Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
aini
manajemen konflik (kasus)
by Q. Aini - Thursday, 21 April 2011, 03:38 PM
 

KASUS

Pada pukul 1 siang, Astuti, seorang kepala ruang bedah menghubungi Apoteker untuk menanyakan mengapa Tn Rahmat tidak diberikan obat untuk persiapan pulang. Dengan meletakkan telpon, ia berkata, “saya kecewa dengan kerja mereka, apakah Ia pikir hanya Ia sendiri yang dapat bekerja dan tidak ada staf lain yang mampu mengerjakannya”. Kemudian Asuti melanjutkan kalimatnya, “Saya akan membicarakan hal ini pada seseorang”.

PERTANYAAN:

1. Apa sumber dari konflik yang sedang terjadi ?

2. Jika Anda sebagai kepala ruang/koordinator, yang bertanggung jawab atas situasi yang terjadi, darimana Anda akan memulai mencari pemecahan masalah ini ?

3. Anda dapat memilih satu cara penanggulangan konflik, dan uraikan pendapat anda.

4. Hal positif apa yang dapat diambil dari konflik diatas

Picture of Abdul Muin Sofyan
Abdul Muid Sofyan (20101021001)
by Abdul Muin Sofyan - Thursday, 21 April 2011, 11:34 PM
 
Sumber dari konflik dalam RS bisa tidak berjalan dengan baik, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah masalah "Komunikasi".
Didalam organisasi seperti RS hal ini bisa terjadi karena salah satunya adalah tidak berjalannya tugas pokok dan fungsi (tupoksi) serta standar operating prosedur (SOP) tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Penanggulangan pemecahan masalah ini dimulai dengan pendekatan tidak langsung seperti fokuskan pada masalah, laporkan kepada pimpinan diatasnya, mendesain ulang organsisasi sesuai tupoksi dan pembentukan sikap anggota unit yang terkait. hal positif yang dapat diambil dari masalah/konflik ini yaitu dapat meredesain kembali unit-unit pelayanan yang menghambat seperti misalnya pengadaan obat yang terlambat dikarenakan cashflow keuangan yang tidak lancar maupun sumber daya tenaga yang tidak berjalan dengan optimal.
Picture of Linaldi Ananta
kasus manajemen konflik Linaldi Ananta (20101021031)
by Linaldi Ananta - Friday, 22 April 2011, 12:02 PM
 
1. Semakin besar ukuran suatu organisasi semakin cenderung menjadi kompleks keadaannya. kompleksitas ini menyangkut berbagai hal seperti kompleksitas alur informasi, kompleksitas komunikasi, kompleksitas pembuat keputusan, kompleksitas pendelegasian wewenang dan sebagainya.
kompleksitas lain adalah sehubungan dengan sumber daya manusia. seperti kita ketahui bahwa sehubungan dengan sumber daya manusia ini dapat diidentifikasi pula berbagai kompleksitas seperti kompleksitas jabatan, kompleksitas tugas, kompleksitas kedudukan dan status, kompleksitas hak dan wewenang dan lain-lain. kompleksitas ini dapat merupakan sumber potensial untuk timbulnya konflik dalam organisasi, terutama konflik yang berasal dari SDM, di mana dengan berbagai latar belakang yang berbeda tentu mempunyai tujuan yang berbeda pula dalam tujuan dan motivasi mereka dalam bekerja.
Robbins (1996) dalam "organizational behavior" menjelaskan bahwa konflik adalah suatu proses interaksi yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian antara dua pendapat (sudut pandang) yang berpengaruh atas pihak-pihak yang terlibat baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. sedangkan menurut Luthans (1981) konflik adalah kondisi yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan yang saling bertentangan. kekuatan-kekuatan ini bersumber pada keinginan manusia.

2. Seorang pimpinan yang ingin memajukan organisasinya, harus memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di dalam individu maupun konflik antar perorangan dan konflik di dalam kelompok dan konflik antar kelompok.
pemahaman faktor-faktor tersebut akan lebih memudahkan tugasnya dalam hal menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dan menyalurkannya ke arah perkembangan yang positif.
faktor-faktor yang mempengaruhi konflik dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
faktor intern : kemantapan organisasi, sistem nilai suatu organisasi, tujuan organisasi, sistem lain dalam organisasi seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan, dan lain-lain.
faktor ekstern : keterbatasan sumber daya, kekaburan aturan / norma di masyarakat, derajat ketergantungan dengan pihak lain, pola interaksi dengan pihak lain.

