeloaan merk, bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk.

 

Menjalankan program BSR lebih menarik karena bisa dikaitkan dengan program marketing yang dijalankan, umumnya mereka yang terlibat dalam menjalankan strategi merk produk dan jasa lebih kreatif karena sering berkompetisi, sehingga mereka bisa menjalankan kepedulian sosial yang lebih kreatif.

 

 

 
Picture of Indriastuti Indriastuti
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by Indriastuti Indriastuti - Tuesday, 6 March 2012, 08:03 AM
 
file yang tgl kemari salah masukan.trimakasih.
Picture of S. Nur Eddy Purnomo
Re: UJIAN DMRS ANGKATAN7 EKSEKUTIF
by S. Nur Eddy Purnomo - Tuesday, 6 March 2012, 09:28 AM
 

Jawaban ujian DMRS ANGKATAN 7 EKSEKUTIF

S. NUR EDDY PURNOMO


1a. Program RS dalam MDGs

Sasaran I : Penurunan Angka Kematian Bayi dan Peningkatan Kesehatan Ibu

Keterangan:

Rumah Sakit harus bisa menuju rumah sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Koprehenshif ) dengan mempersiapkan sumber daya yang memadai baik sumber daya manusia ataupu sumber daya fisik (sarana prasarana).

Sasaran II : Penurunan Angka Kesakitan HIV/AIDS

Sasaran III : Penurunan Angka Kesakitan TB

1b. Jampersal

a. Pengertian

Merupakan bentuk jaminan persalinan yang berfungsi mengurangi/menghapus kendala penting dalam mengakses persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan, keterbatasan dan ketidak-tersediaan biaya yang didalamnya termasuk pemeriksaan kehamilan, pelayanan nifas termasuk KB pasca persalinan, dan pelayanan bayi baru lahir dengan harapkan dapat mengurangi terjadinya Tiga Terlambat tersebut sehingga dapat mengakselerasi tujuan pencapaian MDGs 4 dan 5.

b. Tujuan

1. Tujuan Umum

Meningkatnya akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB melalui jaminan pembiayaan untuk pelayanan persalinan.

2. Tujuan Khusus

§ Meningkatnya cakupan pemeriksaan kehamilan, pertolongan persalinan, dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan pelayanan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan pelayanan KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.

§ Meningkatnya cakupan penanganan komplikasi ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir oleh tenaga kesehatan.

§ Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien, efektif, transparan, dan akuntabel.

c. Sasaran

Sasaran yang dijamin oleh Jaminan Persalinan adalah:

1. Ibu hamil

2. Ibu bersalin

3. Ibu nifas ( sampai 42 hari pasca melahirkan)

4. Bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari)

d. Jenis Pelayanan

Jenis pelayanan Jaminan persalinan di tingkat pertama meliputi:

1. Pemeriksaan kehamilan

2. Pertolongan persalinan normal

3. Pelayanan nifas, termasuk KB pasca persalinan

4. Pelayanan bayi baru lahir

5. Penanganan komplikasi pada kehamilan, persalinan, nifas dan bayi

baru lahir

Jenis pelayanan Persalinan di tingkat lanjutan meliputi:

1. Pemeriksaan kehamilan dengan risiko tinggi (RISTI) dan penyulit

2. Pertolongan persalinan dengan RISTI dan penyulit yang tidak mampu dilakukan di pelayanan tingkat pertama.

3. Penanganan komplikasi kebidanan dan bayi baru lahir di Rumah Sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan yang setara.

2. Persiapan Medical emergency dalam penanggulangan bencana gunung merapi:

a) Response : Ambulance, telepon darurat, dokter dan perawat IGD

b) Clinical response: Obat medis utk emergency, oksigen, dll

3. Sasaran Keselamatan Pasien

Sasaran I : Ketepatan identifikasi pasien

Sasaran II : Peningkatan komunikasi yang efektif

Sasaran III : Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai (high-alert)

Sasaran lV : Kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur, tepat-pasien operasi

Sasaran V : Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

Sasaran VI : Pengurangan risiko pasien jatuh

Penjelasan:

Sasaran I

“RS mengembangkan suatu pendekatan utk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien” melalui kebijan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dengan memperhatikan elemen penilaian, yaitu:

1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah atau produk darah

3. Pasien diidentifikasi sebelum pengambilan darah dan specimen lain utk pemeriksaan klinis

4. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur

5. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yg konsisten pada semua situasi dan lokasi.

