Beranda MMR Forum Komunikasi Mahasiswa MMR UMY
Picture of Susi Salmah
RESUME JURNAL 1,2,3
by Susi Salmah - Friday, 25 March 2011, 11:35 AM
 

RESUME JURNAL 1

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB PENGAMBILAN OBAT  DI LUAR APOTEK RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH PANGKALPINANG

Mohamad Edi,Sulanto Saleh Danu, RirisAndonoAhmad ( Instalasi Farmasi RS Bakti Timah,Pangkalpinang,Bagian Farmakologi Klinik, FK UGM, Yogyakarta, Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat,UGM,Yogyakarta )  JMPK Vol. 07/No.01/Maret/2004

 

LATAR BELAKANG

Rumah Sakit (RS) Bakti Timah Pangkalpinang adalah RS swasta milik Yayasan Bakti Timah. Salah satu sumber pendapatan RS, Instalasi Farmasi memberikan kontribusi pemasukan yang cukup besar (sekitar 33%) dari total pendapatan RS. Meskipun demikian, sampai saat ini jumlah resep umum yang keluar RS mencapai 80% dari total resep.

TUJUAN

Penelitian ini dilakukan bertujuan : (1) untuk mengetahui factor-faktor penyebab tingginya pengambilan resep umum di apotek luar RS berdasarkan 7 faktor pelayanan, (2) menyusun rencana intervensi terhadap masalah yang ditemukan.

METODE

Penelitian ini dirancang sebagai penelitian deskriptif analisis dan bersifat eksploratif. Data diperoleh dari data sekunder, kuesioner tertutup dan pengamatan proses pelayanan. Kemudian data diklasifikasikan menjadi dua : (1) data kualitatif, (2) data kuantitatif. Selanjutnya dibuat skala prioritas untuk menentukan rencana intervensi yang akan dilakukan.

HASIL

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : a) Faktor-faktor penyebab pasien mengambil obat di apotek luar RS adalah : (1) harga obat, (2) lokasi apotek dan gudang obat, (3) motivasi staf, (4) waktu tunggu, (5) kekosongan obat, (6) pemberian informasi. b) Pada umumnya pasien tidak puas dengan pelayanan apotek RS. c) RS dapat melakukan rencana intervensi untuk menemukan masalah.

KESIMPULAN

Penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor product : price, place, promotion, people, physical evidence, process sangat berpengaruh terhadap pelayanan apotek RS.

KATA KUNCI

7P, faktor pelayanan, resep keluar, pelayanan apotek, minat pasien.

RESUME JURNAL 2

KESELAMATAN PASIEN DALAM PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI

Paulus Januar J JITEKGI Vol. 04 No 1 Mei 2007

PENDAHULUAN

Keselamatan pasien adalah penghindaran, pencegahan dan perbaikan terhadap hasil yang merugikan dari proses pelayanan kesehatan. Penerapan keselamatan pasien akan meningkatkan kualitas perawatan dan mencegah malpraktik.

KONSEP KESELAMATAN PASIEN

Menurut WHO (World Health Organization), tantangan global keselamatan pasien meliputi 5 elemen yaitu : keamanan darah, keamanan penyuntikan, keamanan prosedur klinik, keamanan air dan sanitasi, serta kebersihan tangan.

Penerapan keselamatan pasien pada praktik kedokteran gigi dalam bentuk :

1. sterilisasi peralatan dan prosedur

2. teknik barier

3. kebersihan air, kantung untuk bahan buangan

4. pembuangan bahan buangan

5. kantung khusus untuk seragam staf dan cucian

6. pelatihan keselamatan pasien untuk staf.

Pelayanan kesehatan gigi yang berkualitas dapat dijabarkan : upaya menghindari kecelakaan pasien, efektif, berfokus pada pasien, tepat waktu, efisien dan merata.

