Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
Picture of Arlina Dewi, dr. M.Kes.
TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Arlina Dewi, dr. M.Kes. - Tuesday, 4 October 2011, 01:57 AM
 

TOPIK tentang HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis) atau AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)

1.. Pilih 1 pelayanan  pasien di Rumahsakit yang menurut Anda beresiko untuk terjadinya Failure/kegagalan dan berdampak besar (selain contoh di kuliah)

2. Tentukan Tim yang akan terlibat

3. Tulis/gambarkan urutan proses pelayanan tersebut ,

4.. Hazard analisis : Pilih 1 (satu) saja  dari proses tersebut yang memiliki sub proses dengan resiko kegagalan , dengan dampak (Hazard Analisis > 8)

5. Menurut Anda, apakah yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut? (di Kontrol, Eliminasi atau Diterima). Jelaskan alasan Anda !

Catatan :

1. Untuk mengerjakan tugas diatas, dikerjakan langsung (bukan upload file) di forum komunikasi dengan ringkas tapi padat,agar mudah dibaca dan dimengerti peserta forum yang lain. Jangan lupa untuk login sesuai nama masing-masing.

2. Peserta lain dapat mengomentari analisis yang ada (menambah nilai keaktifan diskusi)

3. Diskusi ini sebagai pengganti untuk Ujian Akhir Mata Kuliah Mutu, dan dikerjakan selambat-lambatnya tgl 18 Oktober 2011

4. Diskusi / tulisan yang dianggap sama tidak mendapat nilai (yang muncul belakangan)

Picture of Linaldi Ananta
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Linaldi Ananta - Tuesday, 4 October 2011, 05:00 PM
 
Tugas AMKD / HFMEA Linaldi Ananta (20101021031)
Picture of Linaldi Ananta
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Linaldi Ananta - Friday, 7 October 2011, 09:20 PM
 
REVISI TUGAS AMKD / HFMEA LINALDI ANANTA (20101021031)

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. Proses yang dianalisa : Percutaneus Coronary Intervention

2. Bentuk TIM

Ketua : Kepala Departemen Kardiologi

Anggota :

a. Kepala Departemen Bedah Thorax dan Kardiovaskular

b. Kepala Instalasi Bedah

c. Kepala Departemen Anestesiologi dan ICCU

d. Manajer YanMed

e. Kepala Perawat

f. Kepala bangsal bedah

g. Kepala Instalasi Farmasi

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bangsal Bedah

Tanggal dimulai : 30 September 2011 Tanggal dilengkapi : 15 Oktober 2011

3. Tahapan Proses

a. Pemeriksaan diagnostic CAD (coronary artery disease); seleksi pasien sesuai indikasi

Sub proses :

1) Anamnesis

2) Pemeriksaan fisik

3) Laboratorium

4) X-Ray dan radiografi thorax

5) EKG istirahat dan tes latihan

6) Ekokardiografi stres test

7) Angiografi koroner

8) Seleksi pasien sesuai indikasi

(eksklusi pasien tanpa indikasi atau dengan kontraindikasi)

b. Pemilihan dan persiapan prosedur PCI yang sesuai indikasi

Sub proses :

1) Menentukan jenis prosedur PCI yang sesuai

2) Stabilisasi kondisi pasien (hipertensi, DM)

3) Pemilihan akses kateter PCI

4) Menentukan ukuran atau diameter kateter

5) Menyiapkan peralatan lain yang dibutuhkan

6) Menyiapakan ruangan cath lab

7) Pengkajian dan persiapan akhir pasien

c. Melakukan prosedur PCI yang sesuai indikasi

1) Memasukkan kateter ke arteri / vena

2) Mengarahkan kateter menuju arteri koronaria

3) Menyuntikkan zat kontras

4) Bergantung pada jenis prosedur PCI :

· Mengembangkan balon

· Melakukan atherectomy

· Laser angioplasty

· Pemasangan stent

d. Asuhan keperawatan pasca PCI

Sub proses :

1) Cabut kateter dan lakukan penekanan manual 20’-30’

2) Monitor nyeri dada, sesak nafas, edukasi pasien untuk lapor setiap ada keluhan

3) Kaji area sekitar akses kateter

4) Monitor pulsasi nadi, warna kulit, suhu pada distal ekstremitas akses kateter

5) Edukasi pertahankan balut tekan 24 jam post PCI, bantal pasir tepat berada di atas pungsi arteri kateter (penekanan mekanikal)

6) Edukasi imobilisasi dan tidak memfleksikan kaki area pungsi arteri akses kateter selama 6 jam

7) Dokumentasi komplikasi dan aktivitas perawatan

4. Proses yang paling beresiko timbul kegagalan dan menyebabkan komplikasi pada pasien adalah pada asuhan keperawatan pasca PCI, terutama pada subproses mencabut kateter dan segera lakukan penekanan manual 20’-30’

Analisis Hazard

Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

Probabilitas

Nilai Hazard

Cabut kateter dan lakukan penekanan manual 20’-30’

· Tidak perhatikan nilai APTT + kontrol

· Tidak perhatikan nilai ACT

· Cara / teknik penekanan dan balut tekan yang salah

· Penekanan kurang lama

· Penekanan tidak segera dilakukan

· Penekanan tidak konsisten (karena kelelahan bahu dan tangan)

3

3

3

3

3

3

2

2

3

3

2

3

6

6

9

9

6

9

Analisis Pohon Keputusan

POTENSI PENYEBAB

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

Tidak perhatikan nilai APTT + kontrol

Tidak perhatikan nilai ACT

Cara / teknik penekanan dan balut tekan yang salah

Penekanan kurang lama

Penekanan tidak segera dilakukan

Penekanan tidak konsisten (karena kelelahan bahu dan tangan)

YA

YA

- (skor > 8)

- (skor > 8)

YA

- (skor > 8)

YA

YA

YA

YA

YA

TIDAK

-

-

-

-

-

TIDAK

-

-

-

-

-

Sub Proses yang dipilih : Cara / teknik penekanan dan balut tekan yang salah

Sub proses ini bisa dan harus dikontrol.

Secara umum, setelah prosedur angiografi koroner dan PCI selesai maka femoral sheath (kateter) akan dicabut / dilepas jika perbandingan APTT dan APTT kontrol < 1,5 kali. Untuk mengontrol dan mencegah perdarahan dilakukan penekanan sampai terjadi proses pembekuan. Menurut Kern (2003), penekanan secara manual segera setelah pencabutan femoral sheath (kateter) dilakukan dengan cara 5 menit pertama penekanan dengan kekuatan penuh, 5 menit selanjutnya penekanan dengan kekuatan 75 %, dan 5 menit berikutnya penekanan dengan kekuatan 50 %, dan 5 menit terakhir kekuatan penekanan 25 %. Jadi penekanan manual berlangsung selama 20-30 menit. Paska penekanan secara manual, untuk mencegah komplikasi pembuluh darah dilanjutkan dengan penekanan secara mekanikal. Salah satu metode penekanan mekanikal adalah dengan bantal pasir. Pasien juga harus diedukasi agar bantal pasir tetap berada tepat di atas pungsi arteri akses kateter.

Jadi, sub proses ini bisa dikontrol dengan memberikan pelatihan kepada perawat tentang teknik penekanan manual dan mekanikal serta balut tekan yang baik. Perawat juga harus dilatih bagaimana cara mengedukasi pasien dengan baik terkait hal ini. Dengan demikian diharapkan resiko kegagalan dalam sub proses ini bisa ditekan seminimal mungkin.
Picture of Dimas Trisetyo Nugroho
TANGGAPAN UNTUK MAS NALDI
by Dimas Trisetyo Nugroho - Thursday, 13 October 2011, 06:30 PM
 
Nal, kasusmu kok angel bgt to nal.
untuk masalah penekanan secara manual itu sifatnya sangat subjektif sekali. Ditambah lagi terdapat 4 tingkatan penekanan yaitu, 1. tekan kekuatan penuh, 2. tekan kekuatan 75%, 3. Tekan kekuatan 50%, 4. tekan kekuatan 25%. Jadi, menurut saya, walaupun dilakukan pelatihan terhadap perawat tentang teknik penekanan, hasil akhir pun akan masih subjektif. sub proses ini saya rasa sangat sulit sekali di kontrol.
Picture of Fitra Sari
Re: TANGGAPAN UNTUK NALDI
by Fitra Sari - Tuesday, 18 October 2011, 08:33 AM
 
Menurut saya dengan metode pelatihan sulit untuk mengontrol Subproses ini Nal. Standar yang digunakan lebih cenderung ke arah subyektivitas yang tinggi. Mungkin bisa saja dilakukan pelatihan namun membutuhkan waktu yang lama. Mungkin untuk metode balut tekan ini bisa digunakan standar yang lain, lebih menonjolkan tingkat obyektivitasnya.
Picture of Muhamad Sandi Setiawan
Re: TANGGAPAN UNTUK NALDI
by Muhamad Sandi Setiawan - Tuesday, 18 October 2011, 04:50 PM
 
diperlukan pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan agar metode ini dapat terbiasa dilakukan oleh staf yang ada di ruangan. selain itu, blammless reported tetap diadakan untuk evaluasi...
Picture of Isnaini Ashar
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Isnaini Ashar - Thursday, 6 October 2011, 03:20 PM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan persalinan untuk ibu melahirkan

II. Bentuk TIM:

Ketua: kepala departemen obsetetry dan gynekologi

Anggota:

1. Dokter spesialis obsetetry dan gynekologi

2. Kepala ruang VK

3. Kepala ruang Bangsal obsetetry dan gynekologi

4. Manajer YanMed

5. Kepala bidan

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bangsal Kardiologi

Tanggal dimulai : 6 oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 15 Oktober 2011

III. A. Tahapan Proses

1. Pasien datang ke UGD

Tahapan sub proses:

a. Pendaftaran pasien

b. Anamnesa dan pemeriksaan oleh dokter dan paramedis (bila bukan kegawatan obsetetry)

c. Konsultasi ke dokter spesialis obsetetry dan gynekologi bila merupakan kegawatan

d. Mendaftarakan pasien ke ruang VK

e. Pemeriksaan laboratorium

2. Pasien dikirim ke ruang VK atau ruang bersalin

Tahap sub proses:

a. Perawat UGD mengantarkan pasien ke ruang VK

b. Pasien dipindahkan ke bed gyn ruang VK

c. Serah terima pasien dari perawat UGD ke bidan VK

3. Observasi sebelum persalinan

Tahap sub proses:

a. Pemeriksaan identitas pasien

b. Anamnesa pasien

c. Pemeriksaan fisik dan obsetetry oleh dokter Sp. OG atau bidan

d. Pemeriksaan penunjang oleh dokter Sp. OG seperti USG

e. Diagnose persalinan dan menilai apakah persalinan dapat normal atau tidak

f. Observasi dan penilaian proses persalinan: persalinan dapat fisiologis atau patologis (bila ada indikasi persalinan patologis, maka dipersiapkan tindakan selanjutnya seperti SC)

4. Proses persalinan

a. Membantu proses persalinan spontan

b. Bila ada indikasi dan tidak dapat persalinan normal, maka dilakukan tindakan pertolongan persalinan (SC, vakum ekstraksi, forceps, dll) sesuai kasusnya.

B. Tahap sub proses

1. Pemeriksaan identitas pasien

Modus kegagalan:

a. Tidak mencocokkan nama dengan nomor rekam medis, alamat dan nama orang tua sehingga dapat tertukar bila ada pasien yang namanya sama

2. Anamnesa pasien

Modus kegagalan:

a. Anamnesa kurang lengkap

3. Pemeriksaan fisik dan obsetetry oleh dokter Sp. OG atau bidan

Modus kegagalan:

a. Pemeriksaan yang kurang seksama, lengkap dan teliti

b. Kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan

c. Pemeriksaan kurang karena ketidak lengkapan peralatan penunjang diagnosa

4. Pemeriksaan penunjang oleh dokter Sp. OG

Modus kegagalan:

a. Peralatan diagnostic sudah tidak bekerja baik

b. Pemeriksaan tidak sesuai indikasi

c. Salah intrepertasi hasil pemeriksaan

5. Diagnosa persalinan

Modus kegagalan:

a. Diagnose tidak tepat karena kurangnya pemeriksaan

b. Diagnose yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan seperti SC

c. Salah diagnosa

6. Observasi dan penilaian proses persalinan

Modus kegagalan:

a. Observasi yang tidak adekuat

b. Tenaga observer kurang kompeten

c. Ketidaksabaran menunggu proses persalinan sehingga cenderung untuk tindakan pertolongan persalinan

IV. Analisa Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Diagnosa persalinan

1. Diagnosa tidak tepat karena kurangnya pemeriksaan

2. Diagnosa yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan operasi seperti SC

3. Salah diagnosa

2

2

3

3

4

2

6

8

6

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

a. Diagnose tidak tepat karena kurangnya pemeriksaan

b. Diagnosa yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan seperti SC

c. Salah diagnosa

6

8

6

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Sub proses yang dipilih: Diagnosa yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan seperti SC

Sub proses ini harus di kontrol.

Pasien yang akan melahirkan harus benar-benar diperiksa dengan benar dan teliti sesuai dengan standar pelayanan dan standar operasional rumah sakit. Sedapat mungkin pasien yang akan melahirkan harus secara normal atau spontan kecuali ada penyulit persalinan. Bila pasien yang tidak indikasi dilakukan SC tetapi dilakukan SC, maka akan berdampak pada pasien berupa perpanjangan lama rawat, financial, kesehatan bayi yang dilahirkan dan kehamilan serta persalinan berikutnya. Rumah sakit harus ketat dalam membuat standar operasional untuk dilakukan SC. Operasi SC harus dilakukan sesuai indikasi keadaan pasien, bukan indikasi keadaan dokter dan rumah sakit.

Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan pembuatan standar operasional prosedur pemeriksaan-pemeriksaan sebelum persalinan sehingga tidak hanya terpaku pada satu pemeriksaan saja untuk memutuskan tindakan operasi SC. Kepala departemen obstetry dan gynekologi harus berani menegur bila ada staf nya (dokter Sp. OG) melakukan operasi SC dengan indikasi yang tidak kuat. Setiap mingg harus dilakukan audit klinis untuk menekan operasi SC tanpa indikasi jelas.

Picture of Runti Astiwi
Re: TANGGAPAN UTK MAS ISNAINI
by Runti Astiwi - Monday, 10 October 2011, 10:44 AM
 
Utk mas Isnaini,
Maaf, menanyakan saja :
1. Benarkah yang menjadi notulen adalah kepala bangsal kardiologi? (atau salah ketik).
2. Anggota tim terdapat kepala ruang VK dan kepala bidan. Apa bedanya kepala ruang VK dan kepala bidan. Bukankah di ruang VK hanya terdiri dari bidan-bidan saja. Sehingga kepala ruang VK secara otomatis bidan?
Picture of Solikah Sriningsih
Re: TANGGAPAN UTK MAS ISNAINI
by Solikah Sriningsih - Wednesday, 12 October 2011, 10:41 PM
 
untuk mas isnaini
maaf disini saya mau tanya menanggapi soal kepala vk dan kepala bidan, apakah harus seorang bidan untuk jadi kepala masing-masing instasi tersebut. soalnya di RS X yang pernah saya temui kepala vk nya bukanlah seorang bidan....
Picture of Isnaini Ashar
Re: TANGGAPAN UTK MAS ISNAINI
by Isnaini Ashar - Thursday, 13 October 2011, 10:19 AM
 
untuk mbk Solikah sriningsih: seharusnya kepala VK adalah bidan, karena yang bertugas di VK adalah bidan semuanya. kecuali untuk kepala perawatan bangsal obgyn tidak harus bidan. teima kasih.
Picture of Isnaini Ashar
Re: TANGGAPAN UTK MAS ISNAINI
by Isnaini Ashar - Thursday, 13 October 2011, 10:17 AM
 
terima kasih tanggapanya bu Runti. untuk yang no 1, maaf ada kesalahan ketik, yang menjadi notulen adalah kepal VK.
untuk yang no 2, benar di ruang VK seharusnya bidan, tapi ada rumah sakit yang VK dan bangsal perawatan obgyn kepalanya satu, dan kepala ruangnya bukan bidan melainkan perawat senior. tp memeng seharusnya kepala VK adalah bidan. terima kasih
Picture of Linaldi Ananta
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Linaldi Ananta - Monday, 10 October 2011, 12:06 PM
 
Untuk isnaini :
1. Terkait potensi penyebab kegagalan berupa diagnosa yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan SC, jika yang dimaksudkan di sini adalah kesengajaan pihak dokter untuk melakukan SC walaupun tanpa tanpa indikasi kuat berarti hal ini terkait dengan perilaku individu.
Apa saja yang dapat dilakukan manajemen untuk mengendalikan hal ini (faktor eksternal untuk mengendalikan perilaku individu : sistem penghargaan, sistem sanksi dan sistem informasi), selain dengan memberikan teguran kepada yang bersangkutan?
2. Apa yang dimaksud dengan Ketidaksabaran menunggu proses persalinan sehingga cenderung untuk tindakan pertolongan persalinan? bagaimana cara mengendalikannya?
Picture of Isnaini Ashar
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Isnaini Ashar - Thursday, 13 October 2011, 10:31 AM
 
untuk mas Linaldi.
1. untuk mengendalikan hal tersebut, maka SMF obgyn harus membuat SOP pemeriksaan yang harus dilakukan untuk menegakkan diagnosa da indikasi kuat SC. karena ada beberapa dokter yang hanya dg satu pemeriksaan langsung melkakukan SC. setiap bulan dilakukan audit internal SMF, sehingga akan ketahuan siap2 yang melakukan SC tnpa indikasi kuat. sistem kompensasi harus jelas dan sesuai sehingga dokter jg tidak mencari-cari tindakan yang tidak seharusnya untuk meningkatkan pendapatan. sanksi tegas juga harus diberikan oleh pihal manajemn dan SMF seperti melarang SC sementara sampai tidak boleh praktek di RS tersebut tergantung beratnya kasus.

2. kadang ada beberapa dokter biasanya di RS swasta yang persalinanya dilakukan oleh dr. Sp OG yang tidak sabar menunggu persalinan, karena mungkin akan praktek di RS lain atau waktu sudah malam, sehingga diputuskan untuk SC. mungkin dokter dapat mendelegasikan kepada bidan selama observasi, dan bila hampir melahirkan maka kemudian dokter dipanggil. hal ini akan jalan bila ada kmpensasi yang jelas dan dukungan pihak manajemen. sanksi yang tegas juga salah satu pengendali hal tersebut.
Picture of Dimas Trisetyo Nugroho
Re: TANGGAPAN UNTUK MAS ISNAINI
by Dimas Trisetyo Nugroho - Thursday, 13 October 2011, 06:03 PM
 
1. Mas is, untuk rumah sakit pendidikan yang memiliki residen obgyn untuk sistem controlling nya gimana yaaaaaaa?? dalam hal ini adalah pengambilan keputusan operasi SC..
Picture of Argadia Yuniriyadi
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Argadia Yuniriyadi - Monday, 17 October 2011, 01:01 PM
 
MASUKAN :
  1. Identifikasi proses yang akan dianalisa
    • agar tidak merepotkan, proses yang akan dianalisa lebih baek dibuat lebih fokus. Pelayanan persalinan untuk ibu melahirkan. Lebih baik untuk lebih fokus semisal Proses Persalinan Normal (partius spontan) di ruang VK
    • judul yang anda pilih terlalu komplek, fokus pada suatu proses akan lebih menghemat waktu analisa. Hebat juga sih kalo mau analisa dari pasien masuk...tapi ingat, pasien masuk IGD itu pun ada proses panjang yang ada sub-sub proses dan cabangnya byk sekali. misal pasien datang akan ada proses/sub-proses, pasien datang dg kendaraan, pasien turun dari kendaraan, pasien masuk ke ruang igd, pendaftaran pasien, dll yang sesuai dengan protap2 di IGD,..yang masing2 akan ada resikonya... itu baru di IGD...belum lagi pada proses persalinan, akan ada proses : pasien masuk ruang VK, pasien dimasukkan ke ruangan, pasien didaftar (registrasi ruangan untuk identifikasi pasien), pasien diperiksa kembali, pasien dilakukan pertolongan persalinan spontan (sub-proses dari sub proses ini juga ada, misal, persalinan kala satu : pasien di edukasi, pengawasan dan pemeriksaan ulang tiap 4 jam, dll)..... yang kembali lagi, dari tiap2 sub-proses dan cabang2nya itu akan ada resiko masing2... jadi saran saya untuk HFMEA lebih memfokuskan pada sebuah proses yang lebih terperinci.....
  2. TIM. sudah siip....senyum
  3. Tahapan Proses :
    • Proses yang akan dianalisa harusnya lebih lengkap, dari pasien datang sampai pasien keluar, bahkan sampai pasien kontrol lagi.
    • beberapa ada yang kurang atau mungkin perlu diperbaiki..misal
      • proses persalinan tidak hanya sampai di ruang VK saja, perlu ditambahkan proses sampai di ruang monitoring, pasien di bangsal, sampai pasien keluar, atau kao perlu sampai pasien kontrol....
  4. Tahapan Sub-proses dan analisa modus kegagalan
    • Sub Proses yang anda pilih itu dari proses observasi pasien sebelum persalinan ya..?? trus modus kesalahan yang diambil dari sub-proses diagnosis persalinan... hal yang aku perlu aku perbaiki, (mungkin kesalahan aku dalam memahami HFMEA, maap).. kamu hanya perlu memilih satu MODUS kegagalan, dan dari situ kamu cari penyebab kesalahan yang mungkin terjadi...jadi semisal kamu memilih modus kegagalan "Diagnosa yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan seperti SC" carilah POTENSIAL CAUSE, seperti :
      • Dokter obsgyn yang ingin melakukan SC demi tujuan finansial
      • APS (atas permintaan pasien)
      • dllas
  5. ANALISA HAZARAD sampai ANALISA KEPUTUSAN
    • kalo semisal anda telah mengetahui POTENSIAL CAUSE satu2 seperti diatas baru bisa dilakukan analisa hazard.. untuk skoring KEGAWATAN aku rasa semuanya sama, anda milih kegawatan dengan score 2, tapi untuk probabilitas mungkin beda... dalam pratek saya, di RS Swasta frekuensi yang lebih sering justru APS (atas permintaan pasien)...
    • Analisa keputusan :
      • apakah termasuk point tunggal kelemahan?? apakah hanya point ini yang menjadi penyebab tunggal dari kesalahan sistem?? apakah ketika kesalahan ini terjadi akan menyebabkan kegagalan sistem secara keseluruhan>??? (ini pemahaman saya dari pertanyaan POINT TUNGGAL KELEMAHAN, dan tidak memakai sistem scoring hazard), jawabannya bisa IYA atau TIDAK, kasus anda menurut saya jawabannya adalah TIDAK (bisa dilihat di bahan yang saya lampirkan)...dan sebenarnya ketika jawabanya adalah TIDAK, maka analisa tidak dilanjutkan ke langkah 5 HFMEA... tidak perlu dianalisa apakah harus di eliminasi, di kontrol ataupun diterima,...HENTIKAN ANALISA....
      • untuk masalah control dan detectibiltas kalo sesuai bagan, ketika POINT tunggal jawabannya adalah tidak menurut saya tidak perlu dilakukan...

----ARGADIA (2009.1021.008)----
Picture of Bayu Kurniawan Fitra
tanggapan untuk mas isnaini
by Bayu Kurniawan Fitra - Tuesday, 18 October 2011, 01:19 AM
 
terkait dengan jawaban pertanyaan mas naldi :

"untuk mas Linaldi.
1. untuk mengendalikan hal tersebut, maka SMF obgyn harus membuat SOP pemeriksaan yang harus dilakukan untuk menegakkan diagnosa da indikasi kuat SC. karena ada beberapa dokter yang hanya dg satu pemeriksaan langsung melkakukan SC. setiap bulan dilakukan audit internal SMF, sehingga akan ketahuan siap2 yang melakukan SC tnpa indikasi kuat. sistem kompensasi harus jelas dan sesuai sehingga dokter jg tidak mencari-cari tindakan yang tidak seharusnya untuk meningkatkan pendapatan. sanksi tegas juga harus diberikan oleh pihal manajemn dan SMF seperti melarang SC sementara sampai tidak boleh praktek di RS tersebut tergantung beratnya kasus."

pertanyaan saya :
Bagaimana jika SC itu atas permintaan pasien sendiri?
Bagaimana jika SC itu dilakukan dikarenakan berkaitan dengan peningkatan pendapatan RS itu sendiri?
Picture of Muhamad Sandi Setiawan
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Muhamad Sandi Setiawan - Tuesday, 18 October 2011, 04:56 PM
 
ehm.. setuju bos. kenyataan yang banyak terjadi dilapangan adalah ketika seorang ibu hamil datang ke rumah sakit biasanya malah di edukasi sc oleh staf. bahkan ada yang terang-terangan malas untuk melakukan observasi terutama pada primigravida,, ketegasan dr Sp.OG melarang sc terkadang jarang dijumpai saat ini.
Picture of Aulia Hijriastuti
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Aulia Hijriastuti - Sunday, 9 October 2011, 06:09 PM
 
Picture of Aulia Hijriastuti
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Aulia Hijriastuti - Monday, 10 October 2011, 07:01 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA

(AMKD)

Judul proses :

Pemberian antibiotik pada pasien di bangsal.

Bentuk TIM :

Ketua  : kepala instalasi farmasi

Anggota :

a. Manajer Pelayanan Medis

b. Ketua Komite Medis

c. Kepala Instalasi Rawat Inap

d. Kepala Bagian Keperawatan

e. Kepala Seksi Keperawatan

f. Kepala Bangsal

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili didalam Tim

tersebut ? YA

Siapa yang menjadi notulen ? Kepala bangsal

Tanggal dimulai 8 Oktober 2011 , tanggal dilengkapi 24 Oktober 2011

Tahapan Proses :

1. Dokter Visite

Sub Proses :

a. Pemeriksaan pasien

b. Menanyakan riwayat pasien

c. Menanyakan alergi Obat

2. Penulisan Resep Antibiotik

Sub Proses :

a. Doktek menuliskan resep

b. Perawat memberikan resep ke apotek

3. Pemberian Antibiotik

Sub proses :

a. Perawat mengambil obat di apotek

b. Perawat memastikan kembali identitas pasien.

c. Perawat memberikan antibiotik kepada pasien.

Proses yang paling berisiko timbul kegagalan dan menyebabkan komplikasi pada pasien adalah pemberian antibiotik pada pasien pada sub bagian perawat memberikan antibiotik pada pasien.

Analisis Hazart

Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum

>> Perawat memberikan antibiotik kepada pasien

Potensi Penyebab dan Skoring (kegawatan, probabilitas dan Nilai hazart)

1. Tidak melakukan skin test  : 3, 2, 6  

2. Tidak ada komunikasi antar perawat : 3, 1, 3

3. Tidak adanya laporan tertulis : 3, 1, 3

4. Waktu pemberian antibiotik yang tidak tepat : 3, 2, 6

5. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 3, 2, 6

6. Perawat salah melihat hasil skin test : 4, 4, 16

Analisi pohon keputusan (point tunggal kelemahan ?, adakah kontrol/ pengendalian ?, apakah mudah dideteksi ?, Proses ?)

