Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
bismillah
Tanggapan FST RSUP Sardjito
by Dini Anggraeni P - Tuesday, 22 November 2011, 06:14 PM
 

FST RSUP SARDJITO

Nama : DINI ANGGRAENI PRATIWI

NIM : 20101030047

 Sebagai mana kita ketahui bersama, RSUP Sardjito merupakan salah satu rumah sakit besar di Yogyakarta. Kegiatan di rumah sakit ini tidak dapat dipungkiri menghasilkan berbagai macam limbah dengan jenis cair, gas, maupun padat. Pengelolaan limbah rumah sakit merupakan bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari limbah rumah sakit. Limbah yang dihasilkan rumah sakit dapat membahayakan kesehatan masyarakat karena berfungsi sebagai media penyebaran gangguan atau penyakit bagi para petugas, penderita maupun masyarakat. Gangguan tersebut dapat berupa pencemaran udara, pencemaran air, tanah, pencemaran makanan dan minuman.

 Berdasarkan pengamatan dan informasi yang diberikan kepada kami, bagian IPAL RSUP Sardjito memiliki sistem tersendiri untuk mengelolah limbah air dari RS dengan melalui beberapa tahap antara lain :

a. Bak penyaringan

b. Bak penangkap pasir

c. Bak equalisasi

d. Bak aerasi

e. Bak pengendapan

f. Bak penampungangan lumpur

g. Bak uji biologis

h. Bak bak desinfeksi.

Setelah melewati bermacam bak di atas, air limbah RSUP dapat dialirkan ke sungai code. Air limbah yang sudah diproses tersebut diharapkan dapat meminimalkan dampak negative pada lingkungan sehingga dapat segera digunakan kembali. Proses di atas juga sudah sesuai dengan aturan pemerintah tentang cara pengolahan limbah cair RS. Hal yang menarik dalam sistem pengolahan limbah cair ini adalah kurangnya kesadaraan pada pegawai untuk menggunakan alat pelindung diri yang digunakan untuk pengamanan diri sendiri dari bahaya limbah tersebut. Sehingga perlu dilakukan sosialisasi yang lebih sering kepada para pegawai.

Selain IPAL, RSUP Sardjito juga memiliki inceminator. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan bahwa inceminator tersebut tidak digunakan karena RSUP Sardjito belum mendapatkan ijin untuk menggunakan alat tersebut. Sehingga untuk saat ini mereka bekerja sama dengan pihak lain untuk melakukan pengolahan terhadap limbah padat. Berdasarkan pengamatan saya, keputusan yang diambil cukup baik. Dapat dilihat untuk mendapatkan ijin pengaktifan kembali membutuhkan dana yang tidak sedikit, selain itu untuk pengolahan limbah padat tersebut membutuhkan pealatan lainnya sehingga membutuhkan dana juga. Sedangkan dengan bekerjasama dengan pihak ketiga, RSUP Sardjito tidak perlu menyediakan alat tambahan dan menerima bersih limbah padat tersebut. Hal yang paling penting adalah RSUP Sardjito tidak akan menerima tuntutan dari LSM atas tuduhan pencemaran udara d kawasan code. Sehingga menurut saya ini merupakan keputusan yang baik.

Selain melihat pada unit IPAL, kami juga meninjau kantor untuk memonitor jumlah serangga atau pembasmi hewan pengerat. Pada bagian ini, kami melihat alat-alat yang digunakan untuk mengukur suhu rungan, alat yang digunakan untuk membasmi hewan pengerat, dan buku monitoring dari setiap pekerjaan. Dari apa yang disampaikan kepada kami kalau dilihat dari alat dan cara kerja para pegawai yang sudah terjadwal sangat baik tetapi ada hal yang menarik perhatian yaitu beban kerja yang cukup besar. Karyawan bagian diharus memeriksa atau mengecek tiap ruangan di RSUP Sardjito dengan jumlah 2 tenaga untuk memantau suhu rungan dan 2 pegawai untuk memantau hewan pengerat. Sehingga perlu ditinjau kembali jumlah tenaga kerja untuk bagian ini.