Menurut National Patient Safety Agency, ada 7 langkah konsep keselamatan pasien meliputi :

1. Mengembangkan budaya keselamatan pasien

2. Kepemimpinan dan dukungan pada staf

3. Mengintegrasikan aktifitas manajemen risiko

4. Mengembangkan system pelaporan

5. Keterlibatan dan komunikasi dengan pasien

6. Mempelajari dan saling berbagi pengalaman mengenai keselamatan pasien

7. Menerapkan solusi untuk menghindari akibat buruk 

KESIMPULAN

Keselamatan pasien perlu dijalankan sebagai salah satu unsur utama pada pelayanan kesehatan kesehatan gigi.

KATA KUNCI

Keselamatan pasien, kualitas pelayanan, malpraktik.

RESUME JURNAL 3

MANAJEMEN RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI BENCANA

Alex Kusanto  Bagian Bedah Fakultas Kedokteran / Rumah Sakit Unika Atma Jaya Maj.Kedokt.Damianus. Vol.6. No.2.Mei 2007

PENDAHULUAN

Bencana atau disaster adalah setiap fenomena (alam, buatan manusia / teknologi maupun konflik social) yang mempunyai potensi untuk menimbulkan ancaman terhadap penduduk dan lingkungan. Berdasarkan penyebabnya bencana dapat dibagi menjadi :

1. Bencana alam : gempa bumi, tsunami, tornado, jatuhnya meteor

2. Bencana akibat ulah manusia : banjir akibat penebangan hutan, semburan lumpur panas akibat pengeboran, kecelakaan pesawat udara, kereta api. 

Bencana selalu menimbulkan kerugian, kesakitan atau kematian. Rumah Sakit (RS) yang biasanya hanya menyediakan pelayanan pasien normal akan kewalahan melayani pasien yang jumlahnya sangat banyak dan mendadak apalagi jika RS tersebut juga menjadi korban bencana.

MANAJEMEN BENCANA

Manajemen bencana adalah usaha bersama pemerintah, swasta dan masyarakat secara terkoordinasi dalam mengatasi keadaan bencana. Menurut Kyaw Win, manajemen bencana dibagi menjadi 4 fase, yaitu :

1. Phase Rapid Response

a. Phase Early Emergency Response : < 6 jam pasca bencana

b. Phase Peri Emergency Response : 6 – 24 jam pasca bencana

c. Phase Late Emergency Response : hari ke-2 – ke-7 pasca bencana

2. Phase Rehabilitasi : awal bencana, 1 – 2 minggu pasca bencana

3. Phase Mitigasi : penyuluhan kesehatan

4. Phase Preparedness

a. Penyusunan prosedur tetap bencana

b. Penyususnan disaster plan dan sosialisasinya

c. Membentuk tim penanggulangan bencana RS

d. Mempersiapkan logistic

e. Melakukan / mengikuti workshop penanggulangan bencana

f. Membentuk Tim Mobile Keliling Penanganan Bencana

g. Membentuk jejaring RS

KESIMPULAN

RS harus mempersiapkan diri dalam menghadapi bencana dan menerapkan manajemen bencana

KATA KUNCI Bencana, korban, rumah sakit, manajemen bencana.

aini
Re: RESUME JURNAL 1,2,3
by Q. Aini - Saturday, 26 March 2011, 09:55 PM
 
Ibu susi salmah, saya mau coba menanggapi yang resume 3 tentang manajemen bencana..

Rumah sakit merupakan tempat yang menjadi tumpuan kesehatan suatu populasi, jika ia gagal dalam mengampu tugas tersebut, hampir pasti kesehatan di daerah yang diampunya akan terpengaruh ke dalam arah yang buruk. Di dalam suatu keadaan bencana, rumah sakit tentulah menjadi salah satu tujuan utama para korban bencana dalam mencari pertolongan, jadi bila rumah sakit tidak siap dalam mengahadapi bencana, dapat terjadi keadaan mengerikan bagi kesehatan para korban dan pasien yang sedang dirawat pada saat bencana tersebut.