1. Tidak melakukan skin test  : 6, YA, YA  

2. Tidak ada komunikasi antar perawat : 3, YA, YA

3. Tidak adanya laporan tertulis : 3, YA, YA

4. Waktu pemberian antibiotik yang tidak tepat : 6, YA, YA

5. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 6, YA, YA

6. Perawat salah melihat hasil skin test : 16, TIDAK, YA

Sub proses yang dipilih adalah perawat salah melihat hasil skin test.

Sub proses ini harus dikontrol.

Perawat harus teliti dalam melihat hasil skin test pada pasien, terkadang pasien merasa tidak mempunyai alergi, ternyata setelah di skin test terdapat alergi. Bahkan terkadang perawat membaca hasil skin test negatif, ternyata setelah diberikan antibiotik pasien mengalami alergi.

Jadi sub proses ini bisa di kontrol dan dikendalikan dengan meningkatkan ketelitian para perawat serta pembuatan SOP pembacaan hasil skin test sehingga resiko yang bisa terjadi bisa diminimalkan.

Picture of Linaldi Ananta
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Linaldi Ananta - Tuesday, 11 October 2011, 09:49 AM
 
Untuk Mbak Aulia :
1. Mengapa para dokter dari tiap SMF terutama yang sering meresepkan antibiotik tidak dilibatkan dalam AMKD ini? Bukankah para dokter juga punya peran penting dalam proses ini, misalnya menentukan ada tidaknya indikasi pemberian antibiotik, menulis resep antibiotik dengan tepat dan jelas, menanyakan riwayat alergi, menentukan jenis antibiotik yang sesuai, dll?
2. Sedikit masukan. Para perawat juga perlu tahu dan perlu dilatih tentang cara skin test yang benar terutama untuk beberapa jenis antibiotik tertentu. Tidak semua antibiotik skin test nya dengan cara intrakutan, misalnya vancomycin skin test nya dengan tes tempel (patch test). Kalau dilakukan dengan intrakutan, baik pada pasien yang alergi atau tidak, kulitnya akan tetap timbul reaksi, bahkan bisa berat. Hal ini juga bisa menjadi potensi penyebab kegagalan dalam proses pemberian antibiotik pada pasien.
Picture of Muhamad Sandi Setiawan
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Muhamad Sandi Setiawan - Tuesday, 18 October 2011, 05:06 PM
 
pemberian antibiotik memang harus hati-hati. terkadang dokter lupa menanyakan riwayat alergi pasien. oleh karena itu perlu dibuat suatu SOP penyuntikan antibiotik harus melalui skin test terlebih dahulu meskipun dokter tdk menginstruksikan skin test.

meskipun jarang, apabila pasien alergi dengan antibiotik yang diberikan bisa menyebabkan reaksi antigen antibody yang sangat fatal bagi pasien. oleh karena itu perlu dilakukan skin test dan interpretasi skin test terlebih dahulu
Picture of Runti Astiwi
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Runti Astiwi - Monday, 10 October 2011, 11:01 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. PROSES YANG DIANALISA :

Penatalaksanaan injeksi antibiotik di ruang rawat inap RS Jogja

2. BENTUK TIM

Ketua : Kepala Instalasi Rawat Inap

Anggota :

a. Kepala Staf Medik Fungsional

b. Kepala Bidang Pelayanan Medis

c. Kepala Seksi Rawat Inap

d. Kepala Bidang Paramedis

e. Kepala Seksi Keperawatan

f. Para Koordinator Perawat (kepala ruang) di ruang rawat inap

g. Kepala Instalasi Farmasi

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Sekretaris Instalasi Rawat Inap

Tanggal dimulai : 01 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 08 Oktober 2011

I. TAHAPAN PROSES

A. Visite dokter

B. Penulisan resep injeksi antibiotik oleh dokter

C. Pengiriman resep injeksi antibiotik oleh petugas bangsal (pramu bangsal atau perawat)

D. Penerimaan resep injeksi antibiotik di instalasi farmasi

E. Instalasi farmasi menyiapkan obat injeksi antibiotik

F. Pengambilan injeksi antibiotik oleh petugas bangsal

G. Penatalaksanaan injeksi antibiotik oleh perawat

II. TAHAPAN SUB PROSES

  1. VISITE DOKTER

Sub proses :

1. Anamnesa

2. Pemeriksaan fisik

3. Pembacaan hasil pemeriksaan penunjang, misalnya laboratorium (angka leukosit,dll)

4. Penegakan diagnose medis

5. Pemberian Terapi medis : injeksi antibiotik

  1. PENULISAN RESEP INJEKSI ANTIBIOTIK OLEH DOKTER SPESIALIS

Sub proses :

1. Kejelasan penulisan resep

2. Identitas pasien

3. Pemilihan jenis

4. Ketepatan dosis

  1. PENGIRIMAN RESEP INJEKSI ANTIBIOTIK KE INSTALASI FARMASI OLEH PETUGAS BANGSAL (PRAMU HUSADA ATAU PERAWAT)

Sub proses :

1. Peletakan resep di kartu obat pasien

2. Penulisan resep dan kartu obat di buku expedisi obat

3. Penyerahan resep/kartu obat ke instalasi farmasi

  1. PENERIMAAN RESEP INJEKSI ANTIBIOTIK DI INSTALASI FARMASI

Sub proses :

1. Penerima resep membubuhkan paraf dan nama terang di buku expedisi obat

2. Penerima resep mencocokkan resep dengan kartu obat pasien

3. Penerima resep meletakkan resep dan kartu obat di loker bangsal

  1. INSTALASI FARMASI MENYIAPKAN OBAT INJEKSI ANTIBIOTIK

Sub proses :

1. Penerima resep meletakkan resep/kartu obat di loker bangsal

2. Apoteker memeriksa resep

3. Apoteker atau asisten apoteker menyiapkan obat injeksi antibiotik

4. Obat injeksi dan kartu obat diletakkan di loker bangsal

  1. PENGAMBILAN INJEKSI ANTIBIOTIK OLEH PETUGAS BANGSAL

Sub proses :

1. Apoteker atau asisten apoteker menyerahkan obat injeksi antibiotik beserta kartu obatnya

2. Petugas bangsal mencocokkan obat injeksi dengan permintaan

3. Petugas bangsal membubuhkan paraf dan nama terang di buku expedisi milik instalasi farmasi

  1. PENATALAKSANAAN INJEKSI ANTIBIOTIK OLEH PERAWAT

Sub proses :

1. Persiapan obat injeksi antibiotik

2. Pengoplosan obat injeksi antibiotik dengan aquabidest

3. Skin test

4. Pemberian injeksi antibiotik sesuai dosis

5. Dokumentasi keperawatan

III. MODUS KEGAGALAN

  1. Sub proses : Persiapan obat injeksi antibiotik

Modus Kegagalan :

a. Perawat tidak mencocokkan obat injeksi yang diterima dengan pemesanan

b. Perawat tidak mencocokkan obat injeksi yang diterima dengan kartu obat pasien

c. Perawat salah mengambil obat injeksi di loker / stok obat injeksi

  1. Sub proses : Pengoplosan obat injeksi antibiotik dengan aquabidest

Modus Kegagalan :

a. Pengoplosan tidak dengan aquabidest, tetapi dengan cairan lain yang mirip aquabidest

b. Jumlah cairan aquabidest tidak tepat /tidak sesuai aturan yang ada pada label obat injeksi

  1. Sub proses : Skin test

Modus Kegagalan :

a. Obat injeksi yang akan dipakai untuk skin test tidak diencerkan lagi dengan aquabidest

b. Perawat tidak mengecek ulang pasien yang akan dilakukan skin test

c. Skin test tidak tepat area / lokasi

d. Volume obat injeksi untuk skin test tidak tepat (yang dimasukkan ke kulit)

e. Lokasi skin test tidak diberi tanda

f. Pembacaan hasil skin test kurang tepat

  1. Sub proses : Pemberian injeksi antibiotik sesuai dosis

Modus Kegagalan :

a. Pengambilan dosis obat injeksi tidak tepat. Hal ini dikarenakan pemberian injeksi pada pasien anak-anak sering kurang dari 1 gram (setiap kali injeksi)

b. Waktu pemberian tidak tepat. Jarak waktu pemberian injeksi pertama, kedua dan selanjutnya tidak sama.

c. Memberikan injeksi pada pasien yang salah (tidak mencocokkan nama pasien ketika akan melakukan injeksi)

d. Masih terdapat udara pada spuit yang berisi obat

e. Pada waktu memasukkan injeksi masih ada obat yang keluar dari spuit (Tidak memeriksa sambungan antara spuit dengan jarum)

f. Sisa injeksi dalam vial dipakai pada injeksi berikutnya

g. Spuit digunakan berulang (tidak disposible)

  1. Sub proses : Dokumentasi keperawatan

Modus Kegagalan :

a. Perawat tidak mendokumentasikan tindakan skin test di rekam medis pasien

b. Perawat tidak mendokumentasikan tindakan injeksi di rekam medis pasien

Sehingga kemungkinan terjadi pasien tidak diberi injeksi atau injeksi diberikan beru.lang

IV. HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

kegawatan

probabilitas

nilai hazard

Pemberian injeksi antibiotik sesuai dosis

Pengambilan dosis obat injeksi tidak tepat. (Terutama pada pasien anak-anak )

3

2

6

Waktu pemberian tidak tepat. Jarak waktu pemberian injeksi pertama, kedua dan selanjutnya tidak sama.

3

3

9

Memberikan injeksi pada pasien yang salah (tidak mencocokkan nama pasien ketika akan melakukan injeksi)

4

2

8

Masih terdapat udara pada spuit yang berisi obat

3

3

9

Pada waktu memasukkan injeksi masih ada obat yang keluar dari spuit (Tidak memeriksa sambungan antara spuit dengan jarum)

2

3

6

Sisa injeksi dalam vial dipakai injeksi berikutnya

2

3

6

Spuit digunakan berulang (tidak disposible)

3

2

6

V. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL?

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Pengambilan dosis obat injeksi tidak tepat (terutama pada pasien anak-anak)

6 (skor < 8)

Ya

Ya


Waktu pemberian tidak tepat. Jarak waktu pemberian injeksi pertama, kedua dan selanjutnya tidak sama.

9 (skor > 8)

Ya

Ya


Memberikan injeksi pada pasien yang salah (tidak mencocokkan nama pasien ketika akan melakukan injeksi)

8

Ya

Ya


Masih terdapat udara pada spuit yang berisi obat

9

Ya

Ya


Pada waktu memasukkan injeksi masih ada obat yang keluar dari spuit (Tidak memeriksa sambungan antara spuit dengan jarum)

6 (skor < 8)

Ya

Ya


Sisa injeksi dalam vial dipakai injeksi berikutnya

6 (skor < 8)

Ya

Ya


Spuit digunakan berulang (tidak disposible)

6 (skor < 8)

Ya

Ya


VI. RENCANA TINDAKAN

Beberapa potensi penyebab dalam sub proses penatalaksanaan injeksi antibiotik harus dikontrol semua, tidak dapat dipisah-pisahkan, karena satu sama lain saling berkaitan. Apabila penatalaksanaan injeksi antibiotik ini tidak dilaksanakan dengan baik (sesuai prosedur), maka akan berdampak pada pasien yaitu perpanjangan lama rawat inap, penambahan financial, dan kemungkinan terjadi infeksi nosokomial.

Adapun rencana tindakan :

  1. Di ruang / bangsal

1. Sosialisasi / review kepada perawat-perawat baik yang baru maupun yang lama maupun praktikan (mahasiswa keperawatan/kebidanan yang baru praktek) tentang :

- penghitungan dosis obat dan cara pengambilannya

- penerapan pemberian obat dengan 5 B (5 benar)

- pentingnya pemberian obat dengan 5B

- Akibat apabila ada udara yang masuk ke pembuluh darah

- Standar Prosedur Operasional (SPO) penatalaksanaan injeksi antibiotik

2. Pendampingan kepada praktikan yang akan melakukan injeksi antibiotik

3. Monitoring dan evaluasi (monev) kinerja perawat oleh kepala ruang, khususnya dalam ketaatan terhadap SPO penatalaksanaan injeksi antibiotik

4. Monev kinerja praktikan oleh CI (Clinical Instruktur) atau pembimbing lapangan di ruang/bangsal masing-masing

  1. Instalasi Rawat Inap

1. Monitoring dan evaluasi kinerja perawat di masing-masing bangsal berkaitan dengan penatalaksanaan injeksi antibiotik

2. Mengadakan audit apabila terjadi kasus atau pelanggaran SPO penatalaksanaan injeksi antibiotik

  1. Seksi Keperawatan

1. Menjalankan program supervisi keperawatan sesuai tugas, pokok dan fungsinya

2. Monitoring dan evaluasi kinerja supervisor dan kepala ruang

3. Memberikan reward dan punishment untuk kinerja perawat baik supervisor, kepala ruang maupun perawat pelaksana

4. Mengadakan in house training penatalaksanaan injeksi antibiotik

5. Menjadikan program PPIRS sebagai salah satu materi dalam acara orientasi pegawai baru dan orientasi mahasiswa praktek

6. Mewajibkan pegawai baru dan mahasiswa praktek untuk mengikuti acara orientasi sebelum masuk ke ruangan/bangsal

  1. Tim PPIRS (Pencegahan dan pengendalian Infeksi RS)

1. Monitoring penggunaan sisa injeksi dalam vial dan spuit disposible

  1. Tim Mutu

1. Mengadakan lomba GKM (Gugus Kendali Mutu) atau PSBH (Problem Solving Better Hospital) tentang penatalaksanaan injeksi aitibiotik

  1. Manajemen RS

1. Mendukung program-program dari seksi keperawatan, misalnya in house training penatalaksanaan injeksi antibiotik

2. Memfasilitasi sarana dan prasarana yang digunakan dalam penatalaksanaan injeksi antibiotik

Picture of Runti Astiwi
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA ke 2
by Runti Astiwi - Monday, 10 October 2011, 01:47 PM
 

Kepada Yth : Dr Arlina,M.Kes

Di tempat

Bu Arlina, apabila HFMEA saya yang pertama tidak diakui karena dianggap sama dengan HFMEA mbak Aulia, maka bersama ini saya mengajukan kembali HFMEA ke 2 di bawah ini. Terimakasih.

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. PROSES YANG DIANALISA :

Penatalaksanaan pemasangan infus di ruang rawat inap

2. BENTUK TIM

Ketua : Kepala Instalasi Rawat Inap

Anggota :

a. Wakil Direktur Pelayanan

b. Kepala Staf Medik Fungsional (Dalam, Bedah, Anak,dll)

c. Kepala Dokter jaga bangsal

d. Kepala Bidang Pelayanan Medis

e. Kepala Seksi Rawat Inap

f. Kepala Bidang Paramedis

g. Kepala Seksi Keperawatan

h. Kepala Bidang Penunjang Pelayanan

i. Para Koordinator Perawat (kepala ruang) di ruang rawat inap

j. Kepala Instalasi Farmasi

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Sekretaris Instalasi Rawat Inap

Tanggal dimulai : 01 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 08 Oktober 2011

I. TAHAPAN PROSES

A. Visite dokter

B. Penulisan resep cairan infus, abocath, selang infus oleh dokter

C. Pengiriman resep oleh petugas bangsal (pramu bangsal atau perawat)

D. Penerimaan resep di instalasi farmasi

E. Instalasi farmasi menyiapkan perlengkapan pemasangan infus

F. Pengambilan perlengkapan pemasangan infus oleh petugas bangsal

G. Proses pemasangan infus oleh perawat

II. TAHAPAN SUB PROSES

  1. Visite Dokter

Sub proses :

1. Anamnesa

2. Pemeriksaan fisik

3. Pembacaan hasil pemeriksaan penunjang, misalnya laboratorium (Trombosit, hematokrit,,dll)

4. Penegakan diagnose medis

5. Pemberian Terapi medis : pemasangan infus

  1. Penulisan Resep Perlengkapan Pemasangan Infus Oleh Dokter

Sub proses :

1. Kejelasan penulisan resep perlengkapan

2. Identitas pasien

3. Pemilihan jenis

4. Ketepatan dosis

  1. Pengiriman Resep Ke Instalasi Farmasi Oleh Petugas Bangsal (Pramu Husada Atau Perawat)

Sub proses :

1. Peletakan resep di kartu obat pasien

2. Penulisan resep dan kartu obat di buku expedisi obat

3. Penyerahan resep/kartu obat ke instalasi farmasi

  1. Penerimaan Resep Di Instalasi Farmasi

Sub proses :

1. Penerima resep membubuhkan paraf dan nama terang di buku expedisi obat

2. Penerima resep mencocokkan resep dengan kartu obat pasien

3. Penerima resep meletakkan resep dan kartu obat di loker bangsal

  1. Instalasi Farmasi Menyiapkan Perlengkapan Pemasangan Infus

Sub proses :

1. Penerima resep meletakkan resep/kartu obat di loker bangsal

2. Apoteker memeriksa resep

3. Apoteker atau asisten apoteker menyiapkan perlengkapan pemasangan infus

4. perlengkapan pemasangan infuse dan kartu obat diletakkan di loker bangsal

  1. Pengambilan perlengkapan pemasangan infus

Oleh petugas bangsal

Sub proses :

1. Apoteker atau asisten apoteker menyerahkan peralatan pasang infus beserta kartu obatnya

2. Petugas bangsal mencocokkan dengan permintaan

3. Petugas bangsal membubuhkan paraf dan nama terang di buku expedisi milik instalasi farmasi

  1. Proses Pemasangan Infus Oleh Perawat

Sub proses :

1. Cuci tangan

2. Persiapan alat

3. Komunikasi dengan pasien atau keluarga pasien

4. Pemasangan infus

5. Evaluasi

6. Cuci tangan

7. Dokumentasi keperawatan

III. MODUS KEGAGALAN

  1. Sub proses : Persiapan alat

Modus Kegagalan :

a. Perawat salah mengambil jenis cairan infus

b. Perawat salah mengambil tranfusi set (harusnya infuse set)

c. Perawat salah mengambil abocath (misal utk anak2 no 24 tetapi keliru no 20 atau sebaliknya)

d. Perlengkapan pemasangan infuse tidak lengkap (misal kurang bengkok atau gunting, dll)

  1. Sub proses : Komunikasi dengan pasien atau keluarga pasien

Modus Kegagalan :

Perawat tidak mengkomunikasikan maksud dan tujuan pemasangan infus

3. Sub proses : pemasangan infus

Modus Kegagalan :

a. Pada selang infus masih terdapat udara

b. Perawat tidak memakai sarung tangan

c. Perawat tidak memasang perlak dan pengalas di lokasi yang akan dipasang infus (misal di bawah tangan)

d. Desinfeksi berulang-ulang di lokasi yang akan dipasang infus

e. Penutupan lokasi pemasangan infus tidak menggunakan kassa kering

f. Perawat tidak mengatur dengan tepat tetesan infus

  1. Sub proses : Evaluasi

Modus Kegagalan :

a. Perawat tidak melihat lokasi pemasangan infus (bengkak atau tidak,dll)

1. Sub proses : Dokumentasi keperawatan

Modus Kegagalan :

a. Perawat tidak mendokumentasikan tindakan pemasangan infus

b. Perawat mendokumentasikan tindakan pemasangan infus, tetapi tidak lengkap ( tanpa nama, tanda tangan atau waktu pemasangan infus)

IV. HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

probabilitas

nilai hazard

Pemasangan infuse

Pada selang infus masih terdapat udara

3

3

9

Perawat tidak memakai sarung tangan

2

2

4

Perawat tidak memasang perlak dan pengalas di lokasi yang akan dipasang infus (misal di bawah tangan)

1

3

3

Desinfeksi berulang-ulang di lokasi yang akan dipasang infus

1

3

3

Penutupan lokasi pemasangan infus tidak menggunakan kassa kering

2

4

8

Perawat tidak mengatur dengan tepat tetesan infus (sesuai instruksi dokter).

3

3

9





V. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Pada selang infus masih terdapat udara

9

Ya

Ya


Perawat tidak memakai sarung tangan

4

Ya

Ya


Perawat tidak memasang perlak dan pengalas di lokasi yang akan dipasang infus (misal di bawah tangan)

3

Ya

Ya


Desinfeksi berulang-ulang di lokasi yang akan dipasang infus

3

Ya

Ya


Penutupan lokasi pemasangan infus tidak menggunakan kassa kering

8

Ya

Ya


Perawat tidak mengatur dengan tepat tetesan infus (sesuai instruksi dokter).

9

Ya

Ya


VI. RENCANA TINDAKAN

Sub proses yang dipilih : perawat tidak mengatur tetesan infus dengan tepat (sesuai instruksi dokter).

1. Tetesan cairan infus yang tidak tepat pada pasien anak-anak :

a. Bila kurang dapat mengakibatkan kematian (misalnya pada pasien diare dehidrasi) atau perpanjangan rawat inap, penambahan financial apabila terjadi meningitis akibat rotavirus.

b. Bila kebanyakan dapat mengakibatkan sesak nafas karena oedema pulmo atau oedema anasarka. Hal tersebut juga mengakibatkan perpanjangan rawat inap, penambahan financial.

2. Tetesan cairan infus yang tidak tepat pada pasien dewasa juga dapat mengakibatkan perpanjangan rawat inap, penambahan financial

Untuk itu sub proses ini harus dikontrol.

Adapun rencana tindakannya sebagai berikut :

  1. Di ruang / bangsal

1. Sosialisasi / review kepada perawat-perawat (baru maupun lama) dan praktikan (mahasiswa keperawatan/kebidanan yang baru praktek) tentang :

- penghitungan penghitungan tetesan infus

- pentingnya terapi cairan

- Akibat apabila tetesan infus tidak tepat

- Standar Prosedur Operasional (SPO) pemasangan infus terutama pada penghitungan tetesan infus

2. Pendampingan kepada praktikan yang akan mengganti cairan infus

3. Monitoring dan evaluasi (monev) kinerja perawat, khususnya dalam ketaatan terhadap SPO pemasangan infus

4. Monev skill praktikan oleh CI (Clinical Instruktur) atau pembimbing lapangan di ruang/bangsal masing-masing

Penanggung jawab di ruangan adalah Kepala ruang

B. Instalasi Rawat Inap

1. Mengadakan audit keperawatan apabila terjadi kasus atau pelanggaran SPO pemasangan infuse

Penanggung jawab di tingkat instalasi adalah : Kepala Instalasi Rawat Inap

VII. DUKUNGAN MANAJEMEN RS

A. Seksi Keperawatan

1. Menjalankan program supervisi keperawatan sesuai tugas, pokok dan fungsinyamemantau jalannya asuhan keperawatan di bangsal-bangsal

2. Memberikan reward dan punishment untuk kinerja perawat baik supervisor, kepala ruang maupun perawat pelaksana

3. Bekerjasama dengan instalasi Diklat untuk mengadakan in house training penatalaksanaan terapi cairan

4. Memperbaharui SPO penatalaksanaan pemasangan infus (sesuai perkembangan ilmu dan tehnologi di bidang keperawatan)

B. Tim Mutu

1. Mengadakan lomba GKM (Gugus Kendali Mutu) atau PSBH (Problem Solving Better Hospital) tentang penatalaksanaan pemasangan infus

C. Bidang Paramedis
1.
Mendukung program-program dari seksi keperawatan, misalnya in house training penatalaksanaan terapi cairan
2.
Memfasilitasi sarana dan prasarana yang digunakan dalam penatalaksanaan terapi cairan.


Picture of Isnaini Ashar
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA ke 2
by Isnaini Ashar - Thursday, 13 October 2011, 10:41 AM
 
untuk bu Runti.
1. Disebutkan salah satu modus kegagalan adalah pengambilan caitran infus yang slah. bagaimana untuk mengendalikan ini, karena akibatnya bisa sangat fatal. sebai contoh yang seharusnya cairan infus NaCL diberi cairan KCL (yang merupakan larutan pekat) karena biasanya kemasannya hampir sama dan tulisannya pun hampir mirip (sodium chlorida dg potassium chlorida).
2. Berapa lama sekali perawat harus mengontrol cairan infus, karena biasanya perawat dateng mengecek kalo ada panggilan dr keluarga pasien.
terima kasih
Picture of Runti Astiwi
Re: JAWABAN UTK MAS ISNAINI
by Runti Astiwi - Saturday, 15 October 2011, 10:52 AM
 
1. Kalau yg dipermasalahkan cairan infus Nacl dan Kcl,
saya yakin 100% tidak akan salah karena berbeda kemasan dan ukuran. Utk Nacl dengan ukuran 500ml dengan label orange, sedangkan larutan Kcl dengan kemasan 25ml dengan label warna putih, tulisan hitam/abu2.
Yang hampir sama misalnya :
- cairan infus Nacl label orange dan RL berlabel merah, atau
- cairan infus dextrose 1/4 saline dengan dextrose 10% (warna label sama2 hijau muda).
Namun karena penggunaan berbeda tempat dan jarang dipakai dalam 1 ruang (d1/4S biasa dipakai utk pasien anak2 atau bayi, sedangkan d10% dipakai pasien dewasa) maka hal ini juga jarang terjadi kekeliruan.
Untuk antisipasi atau kontrol dengan cara :
a. Meningkatkan budaya teliti dari perawat.
b. Adanya monitoring kinerja perawat terutama perawat pelaksana.
c. Audit keperawatan apabila terjadi kasus/masalah berkaitan dengan asuhan keperawatan pada pasien.
Dengan adanya audit keperawatan diharapkan kekeliruan/kesalahan dapat diminimalkan. Yang pernah melakukan kekeliruan akan berusaha tidak mengulang kekeliruan tersebut. Yang belum pernah melakukan kekeliruan juga akan semakin meningkatkan ketelitian / kinerjanya.

2. Utk waktu pengontrolan waktu cairan infus :
Cairan infus habis tergantung banyaknya tetesan dalam 1 menit.
Misalnya cairan infus 500ml dengan tetesan 20tts/mnt akan habis dalam waktu 6,25 jam, dengan perhitungan :
(500ml x 15 tts) / 20tts/mnt = 375 mnt ( 6,24 jam)
nb = 15 tts adalah faktor tetesan dalam 1cc (ada di label selang infus)
maka : harusnya perawat dapat memperkirakan kapan harus mengganti cairan infus tsb, tidak perlu menunggu keluarga pasien melapor.
Namun semua itu tergantung dari :
- pribadi/individu perawat,
- budaya organisasi di ruangan tersebut, dan
- peran kepala ruang untuk mengendalikan pelaksanaan asuhan keperawatan di ruangan tersebut.





