Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
Picture of Arlina Dewi, dr. M.Kes.
Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Arlina Dewi, dr. M.Kes. - Thursday, 7 April 2011, 10:13 AM
 

TOPIK tentang HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis) atau AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)

a. Pilih 1 pelayanan kepada pasien di Rumahsakit yang menurut Anda beresiko untuk terjadinya Failure/kegagalan dan berdampak besar (selain contoh di kuliah)

b. Tuliskan urutan proses pelayanan tersebut ,

c. Pilih 1 (satu) saja dari proses tersebut yang memiliki sub proses dengan resiko kegagalan , dengan dampak (Hazard Analisis > 8)

d. Menurut Anda, apakah yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut? (di Kontrol, Eliminasi atau Diterima). Jelaskan alasan Anda !

Catatan :

1. Untuk mengerjakan tugas diatas, dikerjakan langsung (bukan upload file) di forum komunikasi dengan ringkas tapi padat,agar mudah dibaca dan dimengerti peserta forum yang lain. Jangan lupa untuk login sesuai nama masing-masing.

2. Peserta lain dapat mengomentari analisis yang ada (menambah nilai keaktifan)

3. Diskusi ini sebagai pengganti untuk Ujian Akhir Mata Kuliah Mutu, dan dikerjakan selambat-lambatnya tgl 14 April 2011

4. Diskusi yang dianggap sama tidak mendapat nilai (yang muncul belakangan)

(Edited by Muhammad Faturrahman - original submission Wednesday, 30 March 2011, 08:47 AM)

(Edited by Muhammad Faturrahman - original submission Thursday, 7 April 2011, 10:11 AM)

Picture of Taufiq Fachruddin
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Taufiq Fachruddin - Thursday, 7 April 2011, 01:38 PM
 
jawaban :
a. Pelayanan di Radiologi
b. Urutan proses pelayanan radiologi :
1. Radiologi dapat rujukan dari IRD dengan kasus kecelakaan
2. Petugas radiologi mencatat identitas pasien ke dalam buku regester
3. Petugas radiologi memberi nomor roentgen untuk pasien yang akan
difoto.
4. Petugas Radiologi melakukan pemeriksaan (roentgen) sesuai dengan
permintaan.
5. Pemeriksaan selesai.
6. Hasil roentgen diserahkan kembali ke dokter pengirim.
c. Yang memiliki resiko kegagalan terletak pada point 4 : pasien di roentgen.
1. Bila radiografer (Petugas Radiologi) tidak teliti, maka bisa / sering
terjadi salah dalam pengkodean R/L , misalnya yang difoto sebelah kiri
tapi diberi kode R.
2. Bila Radiografer tidak teliti dalam pemberian/pengaturan kV dan mAs
maka hasil foto tidak baik.
3. Bila Radiografer tidak teliti maka cara peletakan marker bisa keliru,
misalnya peletakan marker yang seharusnya posisi AP tapi posisi marker
dibuat sehingga hasil foto bisa membingungkan.

d. Di urutan yang:
1. Wajib dieliminasi, karena kesalahan pengkodean sangat fatal bagi
pasien,(tidak boleh keliru)
2. Wajib dieliminasi, karena kualitas hasil foto jelek sehingga hasil roentgen tidak dapat untuk penegakkan diagnosa.
3. Dikontrol, hasil foto masih dapat diterima dengan catatan pastikan
dengan pasien bahwa peletakan kode terbalik


Picture of Tuti Bumiasih
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Tuti Bumiasih - Thursday, 7 April 2011, 11:54 PM
 

Tugas AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)

a. Pelayanan kepada pasien di Rumahsakit yang beresiko untuk terjadinya Failure/kegagalan dan berdampak besar.

Pelayanan Perawatan Pasien Post Operasi BPH di Bangsal Bedah

b. Urutan proses pelayanan tersebut ,

1. Perawat mendapat pemberitahuan bahwa pasien post operasi siap diambil

2. Perawat menyiapkan peralatan dan obat di ruang pasien

3. Perawat mengambil pasien di Kamar Operasi dengan proses serah terima

4. Pasien dibawa ke bangsal bedah dengan menggunakan TT/alt transportasi dan perlengkapannya

5. Perawat melakukan program pengobatan dan perawatan sesuai prosedur dan program dokter

6. pasien dinyatakan bisa nejalani perawatan dirumah (Boleh Pulang)

c. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses 5 karena:

  1. Perawat tidak memperhatikan/membaca instruksi dokter operator dan dokter anestesi sehingga ada kemungkinan dobel dosis analgetik.
  2. Perawat tidak melaksanakan monitor VS ketat pada 4 jam pertama post operasi sehingga ada kemungkinan tidak diketahuinya perubahan VS yang drastis dan bisa terjadi kematian.
  3. Perawat kurang tanggap terhadap perubahan VS sehingga ada kemungkinan keterlambatan penanganan hipotensi, hipotermi ataupun kejadian syok

4. Perawat kurang tanggap terhadap keluhan pasien:

· Kedinginan dimana merupakan tanda dehidrasi yang bisa mengganggu fungsi ginjal

· Pusing bisa akibat dari sisa obat bius yang bisa menekan fungsi organ

· Nyeri yang jika tidak dikelola dengan baik ada kemungkinan terjadinya gejala klinis menetap, misalnya ischemic, hipertensi, infark

5. Perawat kurang memperhatikan intake dan output cairan bilas sehingga jika ada sumbatan maka luka akan rembes dan memperpanjang masa pemulihan

6. Perawat kurang memperhatikan produksi drain yang bisa berakibat perdarahan tidak terdeteksi

7. Perawat lalai melakukan balance cairan pada 24 jam pertama post operasi terkait kemungkinan terjadinya dehidrasi dan terganggunya system metabolism tubuh

8. Perawat mengabaikan kecemasan pasien yang bisa berakibat menghebatnya keluhan nyeri

9. Perawat kurang melibatkan keluarga dalam pengelolaan makan pasien sehingga ada kemungkinan pasien diberi makan&minum sebelum waktunya yang bisa berakibat tersedak, aspirasi sampai dengan apnea

d. Menurut saya, yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut adalah:

1. di control karena masih bisa dikoreksi dengan konsultasi dengandokter operator dan anestesi

2. wajib dieliminasi karena jika tidak dilakukan bisa berakibat serius sampai dengan kematian

3. di control karena masih bisa dikoreksi oleh petugas lain

4. di control karena masih bisa dimonitor dari tanda-tanda yang lain

5. dielimisasi karena jika terhadi maka akan memperpanjang masa pemulihan juga menjadi pintu masuk infeksi

6. dikontrol karena masih bisa dikenali dengan tanda-tanda yang lain

7. wajib dieliminasi karena diagnose BPH umumnya terjadi pada orang dewasa tua yang rentan terjadi dehirasi sampai dengansyok hipovolemik

8. dikontrol karena masih bisa dikendalikan dengan obat penenang

9. dikontrol karena masih bisa dikelola dengan bekerjasama dengan pasien dan dengan pengawasan yang ketat

Picture of Susianti Miranda
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Susianti Miranda - Wednesday, 13 April 2011, 03:11 PM
 
ASS.WR.WB..
TANGGAPAN KASUS.....
Selain hal tersebut yang dikemukakan oleh mahasiswa Tuti Bumiasih...Untuk pelayanan perawatan pasien post op BPH, proses yang sering sekali terjadi kagagalan adalah pada proses dimana dokter kurang informatif menuliskan intruksi di LEMBAR FOLLOW UP DOKTER, sehingga pelaksanakan instruksi dokter oleh perawat jadi kurang tepat..

Diketahui post op BPH dengan METODE OPEN PROSTECTOMY,,diperlukan pengawasan irigasi cairan yg memerlukan perhitungan cairan yg tepatlewat selang DC..bila dokter kurang informatif menuliskan jumlah dan teknik irigasi yg kurang informatif, maka post op kurang optimal..DC menjadi macet DAN trjadi kegagalan opersasi..
dan hasilnya kurang memuaskan.

Agar hal tersebut tdk terjadi..maka dibuat protap yang baku..untuk irigasi cairan pasien post op open prostatectomy sehingga siapapun dokter yg melakukannya tidakan perawat sudah standar..

pada prisipnya banyak sisi untuk terjadi kegagalan proses penatalaksanaan pasien post op BPH,,trimakasih... WASS.WR.WB





lulus 2009 potongan cepak
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Deby Zulkarnain - Wednesday, 13 April 2011, 05:36 PM
 
menanbahkan sedikit ya Pak Taufiq,...... selain dilakukan kontrol perlu dibuat SOP yang jelas pada unit Padiolagi, karen ajika hanya kontrol masing masing petugas belum menjiwai budaya kerjanya untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan standar, kemudian jika hanya dikontrol saja dan yang mengontrol kebetulan tidak ada maka hasilnya akan sama saja.
Trimakasih.
Picture of Inda Fathiya
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Inda Fathiya - Thursday, 14 April 2011, 06:47 PM
 
aslkm,
saya setuju dengan posting deby mengenai HFMEA radiologi yang dibuat oleh pak taufik, hanya ingin menambahkan sedikit..selain dibuat SOP dibidang layanan radiologi, sebaiknya dilakukan juga pengecekan hasil foto rontgen sebelum diberikan oleh petugas radiologi ke pasien. apakah foto itu sudah sesuai dengan standar atau belum, juga mengenai label identitas pasien, untuk meminimalkan resiko foto tertukar.
selain itu setiap kesalahan dalam prosedur di bidang radiologi sebaiknya dilakukan pendataan dan monitoring secara berkala untuk meminimalkan resiko kesalahan dalam pelayanan.
terimakasih smile

Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Friday, 8 April 2011, 02:50 PM
 
A. Pelayanan di IGD
B. Urutan proses pelayanan di IGD:
1. Pasien masuk ruang gawat darurat
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner)
3. UGD menerima status pasien dari rekam medik dan map plastik merah
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien
5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai SPM e emergensi
6. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga (informed consent)
7. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap), pasien/keluarga menandatangani surat penolakan
8. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien
9. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit radiologi
10. Dokter mencatat hasil bacaan penunjang medik di dokumen RM dan salinannya tersimpan dalam dokumen RM
11. Dokter triase mencatat hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi di lembar emergensi dokumen RM, serta menuliskan resep (berwarna merah), bila merupakan kasus kepolisian/kriminal dituliskan juga di lembar visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian
12. Dokter triase menentukan proses tindak lanjut pasien meliputi ralan, ranap, atau rujukan

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak terletak pada point 4 yaitu paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.
  1. Bila paramedik dan dokter tidak jeli / tidak tepat dalam melakukan triase maka akan terjadi salah diagnosa sehingga akan mempengaruhi kondisi pasien selanjutnya.
  2. Bila paramedik dan dokter tidak melakukan triase dengan benar maka akan terjadi kesalahan dalam memberikan treatment dimana akan berakibat buruk / memperparah terhadap kondisi pasien.
  3. Kurangnya kolaborasi dan komunikasi antara dokter dan paramedik dalam melakukan triase maka akan terjadi kelalaian yang akan berdampak pada pasien terutama jika paramedik baru lulus atau dokter yang baru lulus.
D. Yang harus dilakukan dalam sub proses diatas adalah :
  1. Paramedik dan dokter harus benar2 teliti dalam melakukan triase
  2. Bagi paramedik dan dokter di IGD harus mempunyai sertifikat PPGD,BLS,ATLS, ANLS dll
  3. Paramedik IGD sebelum bekerja di IGD sebaiknya telah mempunyai pengalaman bekerja selama 3 thn.
  4. Paramedik dan dokter seharusnya bekerja sesuai dengan SOP dan kompetensi masing2.
  5. Paramedik dan dokter harus lebih teliti terhadap respon time dalam melakukan triase

















































Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Tuesday, 12 April 2011, 04:42 PM
 
A. Pelayanan di IGD
B. Urutan proses pelayanan di IGD:
1. Pasien masuk ruang gawat darurat
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner)
3. UGD menerima status pasien dari rekam medik dan map plastik merah
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien
5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai SPM e emergensi
6. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga (informed consent)
7. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap), pasien/keluarga menandatangani surat penolakan
8. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien
9. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit radiologi
10. Dokter mencatat hasil bacaan penunjang medik di dokumen RM dan salinannya tersimpan dalam dokumen RM
11. Dokter triase mencatat hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi di lembar emergensi dokumen RM, serta menuliskan resep (berwarna merah), bila merupakan kasus kepolisian/kriminal dituliskan juga di lembar visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian
12. Dokter triase menentukan proses tindak lanjut pasien meliputi ralan, ranap, atau rujukan

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak terletak pada point 4 yaitu paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.
  1. Bila paramedik dan dokter tidak jeli / tidak tepat dalam melakukan triase maka akan terjadi salah diagnosa sehingga akan mempengaruhi kondisi pasien selanjutnya.
  2. Bila paramedik dan dokter tidak melakukan triase dengan benar maka akan terjadi kesalahan dalam memberikan treatment dimana akan berakibat buruk / memperparah terhadap kondisi pasien.
  3. Kurangnya kolaborasi dan komunikasi antara dokter dan paramedik dalam melakukan triase maka akan terjadi kelalaian yang akan berdampak pada pasien terutama jika paramedik baru lulus atau dokter yang baru lulus.
D. Yang harus dilakukan dalam sub proses diatas adalah :
  1. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus benar2 teliti dalam melakukan triase
  2. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter di IGD harus mempunyai sertifikat PPGD,BLS,ATLS, ANLS dll
  3. Dikontrol,Paramedik IGD sebelum bekerja di IGD sebaiknya telah mempunyai pengalaman bekerja selama 3 thn.
  4. Dikontrol. Paramedik dan dokter seharusnya bekerja sesuai dengan SOP dan kompetensi masing2.
  5. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus lebih teliti terhadap respon time dalam melakukan triase
  6. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter harus sering dilakukan atau mengikuti pelatihan2.










































Picture of Susianti Miranda
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Susianti Miranda - Thursday, 14 April 2011, 04:55 PM
 
tanggapan buat mbak Meise Setriani..

