Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
Picture of Wahyuni Hafid
TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO
by Wahyuni Hafid - Saturday, 19 November 2011, 06:30 PM
 
Tanggapan FST RSUP SARDJITO:
RS sebesar RS Sardjito memiliki alat insenerator yang dimusiumkan(tidak beroperasi) setelah kroscek dilapangan memang benar tidak di pergunakan lagi, RS S ini mempunyai beberapa pertimbangan tersendiri, diantaranya tidak digunakan insenerator ini bertujuan mengurangi tingkat polusi di daerah perkotaan.
Seperti kita ketahui bersama memang Rs ini berada di tengah keramaian baik dekat kampus ugm sendiri juga masih dekat lingkungan pemukiman penduduk. Dari sumbernya langsung menyatakan bahwa pihak RS ini bekerjasama dengan pihak ke3 untuk limbah RS ini. Padahal tiap bulannya RS harus mengeluarkan biaya kira kira 90 jt untuk pemindahan masalah sampah ini. Bila dioperasikan dibutuhkan biaya kurang lebih 45-50jt. Angka yang lumayan fantastis bila RS tersebut mengolah sendiri sehingga bisa berhemat. Namun sayangnya memang agak lebih berat lagi mengingat limbah dari hasil pengolahan sampah itu sendiri lebih berat, karena akan lebih susah lagi menghadapi amukan masyarakat yang merasa terganggu akibat penggunaan mandiri insenerator tsb. Kalau dari saya sendiri sudah sangat setuju mempekerjasamakan pihak ke 3 untuk mengolah sampah medik tersebut, walaupun sebenarnya bukan juga solusi jitu juga karena pihak ke 3 juga pun hanya membantu pemindahan sampah ( pemindahan masalah).
Picture of Bayu Anggileo Pramesona
Re: TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO
by Bayu Anggileo Pramesona - Sunday, 20 November 2011, 09:37 PM
 
setuju dg pendapat yuni, bahwa saya rasa memang lebih baik outsourching dengan pihak ketiga dalam hal pengolahan limbah terutama limbah medis padat. krn jika mengingat lokasi RSUP Dr. Sardjito yg memang berada di lokasi padat penduduk tentu akan menjadi masalah tersendiri jika masyarakat sekitar mengeluh akan limbah yg berasal dr RS. namun, jika kita lihat dari alokasi dana yg dikeluarkan utk pengolahan limbah tsb yg mcapai sekitar 90juta/bln (pdhl hanya sekitar 50juta/bln jika mempunyai incenerator sendiri), tentu perlu dipikirkan langkah strategis lebih lanjut dlm penghematan pengeluaran RS. kedepan, mungkin bisa mengalokasikan dana utk membeli tanah di area yg jauh dari pemukiman penduduk shg dimungkinkan utk pengadaan incenerator RS secara mandiri. langkah ini saya rasa selain dapat menghemat pengeluaran dana utk pengolahan limbah shg dapat dialokasikan utk kebutuhan lain dan dapat menghindari terjadinya tuntutan/keluhan dari masyarakat terkait dg polusi yg mungkin terjadi.
sedangkan utk pengolahan limbah cair, saya rasa sudah cukup memadai namun masih kurang optimal. air yg diolah dari proses pengolahan limbah tsb masih hanya dapat digunakan utk menyiram tanaman dan mencuci bak sampah saja. artinya belum mampu diproses lebih lanjut utk dapat digunakan kembali emnjadi air bersih yg mungkin bisa digunakan utk keperluan MCK pasien dan seluruh karyawan RS. teknologi saya rasa adalah masalah utama yg dihadapi selain daripada dana dalam pengadaan alat/teknologi canggih yg dibutuhkan.
Picture of Wahyuni Hafid
Re: TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO
by Wahyuni Hafid - Sunday, 20 November 2011, 10:58 PM
 