Picture of Dimas Trisetyo Nugroho
Re: TANGGAPAN UNTUK BU RUNTI
by Dimas Trisetyo Nugroho - Thursday, 13 October 2011, 06:09 PM
 
Bu Runti, untuk masalah kecepatan tetesan bagaimana anda mengantisipasi faktor error dari pihak keluarga pasien? karena pernah terjadi, kecepatan tetesan infus diatur sendiri oleh keluarga karena mereka beranggapan tetesannya tidak sama cepatnya dengan pasien sebelahnya..
Picture of Runti Astiwi
Re: Jawaban utk mas Dimas
by Runti Astiwi - Friday, 14 October 2011, 09:13 AM
 
Setiap tindakan yang dilakukan oleh perawat selalu melibatkan pasien atau keluarga pasien. Dalam SPO atau SOP selalu muncul :
1. Jelaskan maksud dan tujuan tindakan kepada pasien/keluarga pasien
2. Libatkan pasien/keluarga pasien

Maka :
1. Dalam hal penghitungan tetesan infus perlu juga dijelaskan tentang maksud dan tujuan penghitungan tetesan infus kepada pasien/keluarga pasien, dan juga akibat apabila tetesan infus tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu cepat/ terlalu lambat).
2. Sebelum dimulainya shift jaga berikutnya selalu ada operan jaga yang dilaksanakan keliling ke pasien untuk mengetahui kondisi pasien, termasuk dalam hal cairan infus, dll.
3. Perawat perlu mengingatkan kembali kepada pasien/keluarga pasien agar tetesan infus tidak diubah, tetapi kalau macet/tidak jalan/terlalu cepat dimohon untuk lapor ke ruang jaga perawat.
4. Perlu disediakan bel di dekat pasien
4. Perlu monitoring kegiatan asuhan keperawatan oleh kepala ruang dan supervisor di malam hari.
5. Perlu adanya teguran atau punishment bagi perawat jaga yang melakukan kelalaian dalam tugas dan reward bagi perawat jaga yang melaksanakan tugas dengan baik




Picture of Fitra Sari
Tanggapan Untuk Bu Runti
by Fitra Sari - Monday, 17 October 2011, 01:28 PM
 
Sejauh ini saya pernah melihat tetesan infus dipantau dengan menandai flaboth infus, seharusnya habis pukul berapa. dan setelah saya cek cara seperti ini ternyata cukup efektif untuk memantau cairan yang masuk ke dalam tubuh pasien.Terima kasih ^^
Picture of Argadia Yuniriyadi
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA ke 2
by Argadia Yuniriyadi - Monday, 17 October 2011, 01:08 PM
 
hahaha....meskipun sama...tapi menurutku analisa kamu lebih baek..
(sori2 bukan maxut hati buat jelek2in yang laen)
Picture of Dewi Kusumawati
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Dewi Kusumawati - Monday, 10 October 2011, 03:15 PM
 

DEWI KUSUMAWATI (2010.102.1.015)

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. Judul Proses : Proses pelayanan obat di apotik rawat jalan

2. Bentuk TIM

Ketua: Kepala instalasi farmasi

Anggota :

a. Kepala pelayanan medis

b. Kepala instalasi rawat jalan

c. Kepala bagian keperawat

d. Ketua komite medis

e. Kepala poliklinik

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala instalasi rawat jalan

Tanggal dimulai : 10 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 25 Oktober 2011

3. Tahapan Proses

a. Permintaan obat

Tahapan sub proses :

· Dokter di poli menuliskan resep untuk pasien

· Perawat memberikan resep kepada pasien

· Perawat memastikan identitas pasien

b. Penyerahan Resep ke petugas apotik

Tahapan sub proses :

· Pasien menyerahkan resep ke petugas apotik

· Petugas apotik mencatat di buku register

· Petugas menyerahkan nomor antrian ke pasien

c. Penyediaan obat

Tahapan sub proses :

· Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastic

· Memberi identitas pasien dan aturan minum obat di kantong obat

d. Penyerahan obat ke pasien

Tahapan sub proses

· Memastikan identitas pasien di kantong obat dengan yang menerima

· Menjelaskan aturan minum obat ke pasien dengan jelas

4. Sub proses kegiatan yang dipilih

Proses yang memiliki sub proses dengan risiko kegagalan adalah proses c, yaitu Penyediaan obat

· Tahapan sub proses : Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastik obat

Modus kegagalan :

1. Salah mengambil obat

2. Jumlah obat yang dimasukkan tidak sesuai dengan resep.

3. Salah membaca resep.

· Tahapan sub proses : Memberi identitas pasien dan aturan minum obat di kantong plastik obat

Modus kegagalan :

1. Lupa memberi identitas dan aturan minum obat
2. Salah menulis identitas dan aturan minum
3. Tulisan tidak jelas.

Sub proses yang dipilih adalah : Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastik obat, dengan modus kegagalan :

1. Salah mengambil obat

2. Jumlah obat yang dimasukkan tidak sesuai dengan resep.

3. Salah membaca resep.

5. Analisis Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastik obat

1. Salah mengambil obat

2. Jumlah obat yang dimasukkan tidak sesuai dengan resep.

3. Salah membaca resep.

3

2


3

2

3


3

6

6


9

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1. Salah mengambil obat

2. Jumlah obat yang dimasukkan tidak sesuai dengan resep.

3. Salah membaca resep.

6

6


9

Ya

Ya


Ya

Ya

Ya


Ya


Sub proses yang dipilih : salah membaca resep

Identifikasi tindakan dan outcome

Sub proses ini harus dikontrol

Banyaknya pasien yang harus dilayani membatasi waktu dokter dalam memberikan pelayanan kepada pasien khususnya dalam penulisan resep obat, sehingga hal ini memungkinkan terjadinya kesalahan dalam penulisan resep obat (tulisan yang kurang jelas), baik itu nama pasien, umur, nama obat,jumlah, dan aturan minum.

Dalam hal ini, Apoteker sebagai pelaksana penyedia obat bertanggung jawab untuk menyerahkan obat yang benar, kepada pasien yang benar, dan pada waktunya yang benar.

Apoteker harus memahami dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses pelayanan. Medication error adalah kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah. Oleh sebab itu apoteker dalam menjalankan praktik harus sesuai standar yang ada untuk menghindari terjadinya hal tersebut. Apoteker harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya (terutama dokter) dalam menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional, sehingga medication error tidak terjadi.

Kesalahan dalam membaca resep tidak akan terjadi jika komunikasi antara apoteker dan dokter berjalan dengan baik. Apoteker sebaiknya menanyakan langsung kepada dokter yang memberikan resep jika memang dirasa resep yang diberikan sulit terbaca atau meragukan, sehingga apoteker tidak hanya mengira-ngira saja.

Kesalahan membaca resep dapat dikontrol dengan dibuatnya SOP pelayanan obat di apotik rawat jalan agar dapat meminimalisir atau menghindari kegagalan yang terjadi. SOP tersebut harus dipatuhi oleh oleh semua petugas di apotik maupun kepala instalasi farmasi. Bila tidak dipatuhi, sebaiknya dilakukan punishment kepada yang melanggar dan diberikan reward kepada petugas yang selalu menjalankan SOP dengan baik dan benar. Bila perlu SOP tersebut dibuat bersama oleh para dokter dan petugas apotik, sehingga SOP tersebut dapat berlaku dan diterapkan bersama.

Yang bertanggung jawab : kepala instalasi farmasi

Dukungan manajemen :

Mendukung dan ikut membantu dalam pembuatan dan pelaksanaan SOP

Picture of Dimas Trisetyo Nugroho
Re: TANGGAPAN UNTUK MBAK DEWI
by Dimas Trisetyo Nugroho - Thursday, 13 October 2011, 06:22 PM
 
Aslmlkm mbak dewi..
untuk yang pertama, bagaimana anda mengantisipasi jika menerima resep obat dengan nama yang sama? tetapi sebenarnya adalah dua orang yang berbeda dari poli yang berbeda.

yang kedua, saya tertarik dengan statement mbak dewi tentang mendukung penggunaan obat secara rasional. obat yang beredar di rumah sakit terdapat dua jenis yaitu obat generik dan dan obat patent. pada kasus pemakaian obat patent yang sifatnya adalah life-saving, adakah regulasi tentang penggunaan obat life-saving?
Picture of Solikah Sriningsih
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Solikah Sriningsih - Wednesday, 12 October 2011, 10:38 PM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan di OK/ Kamar Operasi

 

II. Bentuk TIM:

 

Ketua: Kepala Instalasi Bedah

 

Anggota:

 

1. Dokter spesialis bedah,obsgyn,tht,mata.

 

2. Kepala ruang OK.

 

3. Kepala ruang Bangsal bedah /Operator,

 

4. Tenaga Anestesi.

 

5. Perawat Pelayanan Bedah.

 

6. Kepala perawat anestesi beserta perawat pelaksana.

 

7. Anggota administrasi obat dan data.

 

8. Cleaning servis.

 

Apakah semua area sudah terwakili? YA

 

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

 

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bangsal

 

Tanggal dimulai : 5oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 11 Oktober 2011

 

III. A. Tahapan Proses

 

1. Pasien datang ke OK

 

Tahapan sub proses:

 

1). Petugas masuk ke kamar operasi (OK) harus :

 

a). Mengganti baju dengan baju khusus dikamar ganti pakaian.

 

b). Memakai alas kaki khusus dalam OK.

 

c). Memakai tutup kepala dan rambut tertutup semua.

 

d). Memakai masker.

 

e). Membukukan data-data pasien di buku register.

 

 

2). Pasien

 

a). Diagnosa penyakit pasien yang benar dan tepat dilakukan oleh dokter yang merawat ( yang ahli dalam bidangnya), kemudian dilaporkan kedokter OK untuk mempersiapkan dan

 

mengatur jadual operasi.

 

b). Keadaan umum (vital sign) pasien diusahakan dalam keadaan seoptimal mungkin .

 

c). Pasien/ keluarga telah menandatangani persetujuan operasi (inform concent).

 

d). Untuk pasien yang akan dioperasi dan supaya direncanakan operasi harus sudah dilaporkan ke kamar operasi (OK) 2 (dua) hari sebelumnya atau sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk mengatur pasien OK.

 

e). Persiapan prosedur pasien di ruang perawatan pra operasi

 

(1). Mencukur/ membersihkan daerah yang akan dioperasi.

 

(2). Persiapan pasien 4-6 jam.

 

(3). Lavamen dan lain-lain.

 

f). Pasien diberitahu untuk dibawa ke kamar operasi (OK).

 

g). Pakaian pasien diganti di kamar persiapan operasi dengan pakaian khusus kamar operasi (OK)dan kepala dibungkus.

 

h). Pasien diperiksa Vital sign : tensi, suhu, nadi dan ditulis dicatatan perawatan.

 

i). Pasien yang akan dioperasi dimasukkan setelah pencatatan selesai.

 

 

Prosedur tentang Ruangan dan Alat-alat.

 

1) Ruangan selalu dalam keadaan bersih dan siap pakai.

 

2) Alat yang akan dibutuhkan diatur atau disiapkan sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan, sudah dalam keadaan steril.

 

2. Pasien masuk kamar operasi.

 

Tahap sub proses:

 

Prosedur selama operasi.

 

1) Semua petugas yang akan melakukan operasi mencuci tangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.

 

2) Memakai jas yang steril menurut cara yang berlaku.

 

3) Memakai sarung tangan sesuai dengan ukuran.

 

4) Asisten instrumen menyiapkan alat - alat yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan operasi diatas meja instrumen yang sebelumnya dialas dengan 2 lapis kain steril.

 

5) Asisten operasi mengadakan desinfeksi didaerah operasi menurut ketentuan yang berlaku.

 

6) Asisten operasi menutup tubuh pasien dengan doek steril yang berlubang pada daerah yang akan dioperasi.

 

7) Petugas melakukan sesuai dengan yang dibutuhkan dan memonitor keadaan pasien kemudian melaporkan ke Operator bahwa operasi dapat dimulai.

 

8) Operator dan asisten operator melakukan operasi.

 

9) Petugas yang lain yang tidak ikut serta dalam operasi siap ditempat untuk keperluan mendadak.

 

d. Prosedur Sesudah Operasi.

 

1) Operator/asisten operator setelah selesai operasi membuka doek penutup pasien.

 

2) Asisten _nstrument operator mengumpulkan kembali yang dipakai dan menghitung apakah sudah cukup jumlahnya dan dimasukkan kembali ke loyang untuk di cuci.

 

3) Pasien dibersihkan oleh petugas OK dan dipasangi pakaian.

 

4) Dipindahkan ke ruang pulih sadar, diawasi pelaksana anestesi dan petugas pulih sadar, sampai keadaan pasien membaik.

 

5) Petugas kamar operasi (OK) lainnya membersihkan meja operasi dan alat lain yang dipakai misal: Suction, Oksigen dll.

 

6) Setelah keadaan umum pasien baik, pasien dipindahkan keruang perawatan dengan brankar bedah, bersama status pasien.

 

7) Petugas kamar operasi (OK) mencatat kedalam buku register.

 

e. Prosedur Pencatatan

 

1) Data pasien dicatat dalam buku register kamar OK termasuk Nama pasien, Dokter yang merawat pasien.

 

2) Petugas anestesi mencatat tindakan dan medikasi yang dilakukan selama operasi .

 

3) Operator/asisten operator mencatat laporan operasi di lembar C beserta tindakan yang dilakukan operator maupun anestesi dan petugas memindahkan ke buku register OK.

 

4) Kalau ada permeriksaan Pathologi Anatomi (PA) harus mengisi formulir untuk permintaan Pathologi Anatomi (PA).

 

5) Setiap awal bulan petugas administrasi OK membuat laporan kegiatan di lembar C.

 

6) Operator menandatangani formulir permintaan permeriksaan Pathologi Anatomi (PA).

 

7) Petugas kamar operasi (OK) setiap hari membuat laporan ke - giatan yang akan diserahkan kepala seksi medis/ perawatan.

 

8) Petugas kamar operasi (OK) membuat laporan inventaris.

 

B. Tahap sub proses

 

1. Pemeriksaan identitas pasien

 

Modus kegagalan:

 

a) Tidak mencocokkan nama

 

b) Tidak mencocockan nomor rekam medis, alamat

 

c) Tidak mencocokan diagnosis sehingga dapat tertukar bila ada pasien yang namanya sama

 

2. Anamnesa pasien

 

Modus kegagalan:

 

a. Anamnesa kurang lengkap

 

3. Pemeriksaan fisik dari operator atau dokter yang bersangkutan kurang teliti.

 

Modus kegagalan:

 

a. Pemeriksaan yang kurang seksama, lengkap dan teliti

 

b. Kesalahan interpretasi hasil pemeriksaan

 

c. Pemeriksaan kurang karena ketidak lengkapan peralatan penunjang diagnosa

 

4. Pemeriksaan penunjang oleh dokter yang bersangkutan/operator.

 

Modus kegagalan:

 

a. Peralatan diagnostic sudah tidak bekerja baik

 

b. Pemeriksaan tidak sesuai indikasi

 

c. Salah intrepertasi hasil pemeriksaan

 

5. Diagnosa pembedahan.

 

Modus kegagalan:

 

a. Diagnose tidak tepat karena kurangnya pemeriksaan

 

b. Diagnose yang cenderung mengarah agar pasien dilakukan tindakan seperti SC

 

c. Salah diagnosa

 

6. Observasi dan penilaian proses pembedahan.

 

Modus kegagalan:

 

a. Observasi yang tidak adekuat

 

b. Tenaga observer kurang kompeten

 

c. Pemberian obat-obatan selama proses operasi kelebihan dosis ataupun kekurangan dosis atau lupa.

 

IV. Analisa Hazard

 

 

Modus kegagalan:

 

Potensi penyebab

 

Scoring kegawatan

 

Scoring probability

 

Scoring nilai hazard

 

Pemeriksaan identitas pasien.

 

1. Tidak mencocokkan nama

 

2. Tidak mencocockan nomor rekam medis, alamat

 

3. Tidak mencocokan diagnosis sehingga dapat tertukar bila ada pasien yang namanya sama

 

 

2

 

2

 

3

 

3

 

4

 

2

 

6

 

8

 

6

 

Analisis pohon keputusan

 

 

Potensi penyebab

 

Poin Tunggal Kelemahan?

 

Adakah Kontrol / Pengendalian?

 

Apakah Mudah Dideteksi?

 

Proses?

 

1. Tidak mencocokkan nama

 

2. Tidak mencocockan nomor rekam medis, alamat

 

3. Tidak mencocokan diagnosis sehingga dapat tertukar bila ada pasien yang

 

6

 

8

 

6

 

Ya

 

Ya

 

Ya

 

Ya

 

Ya

 

Ya


 

1. Sub proses yang dipilih: Tidak mencocokan nomor rekam medis, alamat

 

Sub proses ini harus di kontrol.

 

Menurut pendapat saya sub proses tersebut harus dikontrol. Kemungkinan besar yang biasa terjadi saat pengecekan hanya dilakukan pada poin identitas pasien.Hal ini akan sangat berisiko apabila terjadi kemiripan nama pasien, kemiripan RM dan kebetulan juga kesamaan nama pasien. untuk itu sub proses tersebut harus dijalankan sesuai prosedur supaya kesalahan bisa 0%. Kalau perlu apabila ada kesamaan/ kemiripan nama dibuat SOP yang lebih terperinci. Untuk itu pengontrolan secara rutin apakah petugas sudah mematuhi prosedur secara baik dilakukan terus-menerus.

Picture of Ewika Fitri Perdanasari
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Ewika Fitri Perdanasari - Thursday, 13 October 2011, 10:50 AM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan di bagian radiologi

 

II. Bentuk TIM:

 

Ketua: Kepala Instalasi Radiologi dokter spesialis Radiologi

 

Anggota:

 

1.Subspecialties untuk Ahli radiologi Diagnostik
2. Radiologi Asisten
3. Radiologis Technologist
4. Radiologis Perawat

 

Apakah semua area sudah terwakili? YA

 

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

 

Siapa yang menjadi notulen? Kepala instalasi Radiologi

 

Tanggal dimulai : 6oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 12 Oktober 2011

 

III. A. Tahapan Proses

 

Tahapan sub proses:

 

a. Pelayanan di Radiologi
b. Urutan proses pelayanan radiologi :
1. Radiologi dapat rujukan dari IRD dengan kasus kecelakaan
2. Petugas radiologi mencatat identitas pasien ke dalam buku regester
3. Petugas radiologi memberi nomor roentgen untuk pasien yang akan difoto.
4. Petugas Radiologi melakukan pemeriksaan (roentgen) sesuai dengan permintaan.
5. Pemeriksaan selesai.
6. Hasil roentgen diserahkan kembali ke dokter pengirim.

 

B. Tahap sub proses

 

Petugas Radiologi melakukan pemeriksaan (roentgen)tidak sesuai dengan permintaan.

 

Modus kegagalan:

 

1.Bila radiografer (Petugas Radiologi) tidak teliti, maka bisa / sering terjadi salah dalam pengkodean R/L , misalnya yang difoto sebelah kiri tapi diberi kode R.
2. Bila Radiografer tidak teliti dalam pemberian/pengaturan kV dan mAs maka hasil foto tidak baik.
3. Bila Radiografer tidak teliti maka cara peletakan marker bisa keliru, misalnya peletakan marker yang seharusnya posisi AP tapi posisi marker dibuat sehingga hasil foto bisa membingungkan.

 

IV. Analisa Hazard

 

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Petugas Radiologi melakukan pemeriksaan (roentgen)

1.Bila radiografer (Petugas Radiologi) tidak teliti, maka bisa / sering terjadi salah dalam pengkodean R/L , misalnya yang difoto sebelah kiri tapi diberi kode R.
2. Bila Radiografer tidak teliti dalam pemberian/pengaturan kV dan mAs maka hasil foto tidak baik.
3. Bila Radiografer tidak teliti maka cara peletakan marker bisa keliru, misalnya peletakan marker yang seharusnya posisi AP tapi posisi marker dibuat sehingga hasil foto bisa membingungkan.

2

2

3

3

4

2

6

8

6

 

Analisis pohon keputusan

 

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1.Bila radiografer (Petugas Radiologi) tidak teliti, maka bisa / sering terjadi salah dalam pengkodean R/L , misalnya yang difoto sebelah kiri tapi diberi kode R.
2. Bila Radiografer tidak teliti dalam pemberian/pengaturan kV dan mAs maka hasil foto tidak baik.
3. Bila Radiografer tidak teliti maka cara peletakan marker bisa keliru, misalnya peletakan marker yang seharusnya posisi AP tapi posisi marker dibuat sehingga hasil foto bisa membingungkan.

6

8

6

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


 

1. Sub proses yang dipilih:

 

Sub proses ini harus di control dan diperbaiki prosesnya karena kesalahan pengkodean sangat fatal bagi pasien,(tidak boleh keliru)yang harus dikontrol lagi yaitu kualitas foto karena kualitas hasil foto jelek sehingga hasil roentgen tidak dapat untuk penegakkan diagnosa. Dan yang terakhir hasil foto masih dapat diterima dengan catatan pastikan dengan pasien bahwa peletakan kode tidak terbalik.

Picture of Dimas Trisetyo Nugroho
Dimas Trisetyo Nugroho (20101021017)
by Dimas Trisetyo Nugroho - Thursday, 13 October 2011, 05:56 PM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

DIMAS TRISETYO NUGROHO ( 20101021017 )

  1. Proses yang Dianalisa

Penatalaksanaan pasien dengan fraktur extremitas

  1. Bentuk TIM

Ketua : Kepala SMF Bedah

Anggota :

  1. Kepala divisi orthopedi & traumatologi

  2. Kepala Instalasi bedah sentral

  3. Kepala SMF radiologi

  4. Kepala instalasi radiologi

  5. Kepala bangsal bedah ortopedi

  6. Kepala UGD

  7. Kepala perawat

Apakah semua area sudah terwakili? Ya

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah terwakili di tim ini? Ya

Siapa yang menjadi notulen? Sekertaris bangsal bedah ortopedi

Tanggal dimulai 4 september 2011, tanggal dilengkapi 4 oktober 2011

  1. A. Tahapan Proses

  1. Pasien datang ke UGD

Tahapan sub proses :

  1. Pendaftaran pasien

  2. Anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter dan perawat UGD

  3. Pemeriksaan radiologis

  4. Penentuan rawat inap/operasi cito/rawat jalan

  5. Pemeriksaan laboratorium

  6. Mengirim pasien ke bangsal bedah ortopedi

  1. Pemeriksaan radiologis di instalasi radiologi

Tahapan sub proses:

  1. Pendaftaran pasien

  2. Pemanggilan pasien

  3. Anamnesis singkat oleh staf radiologi

  4. Persiapan foto (Penempatan plat film, memberikan penanda sisi tubuh)

  5. Foto jadi yang telah diberi identitas dimasukkan ke dalam amplop dan kemudian dapat dibawa

  1. Pasien rawat inap di bangsal bedah ortopedi

Tahapan sub proses :

  1. Operan pasien dari perawat UGD ke perawat bangsal ortopedi

  2. Anamnesis dan pemeriksaan oleh perawat bangsal

  3. Pemberian obat-obatan simptomatik

  4. Visit oleh dokter spesialis ortopedi dan spesialis anestesi

  5. Persiapan operasi (Pemberian ID tag yang berisi identitas pasien, jenis operasi dan sisi tubuh yang akan di operasi, serta melengkapi berkas status pasien dan foto rontgen pasien)

  1. Pasien operasi di instalasi bedah sentral

Tahapan sub proses :

  1. Operan pasien dari perawat bangsal ke perawat OK

  2. Anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh perawat OK

  3. Melengkapi form operasi yang berisi identitas pasien , jenis operasi dan sisi yang akan di operasi

  4. Dilakukan operasi

  5. Pasien dikembalikan ke bangsal ortopedi


B. Modus Kegagalan

1. Sub proses : Mengirim pasien ke instalasi radiologi oeh perintah dokter UGD

Modus Kegagalan : Salah mengisi formulir permintaan (salah identitas, salah sisi tubuh)

2. Sub proses : Proses foto di instalasi radiologi

Modus Kegagalan :

  1. Salah memberi identitas pasien

  2. Salah memberikan penanda sisi tubuh

3. Sub proses : Persiapan operasi di bangsal bedah

Modus Kegagalan : Salah memberikan identitas pasien dan salah membawakan status pasien dan hasil rontgen pasien

4. Sub proses : Proses di kamar operasi

Modus kegagalan : Perawat OK tidak atau salah memberikan tanda pada bagian tubuh pasien yang akan di operasi.

4. HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

probabilitas

nilai hazard

Pemeriksaan

Radiologis

Di Instalasi

Radiologi

Form permintaan pemeriksaan radiologis salah identitas atau salah sisi tubuh

4

3

12

Proses foto salah memberikan identitas pasien, salah meletakkan penanda sisi tubuh

4

3

12

Memasukkan hasil foto tidak sesuai dengan identitas di amplop

4

3

12


  1. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Form permintaan pemeriksaan radiologis salah identitas atau salah sisi tubuh

12

Ya

Ya


Proses foto salah memberikan identitas pasien, salah meletakkan penanda sisi tubuh

12

Ya

Ya


Memasukkan hasil foto tidak sesuai dengan identitas di amplop

12

Ya

Ya



  1. Identifikasi tindakan dan outcome

Sub proses ini harus dikontrol

Kesalahan sepele seperti pemberian identitas maupun pemberian keterangan sisi tubuh pada pasien dengan fraktur ekstremitas dapat sangat merugikan pasien baik dari sisi materiil maupun non materiil, sedangkan dari sisi rumah sakit pun sangat dirugikan secara finansial dan nama baiknya dipertaruhkan jika pasien melakukan tuntutan.

Kesalahan identitas dan sisi tubuh merupakan masalah yang sifatnya sistemis karena melibatkan banyak departemen. Oleh karena itu, komunikasi antar departemen dan komunikasi antar staf dalam satu departemen juga harus diperhatikan.

Proses error dimulai dari departemen gawat darurat dimana pasien pertama kali mendapat pertolongan. Pada situasi pasien ramai menyebabkan komunikasi dan ketelitian kerja para staf di UGD baik dokter maupun perawat menjadi menurun. Proses penulisan identitas dan sisi tubuh di lembar permintaan pemeriksaan radiologi seharusnya melalui proses re-checking baik kepada pasien maupun kepada perawat.

Proses eror kedua dapat terjadi di instalasi radiologi, disini proses komunikasi antar departemen harus sangat baik. Ketelitian kerja para staf radiologi juga seharusnya ditingkatkan. Proses cross-checking kepada pasien harus dilakukan sebelum dilakukan proses foto.

Proses error ketiga adalah di bangsal, dimana pasien dipersiapkan untuk dilakukan operasi. Penulisan identitas dan sisi tubuh pasien yang akan di operasi harus jelas. Status pasien pre-op dan post-op harus dipisahkan bahkan foto rontgen pun harus dipisahkan.

Kesalahan terakhir terjadi di kamar operasi itu sendiri. Perawat OK tetap harus melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien untuk dapat lebih meyakinkan benar tidaknya identitas pasien, jenis operasi dan sisi tubuh pasien.

Jika keseluruhan proses dari awal pasien masuk ke rumah sakit sampai pasien akan di operasi dilakukan dengan benar dan komunikasi antar departemen serta antar staf dalam satu departmen terjalin baik maka pasien dan rumah sakit tidak perlu menderita kerugian yang tidak kecil jumlahnya secara materiil dan non materiil.