Ass.Wr.Wb..
kesalahan trise pasien oleh dokter sehingga salah diagnosa dan menyebebkan perburukan pasien, mungkin perlu dijelaskan pada sub proses yang mana, sehingga dokter salah triase.misalkan sub proses :
1.Primery Survey.
yaitu : saat pemeriksaan awal,misalnya saat menentukan scoring GCS,menetukan tingkat kesadaran atau yang lainnya.
bila sudah ditemukan pada sub proses yang menyebabkan kegagalan akan mempermudah menentuka pohon keputusan yang akan dibuat.
dan dapat menentukan skor hazardnya apakah hanya sebatas moderat atau minor saja.
2.Skundery Survey.
yaitu : penentuan tahap ke dua pasien gawar darurat misalnya : ada fraktur tapi tidak ditemukan
3.pada label triase yang mana yang akan menyebabkan skor hazard yang tinggi.karena bila pada label hijau maka score hazardnya tidak akan lebih dari 6.
karena score hazard penting diketahui terlebih dahulu untuk menentukan :
1.tipe tindakan
2.ukuran outcomenya
3.siapa yang nanti bertanggung jawab
4.Bentuk dukungan manajemen

Trimakasih..
Was.Wr.Wb
Picture of Inda Fathiya
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Inda Fathiya - Thursday, 14 April 2011, 07:04 PM
 
menanggapi posting meyse,
triase ini adalah teknik untuk menentukkan prioritas penatalaksanaan pasien atau korban, saat sumber daya terbatas. dalam konteks ini selain dokter harus jeli dan benar, dokter juga harus cepat dalam menentukan triase. Triase di UGD rumah sakit harus selesai dilakukan dalam 15-20 detik oleh staf medis atau non-medis (melalui training) sesegera mungkin setelah pasien datang. begitu tanda kegawatdaruratan teridentifikasi, penatalaksanaan dapat segera diberikan untuk menstabilkan kondisi pasien karna pada kondisi kondisi darurat hal ini berhubungan dengan life saving pasien.

berikut beberapa kategori dlm triase UGD:

1. Segera- Immediate (I)- MERAH

Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya : Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/mnt), perdarahan internal vasa besar dsb

2. Tunda-Delayed (II)-KUNING

Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar <25% luas permukaan tubuh, dsb.

3. Minimal (III)-HIJAU

Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.

4. Expextant (0)-HITAM

Pasien menglami cedera mematikan dan akan meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital, dsb

terimakasih smile
Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Friday, 15 April 2011, 01:47 AM
 

JAWABAN REVISI MEISE

A. Model kegagalan : Kesalahan dalam melakukan triase primery survei

Definisi operasional :

Kesalahan dalam melakukan triase adalah suatu penilaian atau tindakan memilah-milah korban sesuai dengan tingkat kegawatannya untuk memperoleh prioritas tindakan dan pengelompokan triase yaitu merah, kuning,hijau, hitam dimana triase dalam primery survey tersebut berhubungan dengan Airway, Breathing dan circulation.

Probability : terdapat pada level 3/occasional/kadang-kadang
yaitu : kejadian kesalahan dalam melakukan triase kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun)

Nilai Hazard : terdapat pada level mayor (3) : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.

Skor Hazard : 9

Dampak Hazard :

1. Jika tidak tertangani dapat mengakibatkan kematian

2. Jika terjadi tuntutan hukum oleh pihak pasien kepada RS dapat mengakibatkan kerugian biaya bagi pihak RS

3. Akan menurunkan citra RS jika masalah tersebut sampai ke hukum atau pengadilan

B. Urutan proses pelayanan di IGD:
1. Pasien masuk ruang gawat darurat
2. Pengantar mendaftar ke bagian administrasi (front liner)
3. UGD menerima status pasien dari rekam medik dan map plastik merah
4. Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien

• Sistem yang terganggu: di triase keluhan utama pasien dikaji, lalu ditetapkan organ yang mungkin terganggu dan asal gangguannya (misalnya; bedah, penyakit dalam, kebidanan).
• Tingkat kegawatan yang diderita : di triase tingkat kegawatan pasien ditentukan (gawat darurat/darurat tidak gawat/gawat tidak darurat/tidak gawat & tidak darurat)
• TRIASE
Tujuan:
– Menjaga alur klien di IGD
– Menetapkan derajat kegawatan klien

5. Paramedik dan dokter melakukan tindakan yang diperlukan sesuai  SPM e emergensi

6. Dokter menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan disetujui oleh pasien/keluarga (informed consent)
7. Bila pasien menolak pemeriksaan dan atau tindakan (medik, penunjang, ranap), pasien/keluarga menandatangani surat penolakan
8. Pasien tanpa pengantar dan dalam kondisi tidak sadar, dokter atau paramedis berhak melakukan tindakan penyelamatan bila terdapat kondisi yang mengancam jiwa pasien
9. Bila diperlukan pemeriksaan penunjang, dokter membuat pengantar ke unit terkait dan mengonfirmasi lewat telpon, pengambilan sampel laboratorium dilakukan di ruang gawat darurat, untuk pemeriksaan rontgen, paramedik mengantarkan pasien ke unit radiologi
10. Dokter mencatat hasil bacaan penunjang medik di dokumen RM dan salinannya tersimpan dalam dokumen RM
11. Dokter triase mencatat hasil pemeriksaan, diagnosis, dan terapi di lembar emergensi dokumen RM, serta menuliskan resep (berwarna merah), bila merupakan kasus kepolisian/kriminal dituliskan juga di lembar visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian
12. Dokter triase menentukan proses tindak lanjut pasien meliputi ralan, ranap, atau rujukan

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak terletak pada point 4 yaitu paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien.

1. Bila paramedik dan dokter tidak jeli / tidak tepat dalam melakukan triase maka akan terjadi salah diagnosa sehingga akan mempengaruhi kondisi pasien selanjutnya.

2. Bila paramedik dan dokter tidak melakukan triase dengan benar maka akan terjadi kesalahan dalam memberikan treatment dimana akan berakibat buruk / memperparah terhadap kondisi pasien.

3. Kurangnya kolaborasi dan komunikasi antara dokter dan paramedik dalam melakukan triase maka akan terjadi kelalaian yang akan berdampak pada pasien terutama jika paramedik baru lulus atau dokter yang baru lulus.

D. Yang harus dilakukan dalam sub proses diatas adalah :

1. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus benar2 teliti dalam melakukan triase

2. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter di IGD harus mempunyai sertifikat PPGD,BLS,ATLS, ANLS dll

3. Dikontrol,Paramedik IGD sebelum bekerja di IGD sebaiknya telah mempunyai pengalaman bekerja selama 3 thn.

4. Dikontrol. Paramedik dan dokter seharusnya bekerja sesuai dengan SOP dan kompetensi masing2.

5. Dikontrol. Paramedik dan dokter harus lebih teliti terhadap respon time dalam melakukan triase

6. Dikontrol. Bagi paramedik dan dokter harus sering dilakukan atau mengikuti pelatihan2.

7. Dikontrol. Bagi paramedic dapat

1. mengenal klasifikasi pasien
2. Mampu mengatasi pasien : syok, gawat nafas, gagal jantung paru otak, kejang, koma, perdarahan, kolik, status asthmatikus, nyeri hebat daerah pinggul & kasus ortopedi.
3. Mampu melaksanakan dokumentasi asuhan keperawatan gawat darurat
4. Mampu melaksanakan komunikasi eksternal dan internal

Ukuran outcome : tidak terjadi kesalahan dalam melakukan/ menentukan triase

Yang bertanggung jawab : petugas yang melakukan triase dokter/paramedic

Dukungan manajemen :

1. adanya manajer triase

2.  Mematuhi standar operating procedure (SOP)

3. Melakukan pencatatan dengan bebar meliputi mencatat segala tindakan, mencatat segala instruksi dan mencatat serah terima

Picture of Shinta Putri P
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Shinta Putri P - Thursday, 14 April 2011, 12:12 PM
 
menanggapi n menambahi ya meise,,,
triase diperlukan untuk mengidentifikasi pasien pertama kali masuk ke IGD yaitu dia masuk ke kategori merah. kuning. hijau ataupun hitam.
setelah dikategorikan dalam respon time yg sesuai dgn masing2 kategori dan dokter bersama paramedis segera memberikan pertolongan 1 yang meliputu airway,breathing,circulation, and drugs,
jadi triase itu bukan untuk menentukan terapi yang akan kita berikan melainkan untuk memilahkan pasien mana yg lebih emergency
yang menentukan terapi selanjutnya adalah
1. anamnesis itu bisa menegakkan 80% dari dx
2. pemeriksaan fisik
3. px penunjang
4. menentukkan deferential diagnosis
5. diagnosis tefgak
6. terapi
Picture of Sumarsi S.Ked
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Sumarsi S.Ked - Thursday, 14 April 2011, 02:01 PM
 
Hi Mbak Meise boleh ya komentar... Untuk NO. 4 Paramedik dan dokter triase memeriksa kondisi pasien

Yang sering terjadi pada point 4 ini adalah peran dan fungsi antara perawat dan dokter belum terpetakan dengan jelas. Mustinya klu mau baik ada maneger yang mengatur triase di gawat darurat. dengan peran dan fungsi yang jelas. Kemudian untuk jaga sore dan malam ditunjuk penangung jawab jaga sore dan malam agar dapat mengatur triase dengan baik.
Picture of Eva Marvia
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Eva Marvia - Tuesday, 12 April 2011, 11:15 AM
 
A. Pelayanan di ranap "pemberian obat antibiotik di bangsal"

B. Gambaran alur proses pemberian obat :
1. dokter melakukan pemeriksaan ke pasien/visite dokter.
2. dokter menentukan diagnosis penyakit.
3. dokter menuliskan resep obat pasien.
4. dokter memberikan resep obat ke perawat
5. Perawat mengambil obat yang diresepkan oleh dokter ke apotik
6. perawat memberikan obat ke pasien.

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses 6 karena :
1. pada
saat pemberian obat (antibiotik) terkadang perawat tidak melakukan skin test terlebih dahulu karena perawat percaya dengan apa yang di katakan pasien, tidak alergi dengan obat tersebut.
2.
perawat kurang teliti dalam menghitung dosis obat buat pasien
3.perawat lupa memberikan obat ke pasien (tidak sesuai jadwal)
4. perawat keliru dalam mengidentifikasikan pasien.

D. yang harus dilakukan terhadap subproses tersebut adalah:
1. dikontrol : dengan melakukan skin test terlebih dahulu sebelum memberikan obat antibiotik.
2. dikontrol : sebelum memberikan obat perawat harus menghitung dosis yang diberikan.
3. dikontrol : perawat sebaiknya melihat waktu pemberian obat pasien.
4. dikontrol : sebaiknya sebelum memberikan obat ke pasien, perawat perlu memperhatikan nama pasien, obat yang diberikan dan proses pemberian obat ( misal : melalui IV,SC atau IM)



























Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Tuesday, 12 April 2011, 05:34 PM
 
Tambahan untuk eva marvia

B. Pada gambaran alur pemberian obat sebaiknya pada saat dokter melakukan visite kepasien sebelum dokter memberikan atau membuat resep untuk pasien sebaiknya dokter terlebih dahulu menanyai pasien apakah ada riwayat alergi atau tidak. Jawaban yang diberikan oleh pasien jangan langsung diambil keputusan maka walaupun pasien mengatakan tidak ada riwayat alergi sebelumnya maka sebelum memberikan obat harus tetap dilakukan skin test terlebih dahulu.


