Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
aini
refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Q. Aini - Wednesday, 29 February 2012, 02:24 PM
 
silahkan refleksikan kasus yang ada di attachment. menurut saudara, seandainya kejadian tersebut menimpa RS tempat saudara bekerja,apa yang akan diakukan untuk mencegah KTD tersebut dan analisakan juga apa yang menjadi penyebab samapai terjadi Kejadian Tidak diharapkan tersebut.
Picture of Triana Uminingsih
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Triana Uminingsih - Wednesday, 29 February 2012, 09:39 PM
 
Membaca kasus tersebut menurut analisa saya:
1.Manajemen Rumah sakit seharusnya mengelola sistem pelayanan pasien di IGD termasuk SDM nya. termasuk di IGD harus ada dokter jaga stanby sebagai penanggungjawab pelayanan medis. Kenapa sampai tidak ada dokter jaga di IGD, padahal itu adalah Instalasi gawat darurat,dimana pasien datang rata2 dalam keadaan gawat/ darurat. apakah karena kebijakan RS memang tidak harus ada dokter jaga yang standby. Kalau itu terjadi kemungkinan hanya didaerah pelosok saja.
2. Seharusnya Dokter tidak boleh menolak pasien apalagi dengan kondisi kegawatan. karena itu melanggar UU Praktik kedokteran pasal 51 yang menyatakan bahwa dokter melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
3. Seharusnya komunikasi pasien dengan dokter tidak dianjurkan menggunakan telepon. Dan harus disampaikan dengan baik.Karena melanggar etika kedoteran. Bisa dijelaskan kepada pasien/ keluarga bahwa pasien perlu penanganan segera, untuk pembiayaan bisa dinomerduakan.
4. Triase di IGD kurang bagus, kemungkinan petugas tidak menguasai triase/ tidak mengetahui bahwa pasien tersebut dalam keadaan gawat

Pencegahan :
1. Ada dokter jaga standby di IGD, apabila ada yang ijin sakit, atau tugas luar harus ada pengganti
2. Pelatihan/ empowerment bagi dokter dan perawat IGD dalam hal triase pasien dan sistem komunikasi yang baik, juga standart kompetensi pendukung lain
3. Utamakan pertolongan pasien dahulu daripada pembiayaan
4. Adanya prosedur yang jelas tentang penanganan pasien di IGD


Picture of Totok Sundoro
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Totok Sundoro - Wednesday, 29 February 2012, 10:00 PM
 
Komentar saya:
1. Dokter dan perawat wajib standby 24 jam siap dan segera memberi pertolongan untuk pasien IGD tanpa membedakan pasien yang datang peserta asuransi atau bukan.

2. UU nomor 29 tahun 2004 pasal 51 tentang kewajiban dokter dalam praktik kedokteran salah satunya berbunyi melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan.

3. Buat kebijakan RS tertandatangan Direktur tentang kewajiban dokter IGD yang isinya Dokter wajib melayani pasien yang datang dengan kasus kegawatdaruratan tanpa membedakan cara bayar pasien sesuai dengan kode etik kedokteran

Picture of  I Made Santana
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by I Made Santana - Wednesday, 29 February 2012, 11:33 PM
 
Menurut pendapat saya :
1. Seharusnya dari pihak rumah sakit tidak membedakan pasien asuransi (Hospital Insurance Plan) dalam menangani pasien yang membutuhkan pertolongan karena rumah sakit visinya adalah memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, cepat, tepat, ramah dan informatif kepada masyarakat.
2. keselamatan pasien adalah lebih utama, maka dari itu dokter harus standbay 24 jam di IGD untuk memberikan pertolongan kepada pasien yang membutuhkan di IGD.
3. perlunya mengetahui kewajiban rumah sakit dan kewajiban dokter :
- kewajiban rumah sakit
a. Memberi pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, antidiskriminasi, dan efektif dengan mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit.
b. Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.
- kewajiban dokter
a. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bertugas dan mampu melakukannya.
b. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar prafesi dan standar prosedur aperasianal serta kebutuhan medis pasien.
4. bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan perlayanan kesehatan yang layak. dan terkait hak-hak pasien sendiri sudah d atur dalam UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
Picture of Corrie Henryani
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Corrie Henryani - Thursday, 1 March 2012, 08:16 AM
 