Picture of Daniswara mmr
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Daniswara mmr - Thursday, 13 October 2011, 07:54 PM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan transfusi darah

II. Bentuk TIM:

Ketua: kepala unit transfusi darah

Anggota:

1. Bagian pelayanan donor

2. Bagian pelayanan darah dan laboratorium

3. Bagian pengendalian mutu

4. Bagian administrasi dan keuangan


Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? bagian pengendalian mutu

Tanggal dimulai : 10 oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 17 Oktober 2011

III. A. Tahapan Proses

1. Pendonor datang ke Unit Pelayanan Transfusi Darah

Tahapan sub proses:

a. Pendaftaran donor dan pengisian informed consent

b. Pengambilan sampel darah pendonor

c. Pemeriksaan haemoglobin dan HbsAg

d. Pendonor ke ruang donor darah dan di ambil darah sebanyak 250 atau 350cc

e. Pendonor ke ruang istirahat dan diberikan nutrisi berupa makanan dan minuman

2. Pengumpulan (koleksi) darah donor

Tahap sub proses:

a. Darah dari donor diterima

b. Pemeriksaan golongan darah

c. Pemisahan komponen darah

d. Penggolongan dan penyimpanan kantong darah sesuai dengan jenis golongan darah dan sesuai jenis komponen darah

3. Uji silang (cross test) darah pasien dengan darah donor

Tahap sub proses:

a. Pengambilan sampel darah pasien yang akan menerima donor

b. Pengiriman sampel darah ke unit tranfusi darah

c. Pemeriksaan golongan darah pasien

d. Melakukan uji silang sampel darah pasien dengan darah dari donor

e. Entry data hasil uji silang

4. Distribusi darah ke pasien

Tahap sub proses:

a. Hasil uji silang di kirim ke unit penyimpanan darah

b. Pengambilan stock darah yang sesuai dengan uji silang

c. Pemberian identitas darah untuk pasien

d. Pendistribusian ke pasien


B. Tahap sub proses

1. Pengambilan sampel darah pasien yang akan menerima donor

Modus kegagalan:

a. Pemberian identitas pada sampel sering tertukar dengan sampel lain atau tidak diberi identitas

b. Kerusakan sampel karena kurang atau tidak diberi EDTA

2. Pengiriman sampel darah ke unit tranfusi darah

Modus kegagalan:

a. Stiker identitas terlepas sehingga ada sampel tanpa identitas

b. Pengiriman sampel yang lama dan suhu yang tidak tepat dapat merusak sampel

3. Pemeriksaan golongan darah pasien

Modus kegagalan:

a. Pemeriksaan yang kurang teliti sehingga salah interpretasi

b. Tertukarnya identitas antisera sehingga golongan darah juga tidak tepat

4. Melakukan uji silang sampel darah pasien dengan darah dari donor

Modus kegagalan:

a. Ketidaktelitian pemeriksa

5. Entry data hasil uji silang

Modus kegagalan:

a. Salah dalam memasukan hasil ke pasien lain

b. Salah identitas pasien


IV. Analisa Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Salah Identitas sampel darah

1. Ketidaktelitian petugas pengambil sampel darah memastikan identitas pasien

2. Terlepasnya label identitas sampel darah

3. Tertukarnya sampel darah

3

3

3

3

2

2

9

6

6

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1. Ketidaktelitian petugas pengambil sampel darah memastikan identitas pasien

2. Terlepasnya label identitas sampel darah

3. Tertukarnya sampel darah

9

6

6

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


Sub proses yang dipilih: Ketidaktelitian petugas pengambil sampel darah memastikan identitas pasien

Sub proses ini harus di kontrol.

Proses dalam tranfusi darah harus diperhatikan mulai dari saat pengambilan darah. Ketelitian dari petugas laboratorium atau petugas yang mengambil darah harus ditekankan. Perlu disusun standar operasional dalam melakukan pengambilan darah dan pengiriman sampel, dimana identitas dari pemilik sampel harus diperiksa dengan benar agar tidak tertukar atau salah dalam memberi identitas sampel. Apabila dari awal sampelnya sudah salah, kemungkinan akan berakibat fatal berupa cedera berat sampai dengan dapat melumpuhkan beberapa organ jika selama tranfusi tidak diawasi.

Sub proses ini dapat dikendalikan dengan pembuatan SOP yang memungkinkan adanya pemeriksaan identitas sampel bertahap mulai dari pengambil sampel, petugas rawat inap, dan dari unit pelayanan tranfusi. Harus disesuaikan nama, umur, alamat dan yang paling penting nomor rekam medisnya. Unit pengendalian mutu disini berfungsi untuk mengontrol apakah SOP sudah diterapkan dengan baik.


Picture of Rizki Azaria
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Rizki Azaria - Thursday, 13 October 2011, 08:07 PM
 
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan Laboratorium Patologi Klinik

 

II. Bentuk TIM:

 

Ketua: kepala departemen Patologi Klinik

 

Anggota:

 

1. Dokter spesialis Patologi Klinik

 

2. Kepala ruang Lab PK

 

3. Manajer YanMed

 

4. Kepala Bagian keperawatan

 

5. Analis laboratorium

 

Apakah semua area sudah terwakili? YA

 

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

 

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Ruang Lab PK

 

Tanggal dimulai : 13 oktober 2011

 

Tanggal dilengkapi : 22 Oktober 2011

 

III. A. Tahapan Proses

 

1. Penentuan jenis sampel laboratorium yang akan diperiksa

 

Tahapan sub proses:

 

a. Pasien diperiksa oleh dokter saat visite

 

b. Ditentukan jenis pemeriksaan patologi klinik

 

c. Perawat mencatat pemeriksaan yang akan dilakukan kepada pasien

 

d. Dokter menuliskan pengantar laboratorium

 

2. pengambilan sampel laboratorium

 

Tahap sub proses:

 

a. Dilakukan informed consent pada pasien mengenai tindakan pengambilan sampel

 

b. Perawat mengantar lembar permintaan pemeriksaan ke laboratorium

 

c. Pihak laboratorium mengambil sampel sesuai dengan perintah dokter

 

3. pemeriksaan kelengkapan data sebelum pengambilan sampel

 

Tahap sub proses:

 

a. Petugas lab Pemeriksaan identitas pasien

 

b. Pengecekan kesesuaian pengantar pemeriksaan dengan data pasien

 

c. Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

 

d. Memastikan sampel yang akan diambil sesuai dengan keluhan pasien

 

e. Mengkonfirmasi ulang terhadap dokter visite

 

4. Proses pengambilan sampel

 

Tahap sub proses:

 

a. petugas mengambil sampel pemeriksaan

 

b. sampel dibawa ke laboratorium

 

5. Proses pembacaan sampel

 

Tahap sub proses:

 

a. Dokter patologi klinik membaca hasil pemeriksaan

 

b. Hasil pemeriksaan dilaporkan ke dokter visite

 

B. Tahap sub proses

 

1. Petugas lab Pemeriksaan identitas pasien

 

Modus kegagalan :

 

a. Petugas lab tidak memeriksa ulang identitas pasien

 

2. Pemeriksaan kesesuaian pengantar pemeriksaan dengan data pasien

 

Modus kegagalan :

 

a. Petugas lab tidak memeriksa ulang pengantar lab nya

 

b. Petugas tidak mengecek data pasien

 

3. Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

 

Modus kegagalan :

 

a. Tidak Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

 

b. Tempat sampel tertukar dengan sampel lain

 

c. Sampel disimpan pada tempat yang salah

 

4. Memastikan sampel yang akan diambil sesuai dengan pemeriksaan pasien

 

Modus kegagalan :

 

a. Tidak memeriksa kepastian sampel yang akan diambil apakah sudah tepat atau belum

 

b. Sampel langsung diambil

 

c. Tidak bertanya keluhan pasien yang ada

 

5. Mengkonfirmasi ulang terhadap dokter visite

 

Modus kegagalan :

 

a. Menanyakan langsung kepada dokter visite tentang pemeriksaan sampel pasien sesuai dengan pengantar lab atau tidak

 

IV. Analisa Hazard

 

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

1. Tidak Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

2. Tempat sampel tertukar dengan sampel lain

3. Sampel disimpan pada tempat yang salah

2

2

1

3

4

4

6

8

4

 

Analisis pohon keputusan

 

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1. Tidak Dilakukan pelabelan pada tempat sampel

2. Tempat sampel tertukar dengan sampel lain

3. Sampel disimpan pada tempat yang salah

6

8

4

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


 

 

Sub proses yang dipilih : Tempat sampel tertukar dengan sampel lain

 

Sub proses ini harus di kontrol.

 

Pasien yang akan diperiksa sampelnya harus benar-benar diteliti dengan benar dan sampelnya apakah sesuai dengan tempat sampel namanya sesuai dengan standar pelayanan dan standar operasional rumah sakit. Petugas laboratorium harus mengecek ulang kesesuaian tersebut agar tertukarnya sampel tidak terjadi. Apabila terjadi kesalahan maka hal ini akan berdampak panjang terhadap pasien dan rumah sakit. Kemudian hal lebih buruk akan terjadi dimana diagnosis yang ditegakkan juga akan menjadi keliru sehingga pemberian terapipun tidak akan sesuai dengan kebutuhan pasien yang sebenanya. Rumah sakit harus ketat dalam membuat standar operasional untuk pelabelan sampel dan penempatan sampel ditempat yang seharusnya dan tepat.

 

Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan pembuatan standar operasional prosedur pemeriksaan-pemeriksaan laboratorium dan dilakukan pengawasan ketat terhadap petugas laboratorium kemudian melakukan pelatihan terhadap petugas tentang sikap hati-hati dan tidak ceroboh dalam menempatkan sampel pasien. Kepala departemen laboratorium patologi klinik pun harus berani menegur bila ada staf nya jika melakukan kesalahan. Setiap akhir bulan harus dilakukan audit untuk menekan angka kesalahan penempatan sampel.

 
Picture of Irmawati Suling
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Irmawati Suling - Sunday, 16 October 2011, 10:31 AM
 
Tugas M.Mutu.
Maaf dr.Arllina, tugas saya tidak bisa ditampilkan secara keseluruhan, akhirnya di upload.
Picture of Irmawati Suling
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Irmawati Suling - Sunday, 16 October 2011, 10:39 AM
 

I. PROSES YANG DIANALISA

Kesalahan monitor keseimbangan Cairan

II. Bentuk TIM :

Ketua  : Ka. Panitia Patient Safety

Anggota  : a. Dokter Spesialis yang merawat

  b. Dokter Jaga IGD

  c. Ka. Instalasi Rawat Inap

 d. Ka.Ruangan (Bangsal tempat dirawat)

  e. Perawat Jaga

  f. Bagian Radiologi  

ü Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ? YA

ü Apakah macam-macam & tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili di dalam tim Tersebut? YA

ü Siapa yang menjadi notulen ? Perawat Jaga

ü Tanggal dimulai 12 oktober 2011

ü Tanggal Dilengkapi : 10 november 2011. 

III. TAHAPAN PROSES

1. Pendaftaran

2. Penerimaan pasien di UGD

3. Perawatan pasien di bangsal

4. Konsultasi Dokter spesialis sesuai rujukan

IV. TAHAPAN SUB PROSES

1. Pendaftaran Pasien

a. Keluarga pasien mendaftar melalui loket pendaftaran

b. Pencarian rekam medis

c. Penyesuaian data pasien

d. Penyerahan rekam medis ke IGD

2. Penerimaan pasien di IGD

a. Triase

b. Pemeriksaan pasien oleh dokter jaga

c. Pemberian terapi kegawatdaruratan

d. Pemeriksaan penunjang

e. Penetapan diagnosis

f. Instruksi penatalaksanaan rawat inap dengan prinsip one doses dispensing

g. Observasi kondisi pasien

3. Perawatan Pasien di Bangsal

a. Penerimaan pasien oleh perawat jaga

b. Penjelasan singkat mengenai instruksi penatalaksanaan rawat inap

c. Melanjutkan instruksi dan terapi dari IGD

d. Melakukan monitor keseimbangan cairan

e. Melaporkan hasil

4. Konsultasi Dokter spesialis yang merawat

a. Konsultasi dokter spesialis sesuai rujukan

V. MODUS KEGAGALAN

1. Sub proses : Penerimaan pasien oleh perawat jaga

a. Penerimaan pasien oleh mahasiswa praktikan

b. Tidak ada perawat di nurse station

2. Sub proses : Penjelasan singkat mengenai instruksi penatalaksanaan rawat inap

a. Pengantar pasien bukan petugas kesehatan

b. Jumlah perawat jaga yang kurang

3. Sub proses : Melanjutkan instruksi dan terapi dari IGD

a. Tulisan dokter yang kurang jelas

b. Keinginan yang kurang utk konfirmasi instruksi yang diberikan

c. Pengambilan keputusan sendiri oleh perawat jaga

4. Sub Proses : Monitor keseimbangan cairan

a. Perawat jaga belum memahami sepenuhnya tentang prinsip balanced cairan

b. Sosialisasi yang belum optimal

c. Ketidakseragaman pemahaman

d. Tidak tersedia blangko balance cairan

e. Pencatatan yang tidak akurat

f. Monitoring yang tidak akurat

5. Sub proses : Laporan hasil

a. Lupa melaporkan hasil monitor keseimbangan cairan

b. Laporan hasil monitor oleh perawat lain

6. Sub Proses : Konsultasi dokter spesialis sesuai rujukan

a. Instruksi yang kurang jelas dari dokter spesialis

b. Dokter tidak dapat dihubungi setiap saat

c. Dokter lupa menanyakan tentang monitoring keseimbangan cairan

VI.  HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

kegawatan

probabilitas

nilai hazard

Monitor keseimbangan cairan

Perawat jaga belum memahami sepenuhnya tentang prinsip balanced cairan

3

3

9

Sosialisasi yang belum optimal

2

3

6

Ketidakseragaman pemahaman

2

3

6

Pencatatan yang tidak akurat

3

3

9

Tidak tersedia blangko balanced cairan

2

4

8

Monitoring yang tidak akurat

3

3

9

VII. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL?

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Perawat jaga belum memahami sepenuhnya tentang prinsip balanced cairan

9 (skor > 8)

Ya

Ya


Sosialisasi yang belum optimal

6 (skor <8)

Ya

Picture of Dedy Zulfan
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Dedy Zulfan - Monday, 17 October 2011, 10:57 AM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan obat

II. Bentuk TIM:

Ketua: kepala unit farmasi

Anggota:

1. Bagian pelayanan obat

2. Bagian pelayanan farmasi

3. Bagian pengendalian mutu

4. Bagian administrasi dan keuangan

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? bagian pengendalian mutu

Tanggal dimulai : 10 oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 17 Oktober 2011

III. A. Tahapan Proses

1. Pasien datang ke dokter di rumah sakit

Tahapan sub proses:

a. Pendaftaran

b. Pemeriksaan dengan dokter

c. Mendapatkan resep dari dokter

2. Pengambilan obat di apotik rumah sakit

Tahap sub proses:

a. Pasien memberikan resep dari dokter ke petugas di apotik

b. petugas mencari obat yang ditulis diresep

c. Petugas menyerahkan obat tersebut ke pasien

B. Tahap sub proses

1. Pasien datang ke dokter di rumah sakit

Modus kegagalan:

  1. Pemberian resep yang tidak diberi identitas atau dengan identitas yang salah

2. Pengambilan obat di apotik rumah sakit

Modus kegagalan:

a. Pemberian obat tertukar dengan obat pasien lain

b. Penulisan resep dokter yg sulit dibaca sehingga salah memberikan obat

3. Penempatan obat yang nama obatnya mirip berada di satu tempat membuat salah   memberikan  obat

IV. Analisa Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Salah pemberian obat pada resep di apotik rumah sakit

1. Ketidaktelitian petugas apotik untuk memastikan identitas pasien

2. Tertukarnya resep pasien

3. nama obat yang mirip berada di satu tempat yang sama

3

3

3

3

2

2

9

6

6

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?


1. Ketidaktelitian petugas apotik untuk memastikan identitas pasien

2. Tertukarnya resep pasien

3. nama obat yang mirip berada di satu tempat yang sama

9

6

6

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


Sub proses yang dipilih: Nama obat yang mirip berada di satu tempat yang sama

Sub proses ini harus di kontrol.

Proses dalam pengambilan obat di apotik rumah sakit harus dikontrol dan diawasi. Apabila obat yang diberikan salah, kemungkinan akan berakibat fatal terhadap pasien yang menerima obat tersebut.

Sub proses ini dapat dikendalikan dengan meletakkan nama obat yang mirip ke tempat yang berbeda sehingga salah pemberian obat dapat dihindari.

Picture of Fitra Sari
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Fitra Sari - Monday, 17 October 2011, 01:21 PM
 

1. PROSES YANG DIANALISA :

Penatalaksanaan Rawat Gabung Bayi Baru lahir Normal

2. BENTUK TIM

Ketua : Dokter Spesialis Anak

Anggota :

a. Dokter Spesialis Obsgyn

b. Kepala Perawat Bangsal Nifas

c. Kepala YanMed

d. Kepala Ruang Nifas

e. Kepala Instalasi Farmasi

f. Cleaning Service

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Ruang Perinatologi

Tanggal dimulai : 15 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 25Oktober 2011

I. TAHAPAN PROSES

A. Pemeriksaan Bayi Baru lahir di ruang VK

C. Penatalaksanaan Bayi baru lahir oleh dokter Spesialis Anak

D. Perawatan Bayi baru lahir selama di bangsal Nifas

II. TAHAPAN SUB PROSES

A. Bayi Baru Lahir di ruang VK

Sub proses :

1. Perawat melakukan pemeriksaan fisik Preosedur penilaian APGAR: Nilai 7-10 menunjukkan bahwa bayi dlm keadaan baik.

2. Perawat membersihkan jalan nafas,

3. Perawatan tali pusat,

4. Menimbang Berat Badan lahir

5. Mempertahankan suhu tubuh dengan menyelimuti bayi.

6. Bayi diberikan identitas secara lengkap

  1. Perawatan Bayi Baru Lahir Sebelum di pindah di Bangsal Nifas

Sub Proses

    1. Bayi di Injeksi Vitamin K
    2. Bayi ASI inisasi dini selama 3 di ruang VK
    3. Bayi bersama Ibu dipindah bangsal nifas

C. Perawatan Bayi di Ruang Bangsal Nifas selama 1-24 jam

1. Perawat Mempertahankan suhu Tubuh bayi

2. Perawat melakukan pemeriksaan fisik

3. Perawat Memandikan Bayi setiap pagi.

4. Identifikasi Berat Badan Lahir

5. Mengajarkan pada Orang tua cara Merawat Bayi

III. MODUS KEGAGALAN

  1. Sub proses : Menentukan Identitas Bayi tidak tepat

Modus Kegagalan :

a. Bidan lupa menentukan identitas bayi

b. Gelang yang dipakai di tangan bayi lepas

c. Kesalahan dalam memberikan warna gelang untuk bayi laki-laki dan perempuan

  1. Sub proses : Injeksi Vitamin K

Modus Kegagalan :

  1. Penentuan dosis yang tidak tepat
  2. Memberikan Obat vitamin K yang sudah terbuka lama.
  1. Sub proses : Mempertahankan Suhu tubuh bayi

Modus Kegagalan :

a. bayi dimandikan kurang 6 jam/min suhu 36,5 C

b. Bayi tidak dibungkus dengan kain yg kering & hangat, kepala bayi harus tertutup

  1. Sub proses : Pencegahan Infeksi

Modus Kegagalan :

  1. Petugas tidak memakai sarung tangan
  2. Bayi digabung dengan Ibu yang mengalami infeksi
  3. Bayi tidak diberikan salep mata

IV. HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

kegawatan

probabilitas

nilai hazard

Penentuan Identitas Bayi Tidak tepat

Bidan tidak mencocokan RM bayi baru lahir dengan Ibu

4

2

9

Memberikan warna gelang yang tidak sesuai jenis kelamin

3

3

6

Memberikan nomor register yang berbeda

4

2

8

Salah Menyebutkan identitas jenis kelamin bayi baru lahir

4

3

7

V. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL?

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Tidak mencocokan RM bayi baru lahir dengan Ibu

9

Ya

Ya


Memberikan warna gelang yang tidak sesuai jenis kelamin

6

Ya

Ya


Memberikan nomor register yang berbeda

7

Ya

Ya


Salah Menyebutkan identitas jenis kelamin bayi baru lahir

6

Ya

Ya


VI. RENCANA TINDAKAN

Sub proses yang dipilih yaitu Tidak mencocokan RM bayi dengan Ibu. Hal ini bukan hanya berdampak dari segi medis namun dapat secara psikologis anatar ibu dan bayi. Sub proses ini harus di kontrol. Rencana tindakan yaitu

Di Ruang VK

Mensosialisasikan kepada Bidan ataupun Perawat serta praktikan untuk memisahkan bayi baru lahir dengan bayi lain. Bayi yang sudah dilakukan perawatan setelah lahir langsung segera diberikan kepada Ibu bayi bersangkutan. Harus diperhatikan kesamaan nama Ibu, benar-benar dipastikan dengan mengecek alamat dan Ayah orang tua bayi. Rekam medis bayi dipisahkan dengan rekam medis Ibu. Setelah bayi dirawat di bangsal Nifas bersama Ibu, perawat di bangsal nifas memastikan apakah benar RM bayi cocok dengan RM Ibu. Kesalahan sub proses ini bisa dicegah setelah SOP yang telah dibuat benar-benar dilaksanakan dengan benar.

Hi
TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA atau AMKD
by Bopi Y.S - Monday, 17 October 2011, 03:26 PM
 

Nama : Bopi Yudha Sapa

Nim : 20101021010

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan kegawatan traumatologi (late diagnosed of costae fracture)

II. Bentuk TIM:

1. Ketua : Kepala SMF Bedah Orthopaedi

2. Anggota :

- Kepala Instalasi Gawat Darurat

- Kepala SMF Bedah Orthopaedi

- Kepala SMF Bedah Thorax dan Kardiovaskular

- Kepala SMF Telinga Hidung Tenggorok- Kepala Leher

- Kepala SMF Anestesiologi dan Reanimasi

- Kepala SMF Ilmu Penyakit Dalam

- Kepala Departemen Radiologi

- Kepala Instalasi Kamar Operasi

- Kepala Bidang Pelayanan Medik

- Kepala Perawat Kamar Operasi

- Dokter Jaga Instalasi Gawat Darurat

- Perawat Instalasi Gawat Darurat

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bidang Pelayanan Medik

Tanggal dimulai : 1 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 17 Oktober 2011

III. Urutan Proses Pelayanan

A. Tahapan Proses

1. Pasien datang ke IGD (Instalasi Gawat Darurat)

Tahapan sub proses:

a. Pendaftaran pasien

b.Penanganan kegawatan, anamnesa dan pemeriksaan oleh dokter IGD

c. Konsultasi ke dokter spesialis Ilmu Penyakit Dalam

d. Pemeriksaan oleh dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam

e. Konsultasi ke dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

d. Pemeriksaan oleh dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

d. Pemeriksaan roentgen thorax (chest x-ray) dan laboratorium

e. Pembacaan hasil roetgen thorax oleh dokter Spesialis Radiologi

f. Konsultasi ke dokter Spesialis THT-KL (Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher)

g. Dianjurkan pemeriksaan endoskopi di kamar operasi

h. Konsultasi ke dokter Spesialis Anestesi dan Reaminasi

i.Mendaftarkan pasien ke kamar operasi

j. Persiapan pasien untuk tindakan endoskopi

2. Pasien dikirim ke kamar operasi

Tahap sub proses:

a. Perawat IGD mengantarkan pasien ke kamar operasi

b. Serah terima pasien dari perawat IGD kepada perawat kamar operasi

c. Pasien dipindahkan ke meja kamar operasi

3. Persiapan sebelum tindakan endoskopi di kamar operasi

Tahap sub proses:

a. Pemeriksaan identitas pasien

b. Pemeriksaan keadaan umum pasien dan persiapan obat anestesi

c. Pemeriksaan hasil foto chest x-ray oleh dokter Spesialis THT-KL

d. Proses anestesi pasien oleh dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi

e. Tindakan endoskopi oleh dokter Spesialis THT-KL untuk memastikan diagnosa pasien

f. Evaluasi hasil endoskopi bahwa tidak ada kelainan di bidang THT-KL dan dicurigai adanya costae fracture sehingga dikonsulkan kembali ke dokter spesialis Bedah Orthopaedi

4. Proses operasi

a. Memastikan kembali diagnosa pasien

b. Melakukan operasi oleh dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

B. Tahap sub proses

1. Pemeriksaan identitas pasien

Modus kegagalan:

a. Identifikasi yang tidak valid, dimana menurut Akreditasi JCI bahwa untuk identifikasi pasien minimal dua, yaitu nama pasien dan tanggal lahir, namun dapat juga dipastikan dengan nomor rekam medis, alamat, pekerjaan dan pendidikan. Proses identifikasi yang tidak sesuai ketentuan dapat menyebabkan tertukarnya pasien yang akan dilakukan tindakan atau operasi bila terdapat pasien dengan nama yang sama. Tidah diperbolehkan mengidentifikasi pasien berdasarkan kamar pasien dirawat atau nomor tempat tidur pasien.

2. Anamnesa pasien

Modus kegagalan:

a. Anamnesa kurang lengkap

3. Pemeriksaan fisik yang kurang seksama

Modus kegagalan:

a. Pemeriksaan yang kurang seksama, lengkap dan teliti

b. Kesalahan interpretasi gejala klinis dan tanda-tanda kegawatan pasien

c. Pemeriksaan tidak memenuhi standard operating procedure (SOP) 

4. Pemeriksaan penunjang

Modus kegagalan:

a. Pembacaan hasil foto roentgen (chest x-ray) yang kurang teliti

b. Proses radiografi yang tidak memenuhi SOP

c. Salah interpretasi hasil pemeriksaan foto roentgen (chest x-ray)

5. Diagnosa pasien trauma IGD

Modus kegagalan:

a. Diagnosa yang tidak cepat karena pemeriksaan fisik yang tidak seksama oleh dokter IGD

b. Diagnosa yang tidak tepat karena pemeriksaan fisik yang tidak teliti oleh dokter Spesialis Bedah Orthopaedi

c. Diagnosa yang salah karena pembacaan foto roentgen yang tidak teliti

6. Observasi proses dan pasca tindakan medis/ operasi

Modus kegagalan:

a. Observasi pasien yang tidak memenuhi SOP

b. Tenaga medis atau dokter yang kurang kompeten dalam bidangnya

IV. Analisa Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Diagnosa pasien trauma

1. Diagnosa tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik

2. Diagnosa tidak tepat karena kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang

3. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SOP

3

3

3

3

3

3

6

6

9

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

a. Diagnose tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik

b. Diagnosa tidak tepat karena kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang

c. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SOP

Skor > 8

Skor > 8

Skor > 8

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


V. Yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut(di Kontrol, Eliminasi atau Diterima)

a) Sub proses yang dipilih: diagnosa yang tidak tepat, akurat dan cepat.

b) Sub proses ini harus di kontrol.

Pasien trauma yang datang di IGD seharusnya diperiksa oleh dokter jaga IGD dengan tepat, akurat dan cepat sesuai dengan standar operasional procedure (SOP) IGD rumah sakit. Kemampuan (skill) dokter IGD seharusnya sesuai dengan kompetensinya atau tersertifikasi sebagai dokter jaga IGD. Diagnosis pasien cesara tepat harus ditunjang dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Interprestasi hasil pemeriksaan penunjang berperan penting dalam menegakkan diagnosa.

Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan pelaksanaan pemeriksaan dan penanganan pasien kegawatan traumatologi sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan rumah sakit. Rumah sakit melalui Kepala SMF IGD berupaya meningkatkan kemampuan (skill) physic diagnostic dokter jaga IGD dengan mengikutkan pelatihan-pelatihan kegawatdaruratan rumah sakit dan traumatologi. Kompetensi dokter spesialis pun harus tetap diperhatikan, dimana sertifikasi untuk dokter spesialis harus tetap di-update dan mengikuti pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuannya sesuai bidang masing-masing. Bila terdapat keraguan dalam menegakkan diagnosis disarankan untuk konsultasi terhadap dokter yang lebih senior. Interpretasi hasil pemeriksaan penunjang seharusnya dapat dilakukan secara tepat dan akurat, dan dilakukan kappa atau minimal dua observer/dokter ahli/spesialis dalam pembacaan atau interprestasi hasil pemeriksaan penunjang.