C. Proses yang memiliki resiko dan dampak adalah pada saat operan jaga atau pertukaran shift jaga perawat terkadang perawat sebelumnya lupa mencatat atau dokumentasi diasuhan keperawatan tentang apa yang telah dilakukan. Misalnya :
  1. pasien yang dilakukan skin test oleh perawat sebelumnya lupa ditulis di RM pasien di asuhan keperawatan dan saat operan jaga perawat sebelumnya lupa memberitahu keperawat selanjutnya sehingga pasien yang seharusnya diberi antibiotik segera menjadi tertunda karena hal tersebut.
  2. Pasien yang telah dimasukkan atau diberi obat antibiotik oleh perawat sebelumnya lupa dicatat di RM asuhan keperawatan sehingga perawat selanjutnya juga memberikan kembali obat antibiotik tersebut kepasien yang sama dengan obat yang sama pula sehingga terjadi double dalam pemberian antibiotik.
  3. Kurangnya komunikasi antara perawat jaga sebelumnya dan perawat jaga selanjutnya
  4. Kurang komunikasi antara perawat jaga dengan pasien, terutama bagi pasien yang awam.
  5. Dalam pemberian obat perawat harus selalu memperhatikan 5 hal yaitu : tepat orang, tepat obat, tepat dosis, tepat waktu dan tepat cara pemberian obat (oral, iv,im, sc)
Picture of Indah Widyasmara
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Indah Widyasmara - Wednesday, 13 April 2011, 11:14 PM
 
Nambahin aja ya Eva:
Sebaiknya juga di tiap-tiap bangsal dibuat SOP dalam pemberian injeksi antibiotik. Sebelum melakukan pemberian injeksi antibiotik ke pasien ranap, perawat harus melakukan skin test terlebih dahulu walaupun pasien tersebut mengatakan bahwa tidak alergi obat tersebut. Selain itu, bila pasien memiliki alergi obat tertentu, harus di tulis di RM pasien tersebut. Dalam SOP tersebut juga dicantumkan tentang waktu pemberian antibiotik dalam ranap, baik yang per 8 jam atau per 12 jam, sehingga perawat dapat tepat waktu dalam pemberian obat. Diharapkan dengan adanya SOP tersebut dapat meminimalisir atau tidak terjadi kesalahan.
Picture of Susianti Miranda
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Susianti Miranda - Thursday, 14 April 2011, 02:21 PM
 
ANALISIS MODEL KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMK)

A. PELAYANAN YANG BERDAMPAK BESAR :

MODEL KEGAGALAN :
Kejadian Operasi Salah Sisi pada Penderita Uretrolitiasis Dextra.

Definisi operasional:
Kejadian operasi salah sisi adalah kejadian dimana pasien dioperasi pada sisi yang salah, misalnya yang semestinya dioperasi pada sisi kanan, ternyata yang dilakukan operasi adalah pada sisi kiri atau sebaliknya.

PROBABILTY : terdapat pada level 4/frequen/sering.
yaitu : kejadian operasi salah sisi pada penderita Uretrolithiasis Dextra,sering muncul dalam waktu relative singkat ( dapat terjadi beberapa kali dalam 1 tahun, disuatu pelayanan kamar opreasi ).

SKOR HAZARD : 12

NILAI HAZARD: Mayor yaitu : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.

DAMPAK HAZARD :
1. Menyebabkan kerugian terhadap tubuh pasien.
2. Perpanjangan hari rawat.
3. Memerlukan operasi lebih lanjut.
4. Pembengkakan biaya operasi dan rawat inap.
5. Pembiayaan RS / tenaga medis ke pada pasein bila terjadi tuntutan hukum oleh pasien kepada RS / tenaga medis


B. ALUR PROSES
1.Pasein dilakukan pemeriksaan BNO-IVP
Sub Proses :
- Pasien datang ke radiologi dg membawa pengantar
- Pasien dilakukan pemeriksaan oleh Radiolog
- Radiografer memberi tanda maker Dextra/Sinistra di film
- Radiolog me Expertise pemeriksaan

2.Pasien RI di bangsal
Sub Proses :
- Pasien di lakukan persiapan operasi
- Perawat bangsal mengambil hasil RO.
- Perawat membuat ASKEP dan Pendaftaran OP.
- Pasein dilakukan pemeriksaan oleh dr anestesi.
- Pasien dilakukan pemeriksaan oleh Operator.

3.Pasien di bawa ke OK
Sub Proses :
- Perawat OK melakukan pemeriksaan Vital Sign.
- Dokter anestesi melakukan pembiusan
- Operator membaca RM pasein
- Operator malakukan tindakan operasi

C.SUB PROSES DENGAN RISIKO KEGAGALAN

I. Radiogrefer memberi maker,salah
II.Operator membaca RM pasien,tanpa di periksa ulang
III.Persiapan Operasi di bangasal,tidak optimal

D. TIPE TINDAKAN : Di Kontrol

Controling :
ad.I.
1. Buat SOP di unit radiologi untuk menayakan sisi yang sakit kepada pasein sebelum melakukan pememriksaan.
2. Radiolog selalu melakukan anamnesa ulang saat pemeriksaan.
3. Buat instruksi Kerja pemasangan maker yang jelas.
4. Radiografer selalu mekonfirmasi ulang dengan pengantar radiologi sebelum pemberian maker.
ad.II.
1.Dokter melakukan pemeriksaan ulang sebelum dilakukan pembiusan.
2.Operator mengecek kelengkapan OP.
3.Operator memeriksa ulang RM pasien.
ad.III.
1.Perawat melakukan cross chek antara keluhan pasien dan hasil radiologi.
2.Beri tanda yang jelas di tubuh pasien,sisi mana yang akan dilakukan operasi.

Alasan Controling :
- Memenuhi target standar pelayanan minimal di OK
sebesar 100%
- Meningkatkan Mutu layanan OK
- Meminimalkan pemberian maker salah sisi.
- Meminimalkan pemeriksaan radiologi salah sisi
- Mengurangi Risiko kesalahan pemberian pengantar radiologi oleh dokter
- Meminimalkan komplen pasien
- Mengurangi angka kejadian oprasi salah sisi

Ukuran Outcome : keselamatan pasein 100%

Indikator mutu kamar bedah:
Tidak adanya kejadian operasi salah sisi di kamar bedah sebesar 100% setiap bulannya, sesuai dengan SPM-RS yang telah ditetapkan oleh direktorat jendral bina pelayanan medik.DEPKES RI,jakarta 2007.

Yang Bertanggung Jawab : Kepala Instalasi Bedah.

Dukungan Managemen :
- SK Direktur SOP dan IK di kamar OP
- SK Direktur SOP dan IK di Unit Radiologi
- SK Direktur SOP dan IK di Bansal RI.
- SK Direktur target pencapaian kepuasan pelanggan di kamar bedah
- SK Direktur pencapaian indikator mutu layanan bedah.




Picture of Nurkolis Marwanto
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Nurkolis Marwanto - Wednesday, 13 April 2011, 10:59 AM
 

a. Pelayanan di OK/ Kamar Operasi (terjadinya salah operasi pasien)
b. Urutan prosesnya:

  1. Penerimaan pasien di Ok oleh petugas

  2. Pengecekan kebenaran pasien (meliputi RM, id)

  3. Pembiusan pasien

  4. Pelaksanaan operasi

  5. Penjagaan sampai pasien sadar

  6. Penyerahan pasien kebangsal

c. Sub proses dengan risiko kegagalan (hazard analisis lbh dari 8), yaitu sub proses 2, Pengecekan kebenaran pasien, yang terdiri dari:

  1. Perawat menanyai demografi pasien (nama, umur, alamat dll).

  2. Perawat mengecek nama dengan RM pasien.

  3. Perawat meminta teman tugasnya mengecek kembali dengan RM.

  4. Perawat dan dokter kembali mengecek pasien dengan permintaan operasi.

d. Menurut pendapat saya sub proses tersebut cukup dikontrol. Mungkin yang biasa terjadi saat pengecekan hanya dilakukan pada poin 1 dan 4.Hal ini akan sangat berisiko apabila terjadi kemiripan nama pasien, kemiripan RM dan kebetulan juga kesamaan nama pasien. untuk itu sub proses tersebut harus dijalankan sesuai prosedur supaya kesalahan bisa 0%. Kalau perlu apabila ada kesamaan/ kemiripan nama dibuat SOP yang lebih terperinci. Untuk itu pengontrolan secara rutin apakah petugas sudah mematuhi prosedur secara baik dilakukan terus-menerus.

Trimakasih.

Picture of Sumarsi S.Ked
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Sumarsi S.Ked - Thursday, 14 April 2011, 02:51 PM
 
Mas Cholis... yup setuju. tapi sayangnya ada sebagian kecil RS yang belum melaksanakan itu semua.... tetapi sebenarnya untuk mengatasi hal ini adalah Komitmen dari seluruh SDM yang ada dan dukungan dari pucuk pimpinan kali ya....
Picture of Yoslina Pramudya W
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Yoslina Pramudya W - Saturday, 16 April 2011, 11:41 AM
 
Menanggapi Kholis...,, selain itu perlu dilakukan rapat bulanan guna selalu mengingat komitmen bersama agar tidak terjadi kesalahan.apabila terjadi kesalahan,maka harus dilakukan audit seluruh proses mengapa terjadi kesalahan sehingga diharapkan tidak akan terulang lagi kesalahan yang sama.
lulus 2009 potongan cepak
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Deby Zulkarnain - Wednesday, 13 April 2011, 05:29 PM
 
Analisis Modus Kegagalan Dan Dampaknya (AMKD)
A. Unit Laboratorium Rumah Sakit
B. Urutan Proses Pelayanan :
  1. Pasien dirujuk dari (Poli, UGD, Ranap)
  2. Menyerahkan form pengantar lab kepada petugas laborat
  3. Petugas laborat melihat instruksi pemeriksaan laborat yang akan dilakukan
  4. Petugas laborat menyiapkan alat dan bahan
  5. Petugas laborat mengambil spesimen
  6. Petugas laborat mengolah spesimen
  7. Petugas laborat menyerahkan hasil pada dokter yang merujuk
  8. Dokter membaca hasil lab
C. Sub Proses Dengan Resiko Kegagalan
Pada poin 3 sering petugas lab tidak melihat identitas pasien, sehingga sering terjadi kesalahan pada hasil akibat terbalik dengan pasien yang lain yang mempunyai nama yang sama. Kejadian demian akan mengakibatkan kerugian yang amat fatal baik bagi pasien ataupun petugas laborat tersebut. Karena dari hasil lab salah maka akan berakibat salah juga dalam mendignosa suatu penyakit.

D. Yang Harus Dilakukan yaitu "Kontrol"
Pihak manajemen mengontrol dengan membuat SOP pada pelayanan laboratorium. SOP tersebut disosialisasikan kemudian dilaksanakan oleh setiap petugas laboratorium, terutama kepala unitnya harus memberikan contoh dalam penerapan SOP tersebut. Jika perlu dibuat punismen pada setiap anggta yang tidak mematuhi SOP tersebut, sehingga semua petugas akan terbiasa untuk melakukan pekerjaannya berdasarkan SOP dan menjadi budaya kerja yang baik di unit tersebut.
Picture of Sri Supriyanti
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Sri Supriyanti - Thursday, 14 April 2011, 03:24 PM
 
Tambahan untuk Deby Zulkarnain
Pihak manajemen juga sebaiknya memberi reward pada petugas laboratorium yang mampu melaksanakan SOP dan menunjukkan kinerja yang baik, apalagi bila petugas tersebut mampu memberikan pelayanan yang tetap sama kualitasnya (konsisten) walaupun pasiennya banyak dimana seringkali jika pasien banyak,petugas menjadi capek dan kurang teliti.
Terima kasih
Picture of Inda Fathiya
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Inda Fathiya - Thursday, 14 April 2011, 08:48 PM
 
aslkm,
menanggapi posting deby, saya ingin menyoroti sisi lain dari yang dibahas deby. selain point 3 (Petugas laborat melihat instruksi pemeriksaan laborat yang akan dilakukan) hal yang sering mengakibatkan kesalahan fatal juga sering terjadi pada saat petugas laborat mengambil spesimen yang akan diteliti.
misalnya pada pengambilan spesimen darah. petugas lupa memberi antikoagulan dimana antikoagulan ini adalah bahan kimia yang dipergunakan untuk mencegah pembekuan darah. jika hal itu terjadi maka spesimen darah tidak bisa diperiksa.
Umumnya yang digunakan adalah EDTA (ethylendiamin tetraaceticacid), natrium citrat, heparin dan natrium fosfat. Pemilihan antikoagulan harus sesuai dengan jenis pemeriksaan dan takaran volumenya harus tepat.
Atau misalnya ketika spesimen urin disimpan terlalu lama akan terjadi kontaminasi pada spesimen. Bahan urin harus segera dikirim ke laboratorium, karena penundaan akan menyebabkan bakteri yang terdapat dalam urin berkembang biak dan penghitungan koloni yang tumbuh pada biakan menunjukkan jumlah bakteri sebenarnya yang terdapat dalam urin pada saat pengambilan. Sampel harus diterima maksimun 1 jam setelah penampungan.2 Sampel harus sudah diperiksa dalam waktu 2 jam. Setiap sampel yang diterima lebih dari 2 jam setelah pengambilan tanpa bukti telah disimpan dalam kulkas, seharusnya tidak dikultur dan sebaiknya dimintakan sampel baru.

terimakasihsmile
Picture of Indah Widyasmara
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Indah Widyasmara - Thursday, 14 April 2011, 12:07 PM
 
Analisis Modus Kegagalan dan Dampak (AMKD)

Judul: Proses pelayanan obat di apotik rawat jalan.

Alur Prosesnya :
1. Permintaan obat
A. Dokter di poli menulis resep untuk pasien
B. Perawat memberikan resep kepada pasien
C. Perawat memastikan identitas pasien
2. Penyerahan Resep ke petugas apotik
A. Pasien menyerahkan resep ke petugas apotik
B. Petugas apotik mencatat di buku register
C. Petugas menyerahkan nomor antrian ke pasien
3. Penyediaan obat
A. Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastik
B. Memberi identitas pasien dan aturan minum obat di kantong obat
4. Penyerahan obat ke pasien
A. Memastikan identitas pasien di kantong obat dengan yang menerima
B. Menjelaskan aturan minum obat ke pasien dengan jelas

Proses yang memiliki sub proses dengan risiko kegagalan adalah proses
nomor 3, yaitu Penyediaan obat.
A. Mengambil obat yang dibutuhkan dan memasukkan ke kantong plastik
1. Salah mengambil obat.
2. Jumlah obat yang dimasukkan tidak sesuai dengan resep.
3. Salah membaca resep.
B. Memberi identitas pasien dan aturan minum obat di kantong obat.
1. Lupa memberi identitas dan aturan minum obat
2. Salah menulis identitas dan aturan minum
3. Tulisan tidak jelas.