3. Untuk menangani konflik dengan efektif, kita harus mengetahui kemampuan diri sendiri dan juga pihak-pihak yang mempunyai konflik. cara menangani konflik :
a. introspeksi diri, dilakukan agar kita dapat mengukur kekuatan kita
b. mengevaluasi pihak-pihak yang terlibat
c. identifikasi sumber konflik
d. mengetahui pilihan penyelesaian atau penanganan konflik yang ada : Spiegel (1994) menjeaskan ada lima tindakan yang dapat kita lakukan dalam penanganan konflik : berkompetisi, menghindari konflik, akomodasi, kompromi, berkolaborasi.
untuk kasus di atas menurut saya jalan yang paling baik adalah dengan berkolaborasi, di mana kedua pihak yang berkonflik menciptakan situasi win-win dengan saling bekerja sama. hal ini membutuhkan komunikasi yang baik antar kedua pihak.

4. Konflik dapat merupakan kekuatan untuk pengubahan positif dalam suatu organisasi. contoh pengembangan konflik yang positif dapat digunakan sebagai ajang adu pendapat, sehingga organisasi bisa memperoleh pendapat-pendapat yang sudah tersaring. konflik tidak selalu merugikan organisasi selama bisa ditangani dengan baik sehingga dapat : mengarah ke inovasi dan perubahan, serta memberi tenaga kepada orang untuk bertindak.
Picture of Dian Muntafiatul Izzati
Re: manajemen konflik (Dian M.I_20101021016)
by Dian Muntafiatul Izzati - Friday, 22 April 2011, 05:16 PM
 
bu Aini, tanggapan di attachment (word ~ doc.type)
Picture of Irmawati Suling
Re: manajemen konflik-Irmawati Suling/20101021028
by Irmawati Suling - Friday, 22 April 2011, 05:45 PM
 

1. Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok,
konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Konflik di dalam organisasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah: faktor manusia dan faktor organisasi. Faktor manusia terkait dengan karateristik individual serta gaya kepemipinan seorang atasan, sedangkan faktor organisasi terkait dengan persaingan dalam menggunakan sumberdaya, perbedaan tujuan antar unit-unit organisasi, interdependensi tugas, perbedaan nilai dan persepsi, kekaburan yurisdiksional, hambatan komunikasi.

Menurut saya, pada kasus diatas yang menjadi penyebab terjadinya konflik adalah faktor manusia yang terkait dengan gaya kepemimpinan seorang atasan. Kutipan kalimat “saya kecewa dengan kerja mereka, apakah Ia pikir hanya Ia sendiri yang dapat bekerja dan tidak ada staf lain yang mampu mengerjakannya”, “Saya akan membicarakan hal ini pada seseorang”. Ucapan tersebut menggambarkan bahwa seorang kepala ruang bedah yang bernama Astuti cenderung memimpin bawahannya dengan tipe kepemipinan yang semi otoriter.

2. Sebagai seorang koordinator yang bertanggung jawab atas situasi tersebut, tentunya menginginkan agar situasi tersebut dapat segera teratasi tidak berpanjang lebar dengan mencarikan pemecahan masalahnya dan berharap situasi tersebut tidak akan terulang kembali.

Pada kasus ini, seorang koordinator sebaiknya memulai penyelesaian masalahnya dengan melakukan pendekatan secara interpersonal kepada si Apoteker untuk mencari tahu situasi seperti apa yang sebenarnya terjadi, serta apa yang menjadi penyebab utama terjadinya situasi tersebut. Pendekatan yang dilakukuan lebih menekankan pada usaha untuk bisa mengatasi situasi ini dengan baik dan dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak tanpa merasa ada pihak yang dipersalahkan.

3. Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu hal yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul.

Menurut saya, penanggulangan konflik untuk situasi diatas terlebih dahulu diselesaikan oleh kedua pihak yang bersangkutan, dengan menerapkan cara “Pemecahan masalah secara terpadu” dimana semua usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama dengan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

Pada kasus diatas, perlu ada usaha duduk bersama antara kepala ruang bedah dan Apoteker untuk mendiskusikan situasi yang terjadi serta penyebab-penyebabnya, serta mengusakan untuk mencarikan solusi dari masalah tersebut agar tidak terulang kembali.

4. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya.

Pada konflik diatas, hal positif yang dapat diambil adalah adanya persepsi yang kritis dari seorang karyawan terhadap pelayanan suatu instansi yang lalai dalam hal ini seorang kepala ruang bedah yang mengkritisi pelayanan farmasi yang lalai dalam memberikan obat untuk pasien pulang. Dengan adanya hal positif tersebut diharapkan dapat meningkatka kepedulian setiap karyawan lain terhadap bentuk pelayanan yang tidak sesuai untuk segera memberikan persepsi agar kejadian2 tersebut tidak terulang kembali.

Picture of Ariyudi Yunita
Re: manajemen konflik (kasus)
by Ariyudi Yunita - Friday, 22 April 2011, 08:53 PM
 
1. semakin banyak orang dengan latar belakang yang berbeda dengan karakter yang berbeda dalam suatu organisasi dapat menimbulkan konflik.