Picture of Bayu Kurniawan Fitra
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Bayu Kurniawan Fitra - Monday, 17 October 2011, 10:49 PM
 
ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA
(AMKD)
BAYU KURNIAWAN FITRA (20101021009)

Judul proses :
Penatalaksanaan pasien dengan luka bakar di kaki kanan mulai dari pangkal paha hingga pergelangan kaki

Bentuk TIM :
Ketua : Kepala SMF Bedah
Anggota :
a. Manajer Pelayanan Medis
b. Ketua Komite Medis
c. Kepala Instalasi Rawat Inap
d. Kepala bangsal bedah
e. Kepala UGD
f. Kepala Bagian Keperawatan
g. Kepala Seksi Keperawatan

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili didalam Tim
tersebut ? YA
Siapa yang menjadi notulen ? Kepala bangsal
Tanggal dimulai 8 Oktober 2011 , tanggal dilengkapi 24 Oktober 2011

Tahapan Proses :
1. Pasien datang ke UGD
Tahapan sub proses :
a. Pendaftaran pasien
b. Anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter dan perawat UGD
c. Penentuan rawat inap/rawat jalan
d. Mengirim pasien ke bangsal bedah

2. Pasien rawat inap di bangsal bedah
Tahapan sub proses :
a. Operan pasien dari perawat UGD ke perawat bangsal bedah
b. Anamnesis dan pemeriksaan oleh perawat bangsal
c. Pemberian obat-obatan simptomatik
d. Visit oleh dokter spesialis bedah
e. Anamnesis dan pemeriksaan dokter spesialis bedah

3. Penulisan Resep Obat luka Bakar
Tahapan sub Proses :
a. Doktek menuliskan resep
b. Perawat memberikan resep ke apotek

4. Pemberian Obat Luka Bakar
Tahapan sub proses :
a. Perawat mengambil obat di apotek
b. Perawat memastikan kembali identitas pasien.
c. Perawat memberikan obat luka bakar kepada pasien.

Proses yang paling berisiko timbul kegagalan dan menyebabkan komplikasi pada pasien adalah pemberian obat luka bakar pada pasien pada sub bagian perawat memberikan obat luka bakar pada pasien.

Analisis Hazart
Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum
>> Perawat memberikan obat luka bakar kepada pasien
Potensi Penyebab dan Skoring (kegawatan, probabilitas dan Nilai hazart)
1. Tidak ada komunikasi antar perawat : 3, 1, 3
2. Tidak adanya laporan tertulis : 3, 1, 3
3. Waktu pemberian obat luka bakar yang tidak tepat : 3, 2, 6
4. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 3, 2, 6

Analisis pohon keputusan (point tunggal kelemahan ?, adakah kontrol/ pengendalian ?, apakah mudah dideteksi ?, Proses ?)
1. Tidak ada komunikasi antar perawat : 3, YA, YA
2. Tidak adanya laporan tertulis : 3, YA, YA
3. Waktu pemberian obat luka bakar yang tidak tepat : 6, YA, YA
4. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 6, YA, YA

Sub proses yang dipilih adalah Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian.
Sub proses ini harus dikontrol.
Perawat harus lebih teliti dalam memperhatikan aturan cara pemberian obat pada pasien, setiap obat memiliki aturan pakai yang berbeda-beda, mulai dari waktu pemakaian, dosis pemakaian dan komplikasi pemakaian
Jadi sub proses ini bisa di kontrol dan dikendalikan dengan meningkatkan ketelitian para perawat serta pembuatan SOP penanganan luka bakar sehingga resiko yang bisa terjadi bisa diminimalkan.
Picture of Argadia Yuniriyadi
Healthcare Failure Mode Effect Analysis : PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN
by Argadia Yuniriyadi - Monday, 17 October 2011, 11:38 PM
 
ANALISA MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)
PROSES PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN

  1. PEMILIHAN PROSES
    • Proses pemeriksaan Rontgen pada unit Radiologi
  2. PEMBENTUKAN TIM
    • KETUA TIM : Kepala SMF RADIOLOGI
    • ANGGOTA : Kepala unit Radiologi; kepala keperawatan; ketua komite medik; manajer Yanmed; Kepala Bangsal; Kepala IGD
      • Apakah semua area yang berperan sudah terwakilkan? YA
      • Apakah semua tingkat dan jenis pengetahuan yang beragam sudah terwakilkan? YA
    • NOTULEN : Manajer Yanmed

  3. URUTAN PROSES
    • Proses :
    • Permintaan Foto Ro dari Dokter
      ==>
      Pasien diantar ke Unit Radiologi
      ==>
      Pendaftaran Pasien
      ==>
      Pasien menunggu Giliran
    • ==>
      Pasien Dipanggil
      ==>
      Pasien Di Foto
      ==>
      Foto Dicetak
      ==>
      Foto dibaca oleh spesialis Radiologi
    • ==>
      Hasil bacaan ditulis dan dicata
      ==>
      Pasien diantar kembali

    • Sub-Proses : "Pasien Di foto"
      • Pengaturan posisi dan sikap pasien
      • Pengaturan posisi dan angel X-ray
      • Peletakkan film dibelakang pasien
      • Pengaturan kekuatan sinar
      • Pelepasan sinar (pemotretan)
      • Pasien dikembalikan untuk menunggu

    • MODUS KEGAGALAN : Pengaturan Kekuatan Sinar
      • Kekuatan cahaya kurang tepat (cahaya terlalu atau kurang Kuat)
      • Kekuatan cahaya tidak menyesuaikan diagnosis pasien.
  4. ANALISA HAZARD
    • Modus Kesalahan : Kekuatan cahaya kurang tepat
    • Modus
      Kegagalan

      potensi penyebab
      Score Kegawatan
      Score Probabilitas
      Total nilai Hazard

      Alat Rusak
      3
      3
      9

      Operator kurang pengalaman
      3
      3
      9

      Kelalaian operator mengatur cahaya
      3
      5
      15

      Operator sedang diganti
      3
      4
      12

      Tidak tertulis prosedur
      3
      2
      6

  5. ANALISA TINDAKAN
    • Pohon analisa rencana tindakan
      • Nilai hazard = 15 (>9)
      • Apakah termasuk dalam titik kelemahan tunggal dalam sistem? IYA.....
      • Adakah kontrol yang efektif ?? BELUM
      • Apakah mudah untuk dideteksi?? TIDAK
      • KESIMPULAN AKSI SELANJUTNYA ==> Masuk ke tahap selanjutnya
    • Identifikasi Aksi dan outcome
      • Tipe aksi : di Control
        • alasan : Kelalaian merupakan sesuatu yang harus dikendalikan, tidak bisa disingkirkan (eliminasi maupun accept) karena kelalaian sering terjadi tanpa kita sadari, datangnya dari allah....tapi juga bisa dikendalikan

---argadia (20091021008..).

Picture of Bayu Kurniawan Fitra
tanggapan untuk Argadia Yuniriyadi
by Bayu Kurniawan Fitra - Tuesday, 18 October 2011, 12:42 AM
 
bagaimanakah cara mengendalikan kelalaian tsb?
Picture of Argadia Yuniriyadi
Re: tanggapan untuk Argadia Yuniriyadi
by Argadia Yuniriyadi - Tuesday, 18 October 2011, 09:04 PM
 
lebamhaduh dudulznya diriku....

sori2 aku lupa masukin caranya, Bu arlina cuman nyuruh ngasih alasannya doank sih....

Untuk CONTROL masalah kelalaian itu sama kok dengan cara biasanya...
  1. Proses pengendalian dari diri operator, dengan cara training dan practice yang terus-menerus.
  2. Dikendalikan oleh orang2 disekitar operator itu, bisa lewat atasan, supervisor, ataupun karyawan laen yang mengingatkan,
  3. (ini yang penting)... Dikendalikan oleh SISTEM berupa protap2 yang selalu dipasang di alat ato dengan semacam cek list untuk tiap sekali pemotretan
Picture of Muhamad Sandi Setiawan
TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA (M Sandi Setiawan)
by Muhamad Sandi Setiawan - Tuesday, 18 October 2011, 01:07 AM
 
Assalamualaikum wr wb
dok, bersama ini saya lampirkan tugas saya. semoga dr dan teman2 berkenan membaca dan memberikan umpan balik. terima kasih
wassalamualaikum wr wb
Picture of Bayu Kurniawan Fitra
tanggapan untuk Mas M Sandi Setiawan
by Bayu Kurniawan Fitra - Tuesday, 18 October 2011, 01:34 AM
 
Disini saya melihat ada beberapa unsur yang menjadi penyebab terjadinya kegagalan
Mulai dari unsur kelalaian, kurangnya kerjasama dan pengetahuan serta sosialisasi. Bagaimanakah solusi yang tepat untuk mengatasi hal tsb?
bagaimana pula cara penerapannya?
Picture of Irmawati Suling
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA (M Sandi Setiawan)
by Irmawati Suling - Wednesday, 19 October 2011, 12:02 PM
 
Tanggapan buat saudara M.sandi Setiawan
Berdasarka pengalaman, kesalahan pengenceran adrenalin tidak hanya terjadi di ruang operasi, tetapi sering juga terjadi ketika pasien masih di IGD, dan kesalahan tersebut dilakukan oleh seorang dokter umum, yang mengakibtakan pasien harus memperpanjang masa rawat inap di RS. Menurut saudara, kira2 gimana solusi untuk kasus tersebut agar kejadian tersebut tidak terulang kembali?

Picture of Yutha Perdana
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Yutha Perdana - Tuesday, 18 October 2011, 09:08 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. Proses Yang Dianalisis

Pemasangan kateter urine pada pasien laki-laki dewasa

2. Bentuk TIM

Ketua : Kepala Departemen Bedah

Anggota :

a. Kepala Departemen Penyakit Dalam

b. Kepala Departemen Penyakit Syaraf

c. Kepala Instalasi Gawat Darurat

d. Manajer YanMed

e. Kepala Perawat

f. Kepala Bangsal Penyakit Dalam

g. Kepala Bangsal Penyakit Syaraf

h. Kepala Bangsal Bedah

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Instalasi Gawat Darurat

Tanggal dimulai : 10 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 17 Oktober 2011

3. Tahapan Proses

a. Mempersiapkan alat

Subproses :

1) Kom

2) Bengkok

3) Pinset anatomis

4) Doek

5) Kateter steril sesuai ukuran yang dibutuhkan

6) Urine bag

7) Disposable spuit 10 cc

8) Aquadest

9) Betadin / alkohol 70 %

10) Kasa

11) Xylocain jelly

b. Mempersiapkan pasien

Subproses :

1) Pasien posisi terlentang

2) Atur cahaya lampu agar visualisasi baik

c. Melakukan proses desinfeksi

Subproses :

1) Siapkan kasa dan kom, tuangkan betadin secukupnya.

2) Pakai handscoen steril dan pasang doek lubang pada penis.

3) Ambil kasa dengan pinset dan celupkan ke betadin.

4) Penis dipegang dan diarahkan ke atas atau hampir tegak lurus dengan tubuh untuk meluruskan urethra yang panjang dan berkelok agar kateter mudah dimasukkan.

5) Desinfeksi dimulai dari meatus termasuk glans penis dan memutar sampai pangkal, diulang sekali lagi.

6) Pada saat melaksanakan tangan kiri memegang penis sedang tangan kanan memegang pinset dan dipertahankan tetap steril.

d. Memasukkan kateter ke dalam meatus

Subproses :

1) Masukkan sebagian besar xylocain jelly ke dalam uretra lalu tahan dengan tangan kiri.

2) Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm.

3) Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam.

4) Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi.

5) Menaruh bengkok di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar, masukkan kateter sampai pangkalnya lalu pasang urine bag.

6) Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai.

e. Fiksasi kateter

Subproses :

1) Fiksasi dengan plester pada abdomen

2) Menempatkan urine bag di bawah tempat tidur pada posisi yang lebih rendah dari kandung kemih.

3) Melaporkan pelaksanaan dan hasil tertulis pada status penderita yang meliputi hari tanggal dan jam pemasangan kateter, tipe dan ukuran kateter yang digunakan, jumlah, warna, bau urine dan kelainan-kelainan lain yang ditemukan, nama terang dan tanda tangan pemasang.

4. Tahapan Subproses

a. Masukkan sebagian besar xylocain jelly ke dalam uretra lalu tahan dengan tangan kiri.

Modus kegagalan :

1) Xylocain jelly terlalu sedikit.

2) Xylocain jelly keluar lagi karena tidak ditahan dengan baik.

b. Lumuri kateter dengan jelly dari ujung merata sampai sepanjang 10 cm.

Modus kegagalan :

1) Jelly kurang.

2) Jelly diolesi tidak merata.

c. Tangan kiri memegang penis dengan posisi tegak lurus tubuh penderita sambil membuka orificium urethra externa, tangan kanan memegang kateter dan memasukkannya secara pelan-pelan dan hati-hati bersamaan penderita menarik nafas dalam.

Modus kegagalan :

1) Posisi penis tidak tegak lurus.

2) Memasukkan selang terlalu cepat.

3) Pasien tidak rileks / menarik nafas dalam.

d. Kaji kelancaran pemasukan kateter jika ada hambatan berhenti sejenak kemudian dicoba lagi.

Modus kegagalan :

a. Sumbatan meatus.

b. Ukuran selang terlalu besar.

e. Menaruh bengkok di bawah pangkal kateter sebelum urine keluar, masukkan kateter sampai pangkalnya lalu pasang urine bag.

Modus kegagalan :

1) Terlambat menaruh bengkok.

2) Pemasangan urine bag kurang kuat / longgar.

f. Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai.

Modus kegagalan :

1) Volume aquadest tidak sesuai dengan volume yang seharusnya.

2) Pengembangan balon kateter saat posisi balon belum sepenuhnya di kandung kemih.

3) Balon kateter rusak / bocor.

Proses yang paling berisiko timbul kegagalan adalah pada proses Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai.

5. Analisis Hazard

Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

Probabilitas

Nilai Hazard

Mengembangkan balon kateter dengan aquadest steril sesuai volume yang tertera pada label spesifikasi kateter yang dipakai.

1) Volume aquadest tidak sesuai dengan volume yang seharusnya.

1

4

4

2) Pengembangan balon kateter saat posisi balon belum sepenuhnya di kandung kemih.

3

3

9

3) Balon kateter rusak / bocor.

1

4

4

6. Analisis Pohon Keputusan

POTENSI PENYEBAB

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1) Volume aquadest tidak sesuai dengan volume yang seharusnya.

Ya

Ya

Ya


2) Pengembangan balon kateter saat posisi balon belum sepenuhnya di kandung kemih.

Skor > 8

Ya

Ya


3) Balon kateter rusak / bocor.

Ya

Tidak

Ya


SubProses yang dipilih : Pengembangan balon kateter saat posisi balon belum sepenuhnya di kandung kemih.

Subproses ini bisa dan harus dikontrol.

Proses pengembangan balon kateter harus dilakukan ketika posisi balon yang berada hampir di ujung selang kateter telah sepenuhnya masuk ke dalam kandung kemih. Bila terjadi demikian, maka pengembangan balon akan berakibat pada terjadinya ruptur uretra pasien. Proses ini seharusnya dapat dicegah dengan memasukkan selang kateter secara optimal hingga selang tidak dapat masuk lagi (mentok) dan dipastikan bahwa yang menahan laju selang kateter adalah dinding kandung kemih dan bukan merupakan obstruksi pada uretra.

Jadi, subproses ini bisa dikontrol dengan adanya SOP pemasangan kateter yang baik. Di samping itu juga perlu pelatihan kepada petugas medis tentang teknik pemasangan selang kateter serta kewaspadaan / ketelitian tentang posisi masuknya selang kateter. Dengan demikian diharapkan resiko kegagalan dalam subproses ini dapat ditekan seminimal mungkin.

Picture of Aci Indah Kusumawardani
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Aci Indah Kusumawardani - Tuesday, 18 October 2011, 09:12 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. Proses Yang Dianalisis

Insisi abses kulit.

2. Bentuk TIM

Ketua : Kepala Departemen Bedah

Anggota :

a. Kepala Instalasi Gawat Darurat

b. Kepala Departemen Penyakit Gigi dan Mulut

c. Manajer YanMed

d. Kepala Perawat

e. Kepala Bangsal Bedah

f. Perawat Poliklinik Bedah

g. Perawat Poliklinik Gigi dan Mulut

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala Instalasi Gawat Darurat

Tanggal dimulai : 10 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 17 Oktober 2011

3. Tahapan Proses

a. Mempersiapkan alat

Subproses :

1) Apron

2) Sarung tangan

3) Masker wajah dengan pelindung

4) Povidone iodine atau chlorhexidine

5) Kasa steril

6) Lidocain 1% atau Lidocain + epinefrin atau bupivacaine

7) Spuit 5-10 ml

8) Jarum

9) Pisau skalpel dengan gagangnya

10) Klem bengkok

11) Normal saline dengan bengkok steril

12) Spuit besar tanpa jarum

13) Gunting

14) Plester

b. Mempersiapkan pasien

Subproses :

1) Minta persetujuan tindakan dokter kepada pasien atau keluarga dekatnya

2) Pastikan identitas pasien, tempat pembedahan

3) Cuci tangan dengan sabun antibakteri dan air

4) Pakai sarung tangan dan pelindung muka

5) Letakkan semua perlengkapan pada tempat yang mudah diraih, diatas meja tindakan

6) Posisikan pasien sehingga daerah drainase terpapar penuh dan dapat dicapai secara mudah dan kondisinya nyaman untuk pasien

7) Pastikan cahaya yang memadai agar abses mudah dilihat

8) Bersihkan daerah abses dengan chlorhexidine atau povidon iodine, dengan gerakan melingkar, mulai pada puncak abses

9) Tutupi daerah disekitar abses untuk mencegah kontaminasi alat

10) Anestesi atas abses dengan memasukkan jarum dibawah dan sejajar dengan permukaan kulit.

11) Suntikkan obat anestesi ke dalam jaringan intra dermal

12) Teruskan infiltrasi hingga mencapai seluruh puncak dari abses yang cukup besar untuk menganestesi daerah insisi

c. Melakukan insisi dan drainase abses

Subproses :

1) Pegang skalpel dengan jempol dan jari telunjuk untuk membuat jalan masuk ke abses

2) Buat insisi secara langsung diatas pusat abses kulit

3) Insisi harus dilakukan sepanjang aksis panjang dari kumpulan cairan

4) Kendalikan skalpel secara berhati-hati selama insisi untuk mencegah tusukan melalui dinding belakang

5) Perluas insisi untuk membuat lubang yang cukup lebar untuk drainase yang memadai dan mencegah pembentuk abses yang berulang

6) Tekan isi abses

7) Masukkan klem bengkok sampai anda merasakan tahanan dari jaringan sehat, kemudian buka klem untuk menghancurkan bagian dalam dari rongga abses

8) Teruskan penghancuran lokulasi dalam gerakan memutar sampai seluruh rongga abses sudah dieksplorasi

9) Bersihkan luka dengan normal saline, gunakan spuit tanpa jarum

10) Teruskan irigasi sampai cairan yang keluar dari abses jernih

11) Upayakan agar dinding abses tetap terpisah dan memungkinkan drainase dari debris yang terinfeksi

12) Pasang tampon pada luka dengan menggunakan kasa steril yang digulung memanjang dan ujungnya dibiarkan di luar luka insisi. Pasang tampon sebanyak yang diperlukan.

13) Tutup luka dengan kasa steril dan diplester.

d. Perawatan lanjutan

Subproses :

1) Pemberian obat analgetik dan antibiotik sesuai kondisi

2) Kontrol 2-3 hari pasca insisi abses

3) Keluarkan semua benda-benda dari dalam luka insisi abses

4) Kontrol lanjutan bila terdapat komplikasi

4. Tahapan Subproses

a. Pemberian obat analgetik dan antibiotik sesuai kondisi

Modus kegagalan :

1) Indikasi antibiotik tidak sesuai / tidak diperlukan

2) Resisten atau alergi terhadap obat khususnya antibiotik

3) Ketidakpatuhan minum obat

b. Kontrol 2-3 hari pasca insisi abses

Modus kegagalan :

1) Pasien enggan kontrol

2) Jadwal kontrol tidak diketahui pasien

c. Keluarkan semua benda-benda dari dalam luka insisi abses

Modus kegagalan :

1) Tampon kurang

2) Dokter tidak mengeluarkan semua tampon karena lupa berapa buah tampon yang dipasang pada luka insisi

3) Dinding abses menempel sehingga sisa abses tidak terdrainase dengan baik

d. Kontrol lanjutan bila terdapat komplikasi

Modus kegagalan :

a. Pasien enggan kontrol

Proses yang paling berisiko timbul kegagalan adalah pada proses mengeluarkan semua benda-benda dari dalam luka insisi abses

5. Analisis Hazard

Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

Probabilitas

Nilai Hazard

Keluarkan semua benda-benda dari dalam luka insisi abses

1) Tampon kurang

2

3

6

2) Dokter tidak mengeluarkan semua tampon karena lupa berapa buah tampon yang dipasang pada luka insisi

2

4

8

2) Dinding abses menempel sehingga sisa abses tidak terdrainase dengan baik

2

4

8

6. Analisis Pohon Keputusan

POTENSI PENYEBAB

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1) Tampon kurang

Tidak

-

-


2) Dokter tidak mengeluarkan semua tampon karena lupa berapa buah tampon yang dipasang pada luka insisi

-

(karena skor ≥8)

Ya

-


3) Dinding abses menempel sehingga sisa abses tidak terdrainase dengan baik

-

(karena skor ≥8)

Tidak

Tidak


Subproses yang dipilih : Dokter tidak mengeluarkan semua tampon karena lupa berapa buah tampon yang dipasang pada luka insisi

Subproses ini bisa dan harus dikontrol.

Pada saat pemasangan tampon hendaknya dokter mencatat berapa banyak tampon yang ia pasang. Hal ini guna mencegah tertinggalnya sebagian tampon pada saat pasien kontrol. Apabila terjadi tampon yang tertinggal, maka hal ini akan memperlambat proses penyembuhan pasien yang pada akhirnya akan memperlama proses perawatan.

Jadi, subproses ini bisa dikontrol dengan adanya SOP insisi abses yang baik yang di dalamnya meliputi kewajiban dokter untuk mencatat banyaknya / panjang tampon yang dipasang. Dengan demikian diharapkan resiko kegagalan dalam subproses ini dapat ditekan seminimal mungkin.

Picture of Yutha Perdana
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Yutha Perdana - Tuesday, 18 October 2011, 09:42 AM
 
Untuk Saudari Solikah Sriningsih,, saya sedikit ingin bertanya..
1) Terkadang ada beberapa pasien rencana operasi sudah berada diruang operasi terlebih dahulu, namun ada beberapa pemeriksaan yang belum dilakukan sebelum pasien masuk OK (tepatnya ketika pasien tersebut masih didalam bangsal, misal pemeriksaan laboratorium darah dll). Mungkin bisa disebabkan karena dokter/perawat bangsal tidak melihat lagi status rekam medis yang terbaru, apakah ada pemeriksaan lainnya yang diminta apa tidak.
Bagaimana Saudari menanggapi hal ini? Dan apa saja langkah antisipasinya?

2) Lalu misal ada pasien post KLL datang, setelah diperiksa oleh dokter pasien mengalami fraktur humerus (misalnya saja..). lalu direncanakan operasi, setelah itu menjalani pemeriksaan darah dan thoraks, pasien siap masuk OK. lalu pasien dioperasi humerus, selesai, dan kembali ke bangsal. sesampainya di bangsal, ada petugas yg melihat rontgen thoraksnya dan ternyata juga ada fraktur clavicula nya, dan utk clavicula nya tidak mendapat penanganan apa2 bahkan dokter yg mengoperasi saja tidak tahu.
Bagaimana Anda mengantisipasi hal ini? Bagiamana langkah2 pencegahannya?

Terima Kasih
Picture of Aci Indah Kusumawardani
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Aci Indah Kusumawardani - Tuesday, 18 October 2011, 10:04 AM
 
Buat Saudari Irmawati Suling,,
Seringkali ketika pasien sudah dibangsal dan di plan utk menghitung balance cairan oleh dokter yang merawat, maka pd prakteknya sering kelupaan utk di monitor, tidak menandai plaboth infus yang keberapa, tidak adanya lembar monitor di samping pasien sehingga ketika habis mengganti plaboth infus tidak dilaporkan selanjutnya. Bagaimana Anda dapat mengantisipasi hal seperti ini?
Terima Kasih
Picture of Irmawati Suling
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Irmawati Suling - Wednesday, 19 October 2011, 11:54 AM
 
Jawaban tanggapan dari saudari Aci indah Kusuma :
Kejadian itu pernah terjadi hampir > 2x/tahun kurang lebih setahun yang lalu, namun kekeliuran tersebut sudah mulai dapat diatasi, dengan beberapa tindakan yang telah diprogramkan, dan program2 tersebut dapat dikatakan cukup berhasil, hal tersebut terbukti dengan frekuensi kejadian tersebut berkurang. Menurut laporan tahunan patient safety tahun 2010 kejadian tersebut hampir tidak pernah dilaporkan. Beberapa tindakan yang telah dilakukan :
  1. Menyediakan blangko balanced cairan
  2. Sosialisasi pengisian blangko balanced cairan
  3. Pengisian balanced cairan menjadi salah satu bahan ujian untuk setiap perawat yang baru masuk
  4. penandaan flabot mulai dilakukan sejak dari IGD

Picture of Dian Muntafiatul Izzati
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Dian Muntafiatul Izzati - Tuesday, 18 October 2011, 11:16 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

I. Proses yang dianalisa: Persiapan pasien dan alat untuk tindakan D&C (Dilatation & Curettage)

II. Bentuk TIM:

Ketua: ketua SMF departemen obstetric dan gynecology

Anggota:

1. dr. Sp.OG

2. dr.Sp.PA

3. Kepala ruang tindakan VK

4. Kepala bangsal obstetric dan gynecology

5. Ketua komite medis

6. Manajer pelayanan medis

7. Bagian pengendali mutu

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? bagian kendali mutu

Tanggal dimulai : 11 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 18 Oktober 2011

III. A. Tahapan Proses

1. Persiapan alat

Tahapan sub proses:

a. Persiapan alat steril

b. Persiapan alat tidak steril

c. Persiapan obat-obatan

d. Persiapan cairan desinfektan

e. Persiapan formulir : PA dan tindakan

2. Persiapan pasien

Tahap sub proses:

a. Skeren/bila perlu

b. ***l toilet

c. Posisi pasien lithotomic

d. Pasien/keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan dan menandatangani izin tindakan medik

3. Persiapan lingkungan

Tahap sub proses:

a. Mengkondisikan ketenangan ruangan

b. Menjaga privacy pasien

4. Pelaksanaan kuretage

Tahap sub proses:

a.Memindahkan pasien ke meja ginekologi kemudian mengatur posisi litotomi

b.Membantu dokter untuk tindakan kuret

c.Memberikan obat-obatan sesuai program

d.Membersihkan dan merapikan pasien sesudah dilakukan tindakan kuret.

e.Memasang pembalut wanita

f. Memindahkan pasien ke kereta dorong

g.Menyiapkan bahan untuk pemeriksaan PA

6. Melengkapi pengisian formulir tindakan

a. Mengobservasi perkembangan pasien antara lain tekanan darah dan perdarahan

b. Memeriksa kelengkapan pengisian formulir tindakan

c. Mencatat semua tindakan

B. Tahap sub proses

1. Pengukuran vital sign sebelum dan sesudah tindakan

Modus kegagalan:

a. Petugas seringkali malas untuk melakukan observasi vital sign

b. Tidak tersedianya lembar monitoring dalam ruangan tindakan

2. Persiapan alat steril dan tidak steril

Modus kegagalan:

a. Alat steril dan tidak steril tidak terpisah secara baik.

b. Petugas kadang teledor dalam meletakkan alat yang sudah dipakai sebelumnya.