Yang harus dilakukan dalam sub proses tersebut adalah di kontrol. Sebaiknya petugas apotik harus lebih berhati-hati dalam membaca resep dan mengambil obat. Selain itu, obat yang namanya mirip jangan diletakkanberdekatan, serta obat yang keras sebaiknya diletakkan terpisah dari obat yang lain agar tidak salah ambil. Sebelum diberikan ke pasien petugas memastikan terlebih dahulu identitas pasien serta aturan minum obat sudah ditulis dengan jelas. Sebaiknya juga dibuat SOP pelayanan obat di apotik rawat jalan agar dapat meminimalisir atau menghindari kegagalan yang terjadi. SOP tersebut harus dipatuhi oleh oleh semua petugas di apotik maupun kepala bagian farmasi. Bila tidak dipatuhi, sebaiknya dilakukan punishment kepada yang melanggar dan diberikan reward kepada petugas yang selalu menjalankan SOP dengan baik dan benar.

Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Thursday, 14 April 2011, 11:14 PM
 
Tambahan buat mbak Indah widyasmara.....

Saya sangat setuju dengan apa yang diutarakan oleh mbak indah bahwa obat yang namanya hampir sama/ mirip diletakkan terpisah, adanya punishment dan reward. disini saya cuma menambahkan saja pada saat petugas farmasi akan memberikan obat kepasien maka alangkah baiknya kalau obat tersebut dicek kembali dan disesuaikan dengan apa yang diresepkan selain itu nama pasien dan no RM pasien dipastikan sama sebelum obat diberikan ke pasien hal ini dikhawatirkan adanya kesamaan nama pasien. Selain itu untuk kegagalan yang sering terjadi diapotek rawat jalan ialah kurangnya komunikasi antara petugas apotek dengan dokter yang memberi resep, kadang petugas apotek tidak jelas dalam membaca tulisan dokter yang emang susah untuk dibaca sehingga petugas hanya mengira-ngira saja tanpa ada komfirmasi lagi dengan dokter bersangkutan sehingga terjadi kesalahan dalam pemberian obat yang akan berakibat merugikan bagi pasien.

terima kasih.... ^_^
Picture of Nishi Dewi Ruci
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Nishi Dewi Ruci - Thursday, 14 April 2011, 12:29 PM
 
A. Unit Farmasi RS B. Urutan Proses Pelayanan 1. Penulisan resep oleh dokter 2. Penyerahan resep ke apotik oleh pasien 3. Resep diterima bagian Apotik 4. Peracikan obat 5. Penyerahan obat ke pasien C. Sub Proses dengan resiko kegagalan Poin yang kemungkinan mengalami kegagalan yang cukup besar adalah poin 1 dan 4. Pada penulisan resep, yang dibutuhkan adalah penulisan nama,alamat, dan SIP dokter, tanggal penulisan, invocation, signature, subscription, dan nama/usia pasien. Penulisan yang tidak jelas dan takaran obat yang tidak sesuai juga penulisan nama yang mirip dengan nama pasien lain dan sering tidak mencantumkan usia pasien sering menyebabkan kegagalan. Kesalahan tersebut bisa berakibat fatal bagi pasien. D. Yang harus dilakukan Dalam hal ini, yang harus dilakukan yaitu kontrol dari berbagai pihak termasuk manajemen dan tenaga kesehatan, terutama dokter dan apoteker. Penggunaan SOP dalam mengontrol hal tersebut bisa diterapkan dengan membuat SOP penulisan resep yang benar dan tepat.
Picture of Yoslina Pramudya W
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Yoslina Pramudya W - Saturday, 16 April 2011, 11:48 AM
 
Menanggapi Nishi, pembuatan SOP untuk meminimalisir kejadian kesalahan tersebut harus mendapat kesepakatan bersama, bila perlu SOP tersebut dibuat bersama oleh para dokter dan apoteker, sehingga SOP tersebut dapat berlaku dan diterapkan bersama.

Gud Luck..
Picture of Eny Yulia
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Eny Yulia - Thursday, 14 April 2011, 12:45 PM
 
a. Pelayanan di ruang ICU

b.urutan proses pelayanan
1. Dokter melakukan visite.
2. Dokter menetukan diagnosis pasien
3. Dokter memberikan resep obat kepada perawat untuk pasien, salah satu obat diberikan hanya 1 kali dalam sehari.
4. perawat shift pagi telah memberikan obat tersebut pada pasien.

c. yang memiliki resiko kegagalan terletak pada point 4, karena :
1. perawat memberikan langsung obat tersebut ke pasien,namun tidak mencatatnya di buku dokumentasi atau di RM.
2.pada saat operan jaga perawat shift pagi tidak melaporkan bahwa telah diberikan injeksi obat tersebut kepada pasien.
3. perawat shift siang melihat di RM ada instruksi dokter bahwa pasien tersebut harus diberikan obat 1 kali sehari dengan segera, perawat shift siang langsung memberikan injeksi ke pasien tanpa menghubungi perawat shift pagi.

d. yang harus di lakukan terhadap sub tersebut:
1. dikontrol : sebaiknya perawat pada saat menyiapkan obat atau pada saat memberikan obat sebaiknya langsung mencentang di buku laporan pemberian obat.
2.dikontrol : sebaiknya pada saat operan jaga kondisi pasien dan terapi yang telah diberikan dokter dilaporkan.
3. dikontrol : sebaiknya perawat yang jaga siang menanyakan/menghubungi perawat yang jaga sebelumnya biar tidak terjadi missed komunikasi sebelum pemberian terapi.



Picture of Susianti Miranda
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Susianti Miranda - Thursday, 14 April 2011, 04:35 PM
 
tanggapan buat Mbak Eny Yulia

Ass.Wr.Wb....
untuk model kegagalan pada poin 4. bisa saja terjadi di unit pelayanan dimanapun, tidak hanya di ICU. kasus tersebut banyak terjadi di bangsal rawat inap. mungkin ada pembahasan, bila kasus tersebut terjadi yaitu :
1.Diskripsi probabilty kejadian
2.berapa skor hazardnya, apakah masuk kedalam katastropik,mayor, moderat atau minor
3.dampak real yang muncul akibat hal tersebut diatas sehingga dapat menentukan tipe tindakan,ukuran outcome dan bentuk dukungan manajemen yang harus dikeluarkan. sehingga permasalahan akan dapat teratasi dengan baik dan tidak akan terulang lagi.
Terimakasih..

Wass.Wr.Wb.
Picture of Inda Fathiya
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Inda Fathiya - Thursday, 14 April 2011, 12:48 PM
 
a. pelayanan RS yang beresiko untuk terjadinya failure/ kegagalan:
unit farmasi / apotek

b. urutan proses pelayanan:
1. resep datang
setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter, pasien membawa resep ke apotek. oleh petugas apotek (front office) pasien dipersilahkan duduk dan menunggu

2. skrining resep
selanjutnya pihak front office memberikan resep kepada petugas penyekrening resep (harus apoteker) segera melakukan skrining resep. Skrining resep ini antara lain skrining administratif, skrining farmasetis, dan skrining klinis. Skrining administratif. Berguna untuk menghindari kesalahan penulisan resep maupun pemalsuan resep
3. penyiapan / peracikan obat
dalam peracikan, dilakukan kegiatan penimbangan obat , pencampuran obat apabila obat perlu dicampur (dijadikan serbuk, cairan, dll), kemudian pengemasan setelah obat berhasil dibuat. Dan tahap selanjutnya adalah pemberian etiket.
4. pemberian obat ke pasien
sebelum obat diberikan ke pasien maka harus dilakukan pengecekan kembali antara obat dengan etiket dan obat dengan resep, kemudian berikan informasi, edukasi dan konseling kepada pasien.

c. dari proses tersebut menurut saya yang memiliki proses dengan resiko kegagalan adalah proses penyiapan/peracikan obat.
pada proses ini jika apoteker atau asisten apoteker ceroboh, akan terjadi kesalahan yang mengakibatkan dampak merugikan bagi pasien, misalnya: apoteker salah/lupa dalam memasang etiket obat untuk pasien, pada pasien yang tidak menderita DM, karena terrjadi kesalahan pemberian etiket maka pasien itu mendapat terapi DM, hal ini akan sangat membahayakan. atau terjadi percampuran sediaan obat yang tidak sesuai dengan anjuran dokter.

d. menurut saya yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut adalah:

  1. tahap ini harus jelas prosedurnya, ada protap / SOP nya dengan memperhatikan tahap tahap kritikal seperti dosis yang harus tepat, pencampuran yang harus tepat. Etiket pun harus jelas dan dapat dibaca serta mudah dipahami. Pengemasan pun harus rapi dan dapat menjaga kualitas dari obat tersebut.
  2. di kontrol: dengan adanya pengawasan ketat terhadap prosedur pelayanan obat di apotek
  3. koreksi kesalahan segera jika terjadi kesalahan
  4. pemantauan kesalahan secara periodik
  5. lakukan tindakan preventif dengan : sebelum obat diberikan kepada pasien lakukan pengecekan kembali antara obat dengan etiket dan obat dengan resep
Picture of Shinta Putri P
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Shinta Putri P - Thursday, 14 April 2011, 01:17 PM
 

A. cara pengambilan spasimen darah dengan vacutainer (vena puncti)

B. PROSEDUR

No.

Prosedur


1.

Lakukan penjelasan kepada penderita (tentang apa yang dilakukan terhadap penderita, kerjasama penderita, sensasi yang dirasakan penderita, dsb).


2.

Cari vena yang akan ditusuk (superfisial, cukup besar, lurus, tidak ada peradangan, tidak diiinfus).


3.

Letakkan tangan lurus serta ekstensikan dengan bantuan tangan kiri operator atau diganjal dengan telapak menghadap ke atas sambil mengepal.


4.

Lakukan desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas steril yang telah dibasahi alcohol 70% dan biarkan sampai kering.


5.

a. Lakukan pembendungan pada daerah proximal kira-kira 4-5 jari dari tempat penusukan agar vena tampak lebih jelas (bila tourniquet berupa ikatan simpul terbuka dan arahnya ke atas).

b. Pembendungan tidak boleh terlalu lama (maks. 2 menit, terbaik 1 menit).


6.

Siapkan tabung vacutainer yang sesuai dengan jenis pemeriksaan, jarum bermata dua yang salah satu ujungnya telah dimasukkan ke dalam holder.


7.

Dilakukan penusukan jarum pada vena dengan sudut 15-30° lalu difiksasi untuk menghindari pergeseran jarum.


8.

Torniquet dilepas segera setelah darah mengalir, lalu tabung diisi sesuai dengan kapasitas vacutainer. Bersamaan dengan tersedotnya darah ke dalam vacutainer, penderita diminta membuka genggaman tangannya.


9.

Vacutainer dilepaskan dari holder, kemudian jarum ditarik perlahan.


10.

Letakkan kapas alcohol 70% di atas bekas tusukan selama beberapa menit untuk mencegah perdarahan, plester, tekan dengan telunjuk dan ibu jari penderita ± 5 menit.


11.

Jarum bekas pakai dibuang ke dalam disposal cointainer khusus untuk jarum.


12.

Pada masing-masing tabung vacutainer diberi label identitas penderita.


13.

Diperhatikan petunjuk khusus penanganan specimen.


14.

Terima kasih diucapkan pada penderita.


15.

Sarung tangan dilepaskan dan tangan dicuci dengan cairan antiseptic.


16.

Spesimen dikirim ke seksi-seksi sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.


C. Sub Proses Dengan Resiko Kegagalan

Pada poin 12 (Pemberian identitas pada masing2 tabung vacutener)

Terkadang petugas sampling darah kurang teliti akan hal ini, mereka cenderung memakai metode hafalan pada pengambilan sampel, maksudnya petugas sampling setelah mengambi darah pada pasien 1 tidak segera memberikan identitass ke tabung tersebut, melainkan melanjutkan pengambilan sampling ke pasien2 berikutnya dengan alas an memperccepat waktu. Hal ini yang mengakibatkan kesalahan sample yang deperiksa, sehingga sangat merugikan pasien maupun dokter yang memberikan rujukan pemeriksaan lab. Dengan sample darah yang tertukar menyebabkan kesalahan yang fatal dari diagnosis dan terapi yang akan diberiakn kepada pasien,

D. Yang Harus Dilakukan yaitu

1. di kontrol , jadi pembuatan SOP mengenai pengambilan sampel darah harus jelas. Kemudian sosialisasi SOP, dan penerapan SOP. Pihak pimpinan dari unit Laboratorium juga berperan dalam system kontroling ini. Peran manajemen juga penting dalam hal ini. Untuk penerapan punishment bagi yg melanggar SOP.

2. eliminasi

Eliminasi untuk specimen yg dicurigai salah pengidentifikasian hendaknya tidak digunakan,.