2. memecahkan masalah dimulai dari menanyakan anak buah kita sudah disiapkan belum untuk pasien pulang apa-apa yang harus disiapkan untuk pasien pulang setelah itu jika sudah dicross cek keanak buah bangsal bedah baru kebagian farmasi jika memang ada kekeliruan dari pihak kita harus dengan legawa untuk minta maaf tapi jika bagian farmasi yang lupa untuk menyiapkan kita ingatkan saja supayatidak terulang kembali,jadi intinya komunikasi yang baik.

3. dengan cara pendekatan secara lansung dengan cara komunikasi kesemua yang terlibat didalam organisasitersebut yaitu semua perawat dibangsal bedah dan juga bagian farmasi supaya dengan komunikasi yang baik hal semacam itu tidak akan terjadi lagi.

4.komunikasi antar pegawai dalam organisasi tersebut akan baik sehingga kerjasama dan hubungan antar semua karyawan dalam organisasi tersebut baik sehingga dapat meningkatkan semangat kerja karyawan dalam organisasi tersebut sehingga akan memajukan organisasi tersebut.
Picture of Pambudi mmr
Re: manajemen konflik (kasus)
by Pambudi mmr - Saturday, 23 April 2011, 05:34 AM
 

Rumah sakit mempunyai ciri khas : padat teknologi, padat profesi, padat modal, padat interaksi dan padat konflik. Dengan demikian karyawan /pekerja rumah sakit pastilah akan menghadapi berbagai macam masalah, namun yang penting adalah bagaimana mensikapi terhadap permasalahan yang ada. Kita tidak boleh tinggal diam terhadap masalah yang ada, terlebih lagi masalah konsumen/customer. Di era sekarang ini Rumah Sakit dituntut untuk mengutamakan customer, meningkatkan pelayanan pada customer, agar pasien tidak berpindah ke rumah sakit lain, pasien harus dibuat sepuas mungkin dengan pelayanan yang ada di rumah sakit.

Dalam kasus ini Tn Rahmat tidak diberikan obat untuk persiapan pulang, ini adalah permasalahan yang harus diselesaikan. Akar permasalahannya adalah SOP yang tidak dijalankan / dipatuhi, tidak baiknya komunikasi serta kurangnya koordinasi.

Kepala ruang / koordinator bangsal bedah sebaiknya mengkomunikasikan hal ini kepada atasannya di manajemen. Koordinasi ditingkat manajemen dilakukan oleh bidang/bagian yang merupakan atasan dari koordinator ruang bedah dan atasan dari farmasi. Hasil dari koordinasi harus dilaksanakan agar masalah segera selesai. Dari koordinasi ini win win solution adalah strategi penanggulangan konflik yang harus diterapkan. Masing-masing pihak harus mengevaluasi tehadap SOP. Apakah semua SOP sudah dilakukan secara benar.

Hal positif yang dapat diambil :

1. Perlu evaluasi terhadap tugas pokok dan fungsi (tupoksi)

2. Mejalankan SOP dengan benar.

3. Komunikasi yang baik

4. Perlunya koordinasi. 

Picture of Runti Astiwi
Re: manajemen konflik (kasus)
by Runti Astiwi - Saturday, 23 April 2011, 10:19 AM
 
MANAJEMEN KONFLIK (KASUS)

1. Sumber konflik

Rumah sakit merupakan tempat pelayanan yang antara lain padat dengan profesi, padat interaksi. Dengan banyaknya interaksi dengan sendirinya akan banyak masalah/konflik yang ditimbulkan.
Dalam kasus ini yang menjadi sumber konflik antara lain :
a. Komunikasi yang tidak efektif
b. Koordinasi dengan bawahan/perawat pelaksana yang kurang
c. Kebijakan, Standar Prosedur Operasional (SPO), tugas, wewenang, tanggung
jawab yang belum jelas
d. Keterbatasan sumber daya manusia, peralatan, fasilitas

2. Pemecahan masalah
Sebagai kepala ruang maka langkah-langkah yang diambil untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebagai berikut :
a. Berkoordinasi dengan bawahan / perawat pelaksana
Kepala ruang hendaknya menanyakan kepada perawat yang lain atau pramu bangsal, resep obat yang akan dibawa pulang milik Tn Rahmat apakah sudah dibawa ke apotek. Ada 2 kemungkinan keberadaan resep Tn rahmat, yaitu sudah di apotek atau masih tertinggal di bangsal.
b. Melakukan komunikasi terapetik
1). Apabila resep Tn Rahmat ternyata sudah dibawa ke apotek, maka komunikasikan kembali ke bagian farmasi bahwa resep Tn Rahmat sudah diantar oleh perawat atau pramu bangsal (sebaiknya pengiriman resep menggunakan buku ekspedisi sebagai bukti). Bila obat sudah siap agar menghubungi ruang bedah.
2). Apabila ternyata resep Tn Rahmat masih tertinggal di ruang bedah, maka segera kirim resep tersebut ke farmasi, dan komunikasikan kembali ke bagian farmasi (disertai permohonan maaf) bahwa resep masih tertinggal di ruangan.
c. Melakukan evaluasi kerja pada saat post konferen (sebelum pergantian
dinas)