3. Pelaksanaan tindakan kuretage

Modus kegagalan:

a. Tidak memastikan kembali identitas dan diagnosis kepada pasien dan petugas

b. Persiapan yang tidak memadai, yang menyebabkan tidak tersedianya alat saat kuretage berlangsung.

4. Pencegahan infeksi

Modus kegagalan:

a. Petugas tidak melaksanakan hand higiene

b.Proses sterilisasi alat yang tidak benar

5. Pengiriman hasil ke laboratorium patologi anatomi

Modus kegagalan:

a. Tidak menempel identitas segera setelah sampel didapat

b. Salah identitas pasien

IV. Analisa Hazard

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Terjadinya infeksi pasca kuretage

1. Petugas tidak melaksanakan hand higiene

2. Proses sterilisasi alat yang tidak sesuai

3. Tindakan kuretage yang tidak hati-hati sehingga menyebabkan perlukaan jalan lahir

3

2

2

3

3

2

9

6

4

Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?


1. Petugas tidak melaksanakan hand higiene

2. Proses sterilisasi alat yang tidak sesuai

3. Tindakan kuretage yang tidak hati-hati sehingga menyebabkan perlukaan jalan lahir

9

6

4

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya


Sub proses yang dipilih:

Petugas tidak melaksanakan hand hygiene sebelum dan sesudah tindakan.

Sub proses ini harus di kontrol.

Proses dalam tindakan kuretage harus diperhatikan utamanya disini adalah persiapan alat dll yang berkaitan dengan hygienitas&sterilitas-nya. Kedisiplinan dari operator dan petugas yang terlibat harus ditekankan. Perlu disusun standar operasional dalam melakukan hand hygiene dan proses sterilisasi alat, dalam rangka mengendalikan infeksi nosokomial yang terjadi. Apabila dari awal persiapan sudah tidak diperhatikan, kemungkinan akan dapat menimbulkan infeksi pasca kuretage pada pasien.

Sub proses ini dapat dikendalikan dengan pembuatan SOP mengenai prosedur hand hygiene yang sesuai dengan WHO sebelum dan sesudah tindakan. Yang disini berfungsi untuk mengontrol apakah SOP sudah diterapkan dengan baik atau belum adalah unit pengendali mutu.

Picture of Dwi Astuti Yulinawati
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Dwi Astuti Yulinawati - Tuesday, 18 October 2011, 12:12 PM
 


Judul Proses : Pelayanan pemeriksaan radiologi bagi pasien rawat inap.

Bentuk Tim :

Ketua : dokter spesialis radiologi

Anggota : 1. Dokter utama penanggung jawab pasien

2. Kepala perawat bangsal rawat inap

3. Perawat utama penanggungjawab pasien

4. Petugas administrasi instalasi radiologi

4. Radiografer

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah terwakili didalam Tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen ? kepala perawat bangsal rawat inap

Tanggal dimulai 10 agustus 2011 tanggal diperbaiki 29 agustus 2011

Tahapan Proses :

  1. Permintaan untuk pemeriksaan radiologi oleh dokter penanggung jawab pasien

Tahapan Sub Proses :

  1. Penentuan pemeriksaan radiologis yang sesuai dengan keluhan pasien (anamnesis, pemeriksaan fisik)

  2. Menuliskan permintaan pemeriksaan radiologis pada rekam medis pasien

  3. Menuliskan permintaan pemeriksaan radiologis pada form yang disediakan rumah sakit

  1. Mendaftarkan pasien untuk pemeriksaan radiologi pada petugas instalasi radiologi

Tahapan Sub Proses :

  1. Petugas penaggung jawab pasien mendaftarkan pemeriksaan radiologis via telepon

  2. Kepala perawat mengecek ulang pendaftaran tersebut

  3. Petugas instalasi radiologi menuliskan identitas pasien tersebut pada buku pendaftaran dan papan permintaan pemeriksaan radiologi

  1. Persiapan pasien untuk pemeriksaan radiologis

  1. Dokter spesialis radiologi meminta daftar permintaan pemeriksaan radiologi yang telah terdaftar.

  2. Dokter spesialis radiologis melakukan visite (mengetahui keadaan umum pasien, memberikan masukan pada dokter penanggungjawab bila ada ketidak sesuaian, memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan radiologis yang akan dilakukan ).

  3. Dokter spesialis menuliskan jawaban (layak atau tidak untuk pemeriksaan radiologi) atas permintaan pemeriksaan radiologis tersebut pada rekam medis dan form yang telah disediakan.

  4. Dokter spesialis mengkonfirmasi ulang jawaban layak atau tidak tersebut pada petugas instalasi radiologi.

  5. Perawat penaggungjawab mempersiapkan pasien sesuai instruksi dokter spesialis radiologi (misal: memberikan makanan khusus atau obat khusus untuk pemeriksaan radiologis).

  6. Kepala perawat bangsal mengecek ulang tahap persiapan pasien tersebut

  1. Pelaksanaan pemeriksaan radiologi

  1. Petugas bangsal mengantarkan pasien ke instalasi radiologi

  2. Petugas radiografer mengecek ulang identifikasi pasien

  3. Pasien menjalani tahapan pemeriksaan radiologis

  4. Petugas radiografer memberikan hasil foto pada dokter radiologis untuk di interpretasi hasil.

  5. Dokter mengintrepretasi hasil foto tersebut kemudian memberikan diagnosis yang sesuai atau saran yang mendukung diagnosis tersebut (di lembar rekam medis dan form yang disediakan rumah sakit).

  6. Pasien diantarkan kembali di bangsal beserta hasil interpretasi foto untuk di baca oleh dokter yang meminta pemeriksaan radiologis tersebut.

Tahapan Sub Proses Kegiatan :

  1. Dokter spesialis radiologi meminta daftar permintaan pemeriksaan radiologi yang telah terdaftar.

Modus Kegagalan :

  1. Permintaan pemeriksaan tidak terdaftar di buku pendaftaran


  1. Dokter spesialis radiologis melakukan visite (mengetahui keadaan umum pasien, memberikan masukan pada dokter penanggungjawab bila ada ketidak sesuaian, memberikan penjelasan mengenai pemeriksaan radiologis yang akan dilakukan ).

Modus Kegagalan :

  1. Dokter spesialis radiologi tidak melakukan visite

  2. Visite dilakukan, namun bukan oleh orang yang berkompeten


  1. Dokter spesialis menuliskan jawaban (layak atau tidak untuk pemeriksaan radiologi) atas permintaan pemeriksaan radiologis tersebut pada rekam medis dan form yang telah disediakan.

Modus Kegagalan :

  1. Tulisan dokter spesialias tidak dapat dibaca atau dipahami

  2. Dokter spesialis tidak menuliskan jawaban pada lembar yang disediakam.


  1. Dokter spesialis mengkonfirmasi ulang jawaban layak atau tidak tersebut pada petugas instalasi radiologi.

Modus Kegagalan :

  1. Dokter spesialis tidak mengkonfirmasi ulang jawaban tersebut kepada petugas instalasi radiologi.

  2. Petugas instalasi radiologi tidak menanyakan ulang status pasien yang di visite dokter radiologi.


  1. Perawat penaggungjawab mempersiapkan pasien sesuai instruksi dokter spesialis radiologi (misal: memberikan makanan khusus atau obat khusus untuk pemeriksaan radiologis).

Modus Kegagalan :

  1. Instruksi dokter spesialis tidak dipahami oleh perawat

  2. Perawat penanggungjawab melimpahkan tugas untuk mempersiapakan pasien pada orang yang tidak kompeten

  3. Pasien tidak menjalankan instuksi dokter dan perawat


  1. Kepala perawat bangsal mengecek ulang tahap persiapan pasien tersebut

Modus Kegagalan :

  1. Kepala perawat bangsal tidak mengecek ulang persiapan pasien.

  2. Kepala perawat bangsal mengecek, namun tidak memahami prosedur pemeriksaan radiologi yang akan dijalani pasien.


ANALISIS HAZARD :

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Dokter Spesialis Radiologi tidak melakukan visite.

1. Dokter spesialis tidak ada waktu untuk visite.

2. Dokter spesialis radiologi mengandalkan perawat untuk menilai kelayakan pasien.

3. Dokter spesialis tidak mendapatkan jasa untuk melakukan visite.

3


2




1

4


4




4

7


6




5

 


ANALISIS POHON KEPUTUSAN :

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1. Dokter spesialis tidak ada waktu untuk visite.

2. Dokter spesialis radiologi mengandalkan perawat untuk menilai kelayakan pasien.

3. Dokter spesialis tidak mendapatkan jasa untuk melakukan visite.


7


6




5

Ya


Ya




Ya

Ya


Ya




Ya




SUBPROSES YANG DIPILIH : Dokter spesialis radiologi mengandalkan perawat untuk menilai kelayakan pasien.

Dokter spesialis radiologi terlalu sibuk dengan banyaknya tempat praktek yang dimiliki, sehingga tidak dapat melakukan visite. Oleh karenanya proses persiapan maupun penjelasan dilakukan oleh perawat. Namun perawat tidak sekompeten dokter dalam memberikan penjelasan kepada pasien. Penilaian yang dibuat perawat terkadang tidak akurat sehingga, sewaktu pasien bertemu dokter untuk pemeriksaan ternyata dinilai tidak layak oleh dokter spesialis, sehingga pasien mengalami penundaan pemeriksaan yang berakibat tertundanya terapi pengobatan dan mekin lamanya pasien di Rumah sakit.





 

 

 

 


Picture of Mayfuza Husain
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Mayfuza Husain - Tuesday, 18 October 2011, 01:22 PM
 

I. Proses yang dianalisa: Pelayanan imunisasi pasien bayi/balita

 

II. Bentuk TIM:

 

Ketua: Kepala Instalasi Kesehatan Anak Dokter Spesialis Anak

Anggota:

1. Dokter Spesialis Anak

2. Manajer Yanmed

3. Kepala Komite Medik

4. Petugas Bidan/Perawat


Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Manajer Yanmed

Tanggal dimulai : 6oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 12 Oktober 2011

 

III. A. Tahapan Proses

Tahapan sub proses:

 

a. Pasien bayi/balita didaftarkan di bagian pendaftaran

b. Diberi nomer antrian

c. pengantar pasien (orangtua) membawa pasien ke bagian pelayanan imunisasi (poli anak)

d. menyerahkan nomer antrian dan buku imunisasi

e. pasien menunggu antrian

f. diperiksa oleh dokter spesialis anak terkait kesehatan pasien sedang dalam keadaan sehat atau tidak sebelum pasien diimunisasi, serta dicocokkan dengan buku jadwal imunisasi yang dibawa pasien

g. pasien diimunisasi oleh petugas

h. pasien diinformasikan untuk diingatkan kembali untuk imunisasi berikutnya

i. pasien diberi resep untuk keperluan efek samping dari imunisasi

B. Tahap sub proses

Petugas (bidan/perawat) yang melakukan imunisasi

Modus kegagalan:

 

1. Kesalahan pelaksanaan imunisasi, bila petugas tidak mengecek terlebih dahulu seperti jenis vaksin yang diperlukan, tanggal kadaluarsa, alat suntik, tempat penyimpanan vaksin, pengenceran, dll. Dan teknik imunisasi seperti pemilihan jarum suntik, sudut arah jarum, lokasi, posisi penerima vaksin.

2. ketidaktelitian petugas, tidak mengecek ulang kesesuain jenis imunisasi dan usia pasien, buku imunisasi tertukar

3. tidak memberikan informasi efek samping yang mungkin terjadi

 

IV. Analisa Hazard

 

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Scoring kegawatan

Scoring probability

Scoring nilai hazard

Petugas (bidan/perawat) yang melakukan tindakan imunisasi

1. kesalahan pelaksnaan imunisasi oleh petugas

2. ketidaktelitian petugas, tidak mengecek ulang kesesuain jenis imunisasi dan usia pasien, buku imunisasi tertukar

3. tidak memberikan informasi efek samping yang mungkin terjadi setelah imunisasi.

2


2

1

2

2

2

8

2

2

 

Analisis pohon keputusan

 

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1. Kesalahan pelaksanaan imunisasi oleh petugas

2. ketidaktelitian petugas, tidak mengecek ulang kesesuain jenis imunisasi dan usia pasien, buku imunisasi tertukar

3. tidak memberikan informasi efek samping yang mungkin terjadi setelah imunisasi

8

2

2

Ya

Ya

Ya

Ya

Ya

Tidak


 

Sub proses yang dipilih:

Kesalahan dalam pelaksanaan imunisasi

Subproses ini dapat berakibat kejadian ikutan pasca imunisasi, dimana salah satunya disebabkan kesalahan program/teknik pelaksanaan imunisasi, meliputi kesalahan program penyimpaan, pengelolaan, dan tata laksana pemberian vaksin.

Subproses ini dapat dikontrol dgn memeriksa jenis vaksin dan meyakinkan vaksin tersimpan dengan baik. Diperhatikan apakah tampak tanda-tanda perubahan pada vaksin, tanggal kadaluarsa, catat adanya perubahan warna yang menunjukkan kerusakan. Meyakinkan vaksin yang hendak diberikan sesuai jadwal imunisasi, dan memperhatikan cara pemberian suntikan, pemilihan jarum suntik, arah dan tempat suntikan, posisi penerima vaksin, dll. Untuk itu petugas yang diharapkan dapat lebih teliti dan kompeten.

Hi
komentar terhadap tidak memberikan informasi efek samping
by Bopi Y.S - Tuesday, 18 October 2011, 07:57 PM
 
Ass.Wr.Wb. dr.Mayfuza. Saya ingin memberikan saran alangkah baiknya bila kalimat "efek samping: diganti dengan kalimat yang lain, misalnya "tanda-tanda abnormal pasca imunisasi", karena apabila imunisasi dikatakan memiliki efek samping maka angka kunjungan imunisasi dapat menurun dikarenakan ada rasa takut dan khawatir dari ibu terhadap informasi "efek samping imunisasi" yang akan berakibat buruk pada anaknya.
Picture of Merita Arini
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Merita Arini - Tuesday, 18 October 2011, 09:37 PM
 

I. Judul Proses

Sub-Arachnoid Block (SAB/ Pembiusan Regional)

II. Bentuk TIM:

Ketua: kepala Departemen Anestesi dan Reanimasi

Anggota:

1. Dokter Spesialis Anestesi

2. Kepala ruang OK

3. Manajer YanMed

4. Perawat/ Penata Anestesi

5. Farmasi/ apotek OK

6. Kepala ruang Bangsal Bedah

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Penata Anestesi

Tanggal dimulai : 10 oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 18 Oktober 2011

III. Tahapan Proses

A. Alur Proses dan Sub-Proses

1. Pendaftaran Pasien ke Ruang OK

a. pendaftaran tertulis dari bangsal/ IGD/ Poli

b. pencatatan di buku register OK

c. pencatatan di buku register anastesi

d. pencatatan di papan OK (H-1)

2. Persiapan Pasien di Bangsal/ IGD

a. pemeriksaan laboratorium pre-operasi

b. pemeriksaan radiologis pre-operasi

c. visite dokter anastesi

d. puasa 8 jam pre-op

e. pemasangan infus

f. perbaikan kondisi umum (bila perlu)

g. premedikasi

3. Pemanggilan dan Penerimaan Pasien di OK

a. penyerahan pasien dan RM

b. penerimaan pasien dan RM

c. verifikasi kesiapan pre-op pasien (oleh dokter bedah & dokter anstesi)

4. Persiapan Pembiusan

a. pemilihan obat induksi

b. penghitungan dosis obat induksi

c. persiapan alat dan bahan (desinfektan, hand scoen steril, jarum spinal sesuai ukuran, obat-obatan, spuit injeksi, kassa steril, plester, plabhot infus)

d. memasang nasal kanul oksigen

e. memastikan mesin anastesi berfungsi baik

f. memsang alat-alat monitor mesin anestesi (manset spighmomanometer, spirometer) ke tubuh pasien

g. premedikasi

5. Pelaksanaan Pembiusan

a. pasien diposisikan

b. hand hygiene dokter pembius

c. pemeriksaan area tulang belakang & pemilihan tempat penyuntikan

d. desinfeksi medan bius

e. menusukkan jarum spinal hingga ruang sub-arachnoid

f. menguji posisi masuknya jarum

g. memasukkan obat bius ke area sub-arachnoid

h. menutup luka operasi dengan plester

i. membaringkan pasien

j. pengujian anestesi

6. Pelaksanaan Operasi

a. Tindakan pembedahan oleh dokter bedah

b. monitoring pasien (vital sign, status hidrasi pasien)

c. injeksi analgetik

d. injeksi anti-emesis

e. penatalaksanaan lain bila diperlukan

7. Post-Anastesi Care

a. monitor vital sign

b. penatalaksanaan lain bila perlu

8. Perawatan Post-Operasi di Bangsal

a. posisi supine 24 jam dengan bantal

b. monitor vital sign

c. injeksi analgetik bila perlu

d. injeksi anti-emesis bila perlu

e. penatalaksanaan lain bila perlu

f. visite dokter anastesi

B. Modus Kegagalan

1. Pendaftaran Pasien ke Ruang OK

Modus kegagalan:

a. salah identitas & keterangan pendaftaran lain

b. terlambat mendaftar

c. salah mencatat

2. Persiapan Pasien di Bangsal

a. salah order/ item pemeriksaan lab terlewat

b. salah order pemeriksaan radiologis

c. salah obat/ salah prosedur premedikasi

d. pasien tidak puasa

e. terlewat tidak divisite

f. pemeriksaan (anamnesis & pemeriksaan fisik) kurang teliti sehingga salah memperkirakan rencana anestesi

g. gagal perbaikan KU

3. Penerimaan Pasien di OK

a. verifikasi tidak dikerjakan dengan benar

4. Persiapan Pembiusan

a. salah memilih obat induksi

b. salah menghitung dosis

c. item alat dan bahan pembiusan terlewat disiapkan

d. tidak memastikan mesin anestesi berfungsi baik

e. tidak memasang alat monitor ke tubuh pasien

f. tidak memasang nasal kanul oksigen

g. premedikasi tidak benar/ tidak dilakukan

5. Pelaksanaan Pembiusan

a. salah memosisikan pasien

b. hand hygiene tidak benar/ tidak dilakukan

c. desinfeksi tidak benar/ tidak dilakukan

d. salah memilih area/ spatium inter-vertebra untuk menusukkan jarum spinal

e. terlewat menguji benarnya letaknya jarum spinal

f. menusuk berkali-kali karena sulit mencapai ruang sub-arachnoid yang tepat

g. tidak mendeteksi adanya jendalan darah di jarum spinal

h. terlalu cepat atau terlalu lambat memasukkan obat anestesi ke ruang sub-arachnoid

i. tidak menutup luka bekas suntikan

j. terlalu lambat membaringkan pasien

k. tidak melakukan pengujian anestesi (uji sensorik)

6. Tahap Operasi

a. terlalu mengandalkan monitoring mesin anestesi tanpa memperhatikan kondisi klinis pasien

b. terlewat memberikan analgetik

c. terlewat memberikan anti-emesis

d. tidak memperhatikan status hidrasi pasien

7. Post-Anaesthesia Care

a. terlalu mengandalkan monitoring mesin anestesi tanpa memperhatikan kondisi klinis pasien

b. tidak memperhatikan status hidrasi pasien

8. Perawatan Post-Operasi

a. tidak menginstruksikan posisi supine selama 24 jam

b. pasien tidak menaati instruksi posisi supine 24 jam

c. tidak memantau vital sign dengan benar

d. dokter anestesi tidak melakukan visite post-operasi

e. obat-obatan post-anastesi tidak diberikan sesuai indikasi

C. Analisis Hazard

Proses yang memiliki sub proses dengan resiko kegagalan , dengan dampak (Hazard Analisis > 8) yang dipilih adalah proses no. 5, “Pelaksanaan Pembiusan.”

Modus kegagalan:

Potensi penyebab

Skoring kegawatan

Skoring probability

Skoring nilai hazard

Pelaksanaan Pembiusan SAB

1. faktor pasien: bamboo spine, jaringan lemak terlalu tebal, pasien tidak kooperatif

4

3

12

2. faktor petugas: terburu-buru, kurang cermat, kurangnya skill, ketidak patuhan terhadap protap tanpa indikasi yang jelas

4

4

16

3. faktor peralatan & bahan: obat & bahan yang digunakan tidak sekali pakai, mutu alat & bahan kurang baik

2

2

4

D. Analisis Pohon Keputusan

Potensi penyebab

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1 faktor pasien: bamboo spine, jaringan lemak terlalu tebal, pasien tidak kooperatif

tidak

tidak

ya


2. faktor petugas: terburu-buru, kurang cermat, kurangnya skill, ketidak patuhan terhadap protap tanpa indikasi yang jelas

tidak

ya

ya


3. faktor peralatan & bahan: obat & bahan yang digunakan tidak sekali pakai, mutu alat & bahan kurang baik

tidak

ya

ya


Picture of Merita Arini
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Merita Arini - Tuesday, 18 October 2011, 09:42 PM
 
maaf... ga muat...sambungan...

Proses ini tidak dapat dieliminasi oleh karena merupakan bagian kritis dari pelayanan anestesi regional. Oleh karena itu pemecahan masalahnya adalah dengan dikontrol. Kontrol yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

1. kualifikasi petugas

a. penata anastesi haruslah perawat yang sudah mengikuti pelatihan anaestesi dan bersertifikat

b. pelaksana SAB adalah dokter Sp.An, atau residen anestesi dengan pengawasan Sp.An.

2. SOP prosedur SAB

3. menyediakan USG vertebra untuk kasus SAB yang sulit

4. SOP Quality Control alat dan bahan yang dipakai

5. evaluasi berkala SOP

6. sosialisasi & penerapan budaya patient safety


Picture of Puspita Sari
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Puspita Sari - Tuesday, 18 October 2011, 09:31 PM
 
<!-- @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } -->

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

Judul proses :
Penanganan pasien dengan kesulitan membuka rahang akibat kecelakaan jatuh dari motor.

Bentuk TIM :

Ketua

Anggota

Kepala SMF Bedah

Manajer Pelayanan Medis

Ketua Komite Medis

Kepala bangsal bedah

Kepala UGD

Kepala Bagian Keperawatan

Kepala Seksi Keperawatan


Apakah semua area yang terkait sudah terwakili ? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili didalam Tim
tersebut ? YA
Siapa yang menjadi notulen ? Perawat jaga
Tanggal dimulai 2 Agustus 2011 , tanggal dilengkapi 19 Agustus 2011

Tahapan Proses :

Pasien datang ke UGD


Tahapan sub proses :

a. Pendaftaran pasien

b. Anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh dokter dan perawat UGD

c. Penentuan rawat rawat jalan.


Pasien Rawat Jalan


Tahapan sub proses:

  1. Pasien diberkan pertolongan pertama

  2. Pembesihan luka

  3. Pemberian obat analgesic dan antibiotic


Pasien dirujuk ke Poli gigi


Tahapan sub proses:

Pasien diberikan surat rujukan













Analisis Hazart
Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum
>> Perawat memberikan obat antibiotic tanpa anamnesis yang lengkap terhadap pasien sehingga menimbulkan alergi
Potensi Penyebab dan Skoring (kegawatan, probabilitas dan Nilai hazart)
1. Kurang lengkapnya anamnesis terhadap pasien : 1, 3, 4
2. Tidak adanya laporan tertulis : 2 1, 1
3. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 4,3,2

Analisis pohon keputusan (point tunggal kelemahan ?, adakah kontrol/ pengendalian ?, apakah mudah dideteksi ?, Proses ?)
1. Kurang lengkapnya anamnesis terhadap pasien : 4,2,1
2. Tidak adanya laporan tertulis : 3,4,1
3. Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian : 3,3,6


Sub proses yang dipilih adalah Perawat tidak memperhatikan aturan cara pemberian.
Sub proses ini harus dikontrol. Dikarenakan hanya pasien sulit bicara karena kesulitan membuka mulut. Sehingga dalam pemberian antibiotic pasien terjadi alergi.
Jadi sub proses ini bisa di kontrol dan dikendalikan dengan meningkatkan ketelitian para perawat serta pembuatan SOP penanganan pasien yang tidak dapat memberikan informasi keadaan pasien.

Picture of Pambudi mmr
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Pambudi mmr - Tuesday, 18 October 2011, 09:47 PM
 

PAMBUDI (20101021.036)

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. PROSES YANG DIANALISA :

Penatalaksanaan anak gizi buruk

(Penatalaksanaan anak gizi buruk sesuai petunjuk teknis tatalaksana anak gizi buruk dari Bina Gizi Masyarakat Dep.Kes RI )

2. BENTUK TIM

Ketua : Kepala Bidang Penunjang Medis

a. Wakil Direktur Pelayanan

b. Kepala Staf Medik Fungsional Anak.

c. Kepala Staf Medik Fungsional Patologi Klinik

d. Kepala Staf Medik Fungsional Radiologi

e. Kepala Bidang Pelayanan Medis

d. Kepala Seksi Rawat Jalan dan intensif

e. Kepala Seksi Rawat Inap

f. Kepala Seksi Keperawatan

g. Kepala Bangal Anak

h. Kepala instalasi gizi

i. Kepala Instalasi Farmasi

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Kepala instalasi gizi

Tanggal dimulai : 3 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 10 Oktober 2011

I. TAHAPAN PROSES

A. Mencegah dan mengatasi hipoglikemia

B. Mencegah dan mengatasi hipotermia

C. Mencegah dan mengatasi dehidrasi

D. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit

E. Mengobati infeksi

F. Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro

G. Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi

H. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar

I. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang

G. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah

II. TAHAPAN SUB PROSES

A. Mencegah dan mengatasi hipoglikemia

Sub proses :

1. Sadar (tidak letargis) :

- Berikan larutan glukosa 10% atau larutan gula pasir 10% secara oral atau NGT (bolus) / Naso Gastric Tube (pipa untuk memberikan asupan makanan melalui sonde / hidung) sebanyak 50 ml

2. Tidak sadar (letargis)

- Berikan larutan glukosa 10% secara intravena (iv) (bolus) sebanyak 5 ml x kgBB

- Berikan larutan glukosa 10% atau larutan gula pasir 10% secara oral atau NGT (bolus) sebanyak 50 ml

3. Renjatan (Syok)

-  Berikan cairan intravena (iv) berupa ringer laktat dan dextrosa / glukosa 10% dengan perbandingan 1 : 1 (=RLG 5%) sebanyak 15 ml x kgBB selama 1 jam pertama atau 5 tetes/menit/kgBB

-  Berikan larutan glukosa 10% secara intravena (iv) (bolus) sebanyak 5 ml x kgBB

B.  Mencegah dan mengatasi hipotermia

1. Suhu tubuh 36,50C – 37,00C

 -Tutuplah tubuh anak termasuk kepalanya

 -Hindari adanya hembusan angin didalam ruangan perawatan

 -Pertahankan suhu ruangan sekitar 25 – 300C

 -Usahakan agar anak tetap diselimuti pada malam hari

 -Jangan membiarkan anak tanpa baju terlalu lama pada saat tindakan pemeriksaan dan penimbangan

 -Segeralah ganti baju atau peralatan tidur yang basah oleh karena air kencing atau keringat atau sebab sebab yang lain.