Picture of Sumarsi S.Ked
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Sumarsi S.Ked - Thursday, 14 April 2011, 01:38 PM
 
Tangapan untuk mbak shinta putri , pada point 7. lakukan penusukan jarum pada vena dengan sudut 15-30° lalu difiksasi untuk menghindari pergeseran jarum.terkadang disini tingkat kegagalannya juga cukup tinggi, jika petugas kurang terampil. Untuk menjaga mutu dan kepuasan pasien idialnya petugas yang mengambil sampel adalah orang yang benar benar kompeten.
Picture of Shinta Putri P
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Shinta Putri P - Thursday, 14 April 2011, 01:44 PM
 
terima kasih bu marsi,, saya sangat setuju, sebenernya yang berkompeten dalam hal penngambilan darah adalah perawat, bukan petugas laborat,,
tetapi terkadang jumlah perawat yg ada terbatas sehingga pengambilan sampling menambah beban kerja perawat oleh karena itu sampliung dilakukan oleh analyss
Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Thursday, 14 April 2011, 11:38 PM
 
assalamualaikum.wr.wb
cuma mau nambahin dikit buat mbak shinta n bu marsih, saya sangat setuju dengan apa yang dikatakan bu marsih dan mbak shinta tadi bahwa dalam pengambilan darah itu yang mempunyai kompeten itu adalah perawat.menurut saya mbak shinta,kalau pengambilan darah itu bukan menjadi beban seorang perawat karena itu memang salah satu tugas atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang perawat. Disini yang perlu dipertegas lagi dalam suatu organisasi adalah sistem dan SOP nya terutama dalam menentukan siapa yang berkompeten dalam pengambilan darah tersebut.
terima kasih.....
Picture of Sumarsi S.Ked
Mengurangi kesalahan pemberian obat
by Sumarsi S.Ked - Thursday, 14 April 2011, 02:45 PM
 
Pembahasan kali ini adalah tentang gools Patient safety yaitu mengurangi kesalahan pemberian obat yang dilakukan oleh perawat, Sbb:
1.Perawat melakukan cross check dan double check untuk pemberian obat dengan program inovasi 5 jari dan berisikan 5 program tepat, sesama perawat

2.Perawat melakukan cross check dan double check untuk memastikan tepat pasien/orang

3.Perawat melakukan cross check dan double check tepat waktu

4.Perawat melakukan cross check dan double check tepat obat

5. Perawat melakukan cross check dan double check tepat cara pemberian

6. Perawat melakukan cross check dan double check tepat dosis

7. Obat ditempatkan di tempat obat/ trolly dengan identitas pasien yang jelas terbaca

8. Perawat memberikan edukasi/ penjelasan kepada pasien/keluarga sebelum obat diberikan

8. Pemberian obat sesuai protap dan alur

kegagalan yang sering terjadi disini adalah pada program inovasi 5 jari yang berisikan 5 TEPAT. Mengapa? kadang perawat bekerja sendiri dalam memberikan obat dan dilakukan dengan berpedoman pada rutinitas tanpa memperhatikan faktor resiko. terutama yang sering tidak dilakukan adalah melakukan cross check dan double check untuk tepat obat. karena perawat melakukan injeksi sendiri padahal untuk aktivitas cross check dan double check butuh teman untuk memvalidasi ketepatan obat yang akan diberikan. Silahkan di komentari hayo.... kenapa perawat kok sering bekerja sendiri....???
Picture of Sri Supriyanti
Re: Mengurangi kesalahan pemberian obat
by Sri Supriyanti - Thursday, 14 April 2011, 03:42 PM
 
Menanggapi ya bu marsi..
Menurut saya kejadian tersebut karena belum semua perawat mengetahui tentang aktivitas cross check dan double check dalam 5 tepat pemberian obat dan belum membudaya dalam pemberian asuhan keperawatan. Seringkali keterbatasan SDM perawat menjadi salah satu alasan sehingga perawat melakukan injeksi sendiri. Hal ini perlu dibuat SOP yang baku tentang cross check dan double check,dilakukan sosialisasi, monitoring dan evaluasi dan follow up (reward) hingga bisa menjadi budaya yang benar. Hal ini tidak hanya dilakukan untuk perawat yang sudah bekerja di rumah sakit tetapi juga untuk mahasiswa perawat yang praktek lapangan atau Co-Ners di rumah sakit tersebut.
Terima kasih
Picture of Sri Supriyanti
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Sri Supriyanti - Thursday, 14 April 2011, 03:04 PM
 

A. Pelayanan di One Day Care : Menyiapkan (mengoplos) obat dalam pemberian obat intravena dengan cairan pelarut melalui infus yang diberikan secara berurutan selama terapi 3-4 jam (John Bridge Therapy/JBT)

B. Proses pelayanan pemberian obat

  1.  Dokter melakukan pemeriksaan pada pasien
  2. Dokter menentukan diagnosis penyakit dan terapi yang akan diberikan
  3. Dokter menuliskan jenis dan dosis obat, cairan pelarut obat serta nomer urutan pemberian obat infus di lembar daftar obat infus
  4. Dokter memberikan daftar obat infus yang sudah dilengkapi identitas pasien kepada perawat
  5. Perawat mengambil obat dan cairan pelarut obat sesuai daftar obat infus yang diberikan dokter di stock obat poli atau di apotek
  6. Perawat menyiapkan (mengoplos) jenis dan dosis obat sesuai dengan cairan pelarut yang direkomendasikan
  7. Perawat melakukan monitoring pemberian obat infus sesuai nomer urutan dalam daftar obat infus yang diberikan dokter

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses 6 saat perawat menyiapkan (mengoplos) jenis dan dosis obat sesuai dengan cairan pelarut yang direkomendasikan yang dapat disebabkan oleh sub proses yaitu:

Perawat kurang teliti (keliru) dalam memberikan cairan pelarut yang sesuai dengan yang direkomendasikan

D. Menurut saya yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut yaitu dikontrol karena masih bisa dilakukan upaya-upaya pencegahan dengan cara:

  1. Membuat SOP penyiapan obat dalam JBT
  2. Perawat bekerja dengan lebih teliti dan melaksanakan penyiapan obat dalam JBT sesuai SOP
  3. Perawat bekerja dengan mendekatkan jenis obat dengan cairan obat yang direkomendasikan sehingga lebih memudahkan dan meminimalkan kekeliruan
  4. Ada perawat yang menjadi patner untuk mencocokkan obat dengan cairan pelarut sesuai dengan yang direkomendasikan sehingga dapat mencegah kejadian yang tidak diharapkan sebelum obat masuk melalui intravena atau diinfuskan kepada pasien
  5. Apabila ada perawat rotasi atau baru, perawat diberikan pelatihan terlebih dahulu dan sebaiknya membaca kembali SOP sebelum menyiapkan obat dalam JBT
  6. Saat terapi infus berjalan, dokter penanggung jawab melakukan visite untuk memonitor keadaan pasien atau memonitor per telepon
  7. Perawat segera menghubungi dokter penanggung jawab, apabila terjadi kejadian yang tidak diharapkan
Picture of Susianti Miranda
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Susianti Miranda - Thursday, 14 April 2011, 04:16 PM
 
Ass.Wr.Wb
tanggapan buat mbak Sri Supriyanti

Model kegagalan : meyiapkan oplos obat dengan cairan pelarut melalui infus.

1. seberapa besar probability kejadiannya, karena bila kasus tersebut jarang terjadi maka skor nilai hazardnya hanya 6,
2. dan apabila hal tersebut diatas terjadi dampak kepada pasien, apakah ada perpanjangan rawat inap, atau ada penambahan biaya yang dikeluarkan oleh pasien.atau ada kecenderungan skor hazardnya meningkat menjadi mayor?
3.dan bila potensi mayor maka ada suatu kebijakan yang harus dikeluarkan melalui SK Direktur sehingga keselamatan pasien menjadi 100%

Trimaksih..


Picture of Gunani Rosalina
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Gunani Rosalina - Thursday, 14 April 2011, 03:31 PM
 
a. Resiko untuk terjadinya Failure/kegagalan dan berdampak besar pada pasien di Kamar Bersalin

b.
Urutan proses pelayanan di Kamar Bersalin:
1. Pasien kiriman bidan/puskesmas/ datang langsung ke IGD (setelah di daftar di pendaftaran oleh penanggung jawab)
2. Dari IGD langsung di kirim ke ruang bersalin / VK
3. Observasi oleh dokter spesialis/ bidan
4.
Setelah proses persalinan selesai pasien di masukan di ruang observasi dan perawatan post persalinan
5. Persiapan pasien pulang setelah di observasi oleh dokter spesialis / bidan.

c.
Yang memiliki resiko kegagalan terletak pada point 3.
Pada dasarnya semua poin memiliki resiko, tetapi yang memiliki resiko paling tinggi untuk kegagalan adalah pada saat observasi oleh dokter atau bidan.
1. Bila pada saat observasi SDM tidak sigap menangani pasien atau kesalahan analisis terhadap pasien yang dihadapi maka akan berdampak fatal (meningkatnya resiko mortality dan morbidity baik ibu ataupun bayi).
2. Pemberian identitas pada bayi post kelahiran, akan menyebabkan masalah. Contohnya bayi tertukar.

d.
Yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut:
1. Wajib dieliminasi :
dokter spesialis / bidan harus benar2 teliti dalam melakukan observasi (dibutuhkan komitmen dan tanggung jawab oleh SDM terlibat).
2. Wajib dieliminasi: karena kesalahan pemberian identitas sangat fatal bagi
pasien.




Me and My Wife
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Asep Nurul H - Thursday, 14 April 2011, 04:54 PM
 
Ass. Saya mau menanggapi Resiko untuk terjadinya Failure/kegagalan dan berdampak besar pada pasien di Kamar Bersalin oleh Gunani Rosalina

Pada urutan proses No. 3 dan resiko kegagalan no 2 tidak berhubungan...

Pada urutan proses no 3 tidak terdapat proses pemberian identitas pasien, hanya proses observasi pasien yang sub proses didalamnya adalah pemeriksaan awal leopold, pemeriksaan tensi, DJJ, Bukaan persalinan, dll hingga proses persalinan.

Jika ingin kegagalan pemberian identitas dimasukkan sebagai resiko kegagalan maka paling cocok sub proses alur ke 4 yaitu
Setelah proses persalinan selesai pasien di masukan di ruang observasi dan perawatan post persalinan.

Atau buat urutan tambahan yaitu pemberian identitas bayi dengan ibunya agar tidak tertukar

semua yang dikemukakan gunani rosalina memang resiko yang dapat terjadi pada proses di ruang bersalin. hanya antara proses dengan kegagalan tidak berhubungan saja

terimakasih.

Picture of Gunani Rosalina
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Gunani Rosalina - Thursday, 14 April 2011, 05:35 PM
 
menanggapi komentar dari asep nurul huda, sehubungan dengan point 3 dan resiko kegagalan nomer 2. hal tersebut masih berhubungan. karena dalam point 3 yang dimaksud adalah semua proses dari observasi sebelum persalinan hingga kelahiran, sampai kepada observasi ibu dan bayi setelah persalinan, dimana bidan bertanggungjawab pada proses pemberian label nama pada bayi agar tidak tertukar.
namun dapat dipertimbangkan untuk membuat aturan baru pelabelan bayi, diantara point 3 dan 4.

terimakasih.

Picture of Wahyu Kusrini
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Wahyu Kusrini - Thursday, 14 April 2011, 04:51 PM
 

ANALISIS MODEL KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMK)

A. PELAYANAN YANG BERDAMPAK BESAR :

MODEL KEGAGALAN :
Proses Hemodialisis

DEFINISI OPERASIONAL :

Hemodialisis (HD) adalah cara pengobatan / prosedur tindakan untuk memisahkan darah dari zat-zat sisa / racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui membran semipermiabel dimana zat sisa atau racun ini dialihkan dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang, sedangkan darah kembali ke dalam tubuh sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memindahkan.

PROBABILTY : Terdapat pada level 3/occasional/kadang-kadang
yaitu : Kejadian hemodialisis, kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun)

NILAI HAZARD : Mayor (3) yaitu : Kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.

SKOR HAZARD : 9

B. Proses Pelaksanaan Hemodialisa

1) Menyiapkan sarana hubungan sirkulasi

Untuk menghubungkan sirkulasi darah dari mesin dengan sirkulasi sistemik dilakukan dengan :

a. Cara Sementara

Yaitu punksi V femoralis untuk inlet dan untuk outlet dapat dipilih salah satu vena di tangan.

b. Cara permanent

Yaitu dengan membuat shunt antara lain

- c mino shunt

- seribner shunt

2) Antikoagulansia

Yaitu obat yang diperlukan untuk mencegah pembekuan darah selama HD. Obat yang digunakan adalah heparin.

Pemakaian heparin :

- Intermiten : diberikan selama 1 jam

- Continous : terus-terusan selama HD berjalan

- Minimal : diberikan pada waktu menyiapkan sirkulasi darah

- Regional : pada ABL diberikan heparin pada BL diberikan protamin

Dosis heparin : 1000 unit / jam

Dosis awal : diberikan pada waktu punksi ke sirkulasi sisemik dan pada waktu darah mulai ditarik.