Sasaran II

“Rumah sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitas komunikasi antar para pembeli layanan”.

Elemen penilaian:

1. Perintah lengkap secara lisan dan yg mll telp atau hsl pemeriksaan ditulis secara lengkap oleh penerima perintah.

2. Perintah lengkap lisan dan telepon atau hsl pemeriksaan dibacakan kembali scr lengkap oleh penerima perintah

3. Pemerintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan

4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau mll telepon secara konsisten

Sasaran III

“RS mengembangkan suatu pendekatan utk memperbaiki keamanan obat2 yg perlu diwaspadai”

Elemen penilaian:

1. Kebijakan dan atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi, menetapkan lokasi, pemberian label dan penyimpanan elektrolit konsentrat.

2. Implementasi kebijakan dan prosedur

3. Elektrolit konsentrat tdk boleh disimpan dlm unit pelayanan pasien kecuali dibutuhkan secara klinis

4. Elektrolit konsentrat yg disimpan hrs diberi label yg jelas dan disimpan pd area yg dibatasi ketat

Sasaran IV

“Rumah Sakit mengembangkan suatu pendekatan utk memastikan tepat lokasi, tempat prosedur dan tepat pasien”

Elemen penilaian:

1. Tanda yg jelas dan dapat dimengerti utk identifikasi lokasi operasi dan melibatkan pasien dlm proses penandaan

2. Adanya checklist atau proses lain dalam meverifikasi

3. Tim operasi yg lengkap menerapkan & mencatat prosedur sebelum dimulai

4. Adanya kebijakan dan prosedut

Sasaran V

“RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pada pelayanan kesehatan”.

Elemen penilaian:

1. RS mengdaptasi pedoman patient Safety

2. RS menerapkan program hand hygiene yang efektif

3. Kebijakan dan prosedur utk mengurangi INOS

Sasaran VI

“RS mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi resiko pasien dari cidera karena jatuh.

Elemen penilaian:

1. RS melakukan assesmen sebeum dan sesudah pasien jatuh

2. Langkah2 mengurangi resiko jatuh

3. Memonitor keberhasilan pengurangan cidera akibat jatuh dan dampak yg tdk diharapkan

4. Kebijakan dan prosedur tentang tersebut

4.a. - Untuk mengetahui ada tidaknya dampak rumah sakit yang ditimbulkan terhadap lingkungan/masyarakat.

- Dokumen ANDAL:

a. KA-ANDAL (Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan)

b. ANDAL (Analisis Dampak Lingkungan)

c. RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup)

d. RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup)

4b. Paradigma Kesehatan Lingkungan

a) Tidak MCK (Mandi,Cuci, Kakus) di sungai

b) Tidak BAB (buang air besar) di lingkungan alam/sembarangan tempat

c) Tidak membuang limbah dilingkungan alam

d) Kesadaran PHBS (Perilaku Hidup Bersih Sehat)

e) Kegiatan 3M

5. a. Perlu, sebagai bahan promosi untuk mendapatkan pangsa pasar

Jawaban 5b
Perusahaan perlu BSR Karena dengan menjalankan BSR perusahaan yang menjalankan aktivitas sosial akan merasakan bahwa apa yang dilakukan punya nilai strategis terhadap pengelolaan merk bukan sekedar mendapat pujian dari masyarakat, oleh karena itu strategi yang dijalankan harus sejalan dengan strategi merk. BSR ini harus mempunyai tujuan atau sasaran baik tujuan jangka pendek maupun tujuan jangka panjang, sasaran yang bermisi sosial maupun sasaran yang menjadi marketing objektive. BSR bukan hanya pekerjaan sampingan tetapi BSR harus dioranisasikan secara baik jangan hanya menjadi aktivitas dari public relation (PR).