Sesuai dengan aturan MPKP (Model Praktek Keperawatan Profesional), setiap ruangan harus melakukan pertemuan / konferensi sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Pada saat post konferen dilakukan evaluasi kerja saat itu terutama kekurangan-kekurangannya dengan harapan tidak terjadi di hari selanjutnya.

3. Cara penanggulangan konflik selanjutnya
Cara penanggulangan konflik dengan pendekatan tidak langsung yaitu :
* Fokuskan pada tujuan
* Laporkan pada pimpinan
* Mendesain ulang organisasi
* Pembentukan sikap anggota kelompok
Kasus di atas juga perlu dilaporkan pada pimpinan dengan tujuan sebagai evaluasi untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Misalnya dalam mengambil kebijakan atau membuat SPO-SPO (Standar Prosedur Operasional) bagaimana aturan main pasien pulang, salah satunya tentang resep obat yang akan dibawa pulang pasien.
Selain itu juga diperlukan pembenahan sikap karyawan, bukan hanya perawat tetapi semua pegawai yang ada dalam organisasi tersebut, terutama yang berhubungan langsung dengan pelanggan. Misalnya dengan adanya pelatihan customer service, komunikasi terapetik, dll.

4. Hal-hal positif yang dapat diambil dari kasus di atas
a). Kegagalan komunikasi mengakibatkan salah pengertian di antara kepala ruang dan apoteker.
b). Perlunya koordinasi dengan bawahan sebelum melakukan tindakan atau yang lain agar tidak terjadi kekeliruan atau sejenisnya.
c). Perlu adanya tugas dan wewenang yang jelas.
d). Perlu adanya SPO (Standar Prosedur Operasional) yang jelas.
e). Perlu adanya monitoring dan evaluasi kerja karyawan oleh manajemen
f). Perlu adanya reward bagi karyawan dengan kinerja bagus dan punishment bagi karyawan yang tidak mentaati peraturan yang berlaku.




















Picture of Merita Arini
Re: manajemen konflik (kasus)
by Merita Arini - Saturday, 23 April 2011, 02:03 PM
 
mhn maaf tanggapannya ada di attachment krn error jika langsung di upload.
syukron
Picture of Fitra Sari
Fitra sari (20101021023)
by Fitra Sari - Saturday, 23 April 2011, 02:50 PM
 
<!-- @page { margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } -->
  1. Sumber konflik pada scenario di atas adalah

Sumber konflik yang terjadi pada scenario di atas adalah kurangnya komunikasi antar bagian satu bagian dengan bagian yang lain. Di sini komunikasi yang kurang terjadi antara perawat dengan apoteker.

  1. Jika saya sebagai kepala ruang maka saya akan memulai pemecahan konflik ini dengan menjalin komunikasi yang efektif dengan apoteker secara baik-baik. Kenapa masalah ini bisa terjadi?? Apakah terjadi kesalahpahaman dari perawat-pasien-atau apoteker?? Atau karena adanya kebijakan rumah sakit yang menyebabkan si pasien tidak menerima obat yang seharusnya di dapatkan atau karena adanya tangguan si pasien yang belum dibayarkan kepada pihak rumah sakit.

Konflik ini harus di pecahkan melalui komunikasi kepada pihak apoteker, di sini sebagai kepala perawat saya belum akan melaporkan kejadian ini kpada pihak manager pelayanan ranap terlebih dahulu tapi saya akan menyelesaikan face to face kepada apoteker yang besangkutan, karena hal ini merupakan demi kebaikan brsama.

  1. Cara menanggulangi konflik pada skenario di atas melalui kolaborasi (kerjasama)

Menggunakan penanggulangan konflik ini karena tujuan yang ingin dicapai penting menyangkut pelayanan kepada konsumen, dan hubungan dengan pihak apoteker itupun penting. Langkah-langkah yang has dilakukan adalah:

  1. menciptakan system yang kondusif dan melaksanaan komunikasi yang efektif.

  2. mencegah konflik yang destruktif sebelum terjadi.

  3. Menyelesaikan konflik sesuai peraturan dan prosedur yang baku terutama yang menyangkut masing-masing hak.

  4. Atasan mempunyai peranan penting dalam menyelesaikan konflik yang muncul.

  5. Menciptakanlah iklim dan suasana kerja yang harmonis.

  6. mebentuk team work dan kerja-sama yang baik antar kelompok/ unit kerja.