Dosis selanjutnya diberikan ke sirkulasi ekstra corporeal

C. Sub Proses Dengan Resiko Kegagalan

Subproses dengan resiko kegagalan yang kemungkinan terjadi adalah pada poin 2 yaitu antikoagulansia terjadi pembekuan darah pada saat proses hemodilisa sehingga dapat diberikan heparin atau antikoagulan sehingga darah tidak akan beku atau mengendap. Dalam pemberian dosis heparin sudah ditentukan dari awal sebelum melakukan hemodialisa oleh karena itu terkadang petugas lupa dalam pemberian heparin atau antikoagulan.

D. Tipe Tindakan : Di Kontrol

Menurut saya yang harus dilakukan pada sub proses tersebut adalah dengan cara dikontrol. Oleh karena itu sebaiknya petugas hemodialisa harus lebih teliti dalam melakukan proses hemodialisa dan tidak lupa terutama dalam pemberian heparin sesuai dengan SOP.

Ukuran Outcome : Penghentian hemodialisa karena terjadi koagulasi

Yang Bertanggung Jawab : Kepala Ruang Bagian Hemodialisa

Dukungan Managemen : SOP

Picture of Rikhatul Iffah
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Rikhatul Iffah - Thursday, 14 April 2011, 05:18 PM
 
Tanggapan untuk Wahyu Kusrini :

Pada proses hemodialisis pemilihan obat heparin/antikoagulan dari awal sudah ditetapkan yaitu 1000 unit, tetapi kadang petugas hemodialis sering lupa dalam pemberian heparin/antikoagulan. Selain itu harus selalu di kontrol agar tidak terjadi pembekuan darah/koagulasi.
Sebelum melakukan hemodialisa jangan lupa dicek alat serta obat-obatan yang akan diberikan. Dialiser juga harus tetap diperhatikan pada pemakaiannya.

Pra hemodialisa

Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menyiapkan mesin HD :

- Mesin diperiksa harus dalam keadaan siap pakai.

- Hubungkan mesin dengan aliran listrik.

- Hubungkan mesin dengan saluran air.

- Drain line ditempatkan di saluran pembuangan tidak dalam keadaan tersumbat.

- Jerigen tempat cairan dialisat terisi sesuai jumlah yang dibutuhkan untuk satu kali dialisa.


Picture of Aspianoor HR
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Aspianoor HR - Thursday, 14 April 2011, 04:53 PM
 
a. Pelayanan di bangsal penyakit dalam khusus penyakit menular
b.1. Urutan proses pelayanan di bangsal penyakit dalam :
1. Pasien dari rujukan IGD atau dari poli.
2. pendaftaran identitas pasien dan adanya penanggung jawab terhadap
pasien.
3. Observasi oleh dokter jaga IGD atau Observasi oleh dokter spesialis di
poli. (px fisik dan penunjang) untuk penilaian penentuan pasien ranap
atau ralan
3.1.a. pasien Ralan boleh pulang (tidak masuk kategori ranap)
3.2.b. Pasien Ranap
1. Setelah observasi dokter jaga dan konsultasi dokter spesialis
penyakit dalam, atau
2. langsung observasi oleh dokter spesialis di poli
penyakit dan ada indikasi untuk ranap.
* khusus pasien penyakit menular perlu persiapan dan
penanganan khusus.
4. persiapan perawatan di bangsal penyakit dalam
5. perawat melaksanakan tugas sesuai instruksi dokter yang merawat
6. visite dokter bersama sama perawat untuk observasi kondisi pasien dan
penentuan tindakan selanjutnya.
7. persiapan penentuan pasien boleh pulang atau masih perlu observasi (px
fisik dan penunjang) yang berkaitan dengan perkembangan penyakit
pasien.
8. penyelesaian administrasi dan pengambilan obat ralan.
9. pasien boleh pulang.

C. P
roses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses ke 3.2 poin *penyakit
menular :
1. karena penyakit menular dapat meningkatkan faktor resiko terjangkit baik itu terhadap SDM
maupun terhadap pasien lain.
(misal pasien baru dengan TB aktif).
2. pada point 5 perawat yang merawat bisa tertular atau alat yang digunakan secara bergantian
terhadap pasien dapat meningkatkan resiko penularan terhadap pasien lain.
3. point 4
adanya kesalahan tindakan yang tidak sesuai instruksi dokter karena
ketidakpahaman perawat yang terlibat, terhadap keadaan pasien yang sebenarnya.

4. point 7 kesalah pahaman antara perawat dokter untuk penentuan kepulangan pasien.

D. Menurut saya yang perlu di lakukan terhadap masalah subproses tersebut adalah :
1. di kontrol :
oleh karena pasien dengan penyakit menular dapat meningkatkan faktor resiko
penularan maka perlu dilakukan persiapan dan penanganan yang khusus, berbeda dengan
kasus penyakit pasien tidak menular. misalnya di sediakan nya ruang khusus penyakit
menular(isolasi), dan perawat yang bertanggung jawab terhadap pasien sudah mempunyai
pengalaman atau mengerti tentang ilmu penyakit menular dan selalu membudayakan life
saving (misal mencuci tangan setiap sebelum maupun sesudah berhubungan dengan pasien
dan pencucian alat/sterilisasi).
2. wajib di eliminasi : perawat yang merawat perlu melindungi diri dan menggunakan alat
khusus yang tidak mempunyai resiko penularan.

3. wajib di eliminasi : perlunya komunikasi antar perawat yang terlibat terhadap kondisi
perkembangan penyakit pasien.
4. wajib eliminasi : perlunya komunikasi antara dokter dan perawat yang terlibat terhadap
kondisi perkembangan penyakit pasien dari awal perawatan hingga pasien pulang.



Picture of Rikhatul Iffah
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Rikhatul Iffah - Thursday, 14 April 2011, 05:03 PM
 

ANALISIS MODEL KEGAGALAN DAN DAMPAKNYA (AMKD)

HFMEA

A. PELAYANAN YANG BERDAMPAK BESAR :


MODEL KEGAGALAN :
Kejadian Pencabutan Gigi Salah Elemen Gigi

DEFINISI OPERASIONAL :
Kejadian Pencabutan Gigi Salah Elemen Gigi adalah kejadian dimana pasien dicabut giginya salah elemen gigi, misalnya yang semestinya dicabut gigi P1, ternyata yang dicabut adalah gigi P2 dikarenakan anatomi gigi tersebut hampir sama.

PROBABILTY : terdapat pada level 3/occasional/kadang-kadang
yaitu : kejadian pencabutan gigi salah elemen gigi, kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun)

NILAI HAZARD : Mayor (3) yaitu : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.

SKOR HAZARD : 9

DAMPAK HAZARD :
1. Menyebabkan kerugian terhadap fungsi organ tubuh
2. Pembiayaan RS / tenaga medis ke pada pasein bila terjadi tuntutan hukum oleh pasien kepada RS / tenaga medis

B. PROSEDUR PENCABUTAN GIGI PERMANEN

1. Alat yang digunakan disterilkan lebih dahulu

2. Diberitahu penderita tahap pelayanan yang akan dilakukan

3. Mengolesi sekitar gusi / mucosa yang akan disuntik dengan larutan betadin (tiap ml. mengandung povidone iodine 100 mg)

4. Penyuntikan dengan bahan-bahan anastesi yaitu lidocaine 2%
RA : Inflltrasi pada gingiva sesuai regio
RB : Anterior : Infiltrasi pada gingiva sesuai regio

 Posterior : Blok anaesthesi pada foramen mandibula (Memasukan jarum dari arah P1 yang berlawanan pada mokosa mandibula setinggi 0,5 – 1 cm diatas permukaan oclusal gigi posterior, jarum menelusuri tulang sejauh 1 cm dan masukkan lidokain)

5. Lakukan pemisahan gigi dan gusi dengan memakai bein. Pemilihan tang sesuai dengan gigi yang akan dicabut

6. Lakukan pencabutan gigi dengan gerakakan luksasi (posterior) dan rotasi (anterior), dengan posisi operator sesuai dengan gigi yang akan dicabut.

7. Beri obat anti pendarahan/hemostatik lokal dalam soket bekas pencabutan (misal : spongostan, alvogyl dll .

8. Pemberian tampon betadin pada bekas pencabutan .

9. Pemberian obat analgesik, antibiotik, bila perlu anti inflamasi

10. Instruksi /asuhan pasca pencabutan :

· Gigit tampon 1 jam

· Soket bekas pencabutan jangan dipegang/disentuh lidah

· Jangan disedot

· Jangan kumur terlalu keras selama ± 2 hari

C.SUB PROSES DENGAN RISIKO KEGAGALAN

1. 1. Operator/Dokter Gigi tidak memeriksa ulang Rekam Medis pasien terutama Odontogram

2. 2. Operator /Dokter Gigi tidak mengecek ulang/memastikan elemen gigi yang akan dicabut

D. TIPE TINDAKAN : Di Kontrol

1. Buat SOP tentang pengecekan elemen gigi yang akan dicabut

2. Operator/Dokter Gigi selalu melakukan anamnesa ulang saat pemeriksaan

3. Operator/Dokter Gigi melakukan pemeriksaan ulang elemen gigi yang akan dicabut sebelum dilakukan anestesi.

4. Operator/Dokter Gigi memeriksa ulang Rekam Medis pasien terutama Odontogram.

Ukuran Outcome : Tidak terjadi kesalahan pencabutan gigi (elemen gigi) 

Yang Bertanggung Jawab : Dokter Gigi sebagai Operator

Dukungan Managemen : SOP

Picture of Wahyu Kusrini
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Wahyu Kusrini - Thursday, 14 April 2011, 05:54 PM
 
Assalamualaikum.wr.wb.
saya mau menanggapi serta memberikan tamabahan untuk rikhlatul iffah

Pada proses pencabutan gigi tidak hanya pada proses pencabutannya saja yang perlu diperhatikan, tetapi pada saat anestesi juga penting untuk diperhatikan agar tidak terjadi salah elemen anastesi terutama nervus yang akan dianastesi. Selain itu dosis juga diperhatikan serta riwayat penyakit sistemik pasien.

TAHAP YANG DILAKUKAN

  1. Memberitahu pasien bahwa giginya harus dicabut dan memberitahu setiap tahap yang akan dilakukan,serta menanyakan apakah pasien sudah makan atau belum
  2. Memberitahu pasien tentang lokasi atau tempat yang akan di anastesi (dibius)
  3. Asepsis daerah yang akan dilakukan penyuntikan dengan menggunakan antiseptik
  4. Setelah jarum di suntikkan,aspirasi untuk memastikan tidak terjadi ektstra vaskuler
  5. Deponir bahan Anestesi lakukan massage di tempat yang di anastesi
  6. Observasi pasien sambil menunggu efek anestesi ( dengan pertanyaan, apakah pasien sudah merasa tebal atau ada efek ginggingan pada ujung separoh lidah/ satu sisi, serta dilakukan observasi dengan memakai lat,sonde pada gigi melingkar servikal dan lakukan drug pada gigi untuk memastikan apakah anestesi sudah benar-benar jalan
  7. Jika anestesi sudah bereaksi ,baru dilakukan ekstraksi
  8. Apabila gigi sudah tercabut,perikasa socket untuk memastikan tidak ada sisa gigi/fragmen tulang
  9. Kompresi socket lalu gigit tampon kurang lebih 30 menit s/d 1 jam.

Me and My Wife
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Asep Nurul H - Thursday, 14 April 2011, 05:22 PM
 

Ass.

Nama : Asep Nurul Huda

NIM : 20091021048

A. Pelayanan di ranap pemberian obat pada rawat inap

B. Gambaran alur proses pemberian etiket obat :

 1. Dokter melakukan pemeriksaan ke pasien/visite dokter.

 2. Dokter menuliskan resep obat pasien di Rekam Medis dan di form resep

ranap

 3. Perawat mengirim form resep ranap ke Farmasi Ranap.

 4. Perawat mengambil obat di farmasi ranap.

 5. Perawat mencatat dibuku jadwal pemberian obat dan menyimpan obat

pasien Ranap

 6. Perawat memberikan obat ke pasien sesuai jam pemberian.

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses
2 karena :

 1. Dokter meresepkan tanpa menjelaskan efek dari obat atau resep yang

ditulis kepada perawat

 2. Tulisan resep tidak terbaca oleh apoteker dan ada obat yang memiliki

penamanaan yang mirip.

D. yang harus dilakukan terhadap subproses tersebut adalah:

 1. dikontrol : Dokter menjelaskan resep yang ditulis sesuai dosis dan efek

yang dapat terjadi pada pasien kepada perawat sehingga dapat

mencegah efek merugikan yang dapat terjadi pada pasien

2. Dikontrol : Apoteker memastikan isi resep yang dituliskan dokter apabila

tulisan dokter meragukan dan terdapat penamaan obat yang mirip.