 -Bila anak baru saja dibersihkan tubuhnya dengan air, segera keringkan dengan sebaik-baiknya

 -Jangan menghangati anak dengan air panas dalam botol, hal ini untuk menghindari bila ibu anak / pengasuh lupa membungkus botol dengan kain akan menyebabkan kulit anak terbakar

2 Suhu tubuh < 36,50C

 -Bila suhu tubuh < 36,50C harus dilakukan tindakan menghangati untuk mengembalikan kembali suhu tubuh anak

 -Pemanasan suhu tubuh anak yang hipotermi adalah dengan cara “kanguru” yaitu dengan mengadakan kontak langsung kulit ibu dengan kulit anak untuk memindahkan panas tubuh ibu kepada tubuh anak dan anak digendong serta diselimuti seluruh tubuhnya

 -Pemanasan tubuh anak juga dapat dilakukan dengan menggunakan lampu. Lampu harus diletakkan 50 cm dari tubuh anak.

 -Suhu tubuh harus dimonitor setiap 30 menit untuk memastikan bahwa suhu tubuh anak tidak terlalu tinggi akibat pemanasan

 -Hentikan pemanasan bila suhu tubuh sudah mencapai 370C.

C. Mencegah dan mengatasi dehidrasi

Sub proses :

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan fisik

3. Pemeriksaan penunjang

4. Penegakan diagnosa medis

5. Terapi Medis

D. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit

Sub proses :

1. Pasang infus Ringer laktat dan Dextrose / Glukose 10% dengan perbandingan 1 : 1 (RLG 5%)

2. Berikan Glukose 10% intravena (iv) bolus, dosis 5 ml/KgBB

3. Berikan Formula ReSoMal 5 ml/KgBB/NGT (Naso Gastric Tube)

E. Mengobati infeksi

Sub proses :

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik / Klinis

3. Pemeriksaan penunjang

4. Penegakan diagnosa medis

5. Pengobatan penyakit infeksi

F. Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro

Sub proses :

1. Berikan makanan tanpa mineral Fe pada saat fase stabilisasi dan fase transisi

2. Berikan makanan mengandung mineral Fe pada saat fase rehabilitasi dan fase tindak lanjut

G. Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi

Sub proses :

1. Berikan makanan yang mengandung Vit A, Asam Folat, Multi vitamin tanpa Fe pada fase stabilisasi

2.  Berikan makanan yang mengandung Multivitamin tanpa Fe pada fase transisi

3.  Berikan Formula ReSoMal

4.  Berikan Formula WHO ( Formula 75, Formula 100, Formula 135 ).

H. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar

Sub proses :

1. Berikan makanan “Tinggi kalori Tinggi protein”

2. Berikan makanan yang mengandung multivitamin dan mineral termasuk Fe

I. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang

Sub proses :

1. Berikan Kasih Sayang

2. Berikan situasi Lingkungan yang ceria

3. Berikan Terapi bermain terstruktur selama 15 – 30 menit / hari

4. Dorong aktivitas fisik anak setelah sembuh

5. Libatkan kegiatan ibu dalam aktivitas anak ( memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya )

J. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah

Sub proses :

1. Berikan Pola pemberian makan anak seperti makanan biasa.

2. Berikan stimulasi pada anak saat di rumah setelah anak pulang dari rumah sakit.

3. Berikan makan dengan porsi kecil dan sering, sesuai dengan umur anak

4. Bawalah anak untuk kontrol secara teratur

Bulan I  = 1 kali / minggu

Bulan II  = 1 kali / 2 minggu

Bulan III = 1 kali / bulan

5.  Pemberian suntikan / imunisasi dasar dan ulangan (booster)

 6.  Pemberian vit A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali ( dosis sesuai umur )

III. MODUS KEGAGALAN

1. Sub proses :

Pasang infus Ringer laktat dan Dextrose / Glukose 10% dengan perbandingan 1 : 1 (RLG 5%)

Modus Kegagalan :

1. Ada udara di selang infus

2. Tidak pakai pelindung / sarung tangan

3. Teknik Disinfeksi yang tidak benar

4. Tidak mengatur dengan tepat tetesan infus

2. Sub proses :

Berikan infus Glukose 10% intravena (iv) bolus, dosis 5 ml/KgBB

Modus Kegagalan :

1. Ada udara di selang infus

2. Tidak pakai pelindung / sarung tangan

3. Teknik Disinfeksi yang tidak benar

4. Tidak mengatur dengan tepat tetesan infus

3.  Sub proses :

Berikan Formula ReSoMal 5 ml/KgBB/NGT (Naso Gastric Tube)

Modus Kegagalan :

a. Petugas instalasi gizi tidak menggunakan standar resep yang ada

b. Petugas bangsal tidak trampil dalam memberikan makanan lewat pipa / NGT

c. Jadwal pemberian makanan yang tidak tepat

d. Jumlah porsi makanan yang tidak sesuai kebutuhan

IV. HAZARD ANALISIS

MODUS KEGAGALAN

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

Probabilitas

Nilai Hazard

Berikan Formula ReSoMal 5 ml/KgBB/NGT (Naso Gastric Tube)

Petugas instalasi gizi tidak menggunakan standar resep yang ada

3

2

6

Petugas bangsal tidak trampil dalam memberikan makanan lewat pipa / NGT

3

2

6

Jadwal pemberian makanan yang tidak tepat

2

3

6

Jumlah porsi makanan yang tidak sesuai kebutuhan

3

3

9













V. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Petugas instalasi gizi tidak menggunakan standar resep yang ada

6

Ya

Ya


Petugas bangsal tidak trampil dalam memberikan makanan lewat pipa / NGT

6

Ya

Ya


Jadwal pemberian makanan yang tidak tepat

Picture of Pambudi mmr
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Pambudi mmr - Tuesday, 18 October 2011, 09:58 PM
 
Maaf Bu dokter Arlina,
kiriman tugas saya kok tidak bisa terkirim semua, ini saya kirimkan terusan analisis pohon keputusan dan seterusnya.

Terusan PENATALAKSANAAN ANAK GIZI BURUK

V. ANALISIS POHON KEPUTUSAN

POTENSI PENYEBAB

POINT TUNGGAL

ADAKAH KONTROL

APAKAH MUDAH DIDETEKSI

PROSES

Petugas instalasi gizi tidak menggunakan standar resep yang ada

6

Ya

Ya


Petugas bangsal tidak trampil dalam memberikan makanan lewat pipa / NGT

6

Ya

Ya


Jadwal pemberian makanan yang tidak tepat

6

Ya

Ya


Jumlah porsi makanan yang tidak sesuai kebutuhan

9

Ya

Ya


VI. RENCANA TINDAKAN

Sub proses yang dipilih :

Jumlah porsi makanan yang tidak sesuai kebutuhan ( tidak sesuai dengan instruksi / perintah dokter).

1. Jumlah porsi makanan yang tidak sesuai kebutuhan :

- Bila porsi makanan yang diberikan kurang maka fungsi makanan yang rencananya untuk memperbaiki keseimbangan elektrolit tidak tercapai, sehingga anak gizi buruk tetap lemas, tidak ada gairah, apatis bahkan tidak ada tanda-tanda klinis membaik. Hal ini akan memperpanjang masa rawat inap anak.

Jika energi anak gizi buruk yang dibutuhkan kurang / tidak tercukupi maka untuk memenuhi kebutuhan energinya, harus membongkar jaringan lemak tubuh. Anak gizi buruk akan semakin kurus, hal ini bisa mengakibatkan pertumbuhan otak dan fisik tubuh terganggu, jika semakin berat bisa mengakibatkan kematian.

- Untuk itu sub proses ini harus dikontrol.

Adapun rencana tindakannya sebagai berikut :

A. Di Instalasi Gizi

1. Jumlah tenaga ahli gizi yang ada harus cukup sesuai standar

(Untuk rumah sakit tipe D, tenaga ahli gizi yang ada biasanya sangat terbatas).

2. Penanggung jawab kegiatan ini adalah petugas gizi minimal lulusan D3 Gizi.

3. Mengadakan penyegaran / pelatihan ulang mengenai cara membuat formula ReSoMal, sehingga pembuatan formula ReSoMal untuk gizi buruk sesuai standar resep, tepat porsi dan tepat jadwal pemberian makanan.

B. Instalasi Rawat Inap

1. Bagian Pelayanan medis untuk selalu mengevaluasi perkembangan anak secara kontinyu dan komprehensif

2. Mengadakan penyegaran / pelatihan ulang mengenai ketrampilan dalam memberikan makanan lewat pipa / NGT

3. Perawat bangsal anak secara rutin wajib memantau perkembangan anak gizi buruk setiap hari

VII. DUKUNGAN MANAJEMEN

1. Menjalankan program supervisi keperawatan untuk ikut memantau perkembangan anak gizi buruk setelah di rawat di rumah sakit

2. Bagian Diklit untuk menyiapkan anggaran dan melaksanakan pelatihan bagi petugas


Picture of Pambudi mmr
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Pambudi mmr - Tuesday, 18 October 2011, 10:28 PM
 
Untuk Mayfuza Huzain.
Imunisasi DPT, biasanya di rumah sakit diberikan obat penurun panas oleh dokter anak. Usul nih,..... Sebaiknya untuk imunisasi pelayanan bayi dan balita , bagian farmasi ikut dimasukkan sebagai ANGGOTA TIM. Terimakasih.
Picture of Pambudi mmr
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Pambudi mmr - Tuesday, 18 October 2011, 10:55 PM
 
Komentar untuk Daniswara.
Untuk pelayanan tranfusi darah / mengambil darah dari pendonor, sebaiknya dilengkapi di rumah sakit atau di PMI ? Karena yang berhak untuk melakukan tranfusi darah / mengambil darah dari pendonor adalah PMI, Rumah sakit jika mempunyai unit / instalasi bank darah hanya melakukan uji silang / uji cocok serasi. Bank Darah Rumah Sakit mempunyai tugas : mengajukan permintaan darah ke PMI, menyimpan darah (dari PMI), melakukan uji cocok serasi, dan memasukkan darah ke pasien. Terima kasih.
Picture of Adinda Smitaningrum Kinasih
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA - Adinda Smitaningrum Kinasih - 20101021003
by Adinda Smitaningrum Kinasih - Wednesday, 19 October 2011, 02:06 AM
 
I.Proses yang dianalisa :
Pelayanan Pasien Trauma Kepala di ruang Gawat Darurat

II.Bentuk TIM :
Ketua : Dokter Spesialis Bedah
Anggota :
1. Dokter Spesialis Saraf
2. Dokter Spesialis Bedah Saraf
3. Dokter Spesialis Radiologi
4. Dokter umum (dokter Jaga UGD)
5. Kepala Unit Gawat Darurat
6. Perawat UGD
7. Staff Radiologi

Apakah semua area yang terkait sudah terwakili? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda, sudah diwakili didalam Tim
tersebut? YA
Siapa yang menjadi notulen ? Kepala Unit Gawat Darurat
Tanggal dimulai 18 Oktober 2011, tanggal dilengkapi 1 November 2011

III.Tahapan Proses :
1. Pendaftaran pasien
2. Anamnesa dan pemeriksaan oleh dokter UGD
Tahapan sub proses :
1. Identifikasi tingkat keparahan trauma kepala
2. Identifikasi indikasi untuk melakukan CT Scan kepala
3. Stabilisasi kondisi pasien
4. Memutuskan pasien rawat jalan atau rawat inap

IV.Analisis Hazard
A. Anamnesa dan pemeriksaan klinis pasien Modus kegagalan :
1.Anamnesa tidak lengkap : 3,3,9
2.Pemeriksaan klinis tidak lengkap dan runtut : 3,3,9
3.Petugas yang melakukan belum berpengalaman : 3,2,6
B.Identifikasi derajat keparahan cedera kepala
Modus kegagalan :
Petugas kurang berpengalaman sehingga penilaian tidak akurat : 4,3,12
C. identifikasi indikasi CT Scan Kepala
Modus kegagalan :
1.Tidak ada acuan indikasi CT Scan kepala : 3,2,6
2.Tidak samanya persepsi dokter dalam hal indikasi CT Scan Kepala : 3,3,9
D. Stabilisasi kondisi pasien
1.Petugas yang ada adalah petugas baru yang belum banyak pengalaman : 3,3,9
2.Peralatan yang kurang memadai atau tidak siap : 3,2,6

V. Analisis Pohon Keputusan
1.Anamnesa tidak lengkap : 9,Ya,Ya
2.Pemeriksaan klinis tidak lengkap dan runtut : 9,Ya,Ya
3.Petugas yang melakukan belum berpengalaman : 6,Ya,Ya
4.Petugas kurang berpengalaman sehingga penilaian tidak akurat : 12,Ya,Ya
5.Tidak ada acuan indikasi CT Scan kepala : 6,Ya,Ya
6.Tidak samanya persepsi dokter dalam hal indikasi CT Scan Kepala : 9,Ya,Ya
7.Petugas yang ada adalah petugas baru yang belum banyak pengalaman : 9,Ya,Ya
8.Peralatan yang kurang memadai atau tidak siap : 6,Ya,Ya

VI. Tindakan
Dapat dilihat bahwa pada pasien dengan trauma kepala, hampir keseluruhan pelayanan yang diberikan memiliki resiko angka hazard yang besar.
Oleh karena itu pasien dengan cedera kepala baik ringan, sedang, maupun berat harus mendapatkan perhatian khusus dari petugas Unit Gawat Darurat baik perawat, maupun dokter.
Tindakan yang dapat diambil oleh pihak manajemen dalam rangka mengurangi resiko hazard tersebut antara lain :
1. Melakukan kontrol rutin terhadap kompetensi petugas UGD
2. Mengontrol kompetensi tenaga kerja tambahan (contoh : mahasiswa magang) yang ada di UGD, bila perlu lakukan sosialisasi dan pelatihan protap pelayanan pasien dengan cedera kepala sebelum mulai bertugas.
3. Memberikan pelatihan berkala terhadap petugas UGD
4. Memberikan pelatihan terhadap petugas UGD baru
5. Memberikan SOP maupun acuan yang jelas dan berdasar EBM mengenai indikasi CT Scan
6. Memberikan SOP maupun acuan yang jelas mengenai kriteria memondokkan maupun memulangkan pasien dengan cedera kepala
7. Melakukan kontrol terhadap peralatan Gawat Darurat di UGD setiap 2 minggu sekali




Picture of Abdul Muin Sofyan
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Abdul Muin Sofyan - Wednesday, 19 October 2011, 11:03 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (HFMEA)

1. Judul : Penatalaksnaan Tranfursi Darah di Rumah Sakit

2. Bentuk tim :

3. Ketua : Ka.Instalasi Laboratorium

4. Anggota :

a. Wakil Direktur Pelayanan Medis,

b. Ka.Instalasi Rawat Inap,

c. Ka.Instalasi Rawat jalan,

d. Ka. Instalasi Gawat darurat,

e. Ka. Ruang/Bangsal. 

5. Apakah semua sudah terwakili? YA

6. Apakah macam-macam & tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili didalam tim tersebut ?

7. Siapa yang menjadi notulen? Ka.Instalasi Laboratorium

8. Tanggal dimulai : 18 September, tanggal dilengkapi : 18 Oktober 2011

9. Tahapan proses :

a. Pengajuan permintaan darah,

b. Pengiriman contoh darah pasien,

c. Penyerahan darah yang diminta pasien,

d. Pengelolaan darah tidak terpakai.

Pengajuan permintaan darah:

1. Permintaan darah yang diajukan oleh dokter yang merawat pasien,

2. Surat permintaan darah dibuat rangkap 3 (tiga) dengan rincian lembar pertama dan kedua untuk Bank darah, lembar kedua untuk bangsal dan surat permintaan darah harus diisi lengkap dan jelas,

3. Dokter yang mengajukan permintaan darah harus membubuhkan nama dan tanda tangan pada surta permintaan darah,

4. Pengajuan surat permintaan darah harus disertai contoh darah pasien, contoh: darah harus disertai identitas pasien dengan lengkap dan jelas,

5. Surat permintaan darah diantar ke Bank Darah oleh perawat atau petugas RS yang ditunjuk

6. Petugas Bank Darah melakukan pemeriksaan uji cocok serasi antaar darah donor dan darah pasien.

Pengiriman contoh darah pasien:

1. Contoh darah yang dimaksud adalah darah vena yang diambil langsung dengan spuit tanpa ditambah anticoagulant,

2. Kemasan contoh darah harus diberi identitas pasien dengan lengkap dan jelas,

3. Contoh darah yang tidak diberi identitas akan ditolak,

4. Jumlah/volume pengiriman contoh darah adalah 2 (dua) cc untuk pasien anak-anak dan 5 (lima) cc untuk pasien dewasa,

5. Contoh darah segera dikirim ke Bank Darah,

6. Petugas darah menerima contoh darah, member kode sampel dan menuliskan pada buku penerimaan contoh darah pasien.

Penyerahan darah yang diminta pasien :

1. Perawat/petugas RS mengambil darah yang siap untuk transfursi ke Bank Darah RS dengan membawa identitas pasien kemudian mengecek dan mencocokkan kartu identitas, melengkapi label darah dengan mengisi nomor kantong, golongan darah, volume, jenis komponen, tanggal proses, tanggal kadaluwarsa, jam, nama pasien RS, hasil uji cocok serasi dan skrining, tanggal penyerahan,

2. Petugas Bank Darah mencocokkan nomor kantong pada selang kantong darah dengan label dan sticker kantong darah semuanya harus cocok

10. Modus kegagalan :

a. Kesalahan hasil pemeriksaan golongan darah.

Pemeriksaan golongan darah pertama B sebenarnya A.

b. Type kesalahan/insiden yaitu Kejadian nyaris cedera/KNC (near miss).

c. Orang pertama yang melaporkan : petugas Bank darah (PMI).

d. Insiden terjadi pada pasien ICU yaitu terjadi pada post operasi SC pre eklamsia.

e. Unit kerja penyebab yaitu Labratorium.

11. Rencana Tindakan :

a. Diperiksa ulang, hasil ternyata yang pertama memang keliru, kemudian hasil laboratorium dorevisi,

b. Insiden ini termasuk kejadian yang Tidak Diharapkan (KTD) bagi petugas laboratorium dan Kejadian Nyaris Cedera/KNC (near miss) karena darah belum dimasukkan ke pasien.

c. Untuk itu system pelayanan berupa SOP (Standar Operating Prosedure) harus dijalankan sesuai standar yang diharapkan.

Picture of Ika Resti Afriani
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Ika Resti Afriani - Thursday, 20 October 2011, 03:34 PM
 
Nama : Ika Resti Afriani
NIM : 20101021027

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAK (AMDK)

1. PROSES YANG DIANALISA

Tertukarnya Pemberian Obat  Injeksi di Instalasi Gawat Darurat RS X

Latar belakang: dalam waktu 1 bulan terjadi kelalaian dalam memasukkan obat (injeksi metoclorpamid salah yang dimasukkan injeksi ranitidine) karena tertukar injeksinya sebanyak 2x kasus. Pernah terjadi juga beberapa bulan yang lalu, tertukar antibiotic preoperasi dan terjadi reaksi alergi ringan dapat diatasi hanyasaja waktu mondok di bangsal menjadi lebih lama.


2. PEMBENTUKAN  TIM
Ketua: Kepala Instalasi Gawat Darurat
Anggota:
Manajer Pelayanan Medik
Kepala Komite Medik
Koordinator Dokter Jaga IGD
Kepala Bagian Keperawatan
Kepala Seksi Keperawatan
Perwakilan Perawat IGD
Perwakilan Bagian Pengadaan RS

Apakah semua area sudah terwakili? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA
Siapa yang menjadi notulen? Perwakilan Perawat IGD
Tanggal dimulai : 03 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 10 Oktober 2011


3. TAHAPAN PROSES
a. Dokter Jaga IGD menentukan injeksi yang akan diberikan sesuai diagnosis pasien
Sub Proses:
Anamnesis
Pemeriksaan fisik
Pembacaan pemeriksaan penunjang (bila diperlukan)
Penegakan Diagnosis
Penentuan obat injeksi yang akan diberikan
Pendelegasian tugas kapada perawat untuk malakukan tindakan injeksi kepada pasien dengan jelas ( nama, dosis, cara pemberian obat serta nama pasien )
b. Perawat Melakukan Persiapan Obat Injeksi yang akan diberikan
Sub Proses:
Perawat menerima pendelegasian tugas dari dokter jaga IGD
Perawat mengkonfirmasi ulang obat yang di delegasikan
Perawat mengambil obat yang di delegasikan dari ruang/lemari obat di IGD
Perawat memasukkan obat ke dalam spuit injeksi sesuai dosis
Perawat memastikan isi obat dan nama pasien yang akan diinjeksi, jangan sampai tertukar bila pasien lebih dari satu
c. Perawat Melakukan Injeksi kepada pasien
Sub proses:
Perawat memastikan ulang pasien yang akan di injeksi adalah pasien yang tepat
Perawat memastikan obat yang akan diinjeksikan adalah tepat sesuai delegasi
Perawat menentukan lokasi injeksi
Perawat melakukan tindakan desinfeksi pada lokasi penyuntikan
Perawat melakukan skin test (pada obat-obat tertentu seperti antibiotic dan anti tetanus serum
Perawat mengecek raksi skin test ( bila dilakukan skin test)
Perawat melakukan injeksi kepada pasien
Perawat mencatat tindakan yang telah dilakukan di Rekam Medis pasien
d. Evaluasi post injeksi
Sub Proses:
Evaluasi adanya reaksi alergi
Evaluasi keluhan membaik/memburuk
Cek vital sign

4. HAZARD ANALISIS

Modus Kegagalan: Perawat Melakukan Persiapan Obat Injeksi yang akan diberikan
Sub Proses:
a. Perawat menerima pendelegasian tugas dari dokter jaga IGD
Modus kegagalan:
Dokter memberikan instruksi yang kurang jelas
Perawat menerima pendelegasian dengan kurang jelas
Perawat yang diberikan instruksi lebih dari 1 sehingga menimbulkan kebingungan
b. Perawat mengkonfirmasi ulang obat yang di delegasikan
Modus kegagalan:
Tidak dilakukan konfirmasi ulang dalam hal nama, dosis dan cara pemberian
Mendelegasikan kepada perawat lain
c. Perawat mengambil obat yang di delegasikan dari ruang/lemari obat di IGD
Modus kegagalan:
Perawat tidak melihat label obat sehingga salah mengambil obat meskipun dalam rak yang sudah tepat
d. Perawat memasukkan obat ke dalam spuit injeksi sesuai dosis
Modus kegagalan:
Pemasukan obat kurang atau lebih dari dosis yang diinstruksikan
e. Perawat memastikan isi obat dan nama pasien yang akan diinjeksi
Modus kegagalan:
Perawat tidak tahu jenis obat yang dimasukkan
Spuit tertukar dengan spuit lain dengan isi obat yang berbeda namun tampilan sama
Perawat tidak tahu pasien mana yang akan disuntik

Analisis Hazard

Modus kegagalan :Perawat memastikan isi obat dan nama pasien yang akan diinjeksi

Potensi penyebab:
Perawat tidak tahu jenis obat yang dimasukkan : 2. 3 = 6

Spuit tertukar dengan spuit lain dengan isi obat yang berbeda namun tampilan sama : 2 . 4 = 8

Perawat tidak tahu pasien mana yang akan disuntik: 2 . 2 = 4


Analisis pohon keputusan

Potensi penyebab:

Perawat tidak tahu jenis obat yang dimasukkan = kontrol (Ya) Deteksi mudah (Ya)

Spuit tertukar dengan spuit lain dengan isi obat yang berbeda namun tampilan sama = kontrol (Ya) Deteksi mudah (Ya)

Perawat tidak tahu pasien mana yang akan disuntik = kontrol (Ya) Deteksi mudah (Ya)


5. RENCANA INDAKAN
Sub proses yang dipilih : Spuit tertukar dengan spuit lain dengan isi obat yang berbeda namun tampilan sama.
Tindakan yang dipilih untuk sub proses ini : melakukan kontrol
Pada kasus ini sering terjadi terutama pada saat IGD dalam keadaan ramai. Spuit yang tertukar dapat dikontrol dengan pemberian label jenis injeksi dan nama pasien yang akan di injeksi obat tersebut. Dengan kewaspadaan ini dapat mengontrol terjadinya ksalahan tertukarnya spuit berisi obat tersebut. Label dapat berupa etiket dari ampul/flacon obat, tulisan dengan spidol permanen atau pengadaan label khusus untuk spuit. Selain itu, untuk meningkatkan control perlu dibuat SOP baru tata laksana injeksi dengan memasukan point pelabelan di dalamnya. Dari kasus ini akan dapat dipelajari bahwa hal sepele seperti pelabelan tidak boleh dikesampingkan. Dari hanya tertukar spuit injeksi dapat menyebabkan kerugian baik bagi pasien maupun management RS.



Picture of Pangisti Dwi Ananingsih
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Pangisti Dwi Ananingsih - Wednesday, 26 October 2011, 12:50 AM
 

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

1. Proses Yang Dianalisis

Pelayanan pasien pada Instalasi Hemodialisis

2. Bentuk TIM

Ketua : Kepala Instalasi Hemodialisis

Anggota :

a. Doker Spesialis Penyakit Dalam

b. Manajer Pelayanan Medik

c. Kepala Komite Medik

d. Kepala Bagian Keperawatan

e. Perwakilan Perawat Hemodialisa

Apakah semua area sudah terwakili? YA

Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA

Siapa yang menjadi notulen? Perwakilan Perawat Hemodialisa

Tanggal dimulai : 18 Oktober 2011 Tanggal dilengkapi : 25 Oktober 2011

3. Tahapan Proses

a. Sebelum dilakukan hemodialisis

Sub Proses

- Pasien harus melakukan urinasi

- Perawat memeriksa tanda-tanda vital.

- Perawat timbang berat badan pasien dan dikomunikasikan dengan perawat dialysis.

- Biasanya pemberian obat antihipertensi, sedatif dan vasodilator sebelum dilakukan terapi, ini sangat penting karena perubahan cardiovasculer yang terjadi selama dialisis.

b. Selama hemodialisis

Sub Proses

- cek tanda-tanda vital pasien harus diperiksa setiap 30 menit.

- Pasien harus tetap beristirahat ditempat tidur tetapi harus sering berubah posisi

- Jelaskan pada pasien bahwa sakit kepala dan mual mungkin akan dialami dan harus lapor pada perawat.

- Perawat harus memberikan makanan selama dialisis.

c. Setelah hemodialisis

Sub Proses

- Perawat harus menimbang berat badan dengan menggunakan skala yang sama seperti yang digunakan sebelum dialisis, pasti terjadi reduksi berat badan setelah terapi.