  7. Semua pihak sadar bahwa semua unit/eselon merupakan mata rantai organisasi yang saling mendukung, tidak merasa paling hebat.

  8. membina dan kembangkan rasa solidaritas, toleransi, dan saling pengertian antar unit/departemen/ eselon.

Setelah membangun komunikasi yang efektif dan sudah tercipta saling kerjasama dengan apoteker maka dapat diketahui, mengapa masalah ini dapat terjadi, sehingga solusinya pun dapat dicari. Jika sudah tercapai kata sepakat maka konflik ini selesai.

  1. Hal positif yang dapat diambil dari konflik ini adalah

Pentingnya komunikasi efektif dalam meyelesaikan suatu masalah atau konflik di suatu rumah sakit. Sehingga tidak terjadi mis-komunikasi di antara kedua belah pihak. Dalam memecahkan suatu masalah diharapkan jangan dulu melibatkan pihak ketiga, lebih didahulukan komunikasi anatar kedua belah pihak. Kalau tidak juga terdapat kata sepakat baru dilibatkan pihak ketiga.

Dapat memahami suatu konflik dapat terjadi apakah dari system, SOP, atau beban tugas yang berlebihan. Sehingga dapat memahami mengapa konflik ini dapat terjadi. Dapat memahmi manajemen konflik lebih baik.


Picture of Isnaini Ashar
Re: manajemen konflik (kasus) isnaini ashar
by Isnaini Ashar - Saturday, 23 April 2011, 04:53 PM
 
1. Sumber konflik dari kasus diatas adalah: rumah sakit merupakan organisasi yang padat profesi, padat masalah, padat eror, padat modal dan padat interaksi sehingga rentan untuk terjadinya konflik karena kurang efektifnya komunikasi antar bagian, kurang koordinasi antara bagian dan juga bawahan dengan atasan, juga SOP yang belum dilaksanakan dengan baik atau SOP yang kurang sempurna.

2. pemecahan masalah:
- koordinasi ulang dengan bawahan dan juga unit/ bagian terkait
- mengkomunikasikan segala sesuatu dengan baik dan efektif, dengan bawahan dan juga antar bagian
- mendengarkan secara aktif tentang konflik yang terjadi untuk mencari jalan pemecahan masalah

3. penanggulangan konflik

Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

kepala ruang dan apoteker saling duduk untuk membicarakan dan berkomunikasi untuk memadukan informasi, kebutuhan sehingga akan terjadi komunikasi efektif yang tujuannya adalah agar sistem berjalan dengan baik.

4. hal positif dari konflik

§ Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.

§ Memberikan saluran baru untuk komunikasi.

§ Menumbuhkan semangat baru pada staf. 

§ Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis

§ Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.

§ Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.

§ Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.





Picture of Muhamad Sandi Setiawan
pendapat saya
by Muhamad Sandi Setiawan - Saturday, 23 April 2011, 08:13 PM
 
Dalam interaksi dan interelasi sosial antar individu atau antar kelompok, konflik sebenarnya merupakan hal alamiah. Dahulu konflik dianggap sebagai gejala atau fenomena yang tidak wajar dan berakibat negatif, tetapi sekarang konflik dianggap sebagai gejala yang wajar yang dapat berakibat negatif maupun positif tergantung bagaimana cara mengelolanya
1. Sumber konflik dari kasus diatas adalah: rumah sakit merupakan organisasi yang padat profesi, padat masalah, padat eror, padat modal dan padat interaksi sehingga rentan untuk terjadinya konflik karena kurang efektifnya komunikasi antar bagian, kurang koordinasi antara bagian dan juga bawahan dengan atasan, juga SOP yang belum dilaksanakan dengan baik atau SOP yang kurang sempurna.

2. . Seorang pimpinan yang ingin memajukan organisasinya, harus memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya konflik, baik konflik di dalam individu maupun konflik antar perorangan dan konflik di dalam kelompok dan konflik antar kelompok.
pemahaman faktor-faktor tersebut akan lebih memudahkan tugasnya dalam hal menyelesaikan konflik-konflik yang terjadi dan menyalurkannya ke arah perkembangan yang positif.
faktor-faktor yang mempengaruhi konflik dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
faktor intern : kemantapan organisasi, sistem nilai suatu organisasi, tujuan organisasi, sistem lain dalam organisasi seperti sistem komunikasi, sistem kepemimpinan, sistem pengambilan keputusan, sistem imbalan, dan lain-lain.
faktor ekstern : keterbatasan sumber daya, kekaburan aturan / norma di masyarakat, derajat ketergantungan dengan pihak lain, pola interaksi dengan pihak lain.

3. Mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana. Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihak-pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut berusaha mengatasi konflik yang muncul

Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

kepala ruang dan apoteker saling duduk untuk membicarakan dan berkomunikasi untuk memadukan informasi, kebutuhan sehingga akan terjadi komunikasi efektif yang tujuannya adalah agar sistem berjalan dengan baik.

§ Membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.

§ Memberikan saluran baru untuk komunikasi.

§ Menumbuhkan semangat baru pada staf. 

§ Memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi.

§ Menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi.

§ Membuat organisasi tetap hidup dan harmonis

§ Berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.

§ Melakukan adaptasi, sehingga dapat terjadi perubahan dan per-baikan dalam sistem dan prosedur, mekanisme, program, bahkan tujuan organisasi.

§ Memunculkan keputusan-keputusan yang bersifat inovatif.

§ Memunculkan persepsi yang lebih kritis terhadap perbedaan pendapat.

Picture of Yutha Perdana
Re: manajemen konflik (kasus)
by Yutha Perdana - Monday, 25 April 2011, 04:33 PM
 
1. Sumber konflik yang terjadi yaitu tidak diberikannya obat pulang bagi pasien
Tn. Rahmat oleh pihak apotek.

2. Pemecahan masalah akan saya mulai dengan membangun komunikasi yang
lancar antara bangsal dan pihak apotek. Apabila komunikasi yang dibangun
lancar, tentu pihak apotik akan lebih siap dalam menghadapi permintaan
obat pasien pulang. Untuk permasalahan kinerja apotek yang tersendat, saya
sebagai kepala bangsal tidak memiliki wewenang langsung dalam
memperbaikinya. Saya akan melaporkan kepada atasan saya terlebih dahulu
untuk kemudian diteruskan kepada pihak apotek demi perbaikan kinerja.

3. Penanggulangan konflik yang saya pilih adalah dengan pendekatan tidak
langsung yaitu :
Fokuskan pada tujuan --> laporkan pada pimpinan --> mendesain ulang
organisasi --> pembentukan sikap anggota kelompok

4. Hal positif yang dapat diambil yaitu adanya perbaikan dalam sistem
pelayanan RS yang terbentuk melalui komunikasi dan strategi pemecahan
masalah yang dipilih.
Picture of Aci Indah Kusumawardani
Re: manajemen konflik (kasus)
by Aci Indah Kusumawardani - Monday, 25 April 2011, 04:29 PM
 
1. Konflik terjadi karena obat pulang untuk Tn. Rahmat tidak segera diberikan oleh pihak apotik.

2. Pada kasus ini, saya akan memulai penyelesaian masalahnya dengan melakukan penjalinan komunikasi antara bangsal dan apotik. Saya akan menanyakan apa yang dapat dilakukan oleh bangsal untuk membantu apotik dalam rangka mewujudkan pelayanan prima. Contohnya, mungkin pihak apotik membutuhkan waktu dalam mempersiapkan obat, maka pihak bangsal dapat membantu dengan menyampaikan permintaan obat lebih dini demi kepentingan pasien.

3. Dalam mengatasi konflik, selanjutnya saya akan melakukan pendekatan tidak langsung. Saya akan melaporkan ke atasan saya tentang permasalahan yang terjadi dengan harapan atasan saya akan mengkomunikasikan dengan atasan dari apotik maupun kepada pimpinan utama.

4. Hal positif yang dapat diambil adalah adanya dinamika organisasi. Dengan adanya permasalahan, tentu RS akan melakukan pembenahan-pembenahan sehingga tercipta suasana kerja kondusif dan tercapainya kepuasan karyawan dan pelanggan.
Picture of Aulia Hijriastuti
Re: manajemen konflik (kasus)
by Aulia Hijriastuti - Thursday, 28 April 2011, 04:56 PM
 
1. Sumber konflik terjadi karena Apoteker tidak memberikan obat pulang kepada Tn. Rahmat.

2. Jika saya sebagai kepala ruang, saya akan mengkoordinasikan dengan apotek untuk meningkatkan pelayanan pemberian obat kepada pasien. Membangun komunikasi dengan Apotek sehingga saya mengetahui keadaan apotek baik kinerjanya maupun kekurangan yang lain dan pada akhirnya akan muncul solusi untuk menghadapi permasalahan tersebut. Mungkin apabila permasalahan muncul karena kinerja yang tidak bagus, maka saya akan mengkomunikasikan juga dengan pihak mengelola, sehingga pemecahan masalah bisa lebih teratasi dengan baik.

3. Cara penanggulangan konflik :
1. Membentuk suatu system informasi yang terstruktur, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi. Misalnya, dengan membuat papan pengumungan atau pengumuman melalui loudspeaker.