Picture of Nina Riana
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Nina Riana - Thursday, 14 April 2011, 07:27 PM
 
Assalamualaikum.....
Tugas Manajemen Mutu AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)
Jawab :
A.Pelayanan Ruang Perinatal Care (ruangan perawatan untuk bayi baru lahir)

B.Urutan Proses Pelayanan Tersebut
1.Bayi baru lahir diterima dari kamar bersalin
2.Perawat mengeringkan dengan segera dan membungkus bayi dengan kain yang cukup hangat untuk mencegah hipotermia.
3.Perawat menghisap lendir untuk membersihkan jalan nafas sesuai kondisi dan kebutuhan.
4.Perawat memotong dan mengikat tali pusat, memberi antiseptik sesuai ketentuan setempat.
5.Dokter menilai apgar menit pertama dan menit kelima
6.Perawat memberi identitas bayi: Pengecapan telapak kaki bayi dan ibu jari ibu, pemasangan gelang nama sesuai ketentuan setempat
7.Mengukur suhu, pernafasan, denyut nadi.
8.Memandikan/membersihkan badan bayi, kalau suhu sudah stabil (bisa tunggu sampai enam jam setelah lahir)
9.Dokter melakukan pemerikksaan fisik dan antropometri.
10.Pemberian injeksi vitamin K.
11.Rooming in (rawat gabung) dengan ibu bayi

C.Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses 6 karena:
1.Perawat kadang lupa dalam melakukan pengecapan pada telapak kaki bayi, sehingga apabila terjadi hal2 yg tidak diinginkan seperti tertukarnya bayi atau bayi hilang, tidak ada bukti fisik yang dapat digunakan pada proses peradilan.
2.Dalam pemberian identitas pada gelang bayi yang tidak teliti dapat berdampak tertukarnya identitas bayi, terutama apabila ada bayi yang lahir bersamaan.
3.Perawat terkadang tidak memperhatikan dalam pemberian gelang pada bayi, sehingga terkadang pemakaian gelang pada bayi sering terlalu ketat bahkan dapat melukai bayi
4.Pemberian gelang pada bayi harus sesuai warna, misalnya bila bayi perempuan gelang yang digunakan berwarna merah muda, pada bayi laki2 gelang berwarna biru, apabila tidak teliti, bayi dapat tertukar.

D.Menurut saya, yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut adalah:
1.Wajib di control. Dibuat SOP perawatan bayi baru lahir yang dapat ditempel pada ruang perinatal care sehingga dokter maupun perawat tidak lupa ddalam melakukan tindakan
2.Dalam perawatan bayi baru lahir perlu ada kontrol dari penanggung jawab ruangan agar bisa saling mengingatkan dalam melakukan perawatan
3.Wajib dieliminasi karena apabila terdapat kesalahan dalam pemberian identitas bayi, dapat fatal akibatnya.

wassalam....
Picture of Meise Setriani
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Meise Setriani - Friday, 15 April 2011, 12:33 AM
 
Assalamualaikum.wr.wb
mau nambahin aja mbak nina
Menurut saya mbak urutan proses yang dikemukakan oleh mbak nina terutama pada point itu dilakukan masih diruang vk/ kamar bersalin sebelum pasien dipindahkan kebangsal dan poin 2 itu posisinya seharusnya terletak pada poin 5. Untuk mengurangi resiko kegagalan dalam pemberian identitas bayi baru lahir maka pada saat akan berlangsung proses persalianan maka seharusnya perawat KBY itu sudah ada atau ikut mendampingi dalam proses persalinan. Disini peran perawat bayi sebagai orang yang pertama dan membuat identitas bayi tersebut karena pada saat proses persalinan yang menangani ibu bayi adalah dokter obsgyn dan bidan dan perawat bayi hanya menangani bayi mulai dari bayi lahir dan menghisap lendir pada bayi itu dilakukan oleh perawat bayi.setelah bayi dihisap lendirnya, pemotongan tali pusat, melakukan apgar skor, barula bayi tersebut dibersihkan, setelah bayi dibersihkan maka langsung dilakukan pemberian identitas bayi dan pemakaian gelang identitas kepada bayi dan ibunya serta pemberian cap pada telapak kaki bayi tersebut sebagai identitas fisik di RM bayi lalu baru dilakukan pemeriksaan fisik dan antropometri dan pemberian injeksi vitamin K lalu bayi digedong dan diberi penghangat untuk mengurangi terjadinnya hipotermi, sebelum bayi rawat gabung dg ibunya. Selain identitas gelang pada bayi sebaiknya juga dibuatkan identitas mini dari kertas yang bergambar anak cewek/cowok yang berisi nama bayi nyonya siapa disini yang ditulis adalah nama bayi dan nama ibunya misalnya bayi.Ny X (nama ibu) lalu alamat, tgl lahir, jam, berat badan, tinggi badan, lahir spontan/sc, dokter yang menangani atau yg merawat. Lalu identitas mini dari kertas tersebut ditaruh dibox bayi.

terima kasih.
Picture of Rikhatul Iffah
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Rikhatul Iffah - Friday, 15 April 2011, 01:22 PM
 
Menambahkan Mba Nina Riana...
Pada Point 4...
4.Pemberian gelang pada bayi harus sesuai warna, misalnya bila bayi perempuan gelang yang digunakan berwarna merah muda, pada bayi laki2 gelang berwarna biru, apabila tidak teliti, bayi dapat tertukar.

Gelang yang digunakan sebagai identitas bayi sebaiknya kuat dan tidak mudah lepas. Selain itu perlu adanya papan identitas bayi (Nama bayi, Nama ortu bayu, Jenis kelamin, BBL, PBL) pada setiap tempat tidur bayi. Karena maraknya penculikan bayi di RS sebaiknya ditingkatkan keamanannya.
Picture of Shinta Putri P
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Shinta Putri P - Thursday, 14 April 2011, 08:33 PM
 

shinta jawaban revisi

A. cara pengambilan spasimen darah dengan vacutainer (vena puncti)

PROBABILTY : terdapat pada level 4/frequen/sering.
yaitu : kejadian salah pemberian nama identitas ,sering muncul dalam waktu relative singkat ( dapat terjadi beberapa kali dalam 1 tahun, dalam pelayanan laboratorium)
SKOR HAZARD : 12

NILAI HAZARD: Mayor yaitu : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.


B. DAMPAK HAZARD :
1. Menyebabkan kerugian pasien.
2. Perpanjangan hari rawat karena kesalahan diagnosis dan treatment
3. Memerlukan pemeriksaan laborat ulang.
4. Pembengkakan biaya laborat dan biaya
5. Pembiayaan RS / tenaga medis ke pada pasein bila terjadi tuntutan hukum oleh pasien kepada RS / tenaga medis

C. PROSEDUR

1.

pasien berada di laboratorium / pasien berada di bangsal rawat inap, igd

sub proses

petugas menanyakan identitas pasien




2.

petugas laborat datang untuk sampling darah.

sub proses

Lakukan penjelasan kepada penderita (tentang apa yang dilakukan terhadap penderita, kerjasama penderita, sensasi yang dirasakan penderita, dsb).



Cari vena yang akan ditusuk (superfisial, cukup besar, lurus, tidak ada peradangan, tidak diiinfus).



Letakkan tangan lurus serta ekstensikan dengan bantuan tangan kiri operator atau diganjal dengan telapak menghadap ke atas sambil mengepal.



Lakukan desinfeksi daerah yang akan ditusuk dengan kapas steril yang telah dibasahi alcohol 70% dan biarkan sampai kering.






Siapkan tabung vacutainer yang sesuai dengan jenis pemeriksaan, jarum bermata dua yang salah satu ujungnya telah dimasukkan ke dalam holder.



Dilakukan penusukan jarum pada vena dengan sudut 15-30° lalu difiksasi untuk menghindari pergeseran jarum.



Torniquet dilepas segera setelah darah mengalir, lalu tabung diisi sesuai dengan kapasitas vacutainer. Bersamaan dengan tersedotnya darah ke dalam vacutainer, penderita diminta membuka genggaman tangannya.



Vacutainer dilepaskan dari holder, kemudian jarum ditarik perlahan.



Letakkan kapas alcohol 70% di atas bekas tusukan selama beberapa menit untuk mencegah perdarahan, plester, tekan dengan telunjuk dan ibu jari penderita ± 5 menit.



Jarum bekas pakai dibuang ke dalam disposal cointainer khusus untuk jarum.


3.

petugas melakukan pencatatn identitas

sub proses

Pada masing-masing tabung vacutainer diberi label identitas penderita.











4.

petugas mengirimkan spesimen

sub prosesnya

Spesimen dikirim ke seksi-seksi sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta.


D. SUB PROSES DENGAN RISIKO KEGAGALAN

1. Petugas menanyakan kepada pasien, identitas pasien
2. petugas memberikan lebel identitas disetiap tabung vacutener

E. Tipe Tindakan
kontroling :
Picture of Firman Setiyawan
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Firman Setiyawan - Thursday, 14 April 2011, 08:34 PM
 

Assalamualaikum.....

Tugas Manajemen Mutu AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)

Jawab :

A. Pelayanan Fisioterapi

B. Urutan Proses Pelayanan Tersebut

1. Pasien datang ke bagian pendaftaran unit fisioterapi

2. Petugas mengentri data pasien dan memindahkan di rekam medis

3. Petugas memberikan nomor antrian kepada pasien

4. Pasien menunggu diruang tunggu untuk mendapatkan antrian perawatan

5. Pasien dipanggil oleh petugas dan mendapatkan perawatan fisioterapi

6. Pasien selesai perawatan fisioterapi

7. Pasien menuju ke bagian loket atau kasir untuk melakukan pembayaran

C. Proses yang memiliki resiko kegagalan adalah pada point nomor 2, karena :

1. Dalam mengentry data, terkadang bila sistem informasi yang tersedia terlalu susah untuk dioperasikan, petugas yang belum terbiasa akan membutuhkan waktu yang lebih lama, sehingga pasien akan menunggu lama lagi untuk mendapatkan perawatan.

2. Apabila petugas tidak teliti dalam mengentry data, dapat terjadi kesalahan identitas bahkan mungkin dapat terjadi kesalahan dalam pemberian terapi.

3. Apabila pasien fisioterapi terlalu banyak, terkadang petugas dalam mengentry data terburu-buru sehingga dapat terjadi kesalahan dalam pengisian rekam medis.

D. Menurut saya, yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut adalah:

1. Controling, yaitu melakukan kontrol dan evaluasi dalam sistem pengentrian data sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pengisian data di rekam medis.

Picture of Kusuma Arbianti
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Kusuma Arbianti - Thursday, 14 April 2011, 09:00 PM
 

A. MODEL KEGAGALAN :
Kejadian Syok Anafilaktik Sebelum Pencabutan Gigi

DEFINISI OPERASIONAL :
Kejadian Syok Anafilaktik Sebelum Pencabutan Gigi adalah kejadian yang terjadi pada pasien yang akan dicabut giginya setelah dilakukan injeksi anestesi dan mengalami syok anafilaksis (reaksi hipersensitifitas karena injeksi anestesi)

 

PROBABILTY : terdapat pada level 3/occasional/kadang-kadang
yaitu : kejadian syok anafilaktik sebelum pencabutan gigi kemungkinan akan muncul (dapat terjadi beberapa kali dalam 1 sampai 2 tahun)

NILAI HAZARD : Mayor (3) yaitu : kegagalan menyebabkan kerugian yang lebih besar terhadap pasien.

SKOR HAZARD : 9

DAMPAK HAZARD :
1. Jika tidak tertangani dapat mengakibatkan kematian

2. Jika terjadi tuntutan hukum oleh pihak pasien kepada RS dapat mengakibatkan kerugian biaya bagi pihak RS

 

B. PROSEDUR ANESTESIA PADA PASIEN SEBELUM PENCABUTAN GIGI

1. Lakukan anamnesa terhadap pasien mengenai penyakit sistemik dan riwayat alergi

2. Lakukan pemeriksaan vital sign pada pasien

3. Beritahukan prosedur yang akan dilakukan dan penandatanganan informed consent

4. Siapkan alat dan bahan untuk anestesia

5. Lakukan prinsip asepsis dengan mengoles povidone iodine atau iod gliserine pada area yang akan diinjeksi

6. Injeksi daerah saraf yang akan dianestesi dengan bahan-bahan anastesi, misalnya lidocaine, pehacain, mepivacain, dll.
RA : Inflltrasi pada gingiva sesuai regio
RB : Anterior : Infiltrasi pada gingiva sesuai regio

 Posterior : Blok anaesthesi pada foramen mandibula (Memasukan jarum dari arah P1 yang berlawanan pada mokosa mandibula setinggi 0,5 – 1 cm diatas permukaan oclusal gigi posterior, jarum menelusuri tulang sejauh 1 cm dan masukkan lidokain)

7. Tunggu reaksi anestesi yang terjadi, contohnya terasa bebal di bibir, pipi, lidah, dll.

8. Pastikan pasien dalam keadaan yang sadar dan KU baik.

C.Proses yang memiliki resiko kegagalan dengan dampak adalah proses no. 1 dan 2 karena:

1. Dokter gigi tidak melakukan anamnesa yang baik

2. Dokter tidak melakukan vital sign


D.Menurut saya, yang harus dilakukan terhadap sub proses tersebut adalah:
1.Wajib di kontrol. Pemeriksaan subyektif (anamnesis mengenai riwayat alergi dan riwayat penyakit sistemik)
2.Wajib
dikontrol. Pemeriksaan obyektif (pemeriksaan vital sign)

Ukuran Outcome : Tidak terjadi kejadian syok anafilaksis karena prosedur anesthesia sebelum pencabutan gigi

Yang Bertanggung Jawab : Dokter Gigi

Dukungan Managemen : SOP anesthesia dan SOP penanganan syok anafilaktik


Picture of Fery Luvita Sari
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Fery Luvita Sari - Thursday, 14 April 2011, 11:31 PM
 
FERY LUVITA SARI (20091021053)

KESALAHAN DIAGNOSIS

Kesalahan diagnosis adalah penyebab terbesar dari semua tuntutan malpraktek. Kesalahan diagnosis adalah kegagalan dokter menemukan penyakit pasien atau dokter mendiagnosis pasien dengan penyakit yang tidak pernah dimiliki pasien. Perawatan standar yang diperlukan dalam menegakkan diagnosis adalah keterampilan, pengetahuan, dan perawatan yang digunakan oleh dokter.Pada banyak bidang medis, diagnosis tidak dapat dibuat berdasarkan hitungan pasti. Pertanggungjawaban dokter biasanya berkisar seputar apakah dokter tersebut telah melakukan pemeriksaan serta pemeriksaan penunjang dengan benar atau tidak.