Setuju pendapat mas bayu,

Hal yang lain ketika dilapangan ternyata tenaga ( sumber daya manusia) dibidang sanitasi lingkungan masih bisa dikatakan cukup memprihatinkan, saya rasa beban kerjanya begitu berat dimana sebagai contoh konkretnya dibidang pemantauan kamar mandi ( pemantauan jentik nyamuk) yang ada di seluruh RS sardjito ini hanya mempekerjakan 2 orang. Padahal jumlah kamar mandi di RS ini ada Kurang lebih 300 kamar mandi. Dan hal ini terus menerus dilakukan, karena pertimbangannya dalam 1 minggu minimal harus dikuras dan bebas dari jentik nyamuk. Jadi bila dihitung dalam enam hari kerja perorang harus memantau 150 kamar mandi jadi perhari memantau 25 kamar mandi. Bila jam kerja perhari 8 jam maka minimal dibutuhkan waktu 20 menit perkamar mandi. Mungkin dengan adanya penambahan tenaga akan mengurangi beban tersebut atau mungkin per ruangan bisa memberdayakan tenaga yg sudah ada yg siap melaporkan ke bagian sanitasi untuk tindak lanjut, intinya misal tetap karyawannya hanya 2 orang maka karyawan tersebut dibantu pihak yg ada diruangan dengan pelaporan.
Picture of Bobet Evih Hedi IR
TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO (bobet evih hedi I.r)
by Bobet Evih Hedi IR - Sunday, 20 November 2011, 11:29 PM
 
Kunjungan FST RS Sardjito ke bagian sanitasi menghasilkan beberapa masalah dari sudut pandang saya, yaitu:
1. Manajemen pengecekan kerja bagian sterilisasi belum optimal.
2. Peralatan pada bagian sterilisasi masih menggunakan alat standar seadanya dan belum ideal.
3. Pemanfaatan limbah RS belum optimal.
4. Alat incenerator dan penggunaan outsourching.

1. Bagian sterilisasi RS merupakan pihak pertama pelaksanaan prinsip safety baik bagi pasien maupun tenaga kerja RS tersebut. Berdasar presentasi yang dilakukan saya menangkap bahwa pengecekan kerja bagian sterilisasi belum optimal karena masih mengikuti standar subyektif untuk beberapa tugas. Saya menangkap hal tersebut mungkin terjadi karena beban kerja yang tidak proporsional akibat kekurangan tenaga di bagian sterilisasi ataupun karena belum adanya sistem manajemen yang dilaksanakan dengan baik.

2. Hasil kunjungan lapangan, peralatan bagian sterilisasi sepertinya menyesuaikan dengan efisiensi biaya bukan dengan standar ideal yang Seharusnya di RS. Penghematan baik dilakukan tetapi tidak bijak bila akan membahayakan prinsip safety bagi RS tersebut. Penghematan dapat dilakukan pada bagian2 lain yang tidak membahayakan RS.

3. Limbah RS langsung dibuang ke sungai code setelah di proses agar dapat diterima lingkungan. Pemanfaatan limbah sebagai pupuk (atau yang lainnya) kemudian menjualnya kepada petani mungkin dapat membantu biaya bagian sanitasi sendiri.

4. Letak insenerator yang berada diatas lembah sungai code dan berada di area terbuka sepertinya tidak akan menyebabkan polusi bagi penduduk karena angin yang mengandung air dari sungai code akan menahan polusi tersebut menyebar terlalu jauh dari area tersebut dan apabila juga uap turun ke bawah karena setiap insenerator memiliki standar minimal tinggi cerobong. Alasan tidak beroperasinya insenerator yang saya tangkap karena masalah perijinan dengan pemerintah.Isu tersebut saya menyimpulkan akan membentuk semacam biaya untuk perijinan tersebut yang mungkin harganya lebih masalh ketimbang penggunaan tenaga outsourching. Bila masalah tersebut yang terjadi maka hanya Tuhan dan pemerintah saja yang dapat mengatasinya
Picture of Goziyan Ns
Re: TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO (GOZIYAN)
by Goziyan Ns - Monday, 21 November 2011, 08:09 AM
 
TANGGAPAN FST RSUP dr.SARDJITO (GOZIYAN)
Picture of Shohibul Umam
Re: TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO
by Shohibul Umam - Monday, 21 November 2011, 10:49 AM
 
TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO.
Menurut tanggapan saya setelah meninjau langsung di RS dan mengikuti penjelasan langsung dari bagian sanitasi bahwa Rumah sakit Sardjito ini sudah menerapkan peraturan perundang-undangan tentang pokok-pokok kesehatan "bahwa setiap warga berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya"...yang dimaksud dalam kalimat tersebut adalah proses pengolahan limbah rumah sakit terutama limbah cair sebelum dialirkan kesungai harus melalui tahapan/proses filtrasi agar tidak berbahaya bagi warga masyarakat terutama disekitar sungai yang dilalui limbah tersebut. RSUP SARDJITO ini dalam pengolahan limbah mempunyai tujuan penyelamatan lingkungan dan melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang bersumber dari Rumah Sakit. itu tertera dalam UU No.9 tahun 1990.
Picture of Famella Tiara Nadya
Re: TANGGAPAN FST RSUP SARDJITO
by Famella Tiara Nadya - Monday, 21 November 2011, 08:46 PM
 

Famella tiara nadya

20101030038

FST RS SARDJITO YOGYAKARTA

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Pokok-Pokok Kesehatan menyebutkan bahwa setiap warga negara Indonesia berhak memperoleh derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Rumah Sakit Sardjito adalah salah satu rumah sakit besar di daerah Yogyakarta, kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat dan gas. Menanggapi insenerator di RS Sardjito yang tidak digunakan menurut saya kurang efektif dan efisien karena dari limbah rumah sakit dapat pula memperoleh penghasilan tambahan dengan melayani insinerasi limbah rumah sakit yang berasal dari rumah sakit lain. Insinerator modern yang baik tentu saja memiliki beberapa keuntungan antara lain kemampuannya menampung limbah klinik maupun bukan klinik, termasuk benda tajam dan produk farmasi yang tidak terpakai. Memang dengan pertimbangan2 dan salah satu alasan bahwa RS Sardjito berada di daerah perkotaan tapi itu bukan alasan yang tepat karena pemilihan insenerator yang akan digunakan disesuaikan dengan keadaan lingkungan, jenis dan komposisi sampah, seta volume sampah, sehingga dapat dlakukan secara lebih efisien baik prosesnya maupun transportasi dan tenaga operasional, serta pula penggunaan labih efisien.

Untuk pengolahan limbah cair yang dilakukan RS Sardjito cukup baik dari bak penyaring sampai bak desinfeksi sampai bak pengeringan lumpur dan beberapa bak uji limbah cair. Untuk limbah cair yang di buang ke badan air sungai Code setelah melalui proses pengolahan sudah memenuhi baku mutu yang dianjurkan oleh pemerintah. Sedangkan untuk pemanfaatan lumpur dari hasil akhir produksi lumpur aktif yang kurang optimal. Karena lumpur yang dihasilkan selama ini hanya ditumpuk pada bak pengering lumpur sehingga terkesan kumuh dan tak terawat, hanya sebagian kecil saja dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai pupuk tanaman hias . Menurut saya untuk pengolahan limbah cair ini harus ada nya pembuatan tutup atap pada bak pengering lumpur sehingga pada waktu musim hujan lumpur tersebut tidak basah lagi / becek dan sebaiknya para petugas pengolah limbah menggunakan Alat Pelindung Diri untuk kegiatan atau pekerjaan yang mengandung resiko bahaya, karena dalam prakteknya masih terdapat pekerja yang tidak memakai alat pelindung diri. Serta lebih memanfaatkan lumpur yang sudah kering dari hasil olahan tesebut untuk menjadi pupuk siap pakai.

Picture of Inna Solihati
Famella tiara nadya ( Tanggapan)
by Inna Solihati - Tuesday, 22 November 2011, 06:15 PM
 
"sebaiknya para petugas pengolah limbah menggunakan Alat Pelindung Diri untuk kegiatan atau pekerjaan yang mengandung resiko bahaya, karena dalam prakteknya masih terdapat pekerja yang tidak memakai alat pelindung diri."
maaf... mohon penjelasannya dari pernyataan ini, semua sudah ada standarnya dalam bekerja. Karena di dalam manajemen K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di RSUP Sardjito sudah tercantum dalam modul kerja. senyum