Analisa dan Pencegahan utk kasus KTD(Kejadian Tidak Diharapkan) terlampir

Menurut saya :
1. Tentunya Pihak RS harus memperbaiki system pelayanan diIGDnya, yaitu dokter dan perawat wajib standby 24 jam di IGD RS utk memberikan pelayanan terutama di IGD.
Sehingga jika ada pasien yg datang utk membutuhkan pertolongan medis bisa dilayani dengan baik dan tidak terlantar seperti kasus terlampir.
2. Rumah sakit harus mengutamakan pelayanan yang baik dan bermutu secara berkesinambungan serta tidak mendahulukan urusan biaya (sesuai KODERSI Bab I Psl 3). Sehingga jika ada pasien yg dtg ke IGD dengan kasus emergency seperti terlampir maka terlebih dahulu yg harus diberikan adalah pelayanan, bukan penolakan dikarena pasien asuransi.
3. Karena ini merupakan kasus emergency maka seorang dokter berkewajiban memberikan pelayanan utama untuk melayani dan mengobati pasien secara langsung, tidak via telpon.
Tidak seharusnya pasien disuruh pulang dengan kasus jantung seperti terlampir mengingat kasus tersebut memerlukan penanganan khusus sehingga kejadian “setelah pasien pulang jatuh di lantai dan meninggal dunia” tanpa mendapatkan penanganan awal kemungkinan tidak akan terjadi.
Picture of Robert Timbul Sitorus
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Robert Timbul Sitorus - Thursday, 1 March 2012, 08:18 AM
 
Setelah membaca dan menelaah kasus tsb diatas jelas adanya kesalahan yg dilakukan pihak RS sehingga terjadi KTD tadi. keadaan pasien tsb adalah keadaan gawat darurat yang harus ditangani segera oleh pihak RS dalam hal ini UGD, protap di Unit Gawat Darurat selalu melakukan tindakan lebih dahulu tanpa melihat apakah pasien mampu atau tidak mampu membayar apalagi hanya persoalan asuransi. manajemen RS harusnya membuat suatu kebijakan dan ini biasa dilakukan bahwa adanya bad dept atas kasus2 seperti diatasdan itu biasa terjadi terutama di UGD. berikut saya melihat tidak ada dokter yg onsite 24 jam di UGD padahal unit tsb beroperasi selama 24 jam dgn sdm yg mempunyai kompetensi. sistem triase yg tidak berjalan shg tidak bisa mengenal kondisi pasien apakah gawat darurat atau false emergency. Keadaan ini dpt dicegah jika point2 diatas tadi dapat dipenuhi dgn :
1. Triase hrs berjalan optimal.
2. ada Dokter jaga 24 jam dan SDM sesuai kompetensi.
3. Protap mengenai pasien gawat darurat.
4. kebijakan manajemen mengenai pasien yg kemungkinan bad dept.
Picture of Djoko Windoyo
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Djoko Windoyo - Thursday, 1 March 2012, 11:23 AM
 
Komentar saya :
  1. Suatu fasilitas kesehatan, termasuk RS, tidak boleh menolak pasien apalagi dalam keadaan Gawat Darurat.
  2. Pasien Gawat Darurat yang datang di IGD, harus ditangani dulu, tanpa melihat status pembiayaan pasien. Kalaupun itu pasien peserta asuransi kesehatan, biasanya boleh ditangani di RS terdekat, selama merupakan kasus Gawat Darurat / emergensi.
  3. Dari kasus tersebut, RS / Dokter memang salah, karena tidak melakukan pertolongan kepada pasien, padahal RS / Dokter bisa memberikan pertolongan dan mengakibatkan kematian pasien (Adverse Event)
Picture of Siti Apriani Kurnianingsih
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Siti Apriani Kurnianingsih - Thursday, 1 March 2012, 12:44 PM
 
ANALISIS :
Menurut pendapat saya bahwa rumah sakit harus melayani semua pasien tanpa mempertimbangkan apakah itu pasien asuransi atau bukan, karena pada dasarnya rumah sakit adalah pelayanan kemanusiaan. agar tidak terjadi hal - hal yang tidak di inginkan atau KTD maka dokter di UGD harus stand by 24 jam. Seandainya pasien tersebut adalah pasien asuransi maka nanti untuk urusan administrasi bisa diselesaikan nanti yang penting nyawa tertolong.