Informasi yang Kurang Lengkap dari Pasien

· Dokter tidak akan mendiagnosa penyakit tanpa alasan yang jelas. Bila pasien atau keluarga pasien tidak bisa atau tidak ingin memberikan informasi yang dapat menunjang diagnosa dokter, maka bila dokter tersebut membuat kesalahan, dokter tersebut tidak akan bertanggung jawab. Karena dokter tidak sama dengan peramal atau orang yang dapat membaca pikiran orang lain. Dokter biasanya memiliki hak untuk mengasumsikan bahwa pasien mengatakan yang sebenarnya.

· Pada keadaan lain, biasanya terjadi kegagalan dalam mendiagnosa karena si dokter tidak memperhatikan keadaan penyakit yang ada sekarang, maka dokter tersebut akan bertanggung jawab penuh bila terjadi penuntutan.

· Seorang dokter, harus melakukan anamnesa untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, tidak hanya mendengarkan pernyataan pasien, namun juga menanyakan informasi yang mungkin tidak diberitahukan pasien, seperti alergi-alergi yang dimiliki pasien. Informasi ini tidak hanya untuk menegakkan diagnosa, namun juga supaya si dokter mengetahui apakah pasien memiliki alergi pada obat yang akan diberikan atau tidak. Bila pasien yang memiliki alergi diberikan pengobatan, maka dokter harus bertanggung jawab bila terjadi reaksi yang tidak diinginkan. Namun bila pasien menyangkal pernah memiliki reaksi alergi sebelumnya, walaupun sudah ditanyakan, bila terjadi reaksi alergi, maka si dokter tidak selalu bertanggung jawab. Pada keadaan darurat, dimana pasien tidak sadar, dokter tidak akan menunggu hingga pasien dapat memberitahu apakah dia memiliki alergi atau tidak, namun pada keadaan ini dokter tidak bertanggung jawab bila terjadi tuntutan karena keadaan darurat tersebut.

Pemeriksaan yang Cermat dan Tepat

· Salah satu penyebab yang sering terjadi dari kesalahan diagnosis adalah dokter tidak melakukan pemeriksaan secara lengkap dan cermat. Bila ketidakcermatan ini menyebabkan kerugian pasien maka dokter akan bertanggungjawab.

  

Penggunaan Tes Penunjang Diagnosis yang Tepat

· Pemeriksaan penunjang secara umum wajib dilakukan. Pemeriksaan seperti Xray, biopsi, tes kehamilan merupakan contoh penting dimana bila tidak dilakukan, dapat menyebabkan kelalaian yang berakibat fatal. Banyak kasus terjadinya kehamilan yang tidak terdiagnosa. Biasanya kelalaian dalam melakukan tes standar untuk mengkonfirmasi adanya kehamilan atau tidak terjadi karena kurang cermatnya pemeriksaan. Bila terjadi negatif palsu, si dokter tidak akan dipersalahkan karena bergantung pada hasil dari tes kehamilannya.

· Pada beberapa kondisi dokter atau ahli bedah harus memastikan apakah seorang wanita sedang hamil atau tidak sebelum melakukan tindakan operasi atau memulai perawatan untuk kondisi yang tidak berhubungan. Pada kasus di atas dokter maupun ahli bedah akan bertanggung jawab penuh bila dia tidak melakukan tes-tes standar dalam mengevaluasi kondisi pasien.

KASUS

Pasien datang dengan nyeri abdomen kanan bawah. Alur penanganan pasien:

1. - Pasien datang segera masuk ke ruang periksa (dan melengkapi RM)

2. - Ketika pemeriksaan ditemukan nyeri abdomen kanan bawah, dokter jaga UGD mendiagnosis appendicitis (radang usus buntu)

3. - Dokter jaga UGD memberikan obat anti nyeri untuk mengurangi nyeri abdomen, dan konsul ke dokter bedah untuk melakukan tindakan bedah pada pasien appendicitis.

4. - Pasien dilakukan cek darah rutin dan gula darah untuk persiapan operasi

5. - Pasien di operasi

Hasil dari operasi ternyata tidak ada appendicitis, kesalahan yang dilakukan adalah pada dokter jaga UGD tidak memberikan diagnosis banding pada pasien ini. Padahal kita ketahui bahwa pada pasien dengan keluhan nyeri perut kanan bawah bisa disebabkan Karena gastrointestinal atau organ reproduksi. Pada pasien ini, harusnya diperhatikan identitas seorang wanita usia subur bisa kemungkinan kea rah kehamilan ektopik terganggu, namun pasien hanya dipersiapkan untuk operasi appendiktomi tanpa memperhatikan kemungkinan lain. Sehingga pada pasien ini juga tidak dilakukan pp test juga USG abdomen untuk mengetahui adanya kelainan di organ abdomen bagian kanan bawah.

Tentunya pada kasus ini, harus dieliminasi, karena berakibat fatal bagi pasien dan dokter tidak cermat dalam melakukan pemeriksaan kepada pasien juga dalam penegakan diagnosis.


Picture of Rikhatul Iffah
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Rikhatul Iffah - Friday, 15 April 2011, 12:48 PM
 

Menanggapi Kusuma Arbianti tentang Kejadian Syok Anafilaktik Sebelum Pencabutan Gigi.

Pada kasus tersebut perlu adanya SOP penanganan syok anafilaktik (misal: dibuat poster/tulisan tentang penanganan syok anafilaktik yang ditempel didinding tempat praktek, sehingga apabila sewaktu-waktu hal tersebut terjadi maka penanganan dapat segera dilakukan). Selain itu dokter gigi harus selalu mencantumkan riwayat alergi pasien di rekam medis.

SOP penanganan syok anafilaktik:

1. Adrenalin IV/IM sesuai pilihan

2. Hentikan pemberian/ paparan obatnya

3. Baringkan pasien terlentang, anggota bawah letakkan lebih tinggi dari kepala bila terjadi Hipotermi

4. Pemantauan TD,N dan pernafasan setiap 3 menit

5. Bila TD kurang dari 90 mmhg beri adrenalin 1/ 1000 sebanyak 0,3-0,5 ml IM ( Pada anak 0,01 ml /kgBB ) atau 1 ml adrenalin 1/1000 dilarutkan dalam 9 ml NaCl 0,9% berikan secara bolus 2- 3 ml IV, bila perlu ulangi setiap menit

6. Pasang infus

7. Bila tidak ada respon terhadap adrenalin/ sirkulasi perifer buruk/ syok berat berikan 5 ml Adrenalin 1/10.000/0,5 ml Adrenalin 1/1 dilarutkan dalam 10 ml 0,9% NaCl perlahan selama 10 menit berikan plasma expander.

8. Bila syok dengan apnoe jantung ( cardiac arrest ),dahulukan resusitasi jantung dengan cara intubasi endotracheal. Bila tidak mungkin gunakan masker,ambubeg dan oxygen.

9. Bila nadi tetap tidak teraba,berikan kompresi jantung luar.

10. Berikan kortikosteroid IV, misal Hidrokortison 200 mg. Steroid tidak bermanfaat untuk tetapi dapat menolong mencegah Anafilaksis yang refrakter/ kambuh.

11. Bila terdapat spasme Bronkus yang berat, berikan Aerosol bronkodilator dan atau Aminofilin 6 mg atau /kg BB IV selama 10 menit.

Picture of Nina Riana
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Nina Riana - Friday, 15 April 2011, 03:32 PM
 
Assalammuaikum Dokter Arlina, Saya Aji Bagus Widyantara (20091021046). Dok, sebelumnya saya mohon maaf karena baru hari ini bisa mengumpulkan tugas. Hal ini di karenakan,Saya tidak bisa melogin. Dan sementara saya menggunakan punya Nina untuk mengerjakan tugas. Terima kasih Dokter.


Tugas Manajemen Mutu AMKD (Analisis Modus Kegagalan dan Dampak)

Nama : Aji Bagus Widyantara
NIM : 20091021046

Jawab :

1. Pelayanan JAMKESMAS Pasien Rawat Jalan

2. Prosedur Pelayanan JAMKESMAS Pasien Rawat Jalan :
  • Pasien datang ke administrasi untuk menunjukkan sarat2 yang harus dibawa seperti fotokopi kartu jamkesmas, fotokopi KTP pasien, fotokopi kartu keluarga, surat rujukan puskesmas asli, dan surat keterangan dari desa asli
  • Petugas administrasi mendaftarkan pasien tersebut ke sistem rumah sakit dengan memberikan tanda dibelakang nama pasien (**)
  • Petugas administrasi membuat surat SJP (Surat Jaminan Pelayanan)
  • Pasien diarahkan ke poli yang dituju.
3. Yang memiliki resiko kegagalan terletak pada point 1, karena :
  • Apabila petugas tidak lengkap dalam memberikan informasi tentang syarat yang harus dibawa oleh pasien, maka dalam melengkapi syarat tersebut akan membutuhkan waktu yang lebih lama, karna pasien harus kembali lagi ke loket jamkesmas untuk melengkapi kekurangan syarat tersebut, sehingga akan membuat pasien menunggu lebih lama lagi untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang diinginkan.
  • biasanya loket untuk pengurusan jamkesmas hanya ada satu loket disetiap rumah sakit, sehingga apabila pasien (jamkesmas) banyak, maka akan membuat pasien menunggu lebih lama dalam mendapatkan pelayanan.
4. Menurut saya yang harus dilakukan ialah :
  • Wajib controlling. Petugas harus selalu mengontrol dalam kelengkapan syarat2 yang dipenuhi pasien, sehingga pelayanan di rumah sakit akan menjadi lebih efektif.


Picture of Yudhitya Afif N
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Yudhitya Afif N - Saturday, 16 April 2011, 12:22 PM
 
menanggapi Bagus,
sebaiknya dibuat alur tetap di depan loket jamkesmas untuk memudahkan pasien pengguna jamkesmas melengkapi syarat-syarat. dan juga di bagian informasi (paling depan) untuk menjelaskan syarat-syarat yg harus dilengkapi, atau membuat leaflet berupa alur dan syarat pelengkap untuk jamkesmas, sehingga tidak membingungkan pasien yang membutuhkan pelayanan cepat.

Kira-kira demikian,,
Picture of Yoslina Pramudya W
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Yoslina Pramudya W - Saturday, 16 April 2011, 12:06 PM
 
Pelayanan di ruang post anesthesia care unit

1. pemindahan pasien dari ruang operasi ke recovery room,
2. pemantauan di ruang tersebut, sampai pasien sadar
3. mempersiapkan pasien untuk kembali ke bangsal, sambil memantau vital sign
4. mengambil catatan medik yang sudah selesai ditulis oleh dokter
5. membawa pasien tersebut kembali ke ruangan bangsal.
6. melaksanakan perintah dokter yang sudah ditulis di catatan medik.

yang memungkinkan terjadi kesalahan adalah pada nomor 4 dan 6
tidak semua RS memberi identitas di tubuh pasien, sehingga kemungkinan tertukar nama dengan catatan medik yang di ambil. terlebih lagi bila terjadi nama pasien sama, sehingga besar kemungkinan dapat tertukar instruksi selanjutnya.

yang dapat dilakukan adalah:
cukup dikonrol, dan diperbaiki tentang masalah pemberian identitas, sehingga memperkecil kemungkinan kejadian kesalahan instruksi post operasi.
Picture of Yudhitya Afif N
Re: Manajemen Mutu MMR UMY: HFMEA (Healthcare Failure Mode Effect Analysis)
by Yudhitya Afif N - Saturday, 16 April 2011, 12:18 PM
 
pelayanan imunisasi bayi dan balita

biasanya dilakukan pada hari-hari tertentu, sehingga tampak padat dan banyak bayi dengan bermacam kebutuhan imunisasi
1. bayi di daftarkan
2. ibu membawa bayi tersebut untuk di imunisasi di ruangan
3. membwa buku jadwal imunisasi rutin
4. dilakukan imunisasi sesuai jadwalnya kemudian dijadwalkan kembali untuk imunisasi selanjutnya.
5. diberi resep obat bila diperlukan obat untuk mencegah efek samping imunisasi

dapat terjadi kesalahan dalam memberikan jenis imunisasi (poin 4), karena kemungkinan terjadi tertukar buku, tertukar bayi, sehingga terjadi kesalahan.

yang seharusnya dilakukan:
wajib di kontrol dalam pemberian imunisasi, agar tidak terjadi kesalahan, kemungkinan dobel imunisasi, atau bahkan tidak terimunisasi, perlu dihitung kembali umur bayi dengan jadwal imunisasi yang ada di buku, apakah sudah sesuai atau belum, sehingga meminimalisir terjadinya kesalahan.