2. Buat komunikasi dua arah antara bangsal dan apotek sehingga menjadi lancar dan harmonis, misalnya dengan membuat rapat rutin, karena dengan komunikasi yang dua arah dan intens akan mengurangi masalah di lapangan

3. Adanya pelatihan dalam hal komunikasi antar bagian (dalam hal ini bangsal dan apotek), pelatihan akan memberikan pengetahuan dan ilmu baru bagi setiap individu dalam organisasi dan meminimalkan masalah dalam hal komunikasi


4. Hal positif yang bisa di ambil :

a. Komunikasi sangat penting untuk mewujudkan kinerja yang bagus.

b. Tugas-tugas setiap bagian harus tertulis dan selalu terbaca oleh karyawannya.

c. SOP yang jelas sehingga meminimalkan kesalahan kerja.

d. Koordinasi tiap bagian terjalin dengan baik.

e. Evaluasi kinerja rutin dilaksanakan sehingga kesalahan-kesalahan yang terjadi tidak akan terulang untuk kedua kalinya.




Picture of Ika Resti Afriani
Re: manajemen konflik (kasus)
by Ika Resti Afriani - Monday, 2 May 2011, 08:40 PM
 
Tugas Manajemen Konflik
Picture of Solikah Sriningsih
Re: manajemen konflik (kasus)
by Solikah Sriningsih - Wednesday, 4 May 2011, 04:07 PM
 

1. Sumber konflik tersebut adalah:

  1. Batasan pekerjaan yang tidak jelas

  2. Hambatan komunikasi

  3. Tekanan waktu

  4. Standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal

  5. Pertikaian antar pribadi

  6. Perbedaan status

  7. Harapan yang tidak terwujud

2. Pemecahan masalah tersebut yaitu:

· Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.

· Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya; Perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.

· Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup.

· Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.

3. cara penanggulangan konflik

Pemecahan masalah terpadu: Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.

4. hal positif yang bisa diambil dari kasus tersebut

Hubungan interpersonal antara tenaga medis dengan, kolega, kelompok, keluarga pasien maupun orang lain dapat merupakan sumber terjadinya konflik, oleh sebab itu masing-masing pribadi karyawan harus mengetahui dan memahami manajemen konflik. Penyebab konflik meliputi: ketidakjelasan uraian tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar, kebijakan yang tidak jelas, perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. Konflik dapat dicegah atau diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi efektif, dan saling pengertian antara sesama rekan kerja.

Untuk mengembangkan alternatif solusi agar dapat mencapai satu kesepakatan dalam pemecahan konflik ,diperlukkan komitmen yang sungguh sungguh . Ada beberapa stragtegi yang dapat digunakan, antara lain ; akomodasi, kompetisi, kolaborasi, negosiasi, dan kompromi. Diharapkan Manajer dapat memahami dan menggunakan keahliannya secara khusus untuk mencegah dan mengatur konflik.

Picture of Rizki Azaria
Re: manajemen konflik (kasus) - Rizki Azaria
by Rizki Azaria - Wednesday, 4 May 2011, 09:34 PM
 
Hubungan interpersonal antara perawat dengan, kolega, kelompok, keluarga pasen maupun orang lain dapat merupakan sumber terjadinya konflik, oleh sebab itu perawat harus mengetahui dan memahami manajemen konflik. Penyebab konflik meliputi: ketidakjelasan uraian tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar, kebijakan yang tidak jelas, perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. Konflik dapat dicegah atau diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi efektif, dan saling pengertian antara sesama rekan kerja.Untuk mengembangkan alternatif solusi agar dapat mencapai satu kesepakatan dalam pemecahan konflik ,diperlukkan komitmen yang sungguh sungguh . Ada beberapa stragtegi yang dapat digunakan, antara lain ; akomodasi, kompetisi, kolaborasi, negosiasi, dan kompromi. Diharapkan Manajer Perawat dapat memahami dan menggunakan keahliannya secara khusus untuk mencegah dan mengatur konflik
Picture of Daniswara mmr
Re: manajemen konflik (kasus) - Daniswara
by Daniswara mmr - Friday, 6 May 2011, 02:07 PM
 
Didalam permasalahan ini terjadi konflik antara dokter dengan perawat. Secara teori, konflik semacam ini dapat terjadi antara individu pimpinan dengan individu pimpinan dari berbagai tingkatan. Individu pimpinan dengan individu karyawan maupun antara inbdividu karyawan dengan individu karyawan lainnya. Sehingga dampak yang terjadi adalah situasi infungsional, dimana terjadi hubungan yang tidak harmonis antara dokter dan perawat secara berkepanjangan. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi kinerja mereka didalam memberikan pelayanan terhadap pasien dan juga hubungan kerja mereka sehari-hari.