PENCEGAHAN :
1. Ada dokter standby 24 jam di IGD
2. Tindakan penanganan kegawatan di dahulukan dari pada sistem pembayaran.
3. Diadakan pelatihan sistem komunikasi di IGD

Picture of Yuni Istanti
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Yuni Istanti - Thursday, 1 March 2012, 01:12 PM
 
Analisis
1.dalam rumah sakit itu apakah belum ada SOP yang harus dilaksanakan oleh Stap fungsional di seluruhn pelayanaan
perlu adanya dokter jaga 24 jam apalagi kasus ini di RS yang ditangani di UGD
2. Seharusnya Dokter tidak boleh menolak pasien apalagi dengan kondisi kegawatan. karena itu melanggar UU Praktik kedokteran pasal 51 yang menyatakan bahwa dokter melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan
3. komunikasi dokterddan psien tidak dianjurkan menggunakan telepon. .Karena melanggar etika kedoteran. Bisa dijelaskan kepada pasien/ keluarga bahwa pasien perlu penanganan segera, untuk pembiayaan bisa bicarakan.
4. di IGD kurang bagus, kemungkinan petugas tidak menguasai SOP/ yang sudah di tetapkan

Pencegahan :
1. Ada dokter jaga di IGD, jaga 24 jam
2 adanya pelatihan2 terutama PPGD
2. Pelatihahan peningkatan kompetensi
3. Utamakan pertolongan pasien dahulu daripada pembiayaan
4. Adanya prosedur yang jelas tentang penanganan pasien di IGD
5. selalu ada evaluasi dan tindak lanjut semua ynag jaga di UGD baik dokter maupun tenaga paramedis
Picture of S. Nur Eddy Purnomo
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by S. Nur Eddy Purnomo - Thursday, 1 March 2012, 02:16 PM
 
Setelah saya membaca kasus tersebut jelas bahwa RS tersebut tidak melaksanakan fungsinya sebagai tempat pelayanan kesehatan yang semestinya, karena RS harusnya melaksanakan fungsi utama memberikan pelayanan yang optimal bagi semua pasiennya tanpa pandang status dan kondisi pasien saat itu. Yang seharusnya dilakukan RS (petugas/perawat/dokter) :
1. melaksanakan tugasnya secara profesional dan sesuai protap yang berlaku.
2. Tenaga profesional seperti dokter harusnya siap ditempat jaga sehingga kalau ada pasien sewaktu-waktu bisa melaksanakan pemeriksaan secara langsung sehingga diagnosanya valid dan melaksanakan fungsinya sesuai kode etik kedokteran.
3. Perawat harus melaksanakan tugasnya secara profesional , melakukan tugas sesuai dengan wewenangnya.
4. untuk kasus pasien yang anggota suatu asuransi (Hospital Insurance Plan), sebaiknya petugas akan meng komunikasikan dengan pasien maupun keluarganya, setelah dirasa kondisi pasien stabil.

Kejadian tersebut bisa muncul dikarenakan :
1. RS tidak mempunyai protap yang baku
2. RS lebih mengutamakan sisi profit dan mengesampingkan sisi kemanusiaan
3. Petugas tidak melaksanakan tugasnya secara profesional.

Picture of Noor Sa'adah
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Noor Sa'adah - Thursday, 1 March 2012, 03:30 PM
 
yang dilakukan untuk mencegah KTD tersebut:
1. mendisiplinkan petugas medis (dokter jaga)IGD.
bila jaga, petugas medis tersebut harus berada di RS dan bertanggungjawab penuh terhadap penanganan pasien yang datang ke IGD.
2. membuat protap penanganan pasien.

yang menjadi penyebab KTD dari kasus tersebut, adalah:
1. petugas medis tidak menjalankan tugasnya dengan baik (tidak berada di IGD pada saat jaga).
2. pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas medis melalui telpon menyebabkan kesalahan dalam mendiagnosis sehingga berakibat keterlambatan penanganan.
3.petugas medis atau paramedis menolak/tidak melayani pasien yang datang ke IGD.
Picture of Herianto Sosilo
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Herianto Sosilo - Thursday, 1 March 2012, 10:39 PM
 
Menurut analisa saya

1. Pihak rumah sakit tidak seharusnya menolak pasien asuransi karena yang lebih diutamakan dari rumah sakit adalah kesehatan serta keselamatan pasien bukan memandang dari status pasien tersebut.

2. Dokter seharusnya selalu siap siaga di rumah sakit tersebut stand by 24 jam.

3. Dokter seharusnya lebih mengetahui kewajibannya sebagai seorang dokter dan lebih mengutamakan keselelamatan dari seorang pasien.