- Perawat mengkaji adakah komplikasi dari paska hemodialisis seperti hipotensi, syok hipovolume hingga sindrom disequilibrium, jika ada beritahu dokter.

d. Evaluasi

Sub Proses

- Perawatan yang dilakukan oleh perawat adalah menjaga agar pasien tetap tenang dan memberikan analgesik ringan untuk mengontrol sakit kepala yang dirasakan.

4. Tahapan Subproses

a. Perawat harus menimbang berat badan dengan menggunakan skala yang sama seperti yang digunakan sebelum dialisis, pasti terjadi reduksi berat badan setelah terapi.

Modus kegagalan :

- perawat tidak menggunakan skala yang sama sebelum dialisis

- alat pemimbang berat yang tidak akurat

- perawat lupa menimbang pasien setelah hemodialisis

b. Perawat mengkaji adakah komplikasi dari paska hemodialisis

Modus kegagalan :

- Pasien tidak menyampaikan keluhan yang dirasakan setelah proses homodialisa

- Perawat tidak mengkaji dengan baik pasca hemodialisis

- Kurangnya pengetahuan perawat tentang efek samping hemodialisis

5. Analisis Hazard

Modus kegagalan : evaluasi awal modus kegagalan sebelum

POTENSI PENYEBAB

SKORING

Kegawatan

Probabilitas

Nilai Hazard

Perawat mengkaji adakah komplikasi dari paska hemodialisis

1) Pasien tidak menyampaikan keluhan yang dirasakan setelah proses homodialisa

1

4

4

2) Perawat tidak mengkaji dengan baik pasca hemodialisis

1

4

4

3) . Kurangnya pengetahuan perawat tentang efek samping hemodialisis

2

4

8

6. Analisis Pohon Keputusan

POTENSI PENYEBAB

Poin Tunggal Kelemahan?

Adakah Kontrol / Pengendalian?

Apakah Mudah Dideteksi?

Proses?

1) Pasien tidak menyampaikan keluhan yang dirasakan setelah proses homodialisa

4

Ya

Ya


2) Perawat tidak mengkaji dengan baik pasca hemodialisis

4

Ya

Ya


3) Kurangnya pengetahuan perawat tentang efek samping hemodialisis

 8

Ya

Ya


SubProses yang dipilih : Kurangnya pengetahuan perawat tentang efek samping hemodialisis

Subproses ini bisa dan harus dikontrol.

Subproses ini dapat berakibat kejadian komplikasi dari paska hemodialisis seperti hipotensi syok hipovolume dan sindrom disequilibrium yang mana dapat mengakibatkan hal yang tidak baik bagi pasien.

Subproses ini dapat dikontrol dengan melakukan kontrol rutin terhadap kompetensi perawat hemodialisa, memberikan pelatihan berkala terhadap perawat hemodialisa, memberikan pelatihan terhadap perawat hemodialisa baru, serta diperlukannya SOP yang jelas dalam penanganan komplikasi paska hemodialisis.

Picture of Bangkit Ina Ferawati
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Bangkit Ina Ferawati - Wednesday, 7 March 2012, 01:23 PM
 
NAMA : BANGKIT INA FERAWATI
NIM : 20101021008

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)
I. Proses yang dianalisa: Sindroma Post TURP (Transurethral Resection of the Prostat) dikarenakan diagnosa dan penatalaksanaan yang tidak tepat.
II. Bentuk TIM:
Ketua : Kepala SMF Bedah Urologi
1. Anggota :
  • Kepala SMF Anestesiologi dan Reanimasi
  • Kepala SMF Ilmu Penyakit Dalam
  • Kepala Instalasi Kamar Operasi
  • Kepala ICU
  • Kepala Instalasi Radiologi
  • Kepala Instalasi Laboratorium Klinik
  • Kepala Instalasi Patologi Anatomi
  • Kepala Bidang Pelayanan Medik
  • Kepala Perawat Kamar Operasi
  • Operator/Dokter Spesialis Bedah Urologi
Apakah semua area sudah terwakili? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA
Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bidang Pelayanan Medik
Tanggal dimulai : 1 Desember 2011 Tanggal dilengkapi : 21 Desember 2011
III. Urutan Proses Pelayanan
A. Tahapan Proses
1. Pasien datang ke Poli Bedah Urologi
Tahapan sub proses:
a. Pendaftaran pasien di Poli Bedah Urologi
b.Anamnesa dan pemeriksaan fisik oleh Spesialis Bedah Urologi
d. Pemeriksaan laboratorium klinik dan radiologi
e. Penentuan diagnosa BPH (Benign Prostat Hyperthropy), namun ada kemungkinan Suspek Ca Prostat
g. Dilakukan tindakan operasi yang disebut TURP (Transurethral Resection of the Prostat)
h. Konsultasi ke dokter Spesialis Anestesi dan Reaminasi
i. Mendaftarkan pasien ke kamar operasi
j. Persiapan pasien untuk tindakan operasi
2. Pasien dikirim ke kamar operasi
Tahap sub proses:
a. Perawat mengantarkan pasien ke kamar operasi
b. Serah terima pasien dari perawat pengantar pasien kepada perawat kamar operasi
c. Pasien dipindahkan ke meja kamar operasi
3. Persiapan sebelum tindakan operasi
Tahap sub proses:
a. Pemeriksaan identitas pasien
b. Pemeriksaan keadaan umum pasien dan hasil pemeriksaan Laboratorium Klinik, terutama PSA (Prostat Specific Antigen) dan pemeriksaan Radiologi, terutama IVP (Intra Venous Pyelography)
c. Persiapan obat anestesi
e. Proses anestesi pasien oleh dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi
4. Proses operasi
a. Memastikan kembali diagnosa pasien
b. Melakukan operasi oleh dokter Spesialis Bedah Urologi
B. Tahap sub proses
1. Pemeriksaan identitas pasien
Modus kegagalan:
a. Identifikasi yang tidak valid, dimana menurut WHO bahwa untuk identifikasi pasien minimal dua data, yaitu nama dan tanggal lahir, namun dapat juga dipastikan dengan nomor rekam medis, alamat, pekerjaan dan pendidikan. Proses identifikasi yang tidak sesuai ketentuan dapat menyebabkan tertukarnya pasien yang akan dilakukan tindakan operasi bila terdapat pasien dengan nama yang sama. Tidah diperbolehkan mengidentifikasi pasien berdasarkan kamar pasien dirawat atau nomor tempat tidur pasien.
2. Anamnesa pasien
Modus kegagalan:
a. Autoanamnesa kurang lengkap dan terarah
b. Alloanamnesa kurang lengkap
3. Pemeriksaan fisik yang kurang seksama
Modus kegagalan:
a. Pemeriksaan yang kurang seksama, lengkap dan teliti
b. Kesalahan interpretasi gejala klinis dan tanda-tanda khas pada pemeriksaam fisik
c. Pemeriksaan tidak memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimal)
4. Pemeriksaan penunjang
Modus kegagalan:
a. Pembacaan hasil foto roentgen (IVP) yang kurang teliti
b. Proses radiografi yang tidak memenuhi SPO (Standard Procedure Operation)
c. Hasil laboratorium (PSA) yang berada di area greyzone sehingga belum dapat membantu menegakkan diagnosa
5. Diagnosa pasien pada kasus Retensio Urine ec BPH (Benigna Prostat Hyperthropy)
Modus kegagalan:
a. Diagnosa yang tidak tepat karena anamnesa yang tidak seksama
b. Diagnosa yang tidak tepat karena pemeriksaan fisik yang tidak teliti oleh dokter Spesialis Bedah Urologi
c. Diagnosa yang tidak tepat karena pembacaan foto roentgen (IVP) yang tidak teliti
6. Observasi proses dan pasca tindakan medis/ operasi
Modus kegagalan:
a. Diagnosis pasti pasien diketahui saat di meja operasi (Ca Prostat)
b. Tenaga medis atau dokter ahli yang kurang kompeten dalam melakukan tindakan operasi TURP
c. Dokter ahli melakukan operasi TURP tidak sesuai dengan SPO (Standard Procedure Operation)
di Rumah Sakit tersebut
d. Observasi pasien yang kurang ketat dan belum memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimal)
IV. Analisa Hazard
Modus kegagalan:
Potensi penyebab
Scoring kegawatan
Scoring Scoring probability hazard
1.Diagnosa yang tidak tepat













2.Komplikasi yang terjadi pasca operasi Sindroma Post TURP (Transurethral Resection of the Prostat)

1.Diagnosa tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik dan tidak sesuai SPM

2. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SPM dan kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang

1. Proses operasi yang tidak sesuai SPO karena skill operator (dokter Spesialis Bedah Urologi) yang kurang kompeten

3






3







3
3 9






3 9







3 9

Analisis pohon keputusan
Potensi penyebab
Poin Tunggal Kelemahan?
Adakah Kontrol / Pengendalian?
Apakah Mudah Dideteksi?
a. Diagnosa tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik dan tidak sesuai SPM

b. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SPM dan kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang

c Proses operasi yang tidak sesuai SPO karena skill
Skor > 8






Skor > 8







Skor > 8

Ya






Ya







Ya

Ya






Ya







Ya





V. Yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut(di Kontrol, Eliminasi atau Diterima)
a) Sub proses yang dipilih: diagnosa yang tidak tepat yang tidak sesuai SPM dan tindakan operasi yang tidak sesuai SPO (Standard Procedure Operation) .
b) Sub proses ini harus di kontrol.
Pasien dengan retensio urine yang awalnya didiagnosa BPH oleh dokter Spesialis Bedah Urologi ternyata diagnosanya adalah Ca Prostat yang diketahui di meja operasi. Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan pelaksanaan pemeriksaan dan penanganan pasien retensio urine sesuai SPM (Standar Pelayanan Medik) yang telah ditetapkan Rumah Sakit. Pasien yang datang ke poli bedah urologi seharusnya diperiksa oleh dokter Spesialis Bedah Urologi dengan tepat dan akurat sesuai dengan SPM (Standar Pelayanan Minimal) Rumah Sakit. Kemampuan (skill) dokter yang memeriksa pasien seharusnya memiliki kompetensi yang sesuai keahliannya atau tersertifikasi sebagai dokter Spesialis Bedah Urologi. Diagnosis pasien secara tepat harus ditunjang dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang harus mengikuti SPM Rumah Sakit dalam membantu menegakkan diagnosa. Interprestasi hasil pemeriksaan penunjang berperan penting dalam menegakkan diagnosa. Rumah Sakit melalui Kepala SMF Bedah urologi berupaya meningkatkan kemampuan (skill) physic diagnostic dokter-dokter Spesialis Bedah Urologi dengan mengikutsertakankan dalam pelatihan-pelatihan khusus dalam diagnosis retensio urine dan penatalaksanaannya yang terbaru. Kompetensi dokter spesialis pun harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan, dimana sertifikasi untuk dokter spesialis harus tetap di-update dengan mengikuti seminar-seminar dan workshop yang menunjang kemampuannya sesuai bidang masing-masing. Bila terdapat keraguan dalam menegakkan diagnosa disarankan untuk konsultasi terhadap dokter Spesialis yang lebih senior. Interpretasi hasil pemeriksaan penunjang seharusnya dapat dilakukan secara tepat dan akurat, dan dilakukan pembacaaan hasil oleh minimal dua observer/dokter spesialis dalam pembacaan atau interprestasi hasil pemeriksaan penunjang.
Sindroma post TURP sangat jarang terjadi setelah dilakukan tindakan operasi TURP. Sindroma post TORP seharusnya tidak terjadi bila cairan irigasi yang digunakan tidak berlebihan selama proses operasi. Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan menetapkan tindakan operasi yang harus dilakukan oleh operator atau dokter Spesialis Bedah yang kompeten dalam keahliannya melakukan tindakan dan operasi. Dokter Spesialis Bedah yang menjadi operator harus memiliki sertifikat tindakan operasi tersebut (dokter sudah bersertifikasi). Selain itu operator atau dokter Spesialis yang bersangkutan harus sudah dinilai kompeten dalam melakukan tindakan dan operasi tersebut dengan supervisi dari dokter Spesialis Bedah / operator yang sudah bersertifikasi dan berpengalaman di bidangnya. Operator atau dokter Spesialis Bedah harus melakukan proses tindakan operasi sesuai SPO (Standard Procedure Operation)



Picture of Bangkit Ina Ferawati
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Bangkit Ina Ferawati - Wednesday, 7 March 2012, 09:40 PM
 
NAMA : BANGKIT INA FERAWATI
NIM : 20101021008

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)
I. Proses yang dianalisa: Sindroma Post TURP (Transurethral Resection of the Prostat) dikarenakan diagnosa dan penatalaksanaan yang tidak tepat.
II. Bentuk TIM:
Ketua : Kepala SMF Bedah Urologi
1. Anggota :
  • Kepala SMF Anestesiologi dan Reanimasi
  • Kepala SMF Ilmu Penyakit Dalam
  • Kepala Instalasi Kamar Operasi
  • Kepala ICU
  • Kepala Instalasi Radiologi
  • Kepala Instalasi Laboratorium Klinik
  • Kepala Instalasi Patologi Anatomi
  • Kepala Bidang Pelayanan Medik
  • Kepala Perawat Kamar Operasi
  • Dokter Spesialis Bedah Urologi/Operator
Apakah semua area sudah terwakili? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA
Siapa yang menjadi notulen? Kepala Bidang Pelayanan Medik
Tanggal dimulai : 1 Desember 2011 Tanggal dilengkapi : 21 Desember 2011
III. Urutan Proses Pelayanan
A. Tahapan Proses
1. Pasien datang ke Poli Bedah Urologi
Tahapan sub proses:
a. Pendaftaran pasien di Poli Bedah Urologi
b.Anamnesa dan pemeriksaan fisik oleh Spesialis Bedah Urologi
d. Pemeriksaan laboratorium klinik dan radiologi
e. Penentuan diagnosa BPH (Benign Prostat Hyperthropy), namun ada kemungkinan Suspek Ca Prostat
g. Dilakukan tindakan operasi yang disebut TURP (Transurethral Resection of the Prostat)
h. Konsultasi ke dokter Spesialis Anestesi dan Reaminasi
i. Mendaftarkan pasien ke kamar operasi
j. Persiapan pasien untuk tindakan operasi
2. Pasien dikirim ke kamar operasi
Tahap sub proses:
a. Perawat mengantarkan pasien ke kamar operasi
b. Serah terima pasien dari perawat pengantar pasien kepada perawat kamar operasi
c. Pasien dipindahkan ke meja kamar operasi
3. Persiapan sebelum tindakan operasi
Tahap sub proses:
a. Pemeriksaan identitas pasien
b. Pemeriksaan keadaan umum pasien dan hasil pemeriksaan Laboratorium Klinik, terutama PSA (Prostat Specific Antigen) dan pemeriksaan Radiologi, terutama IVP (Intra Venous Pyelography)
c. Persiapan obat anestesi
e. Proses anestesi pasien oleh dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi
4. Proses operasi
a. Memastikan kembali diagnosa pasien
b. Melakukan operasi oleh dokter Spesialis Bedah Urologi
B. Tahap sub proses
1. Pemeriksaan identitas pasien
Modus kegagalan:
a. Identifikasi yang tidak valid, dimana menurut WHO bahwa untuk identifikasi pasien minimal dua data, yaitu nama dan tanggal lahir, namun dapat juga dipastikan dengan nomor rekam medis, alamat, pekerjaan dan pendidikan. Proses identifikasi yang tidak sesuai ketentuan dapat menyebabkan tertukarnya pasien yang akan dilakukan tindakan operasi bila terdapat pasien dengan nama yang sama. Tidah diperbolehkan mengidentifikasi pasien berdasarkan kamar pasien dirawat atau nomor tempat tidur pasien.
2. Anamnesa pasien
Modus kegagalan:
a. Autoanamnesa kurang lengkap dan terarah
b. Alloanamnesa kurang lengkap
3. Pemeriksaan fisik yang kurang seksama
Modus kegagalan:
a. Pemeriksaan yang kurang seksama, lengkap dan teliti
b. Kesalahan interpretasi gejala klinis dan tanda-tanda khas pada pemeriksaam fisik
c. Pemeriksaan tidak memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimal)
4. Pemeriksaan penunjang
Modus kegagalan:
a. Pembacaan hasil foto roentgen (IVP) yang kurang teliti
b. Proses radiografi yang tidak memenuhi SPO (Standard Procedure Operation)
c. Hasil laboratorium (PSA) yang berada di area greyzone sehingga belum dapat membantu menegakkan diagnosa
5. Diagnosa pasien pada kasus Retensio Urine ec BPH (Benigna Prostat Hyperthropy)
Modus kegagalan:
a. Diagnosa yang tidak tepat karena anamnesa yang tidak seksama
b. Diagnosa yang tidak tepat karena pemeriksaan fisik yang tidak teliti oleh dokter Spesialis Bedah Urologi
c. Diagnosa yang tidak tepat karena pembacaan foto roentgen (IVP) yang tidak teliti
6. Observasi proses dan pasca tindakan medis/ operasi
Modus kegagalan:
a. Diagnosis pasti pasien diketahui saat di meja operasi (Ca Prostat)
b. Tenaga medis atau dokter ahli yang kurang kompeten dalam melakukan tindakan operasi TURP
c. Dokter ahli melakukan operasi TURP tidak sesuai dengan SPO (Standard Procedure Operation)
di Rumah Sakit tersebut
d. Observasi pasien yang kurang ketat dan belum memenuhi SPM (Standar Pelayanan Minimal)
IV. Analisa Hazard
Modus Kegagalan
Potensi Penyebab
Scoring Kegawatan
Scoring Probability
Scoring Hazard
1.Diagnosa yang tidak tepat
1. Diagnosa tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik dan tidak sesuai SPM

2. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SPM dan kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang

3







3

3







3
9







9
2.Komplikasi yang terjadi pasca operasi Sindroma Post TURP (Transurethral Resection of the Prostat)
1. Proses operasi yang tidak sesuai SPO karena skill operator (dokter Spesialis Bedah Urologi) yang kurang kompeten
3
3
9
Analisis Pohon Keputusan
Potensi Penyebab
Poin Tunggal Kelemahan?
Adakah Kontrol / Pengendalian?
Apakah Mudah Dideteksi?
a. Diagnosa tidak tepat karena kurang telitinya pemeriksaan fisik dan tidak sesuai SPM
b. Diagnosa tidak tepat karena tidak sesuai SPM dan kurang tepatnya interprestasi pemeriksaan penunjang
Skor > 8





Skor > 8
Ya





Ya
Ya





Ya
c.Proses operasi yang tidak sesuai SPO karena skill operator (dokter Spesialis Bedah Urologi) yang kurang kompeten
Skor > 8
Ya Ya

V. Yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut(di Kontrol, Eliminasi atau Diterima)
a) Sub proses yang dipilih: diagnosa yang tidak tepat yang tidak sesuai SPM dan tindakan operasi yang tidak sesuai SPO (Standard Procedure Operation) .
b) Sub proses ini harus di kontrol.
Pasien dengan retensio urine yang awalnya didiagnosa BPH oleh dokter Spesialis Bedah Urologi ternyata diagnosanya adalah Ca Prostat yang diketahui di meja operasi. Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan pelaksanaan pemeriksaan dan penanganan pasien retensio urine sesuai SPM (Standar Pelayanan Medik) yang telah ditetapkan Rumah Sakit. Pasien yang datang ke poli bedah urologi seharusnya diperiksa oleh dokter Spesialis Bedah Urologi dengan tepat dan akurat sesuai dengan SPM (Standar Pelayanan Minimal) Rumah Sakit. Kemampuan (skill) dokter yang memeriksa pasien seharusnya memiliki kompetensi yang sesuai keahliannya atau tersertifikasi sebagai dokter Spesialis Bedah Urologi. Diagnosis pasien secara tepat harus ditunjang dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang harus mengikuti SPM Rumah Sakit dalam membantu menegakkan diagnosa. Interprestasi hasil pemeriksaan penunjang berperan penting dalam menegakkan diagnosa. Rumah Sakit melalui Kepala SMF Bedah urologi berupaya meningkatkan kemampuan (skill) physic diagnostic dokter-dokter Spesialis Bedah Urologi dengan mengikutsertakankan dalam pelatihan-pelatihan khusus dalam diagnosis retensio urine dan penatalaksanaannya yang terbaru. Kompetensi dokter spesialis pun harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan, dimana sertifikasi untuk dokter spesialis harus tetap di-update dengan mengikuti seminar-seminar dan workshop yang menunjang kemampuannya sesuai bidang masing-masing. Bila terdapat keraguan dalam menegakkan diagnosa disarankan untuk konsultasi terhadap dokter Spesialis yang lebih senior. Interpretasi hasil pemeriksaan penunjang seharusnya dapat dilakukan secara tepat dan akurat, dan dilakukan pembacaaan hasil oleh minimal dua observer/dokter spesialis dalam pembacaan atau interprestasi hasil pemeriksaan penunjang.
Sindroma post TURP sangat jarang terjadi setelah dilakukan tindakan operasi TURP. Sindroma post TORP seharusnya tidak terjadi bila cairan irigasi yang digunakan tidak berlebihan selama proses operasi. Jadi subproses ini dapat dikendalikan dengan menetapkan tindakan operasi yang harus dilakukan oleh operator atau dokter Spesialis Bedah yang kompeten dalam keahliannya melakukan tindakan dan operasi. Dokter Spesialis Bedah yang menjadi operator harus memiliki sertifikat tindakan operasi tersebut (dokter sudah bersertifikasi). Selain itu operator atau dokter Spesialis yang bersangkutan harus sudah dinilai kompeten dalam melakukan tindakan dan operasi tersebut dengan supervisi dari dokter Spesialis Bedah / operator yang sudah bersertifikasi dan berpengalaman di bidangnya. Operator atau dokter Spesialis Bedah harus melakukan proses tindakan operasi sesuai SPO (Standard Procedure Operation)


Picture of Nadya Barkariyana Ombara
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Nadya Barkariyana Ombara - Wednesday, 7 March 2012, 10:25 PM
 

Nama : NADYA BARKARIYANA OMBARA
NIM : 20101021035

ANALISIS MODUS KEGAGALAN DAN DAMPAK (AMDK)
A. Proses yang dianalisa :
Kesalahan dalam melakukan TRIASE PRIMARY SURVEY di IGD (Instalansi Gawat Darurat) Rumah Sakit.
Definisi operasional :
Kesalahan dalam melakukan triase adalah suatu penilaian atau tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan dan pengelompokan triase yaitu merah, kuning,hijau, hitam dimana triase dalam primery survey tersebut berhubungan dengan Airway, Breathing dan circulation.
B. Pembentukan TIM :

Ketua : Kepala Instalasi Gawat Darurat
Anggota : Manajer Pelayanan Medik
: Kepala Komite Medik
: Koordinator Dokter Jaga IGD
: Kepala Bagian Keperawatan
: Kepala Seksi Keperawatan
: Perwakilan Perawat IGD
: Perwakilan Bagian Pengadaan RS

Apakah semua area sudah terwakili? YA
Apakah macam-macam dan tingkat pengetahuan yang berbeda sudah diwakili di dalam tim tersebut? YA
Siapa yang menjadi notulen? Perwakilan Perawat IGD
Tanggal dimulai : 13 Januari 2012, Tanggal dilengkapi : 31 Januari 2012


C. Urutan proses pelayanan di IGD :

1. Pasien masuk ruang gawat darurat
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner)
3. UGD menerima status pasien dari rekam medik dan map plastik merah
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien
• Sistem yang terganggu: di triase keluhan utama pasien dikaji, lalu ditetapkan organ yang mungkin terganggu dan asal gangguannya (misalnya; bedah, penyakit dalam, kebidanan).
• Tingkat kegawatan yang diderita : di triase tingkat kegawatan pasien ditentukan (gawat darurat/darurat tidak gawat/gawat tidak darurat/tidak gawat & tidak darurat)
• TRIASE
Tujuan:
– Menjaga alur klien di IGD
– Menetapkan derajat kegawatan klien

5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai SPM e emergensi
6. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga (informed consent)
7. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap), pasien/keluarga menandatangani surat penolakan
8. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien
9. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit radiologi
10. Dokter mencatat hasil bacaan penunjang medik di dokumen RM dan salinannya tersimpan dalam dokumen RM
11. Dokter triase mencatat hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi di lembar emergensi dokumen RM, serta menuliskan resep (berwarna merah), bila merupakan kasus kepolisian/kriminal dituliskan juga di lembar visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian
12. Dokter triase menentukan proses tindak lanjut pasien meliputi ralan, ranap, atau rujukan.



D. Analisis HAZARD

Sub proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak terletak pada point 4 yaitu paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.
1. Bila paramedik dan dokter tidak jeli / tidak tepat dalam melakukan triase maka akan terjadi salah diagnosa sehingga akan mempengaruhi kondisi pasien selanjutnya.
2. Bila paramedik dan dokter tidak melakukan triase dengan benar maka akan terjadi kesalahan dalam memberikan treatment dimana akan berakibat buruk / memperparah terhadap kondisi pasien.
3. Kurangnya kolaborasi dan komunikasi antara dokter dan paramedik dalam melakukan triase maka akan terjadi kelalaian yang akan berdampak pada pasien terutama jika paramedik baru lulus atau dokter yang baru lulus.
Probability : Terdapat pada level 3/occasional/kadang-kadang yaitu kejadian kesalahan dalam melakukan triase kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun).
Nilai Hazard : Terdapat pada level mayor (3) : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.
Skor Hazard : 9
Dampak Hazard :
1. Jika tidak tertangani dapat mengakibatkan kematian
2. Jika terjadi tuntutan hukum oleh pihak pasien kepada RS dapat mengakibatkan kerugian biaya bagi pihak RS
3. Akan menurunkan citra RS jika masalah tersebut sampai ke hukum atau pengadilan

E. Yang harus dilakukan dalam sub proses diatas adalah :
1. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus benar2 teliti dalam melakukan triase
2. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter di IGD harus mempunyai sertifikat PPGD,BLS,ATLS, ANLS dll
3. Dikontrol,Paramedik IGD sebelum bekerja di IGD sebaiknya telah mempunyai pengalaman bekerja selama 3 thn.
4. Dikontrol. Paramedik dan dokter seharusnya bekerja sesuai dengan SOP dan kompetensi masing2.
5. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus lebih teliti terhadap respon time dalam melakukan triase
6. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter harus sering dilakukan atau mengikuti pelatihan2.
7. Dikontrol. Bagi paramedic dapat mengenal klasifikasi pasien, mampu mengatasi pasien syok, gawat nafas, gagal jantung paru otak, kejang, koma, perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah pinggul & kasus ortopedi, mampu melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan gawat darurat, mampu melaksanakan komunikasi eksternal dan internal.
Ukuran outcome : Tidak terjadi kesalahan dalam melakukan/ menentukan triase
Yang bertanggung jawab : Petugas yang melakukan triase dokter/paramedic
Dukungan manajemen :
1. adanya manajer triase
2. Mematuhi standar operating procedure (SOP)
3. Melakukan pencatatan dengan bebar meliputi mencatat segala tindakan, mencatat s egala instruksi dan mencatat serah terima









































Picture of Windy Aristiani
Re: TUGAS AKHIR M.MUTU : HFMEA
by Windy Aristiani - Friday, 9 March 2012, 04:42 PM
 
Mohon maaf dr.Arlina, saya telat mengumpulkan tugasnya... ini sy tidak bisa mengkopi ke format dsini,jadi saya upload berupa doc. ya dok...

Terima kasih atas perhatiannya.