Konflik dapat dicegah atau dikelola dengan:
• Disiplin: Mempertahankan disiplin dapat digunakan untuk mengelola dan mencegah konflik. Manajer perawat harus mengetahui dan memahami peraturan-peraturan yang ada dalam organisasi. Jika belum jelas, mereka harus mencari bantuan untuk memahaminya.
• Pertimbangan Pengalaman dalam Tahapan Kehidupan: Konflik dapat dikelola dengan mendukung perawat untuk mencapai tujuan sesuai dengan pengalaman dan tahapan hidupnya. Misalnya; Perawat junior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk mengikuti pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, sedangkan bagi perawat senior yang berprestasi dapat dipromosikan untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi.
• Komunikasi: Suatu Komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. Suatu upaya yang dapat dilakukan manajer untuk menghindari konflik adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegitan sehari-hari yang akhirnya dapat dijadikan sebagai satu cara hidup.
• Mendengarkan secara aktif: Mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik. Untuk memastikan bahwa penerimaan para manajer perawat telah memiliki pemahaman yang benar, mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.
Hubungan interpersonal antara perawat dengan kolega, kelompok, keluarga pasien maupun dokter spesialis dapat merupakan sumber terjadinya konflik, oleh sebab itu perawat harus mengetahui dan memahami manajemen konflik. Penyebab konflik meliputi: ketidakjelasan uraian tugas, gangguan komunikasi, tekanan waktu, standar, kebijakan yang tidak jelas, perbedaan status, dan harapan yang tidak tercapai. Konflik dapat dicegah atau diatur dengan menerapkan disiplin, komunikasi efektif, dan saling pengertian antara sesama rekan kerja.Untuk mengembangkan alternatif solusi agar dapat mencapai satu kesepakatan dalam pemecahan konflik ,diperlukkan komitmen yang sungguh sungguh. Ada beberapa stragtegi yang dapat digunakan, antara lain ; akomodasi, kompetisi, kolaborasi, negosiasi, dan kompromi. Diharapkan Manajer Perawat dapat memahami dan menggunakan keahliannya secara khusus untuk mencegah dan mengatur konflik.
Picture of Adinda Smitaningrum Kinasih
Adinda SK - 20101021003 - manajemen konflik
by Adinda Smitaningrum Kinasih - Sunday, 8 May 2011, 08:29 PM
 
1. sumber masalah pada konflik ini yang pertama adalah pembagian tugas yang tidak jelas dan detail seperti apabila ada pasien pulang siapakah yang bertugas memberikan obat pulang kepada pasien, apakah perawat di bangsal atau petugas farmasi. Yang kedua adalah komunikasi antara perawat bangsal dengan petugas farmasi yang tidak terjalin dengan baik.

2. Memulai pemecahan masalah ini dengan merunut keadaan yang sebenarnya terjadi, mencari dimana letak 'miss'nya. setelah itu maka dapat dicari atau ditetapkan pembagian kerja yang lebih jelas dan detail sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman di selanjutnya kelak. tentu saja dalam melakukan pemecahan masalah ini dibutuhkan kepala dingin dan hati yang legowo agar tidak makin memperkeruh suasana.

3.Usaha menyelesaikan masalah dengan memadukan kebutuhan kedua pihak. Proses pertukaran informasi, fakta, perasaan, dan kebutuhan berlangsung secara terbuka dan jujur. Menimbulkan rasa saling percaya dengan merumuskan alternatif pemecahan secara bersama de¬ngan keuntungan yang berimbang bagi kedua pihak.
kepala ruang dan apoteker saling duduk untuk membicarakan dan berkomunikasi untuk memadukan informasi, kebutuhan sehingga akan terjadi komunikasi efektif yang tujuannya adalah agar sistem berjalan dengan baik

4. Hal positif yang dapat diambil :
a)komunikasi merupakan hal yang sederhana namun memegang peranan sangat penting dalam berorganisasi
b). Perlunya koordinasi dengan bawahan sebelum melakukan tindakan atau yang lain agar tidak terjadi kekeliruan atau sejenisnya.
c). Perlu adanya tugas dan wewenang yang jelas.
d). Perlu adanya SPO (Standar Prosedur Operasional) yang jelas.
e). Perlu adanya monitoring dan evaluasi kerja karyawan oleh manajemen
f). Perlu adanya reward bagi karyawan dengan kinerja bagus dan punishment bagi karyawan yang tidak mentaati peraturan yang berlak
Hi
manajemen konflik (kasus)
by Bopi Y.S - Wednesday, 21 September 2011, 09:16 PM
 
1. Miss comunication interpersonal antara kepala ruang bedah dan apoteker
2. Duduk bersama satu meja antara kepala ruang bedah,kepala apotek, apoteker. assiten apoteker, dan pimpinan manajemen rumah sakit untuk membicarakan duduk permasalahan dan memecahkan permasalahannya serta mencari alternatif penyelesaiannya/keputusan.
3.Persuasif
4.Sepakat menerapkan keputusan yang dirembuk bersama dan berkomitmen untuk menjalankannnya.