4. Telah ditetapkan dalam UU no 23 tahun 1992 tentang kesehatan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan perlayanan kesehatan yang layak. dan terkait hak-hak pasien sendiri.
Picture of Marini Tarida
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Marini Tarida - Thursday, 1 March 2012, 10:42 PM
 
analisa dan pencegahan dengan kasus tersebut
1. perawat harusnya memberikan pertolongan terlebih dahulu kepada pasien tanpa harus melihat bahwa pasien adalah peserta asuransi atau bukan
2.dokter seharusnya stand by 24 jam di UGD untuk memberikan pelayanan kepada pasien.
3. dari kasus diatas seharusnya komunikasi yang dilakukan antara dokter dan pasien tidak menggunakan via telp melainkan melakukan komunikasi secara langsung kepada pasien
3.pihak RS hendaknya membuat SOP dalam penanganan pasien gawat sehingga apabila ada pasien seperti kasus tersebut bisa segera tertangani dan mengindari medical eror.
4.perlu dilakukan evaluasi secara continue terhadap pelayanan di RS agar pelayanan yang diberikan sesuai dengan prosedur yang ditentukan
Picture of Muhammad Firdaus
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Muhammad Firdaus - Thursday, 1 March 2012, 11:00 PM
 
menurut saya upaya pencegahan agar tidak terjadi kasus tersebut adalah :
1. ketika pasien datang ke IGD maka segera dilakukan triase untuk mengetahui status kegawatan, apabila triase merah maka harus segera ditangani.
2. harus ada dokter jaga yang stand by di IGD, sehingga untuk pelayanan/konsultasi pasien tidak melalui telepon.
3. selain itu dokter tidak boleh melakukan penolakan terhadap pasien, hal ini sesuai dengan penjelasan dalam undang-undang praktik kedokteran pasal 51 yang menyatakan bahwa dokter melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan.
4. perlu disusun SOP/SPO pelayanan terhadap pasien gawat darurat.

adapun penyebab kasus tersebut adalah:
1. manajemen dan sistem yang diterapkan di RS kurang baik, hal ini terlihat saat ada pasien datang tidak ada dokter jaga di IGD.
2. kurangnya pemahaman perawat mengenai triase atau penentuan status kegawatan pasien.
3. tidak terjalin komunikasi yang baik antara tenaga medis dan pasien, sehingga edukasi yang diberikan tidak dapat diterima dengan baik oleh pasien.
4. tidak ada SPO pelayanan pasien gawat di RS tersebut, kalaupun ada kemungkinan belum di sosialisasi dan dipahami oleh tenaga medis.
Picture of hayati ahmalliah
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by hayati ahmalliah - Thursday, 1 March 2012, 11:16 PM
 
setelah membaca kasus tersebut, menurut saya yang bisa dilakukan adalah :
1. yang dilakukan pertama saat pasien datang ke IGD adalah menentukan triase untuk mengetahui status kegawatan.
2. terkait dengan asuransi, seharusnya parawat tersebut bisa memberikan edukasi yang jelas terhadap pasien, bukan menolak pasien.
dalam edukasi tersebut dijelaskan bahwa kondisi pasien gawat dan harus segera ditangani, tetapi RS tidak menyediakan pelayanan asuransi, sehingga apabila pasien blm mampu membayar bisa melalui piutang. dalam hal ini yang diutamakan adalah keselamatan pasien.
3. harus ada dokter jaga yang stand by di IGD, sehingga konsultasi pasien tidak melalui telepon.
4. perlu disusun SPO/SOP penanganan pasien gawat di IGD.
5. perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan berkala terkait pelayanan di IGD apakah sudah sesuai dengan prosedur yang ada.

adapun penyebab kasus tersebut adalah :
1. manajemen RS yang kurang baik, hal ini dapat dilihat bahwa tidak ada dokter jaga yang stand by di IGD serta pelayanan di IGD tidak sesuai dengan prosedur.
2. perlunya pemahaman perawat terhadap triase
3. perlunya komunikasi yang baik antara tenaga medis dengan pasien atau keluarganya, sehingga edukasi yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh pasien.
4. kemungkinan pelayanan IGD di RS tersebut tidak pernah di evaluasi.
Picture of Parjiyana Parjiyana
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Parjiyana Parjiyana - Thursday, 1 March 2012, 11:33 PM
 