Di dalam wacana kali ini, saya mengajak Anda untuk memahami hal-hal terkait bencana yang saya tekankan dalam persiapan bencana di dalam suatu rumah sakit. Hal ini dimaksudkan agar ia siap dan tidak melalaikan tanggung jawabnya bagi kesehatan komunitas yang berada di dalam lingkup tanggung jawabnya.

Terkait suatu persiapan, maka hal yang paling umum kita pikirkan tentu adalah rencana persiapan (dalam konteks ini persiapan bencana) sebagaimana kutipan yang saya peroleh : A vital hospital emergency management program acts as an insurance policy that increases the chances of continued operations under difficult circumstances. Makna intinya adalah bahwa suatu program manajemen bencana rumah sakit akan mengarahkan perkembangan dan eksekusi kegiatan yang mampu memitigasi, mempersiapkan, merespon, dan pemulihan situasi dari suatu bencana/insiden.

Dikarenakan banyaknya elemen-elemen terkait perencanaan disaster plan suatu RS, maka dalam posting ini akan dibahas komponen-komponen kritis di dalam kesiapan RS dalam mengahadapi bencana. Adapun hal-hal pendukung terkait topik pembahasan ini dapat Anda simak di dalam posting berikutnya.

ĦManajer kegawat daruratan/bencana: merupakan titik kepemimpinan primer dalam pengembangan, pelatihan, dan pelaksanaan rencana manajemen kegawat daruratan RS.

ĦRencana kegawat daruratan/bencana: mendaftarkan tindak-tanduk dari RS menanggapi kegawat daruratan internal dan external. Perencanaan dalam tingkat lanjut memberikan ruang gerak lebih terorganisir jika terdapat keadaan-keadaan yang lebih sulit.

ĦKepemimpinan exekutif: daftar bagan kepemimpinan exekutif di dalam RS yang juga terlibat di dalam pembuatan rencana-rencana situasi tak terduga seperti bencan akan sangat membantu proses pengembangan dan pelaksanaan disaster plan RS-nya.

ĦPerencanaan strategik: ia merupakan cetakan biru untuk memandu pembuatan suatu disaster plan.

ĦKomite manajemen kegawatan daruratan/bencana: komite ini sangat memerlukan partisipasi pihak-pihak seluas mungkin untuk memastikan operasional RS siap akan situasi kegawat daruratan.

ĦHazard vulnerability analysis (HVA): merupakan penilai resiko di dalam lingkungan spesifik untuk mendukung pembuatan disaster plan yang sesuai dengan skenario-skenario yang mungkin terjadi.

ĦAnalisis kerentanan: digunakan untuk menilai kelemahan-kelemahan dalam bidang-bidang RS yang mungkin muncul bila dalam keadaan terbebani kondisis bencana.

ĦPelatihan staff, simulasi, dan pembaharuan yang kontiniu: ditujukan sebagai uji lapangan langsung untuk memeriksa kelemahan-kelemahan dari sistem disaster plan yang mungkin tak terduga sebelumnya dan pengalaman-pengalaman yang didapatkan darinya harus terus dikembangkan secara kontiniu.

Demikianlah komponen-komponen yang patut diperhitungkan dalam pembentukan suatu disaster plan yang solid. Semoga bermanfaat

Referensi utama:

Ciottone, et.al. 2006. Disaster Medicine.Mosby Elsevier.


Picture of Susi Salmah
Re: RESUME JURNAL 1,2,3
by Susi Salmah - Monday, 28 March 2011, 12:30 AM
 
Trimakasih ibu Aini atas tanggapan resume 3 manajemen bencana. Tanggapan ibu tentang komponen-komponen kritis di RS dalam kesiapan menghadapi bencana sangat menambah referensi tentang manajemen bencana. Ditunggu posting berikutnya.