Pendapat saya :
1. Semestinya Pihak RS tidak perlu membedakan apakah pasien itu mampu atau tidak dalam memberikan pelayanan, karena pasien mempunyai hak untuk dilayani segera sehingga pasien akan merasa nyaman, aman, dan terlindungi
2. Petugas RS baik itu dokter, perawat, atapun profesi lain hendaknya standby selama 24 jam dalam melayani pasien, dan semestinya menghindari percakapan antara petugas dengan pasien melalui telepon
3.Pasien gawat darurat harus ditangani terlebih dahulu, untuk administrasi dan biaya bisa dikomunikasikan kepada keluarga setelah pasien dilakukan tindakan
4. Kemungkinan triase yang dilakukan petugas kurang tepat

Solusi :
1. Petugas harus cermat didalam melakkan Triase
2. Hindari komunikasi melalui telepon
3. Petugas harus standby selama 24 jam
4. Utamakan pelayanan dan keselamatan pasien
Picture of Putu Crisnayanti
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Putu Crisnayanti - Friday, 2 March 2012, 12:08 AM
 
Menurut saya untuk mencegah terjadinya KTD seperti dalam kasus, Manajemen Rumah sakit (RS) harus membuat protap agar kualitas kerja disetiap unit (RS) sesuai dengan standar, serta selalu memantau implementasi protap tersebut. dan manajemen harus merekrut SDM yang benar-benar berkompetensi dalam bidangnya. dengan demikian diharapkan setiap tenaga kerja memahami hak dan kewajiban profesi. sehingga tidak akan ada kejadian seperti penelantaran klien dan berjalannya triase, serta ada dokter yang standby 24 jam di UGD.
berdasarkan analisa saya KTD seperti kasus dapat terjadi karena manajemen RS yang kurang baik melihat belum ada kebijakan RS mengenai klien dengan asuransi seperti dalam kasus serta SDM yang kurang kompeten.
Juli Santoso
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Juli Santoso - Friday, 2 March 2012, 06:02 AM
 

Analisa :

Kejadian tersebut merupakan suatu kejadian tidak diharapkan pada pasien karena pihak rumah sakit (dokter dan perawat) tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (omission), dan karena pihak rumah sakit tidak memahami per-UU/ peraturan yang berlaku (UU No. 23 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, UU Praktek Kedokteran, Peraturan tentang Kewajiban Medis dan Hak Pasien, Peraturan tentang Kegawatdaruratan, dll)

Kesalahan tersebut bisa terjadi dalam tahap diagnostic seperti tidak merespon ciri simtoma suatu penyakit; tahap preventive seperti tidak segera memberikan terapi / pertolongan pertama ; atau pada hal teknis yang lain seperti kegagalan memahami hak dasar manusia atau sistem yang lain.

Solusi Pencegahan

1) Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan

2) Mendidik pasien dan keluarga

3) Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS

4) Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa

5) Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan

6) Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien

7)  Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif

8) Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis

9) Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien

10) Pimpinan mengalokasikan sumber daya yg adekuat utk mengukur, mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan pasien safety

11) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

12) Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden,

13) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi

14)  Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah, atau kedaruratan lainnya

15) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden

16) Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien

17) Mendidik staf tentang keselamatan pasien

Picture of yuliani yuliani
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by yuliani yuliani - Friday, 2 March 2012, 09:08 PM
 
Setelah membaca kasus diatas saya coba menganalisa bahwa :
1.Suatu pelayanan kesehatan terutama rumah sakit tidak seharusnya menolak pasien yang datang baik dengan alasan apapun, apalagi itu adalah instalasi gawat darurat yang seharusnya setiap saat dapat melayani siapa saja yang membutuhkan pelayanan dan bantuan saat itu sesegera mungkin.
2. IGD seharusnya ada dokter jaga yang dapat melaksanakan pelayanan secara bergantian, bukan hanya seorang perawat saja dan dokter tinggal menerima lewat telepon saja.
3.Dokter yang seharusnya berjaga mendengarkan keluhan penyakit secara langsung dari pasien, agar dapat mengambil tindakan sesuai yang dibutuhkan.
sehingga pasien merasakan bahwa rumah sakit memang tempat yang tepat untuk meminta bantuan menyembuhkan penyakit mereka, walaupun mungkin hasilnya tidaklah sebaik yang diharapkan, namun mereka puas dengan pelayanan yang diberikan
4. memberikan pendidikan pada semua karyawan rumah sakit tentang tanggung jawab dan kewajiban petugas kesehatan terhadap pasien
5.Cepat dan tanggap terhadap kasus penyakit yang ada dan datang di RS
6. Melakukan peningkatan SDM dengan memberikan diklat kegawat daruratan pada karyawan yang bersangkutan
Picture of Indriastuti Indriastuti
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Indriastuti Indriastuti - Friday, 2 March 2012, 10:00 PM
 

analisa saya berdasarkan kasusu tersebut:

  1. Dilihat dari sisi pasien: sudah benar melangkah menuju kerumah sakit, walapun dia lupa membawa kartu asuransi.
  2. Dilihat dari sisi perawat:

1. belum diperiksa dahulu sebelum di serahkan ke dokter.

2. Walaupun pasien dalam keadaan darurat masih saja menanyakan tentang kartu asuransi

  1. Di lihat dari sisi dokter:

1. salah, karena pasien belum ditanggani sudah disuruh pulang kerumah

2. dokter menyuruh untuk mengurus asuransi esok pagi,sebelum diperiksa.

Kesimpulan;

1. harus mempunyai SOP tentang pasien gawat darurat.

2. Harus mempunyai SOP di UGD.

3. Seorang dokter harus datang memetiksa pasien, sebelum menentukan tindak lanjut.


Picture of Sri Catur Murniningsih
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Sri Catur Murniningsih - Friday, 2 March 2012, 10:43 PM
 

Analisa kasus:

Dari pasien: sudah benar pasien dibawa kerumah sakit,meskipun seharusnya sudah membawa kartu asuransi

Dari rs: sisi perawat: seharusnya pasien yang datang di IRD terlebih dahulu dilakukan anamese, pemeriksaan, dll. Untuk menentukan arah dinagnosa sehingga perawat bisa menemtukanpasien tersebut termasuk gawat, darurat atau tidak gawat, tidak darurat. Untuk dasar laporan kedokter. Tanpa melihat status pasien ( umum/ asuransi ).

Dari dokter: yang masuk adalah perawat bukan langsung berkomunikasi dengan dokter via telfon ( pasien ). Dengan dasar laporan perawat yang tepat, seorang dokter sudah bisa mengarahkan diagnosa, sehingga dokter tersebut, sehinnga dokter tersebut dapat melanjutkan tindakan.

Pencegahan agar tidak terjadi KTD:

1.    Di IRD harus ada SOP ynag lengkap mengenai SOP pelayanan, SOP adiminstrasi, dan SOP keungan dan semua petugas UGD harus paham tentang SOP, dengan  cara mengadakan sosialisasi kepada semua pegawai ( terutama pegawai baru ) dan harus dijalan sesuai SOP.

2.    Ada dokter jaga yang stand bay selama 24jam.

3.    Ada dokter spesialis ang stand bay selama 24 ajam.

4.    RS mengedepankan pelayanan tanpa memandang status pasien

Tri Kuncoro - MMR- angkatan 7B
Re: refleksi kasus DMRS - " KTD dan pasien asuransi"
by Tri Kuncoro - Monday, 5 March 2012, 01:40 PM
 
analisa kasus :
pada kasus tersebut tampak bahwa rumah sakit beserta sumber daya manusia khususnya perawat dan dokter instalasi gawat daruratnya :
  • kurang memahami arti pelayanan gawat darurat.
  • tidak terakreditasi sehingga tidak memahami akan pentingnya KESELAMATAN PASIEN dalam hal ini Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) hingga berakibat meninggalnya pasien gawat darurat yang semestinya tidak perlu terjadi.
  • sangat tidak manusiawi memperlakukan pelanggan gawat daruratnya yang sangat membutuhkan pertolongan saat itu juga.
  • tidak berjalannya pemberdayaan sdm di rumah sakit tersebut, terutama perawat dan dokter IGD dalam hal peningkatan mutu pelayanan gawat darurat dan keselamatan pasien, melalui diklat, seminar dan lainnya.

gambaran kasus tersebut saat ini semestinya tidak boleh terjadi di rumah sakit manapun, mengingat saat sekarang ini PATIENT SAFETY sudah menjadi trend dan keharusan dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pelanggan dan bahkan sekarang sudah disyaratkan dalam AKREDITASI RUMAH SAKIT oleh KARS. Dan Akreditasi sudah menjadi syarat dalam Undang Undang Rumah Sakit yang berarti harus dilaksanakan